Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
FITNAH 2


__ADS_3

Suasana makan malam di rumah pak Harjo terasa begitu berbeda, terlihat ramai dan meriah. Tidak seperti pada hari- hari biasanya yang terasa sepi dan hening karena yang duduk di kursi meja makan tersebut hanya pak Harjo, bu Harjo dan Hariri. Itupun tidak setiap hari mereka bertiga makan bersama- sama karena Hariri seringkali keluar nongkrong sama teman- temannya,


sedangkan Hasan hanya sebulan sekali bahkan dua bulan sekali duduk di kursi


meja makan tersebut dikala dia pulang kampung saja.


Pak Harjo dan bu Harjo benar- benar merasakan kebahagiaan yang tak terhingga. Serasa kelezatan makanannya kian bertambah nikmat dengan adanya suasana hangat penuh keakraban dengan hadirnya Dewi, Arin serta Dede ditambah lagi adanya Hasan. Dirasakan oleh Pak Harjo dan bu Harjo suasana tersebut begitu lengkap bagi mereka, terasa kenikmatan yang sangat sempurna di


sisa usianya yang makin menua.


Diusianya yang sudah mendekati 60 tahun, bagi pak Harjo dan bu Harjo sangat mendambakan kehadiran menantu serta cucu dalam keluarga mereka.


Meski pun secara ekonomi keluarga pak Harjo hidup bergelimang harta tidak pernah kekurangan suatu apapun, akan tetapi jauh di lubuk hati kedua orang tua itu masih terasa hampa masih ada sesuatu yang kurang. Ya, berhari- hari kedua orang tua itu sangat mendambakan kehadiran menantu yang akan memberikan cucu bagi mereka.


Dan suasna makan malam saat ini seolah- olah sudah melengkapi angannya selama ini. Dan ternyata memang suasana seperti ini benar-


benar dirasakan oleh pak Harjo dan bu Harjo berasa sangat membahagiakan hati mereka.


Tanpa sadar bu Harjo terus memandangi Arin yang duduk dihadapannya diseberang meja makan sambil senyum- senyum cukup lama. Wajahnya begitu sumringah mengiringi angannya yang sedang melambung jauh membayangkan hari- hari tuanya ditemani oleh menantu dan cucunya. Sementara pak Harjo tak henti-


hentinya berucap syukur dalam hati, dirinya merasakan baru sekali ini merasakan kebahagiaan yang tak terhingga selama hidupnya.


Selain karena kesembuhan Hariri putra bungsunya yang semula sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bisa sembuh dan bahkan sudah jauh- jauh


hari pak Harjo sudah berupaya ikhlas apabila suatu hari nanti Hariri dipanggil


sang Maha Kuasa. Sekarang ditambah lagi dengan kehadiran seorang wanita yang membuat putra sulungnya jatuh cinta, kian melambungkan harapan akan memiliki menantu dan cucu yang sudah lama diidam- idamkannya. Begitu indah dan sempurna


kebahagiaan yang dirasakan pak Harjo saat ini.


Pak Harjo pun memandangi Hasan yang duduk disebelah Arin, lalu


berganti memandang Arin sembari tersungging senyum misteri namun menyiratkan kebahagiaan. Sebelumnya Dewi, bu Harjo dan pak Harjo sudah merencanakan secara diam- diam mengatur tempat duduk untuk Hasan dan Arin disandingkan duduk bersebelahan saat menyiapkan makan malam.


“Ayo De, nambah lagi makannya ya… Dede harus makan banyak biar badannya besar, nih lihat seperti kak Hasan,” kata Hasan sebelum memasukka suapan terakhir kedalam mulutnya.


“Dede sudah kenyang ayah!” seru Dede.


“Loh kok ayah?!” sergah Arin kaget mendengar Dede menyebut Hasan dengan panggilan ayah. Kedua pipi Arin seketika merona merah.


“Hahahaha… hahaha… hahaha…” seketika gelak tawa menghiasi ruang makan.

__ADS_1


“Uhukk! Uhukkhh…!” Hasan seketika terbatuk- batuk mendengar dirinya dipanggil ayah. Hasan langsung beranjak dari kursi bergegas lari


kebelakang pura- pura hendak memuntahkan makanan yang baru saja di kunyahnya, padahal sengaja untuk menghindar menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


Namun jauh dilubuk hatinya ada rasa senang yang tak terkira.


“Hahahaha… hahaha… hahaha…” Dewi, pak Harjo, bu Harjo dan Hariri tergelak tertawa- tawa kian panjang melihat reaksi Hasan yang mendadak tersedak.


“Eh, Dede lupa bun,” jawab Dede dengan tingkah lucu langsung mendekap mulutnya sendiri.


“Hahahaha… hahaha… hahaha…” suara gelak tawa kembali memenuhi ruang makan saling susul menyusul.


......................


Malam kian merambah menuju jam 10 malam. Kebetulan malam ini adalah malam bulan purnama, sinar terang yang terpancar dari penampakkan penuh bulan menggantung diufuk timur memberikan penerangan seperti cahaya lampu bohlam 5 watt menyinari desa Palu Wesi.


