Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
INI PURNAMA


__ADS_3

"Waalaikumsalam warohmatullahi wabatokatuh..." sahut Gus Harun sambil tersenyum.


Kosim yang sedari tadi asyik bercanda dengan anaknya kontan mendongakan kepalanya melihat kearah Gus Harun lalu celingukkan. Sedangkan Mahmud dan Mang Ali planga plongo saling tatap penuh tanda tanya mendengar Gus Harun membalas salam. Siapa yang mengucap salam? Begitu tanya mereka dalam hatinya.


Tubuh Abah Dul bergeming seperti orang sedang ngantuk yang kaget. Kemudian perlahan membuka matanya sambil berucap, "Alhamdulillah."


Kini Mahmud dan Mang Ali baru paham kalau Abah Dul baru saja sukmanya kembali dan menerka-nerka jawaban salam dan senyumnya Gus Harun karena kehadiran sukma-sukma sahabatnya.


Abah Dul dan Gus Harun dapat melihat kehadiran sukma Ustad Baharudin dan sukma Ustad Basyari namun Mahmud dan Mang Ali sama sekali tidak melihatnya, hanya dari energi kebatinannya yang merasakan kehadirannya.


"Piye kabare Bas, Har sehat semua?" Tanya Gus Harun mengangkat tangan sebatas dada sebagai pengganti salaman.


Apabila melakukan jabat tangan, pasti akan terlihat aneh oleh Mang Ali, Mahmud dan Kosim, yang nampak hanya Gus Harun saja yang mengulurkan tangannya sendirian. Lagi pula nanti kejadian serupa yang dilakukan Abah Dul dengan Ustad Basyari terulang lagi.


"Alhamdulillah apik-apik wae Gus," jawab Ustad Basyari.


"Salewangang. Baji-bajiji Gus?" Sahut Ustad Baharudin dalam bahasa Makasar.


"Alhamdulillah, sehat Bas, Har..." jawab Gus Harun.


"Gus Bharudin bilang apa? Hehehe..." timpal Abah Dul yang mendengar dan melihat percakapan itu.


"Dul, dul... Itu bahas Makassar, kata Baharudin sehat walafiat dan nanya apa kabar Gus." Terang Gus Harun.


Sukma Ustad Baharudin dan sukma Ustad Basyari hanya senyum-senyum melihat polah Abah Dul. Yang terlihat semakin melongo yakni Mang Ali, Mahmud dan Kosim yang sedari tadi memperhatikan.


"Mas ini termos sama kopinya. Kuenya hanya tinggal keripik singkong aja nih," ucap Dewi dan Arin membawa rentengan kopi dan bit kaca berisi keripik singkong.


"Iya nggak apa-apa Mbak," sela Gus Harun.


"Saya dan Arin pamit duluan, sudah jam sepuluh." Ujar Dewi dan Arin menangkupkan kedua telapak tangannya di dada pamit.


Kosim pun ikutan beranjak dari duduknya menggendong Dede mengikuti Arin masuk kamar.


Rintik hujan diluar sudah berhenti. Namun suara gemuruhnya sesekali masih terdengar dikejauhan. Udara dingin masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka separuhnya. Suasana malam masih tidak berubah dirasakan Mang Ali, Mahmud, Abah Dul maupun Gus Harun.


Debaran-debaran di dada berasa semakin cepat dirasakan oleh semuanya. Mungkin Kosim tidak terlalu merasakannya meskipun diawal-awal usai sholat isya juga ikut merasakan berdebar-debar.


Kosim keluar dari kamar setelah menghantarkan Dede untuk tidur bersama ibunya.


"Punten Mas, sepeda motornya dimasukin sekarang atau nanti aja?" tanya Kosim masih berdiri didepan pintu kamar.


"Dinaikin ke teras samping aja Sim, biar nggak sesak barangkali nanti duduk di ruang tamu." Jawab Mahmud.


Kosim pun segera melangkah meninggalkan ruang tengah dan keluar melalui pintu samping yang berhubungan langsung dengan dapur.


"Dul, kalau pagar yang ditanam dulu masih ada?" Tanya Gus Harun.


"Masih Gus. Bahkan masih cukup kuat tidak tertembus sama sekali," ujar Abah Dul.

__ADS_1


"Yakin Dul?!" sergah Gus Harun.


"Yakinlah boss, hehehe..." seloroh Abah Dul menirukan logat tokoh Kentung dalam sinetron Tuyul dan Mbak Yul.


Semuanya spontan tertawa oleh kelakar Abah Dul. Tidak terkekecuali sukma Ustad Basyari dan Ustad Baharudin ikut terkekeh. Kekonyolan-kekonyolan Abah Dul sudah sangat hafal bagi semuanya sehingga membuat suasana cemas dan horor sejenak terlupakan.


Ditengah-tengah suara tertawa itu tiba-tiba terdengar teriakkan Kosim dari samping rumah memanggil Abah Dul.


"Baaaaah...!"


Semua yang ada di ruang tengah terperangah saling pandang dengan raut wajah penuh tanda tanya lalu semuanya spontan berdiri dan bergegas melangkah keluar melalui pintu depan dengan tergesa-gesa.


"Ada apa Sim?!" Seru Abah Dul berdiri diujung teras samping sambil melihat kosim yang sedang mendongak.


"Lihat bah..!" Seru Kosim sambil menunjuk keatas.


Penuh rasa penasaran, Abah Dul, Gus Harun, Mahmud, Mang Ali serta sukma Ustad Basyari dan sukma Ustad Baharudin langsung meloncat turun dari teras. Lalu spontan semuanya mendongak keatas.


