
Di ruang tengah rumah Mahmud, Abah Dul, Gus Harun, Mahmud, Arin dan Dewi baru saja selesai menyantap makan siang bersama. Tak seperti biasanya suasana makan itu senyap tak ada canda tawa ataupun obrolan- obrolan hangat.
Siang yang masih dnaungi oleh gelapnya mendung itu seakan- akan turut merasakan rasa cemas dan was- was di hati Abah Dul, Gus Harun dan Mahmud.
Masih nampak jelas raut- raut wajah penuh kegelisah yang tergambar terutama di wajah Abah Dul dan Gus Harun.
Suasana makan itu hening, tak biasanya tidak ada yang memulai obrolan dan tidak ada obrolan, hanya terdengar suara dari televisi yang tereengar di ruangan itu.
Raut wajah Abah Dul terlihat mengerutkan keningnya dalam- dalam. Nampak sekali dia memikirkan rencana yang beberapa jam lagi seharusnya mulai dijalankan.
Ia masih berkutat dengan alam pikirannya, begitu pula dengan Gus Harun. Kedua sahabat alumni satu pesantren itu bukan hanya sama- sama memutar otaknya menghadapi rencana penyerangan. Namun juga keduanya mengkhawatirkan dua sahabat lainnya yakni Baharudin dan Basyari yang tak kunjung ada kabarnya.
Kedua sahabat yang juga alumni satu pesantren itu seperti hilang ditelan bumi sehingga membuat Gus Harun dan Abah Dul timbul berbagai pertanyaan yang terus membebani pikiran mereka.
Ada tiga hal yang membuat keduanya menduga- duga sekaligus menimbulkan pertanyaan di hati mereka masing- masing, bagaimana, kemana dan kenapa? Tiga pertanyaan itulah yang kian membebani pikiran mereka.
“Selamat siang pemirsa, sekilas info kali ini dari jaln Tol. Beberapa saat lalu telah terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan lima kendaraan roda empat dan sebuah truk kontainer...” suara pembawa berita televisi terdengar jelas memecah keheningan.
Abah Dul tanpa sengaja menoleh melihat ke tayangan televisi ketika mendengar suara siaran berita itu. Namun ia tak bereaksi apapun, entah kenapa hatinya begitu penasaran dengan berita kecelakaan itu sehingga lebih memfokuskan lagi melihat televisi.
“Sementara hanya satu unit mobil pribadi yang dapat diidentifasi, sedangkan empat mobil lainnya masih dalam pengidentifikasian oleh pihak kepolisian...”
Hanya Abah Dul yang terus penasaran dengan tayangan berita itu. Sedangkan yang lainnya tak ada satu pun yang memperhatikan tayangan di televisi itu.
Arin dan Dewi bolak -balik membawa piring- piring bekas makan ke dapur. Sementara Gus Harun nampak sedang menikmati buah pisang, begitu pula dengan Mahmud.
Meski kelihatannya menikmati buah pisang, namun didalam hatinya sangat bertolak belakang. Sesungguhnya Hatinya sangat gelisah dan penuh kekhawatiran yang teramat sangat.
“Satu unit mobil pribadi yang sudah berhasil diidentifikasi berjenis Terrios warna hitam benomor polisi L**** BAS. Didalam mobil tersebut diketahui terdapat tiga orang penumpang yang menjadi korbannya...”
__ADS_1
Bersamaan dengan suara pembawa berita menjelaskan korban- korban kecelakaan itu, di layar kaca menampilkan gambar mobil beserta para korbannya di lokasi kejadian.
Nampak sebuah mobil Terrios warna hitam sebagian body mobil tersebut masuk kedalam parit yang berada disisi jalan dengam posisi nyaris terbalik. Kondisi mobil itu mengalami kerusakan sangat parah.
Tayangan televisi menampilkan tiga sosok tubuh yang sedang di evakuasi oleh petugas kepolisian dan dibantu oleh beberapa warga yang sepertinya pengguna jalan tol juga.
Kemudian ketiga korban itu di letakkan diatas rerumputan pinggir parit secara berjajar. Diantara tayangan itu pembawa berita kembali menyampaikan beritanya,
“Polisi berhasil mengidentifikasi ketiga korban, masing- masing diketahui bernama Misbah, 40 tahun yang diduga sebagai sopir dinyatakan tewas setelah mengalami luka berat pada bagian kepalanya akibat terketan tusukkan pecahan kaca mobil sehingga mengalami banyak pendarahan dan nyawanya tak tertolong...” suara pembaca berita di televisi.
“Innalillahi wainnailaihi rojiuun...” gumam Abah Dul mengernyitkan dahi merasa ngeri.