Udara desa Palu Wesi terasa sejuk dan dingin membuat warga masyarakatnya enggan untuk keluar rumah, sehingga suasana di depan rumah pak Harjo tampak sepi dan lenggang tidak ada warga yang lewat.


Pak Harjo dan bu Harjo sudah masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, begitu pula dengan Dewi, Arin dan Dede. Mereka pun sudah masuk


kedalam kamar tamu yang disediakan bu Harjo. Hariri pun sepertinya sudah


terbang ke dalam mimpi di kamarnya.


miring ke kiri, tak lama kemudian berganti posisi miring ke kanan, kadang


terlentang, namun tetap saja kedua matanya tak dapat diajak kompromi untuk tidur.


Kalimat ‘ayah’ yang diucapkan Dede benar- benar sangat mengganggu pikirannya. Perkataan tersebut terus terngiang- ngiang di telinganya. Ada rasa malu sekaligus bercampur senang, Hasan senyum- senyum


sendiri memandangi plafon kamarnya. Lalu bayangan wajah Arin yang terlihat


sangat cantik pun muncul di pikirannya saling tumpang tindih silih berganti dengan suara ucapan Dede yang menyebutnya ‘ayah’.


Hasan kian tak dapat tidur, ia bangkit dari berbaringnya lalu duduk di bibir tempat tidur. Beberapa saat berpikir akhirnya Hasan memutuskan keluar kamar dan duduk di teras depan sambil menunggu rasa kantuk itu datang.


Baru saja Hasan membuka pintu dan keluar kamar sambil menunduk, tiba- tiba tubuhnya menabrak sesuatu. Suara pekikan mengaduh pun seketika keluar dari mulut Hasan, dan Hasan semakin terkejut mendengar suara mengaduh lainnya. Hasan pun spontan mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang ditabraknya.


Deg!


Seketika Jiwa Hasan serasa lepas dari raganya saat melihat siapa yang ditabraknya. Hasan tertegun lama berdiri di tempatnya menatap sosok

__ADS_1


dihadapannya, tubuhnya masih menempel pada sosok di hadapannya. Jaraknya  yang sangat dekat membuat jantung Hasan terpacu kian cepat, degubnya serasa dapat didengar oleh orang sekampung. Begitu keras terdengar dirasakan Hasan. Tubuhnya gemetar lembut begitu pun saat


bibirnya berucap terlihat bergetar- getar karena gemetar.


“A, ar, arin, eh mbak…” ucap Hasan terbata- bata gemetar lembut.


“Mmmas.. mas Hasan!” Arin pun sontak kaget mendapati dirinya dan Hasan saling berdekatan bahkan tubuhnya masih menempel di dada Hasan.


“Ma, maaf… sssa, saya tidak sengaja,” sergah Hasan spontan.


“Iy, iya mas. Saya mau amb, ambil minum,” balas Arin gugup, mengucapkan sekenanya yang terlintas dipikirannya karena dirinya berniat kebelakang mengambil air minum padahal Hasan tidak menanyakannya.


“Oh, iy, iya mbak,” buru- buru Hasan mundur setengah langkah saat menyadari tubuhnya masih menempel pada tubuh Arin dan menghalangi


jalannya.


“Kenapa mas Hasan belum tidur?” tanya Arin setelah dapat menguasai dirinya kembali.


“Eh, a, anu mbak ssa, saya nggak bisa tidur. Nggak tahu kenapa,” jawab Hasan menunduk, ia terlihat sangat malu dan gerogi di tatap Arin.


“Iy, iya mas saya juga sama nggak bisa tidur,” ucap Arin memandang wajah Hasan, tersirat dari pancaran matanya ada rasa bahagia.


“Oh, kalau begitu kita duduk- duduk di teras aja ya mbak sampai kantuk ini datang,” ujar Hasan spontan memberikan ide yang tidak


disengaja.


“Iya mas, sekalian saya buatin minuman ya. Mas Hasan mau


dibikinin apa?” balas Arin dengan senang hati.


“Kopi aja mbak,” balas Hasan.


“Loh kok kopi sih mas, nanti malah nggak bisa tidur,” sergah Arin.


“Oh iya ya, kalau begitu teh saja mbak. Makasih sebelumnya ya,” kata Hasan sudah mulai tenang dan menguasai diri lagi lalu hendak melangkah ke depan.


“Iya mas,” sahut Arin, lalu bergerak hendak melanjutkan langkahnya ke dapur. Tapi disaat bersamaan langkah Arin terhalang oleh Hasan yang hendak melangkah juga. Spontan Arin mengambil langkah sisi lain, disaat


yang sama pun Hasan bergerak kearah yang sama dengan Arin. Menyadari apa yang sedang terjadi, keduanya seketika sama- sama tertawa.


“Silahkan mbak Arin duluan,” ucap Hasan disela- sela tawanya.

__ADS_1


“Mas Hasan aja yang duluan,” balas Arin sambil tertawa.


“Iy, iya sudah kita sama- sama, saya ke kiri, mbak Arin ke kanan ya, hehehe..” seloroh Hasan, lalu mereka pun saling melanjutkan langkahnya. Arin menuju dapur dan Hasan menuju teras rumah.* BERSAMBUNG


__ADS_2