"Subhanallah...!" Seru Abah Dul reflek.


"Masya Allah...!" Gus Harun pun terkesima melihat langit.


Mahmud dan Mang Ali juga bergumam "Subhanallah" entah merasa takjub atau merasa ngeri.


Pemandangan di langit begitu horor. Semburat cahaya merah kekuning-kuningan terlihat diatas gumpalan-gumpalan mendung memenuhi langit. Pancaran cahaya itu membuat hitam pekatnya gumpalan-gumpalan mendung terlihat sangat kontras dan jelas.


Pangkal cahayanya tidak bisa terlihat karena terhalang oleh atap rumah. Kemudian bergegas semuanya melangkah berpindah tempat untuk melihat sumber cahaya yang menyemburat dari arah barat.


Namun tetap saja mereka masih belum bisa melihat sumber cahaya itu karena terhalang oleh bagian atap kusen-kusen rumah. Abah Dul pun mundur tengok-tengok melihat sekelilingnya mencari sesuatu yang bisa dinaikinya.


Dia melihat tumpukkan bata setinggi dua meteran berada disamping rumah tetangga depan Mahmud. Tumpukkan bata itu milik Pak RT yang akan digunakan untuk membuat pagar rumahnya.


Abah Dul pun bergegas naik dengan sedikit lompat tangannya langsung meraih bata paling atas. Lalu dengan hati-hati beringsut seperti Spiderman merayap keatas tumpukkan bata.


Tidak lama kemudian tubuh Abah Dul berhasil naik diatas tumpukkan bata itu lalu berdiri menghadap ke Barat.


"Subhanallah... Maha Suci Allah..!" Gumam Abah Dul.


Suasana yang senyap, meskipun Abah Dul hanya bergumam, suaranya terdengar jelas oleh semua orang yang berada dibawahnya sehingga memancing rasa penasaran yang teramat sangat.


"Ada apa Bah?!"


"Kenapa Bah?!"


"Kenapa Bah?!"


Abah Dul diberondong peratanyaan oleh Mahmud, Mang Ali dan Kosim, sedangkan Gus Harun hanya diam sambil tersenyum. Melihat Gus Harun hanya diam dan tersenyum menjadikan Mahmud, Kosim dan Mang Ali penasaran penuh dengan keheranan.


"Sepertinya Gus Harun tau?" Kata Mahmud.

__ADS_1


"Iya, apa Gus Harun sudah tau?!" Timpal Kosim.


Ditanya seperti itu Gus Harun malah melangkah ke teras lalu duduk ditepinya melihat Mahmud, Kosim dan Mang Ali yang raut mukanya sangat penasaran.


"Tau darimana Gus, kan nggak lihat?!" Tanya Mang Ali lantas mengejar Gus Harun.


Sementara Mahmud dan Kosim masih terus menatap memperhatikan langit. Diatas sana sejatinya menyuguhkan pemandangan sangat eksotis dan sangat indah.


Warna merah kekuning-kuningan yang terang memenuhi langit membuat penampakkan awan-awan mendung yang tebal berwarna hitam pekat dibawahnya.


Antara kagum, takjub namun terselip rasa penuh mistik dirasakan Mahmud, Kosim dan Mang Ali hingga Abah Dul dan Gus Harun.


Kemudian Mahmud dan Kosim menyusul Mang Ali menuju teras. Penuh dengan rasa penasaran yang amat sangat, keduanya kembali melempar pertanyaan yang sama.


"Gus ada apa sebenarnya?" Tanya Mahmud.


Belum juga sempat dijawab pertanyaan Mahmud, disusul dengan pertanyaan Kosim, "Itu cahaya apa Gus?!" timpal Mahmud.


Gus Harun masih senyum-senyum diberondong pertanyaan-pertanyaan itu. Ya Gus Harun memang sudah lebih dulu tahu soal fenomena di langit itu.


"Dul, sudah turun..." seru Gus Harun.


Abah Dul lekas-lekas turun tetapi dia bingung, bagaimana cara turunnya. Mau melompat terlalu tinggi, akhirnya dengan terpaksa dia memindahkan bata-bata yang dipinggir dan ditumpuknya ditengah hingga separuhnya.


Semua yang ada dibawah terkekeh-kekeh melihat polah Abah Dul yang sedang berusaha turun.


"Gus, nggak kepengen liat?!" Tanya Abah Dul begitu kakinya menginjakkan tanah.


"Sudah tau Dul," kata Gus Harun sambil tersenyum.


"Sumber cahayanya kan?!" Sambung Gus Harun.


"Iya.." jawab Mahmud, Kosim, Mang Ali dan Abah Dul kompak dan spontan.


"Itu Purnama..." ucap Gus Harun.


Mendengar jawaban itu kontan saja membuat dada Mahmud, Mang Ali dan Kosim berdebar. Tetapi rasa keheranannya lebih mendominasi daripada debaran jantungnya.


"Kok tau?" Tanya Abah Dul sembari ikut duduk ditepi teras.


Lalu Gus Harun memberi kode dengan jempolnya yang diangkat menunjuk ke belakang, "Nih..."


Mahmud, Kosim dan Mang Ali melongo kebingungan. Dibelakang Gus Harun tidak ada siapapun.


"Oooooo... enak yaaa, saya sudah susah-susah naik. Ente Bas, Har yang ngasih tau???" sungut Abah Dul.


Semuanya pun tertawa terpingkal-pingkal oleh selorohan Abah Dul. Sampai-sampai mereka sedikit lupa dengan PURNAMA!


......................

__ADS_1


🔴Next....👇 Sabar yaaaa....



__ADS_2