Gumaman Abah Dul meskipun pelan namun karena suasana sedikit hening cukup jelas didengar Gus Harun dan Mahmud. Kedua orang itupun spontan menoleh mengikuti pandangan Abah Dul ke layar kaca.
“Sementara kedua korban lainnya yang berjenis kelamin laki- laki diperkirakan berusia 33 tahunan juga mengalami luka- luka berat. Diketahui masing- masing bernama Ahmad Baharudin berasal dari Kutai Kalimantan Timur sedangkan korban satunya bernama Mohammad Basyari warga Surabaya...” suara berita televisi.
“Innalillahi wainnailaihi rojiuun..!!!” teriak Abah Dul, Gus Harun dan Mahmud bersamaan.
Dewi dan Arin menatap heran wajah Mahmud, Gus Harun serta Abah Dul yang sedang memelototi televisi dan tak menghiraukan pertanyaannya. Kedua kakak beradik itu pun sekwetika spontan ikut menoleh kearah tv.
Di layar kaca kembali menampilkan gambar wajah para korbannya yang rata- rata mengalami luka berat pada bagian wajahnya. Diperkirakan wajah para korban itu dipenuhi banyak darah karena wajah para korbannya di sensor sehingga tidak begitu jelas. Dalam tayangan itu wajah -wajah korbannya nampak di blur.
Seketika Mata ketiga orang itu melotot kearah layar kaca dengan mulut ternganga lebar. Ketiganya langsung beringsut mendekat ke televisi untuk memastikan, apakah nama- nama korban itu sesuai dengan wajah para korbannya.
Detak jantung Abah Dul berdebar kencang, begitu pula dengan yang dirasakan Gus Harun. Didalam hati kedua sahabat itu sangat ingin tidak mempercayai dengan apa yang didengar dan dilihatnya dalam tayangan tv itu. Akan tetapi gambar dan kalimat- kalimat berita itu nyata adanya manakala pembaca berita menyebutkan nama- nama korbannya.
“Basyari... Baharudin...” gumam Abah Dul dan Gus Harun bersamaan dengan ada suara bergetar.
Pandangan mata keduanya nampak nanar dan berkaca- kaca terus memandangi layar kaca seakan- akan tak ingin berkedip untuk memastikan kebenaran berita tersebut dengan mulut masih ternganga lebar.
__ADS_1
“Gus... Bah... apakah itu, itu...” ucap Mahmud.
“Semoga bukan mereka...” lanjut Mahmud penuh harap.
Mahmud sendiri belum pernah bertemu dengan Basyari dan Baharudin karena dirinya berbeda pesantren. Namun mendengar nama- nama kedua korban yang sama dan sedang ditunggu- tunggu seketika dirinya langsung berpikir kalau itu adalah kedua sahabat Abah Dul dan Gus Harun.
Lain halnya dengan Abah Dul dan Gus Harun, meskipun hatinya membenarkan harapan ucapan Mahmud tadi, namun didalam hati keduanya tak bisa memungkiri muncul keyakinan kalau kedua korban itu adalah benar- benar dua sahabatnya.
Meskipun mereka mencoba sekeras- kerasnya menolak keyakinan tersebut dan tidak mau menerima kemiripan dua korban dengan sahabat- sahabatnya itu.
Kedua pasang mata Abah Dul dan Gus Harun nampak mulai berkaca- kaca melihat ke layar kaca. Bibir mereka bergetar tanpa keluar ucapan sepatah kata pun, seolah mereka tak sanggup berucap lagi.
“Tidak! Ini tidak mungkin!” desis Abah Dul.
“Kita harus cepat- cepat memastikannya Dul, apakah benar itu Basyari dan Baharudin sahabat kita atau bukan?” ucap Gus Harun dengan nada berat.
“Bagaimana caranya Gus?” tanya Abah Dul.
“Kita harus ke sana Dul. Ke polsek atau polres meminta keterangan sekaligus melihat korban- korban itu langsung,” terang Gus Harun.
“Lalu bagaimana dengan rencana nanti malam? Apakah waktunya cukup?” timpal Abah Dul.
Gus Harun terhenyak, ia tak kuasa untuk langsung menjawab pertanyaan Abah Dul. Ia mengusap wajahnya sembari menghela nafas berat.
“Ya allah, apa yang harus saya lakukan?” ucap Gus Harun dalam hati.
Sekitar satu menitan dalam suasana hening, tiba- tiba Gus Harun mendongakkan kepalanya celingukkan sembari bertanya; “Jam berapa sekarang?”
Semua yang ada di ruang tengah itu serempak mengarahkan pandangannya ke jam dinding yang tergantung persis diatas tv.
__ADS_1
“Jam satu Gus!” Jawab mereka serempak.
BERSAMBUNG...