
Perlahan- lahan Kosim maju satu langkah mendekati lingkaran cahaya yang nampak bergerak seperti pusaran angin putting beliung tersebut. Lalu pelan- pelan Kosim mengulurkan kedua tangannya yang membopong arwah putranya ke tengah- tengah lingkaran putih. Secara perlahan- lahan Kosim mulai melepaskan kedua telapak tangannya yang membopong arwah putranya. Ekpresi raut wajah Kosim terlihat jelas menunjukkan seakan- akan enggan untuk melepaskannya.
Wajah Kosim terlihat begitu sedih menatap arwah putranya, sorot matanya memancarkan
kerinduan yang mendalam. Kosim terus menatapi wajah anak kecil berusia 3 tahunan itu tak berkedip.
Di dalam lingkaran cahaya. arwah putra Kosim terlihat melayang- layang di tengah- tengah
pusaran cahaya putih dan berputar mengikuti arus putaran cahaya putih tersebut. Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin turut menyaksikan pelepasan arwah anak kecil itu oleh Kosim dengan perasaan terenyuh ikut larut merasakan kesedihan yang mendalam seperti yang dirasakan Kosim.
Pandangan mata Kosim kian nanar manakala lingkaran cahaya putih itu perlahan- lahan membungkus arwah putranya. Cahaya putih yang terpancar dari bawah tersebut lalu melesat
turun dan seketika hilang masuk dibalik pijakan Kosim, Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin.
Saat itu pula Kosim bertekuk lutut dengan wajah tertunduk dalam- dalam, kedua tangannya
terkulai lemas disampingnya. Tangisannya membuncah, air matanya berderai luruh di kedua pipinya. Saat itu juga bayang- bayang penyesalan kembali menari- nari di dalam ingatan Kosim yang membawanya pada peristiwa awal mula perbuatannya hingga menyebabkan anak dan istrinya ikut merasakan penderitaan yang bertubi- tubi.
“Ya allah ya tuhanku… ampuni hambamu ini… aku sangat menyesali perbuatanku yang bersekutu dengan bangsa iblis laknat itu…” gumam Kosim lirih.
Melihat kedukaan yang dirasakan oleh Kosim yang begitu dalam, segera Gus Harun melangkah berdiri disamping Kosim lalu turut berlutut sambil memegang pundaknya, seraya berkata;
“Gusti Allah maha pengampun kang Kosim, semoga penyesalanmu menjadi jalan pintu
maafnya. Relakan semua yang terjadi kang Kosim, ikhlaskan semua ini sudah suratan takdir dari Gusti Allah…” ucap Gus Harun.
Ucapan Gus Harun membuat tubuh Kosim kian terguncang- guncang menahan tangisnya, Kosim tersedu- sedu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ampuni aku ya allaaaaaah….”
“Ampuni aku ya allaaaaaah….”
“Ampuninaku ya allaaaaaah….”
Berulang- ulang Kosim berucap lirih meminta ampunan kepada Gusti Allah, ia sangat meratapi
perbuatannya sendiri penuh penyesalan yang begitu mendalam.
__ADS_1
“Sudah, sudah, kang Kosim mari kita pulang dan melihat kebangkitan putramu,” ucap Gus Harun.
Mendengar ucapan Gus Harun dengan kalimat ‘kebangkitan putramu’ seketika itu juga Kosim seperti baru disadarkan bahwa putranya memang masih hidup. Sorot matanya yang semula kuyu hanyut dalam kesedihan tiba- tiba berubah menjadi pancaran penuh gairah dan
semangat lagi.
Kosim menoleh menatap Gus Harun seraya berucap, “Ayo Gus kita pulang, saya ingin melihatnputra saya untuk yang terakhir kalinya sebelum saya benar- benar tidak bisa
melihat dan menjumpainya lagi.”
“Mari kita kembali!” kata Gus Harun kepada semuanya.
5 berkasbcahaya putih melesat kearah utara dengan cepat membelah pekatnya langit alam siluman. Gus Harun, Kosim, Abah Dul, Basyari serta Baharudin melihat di kejauhan peperangan masih berlangsung antara pasukan jin dan pasukan Kajiman melawan prajurit- prajurit siluman monyet. Saat itu juga Gus Harun mengirimkan perintahbmelalui telepati kepada wakil pimpinan pasukan jin dan pasukan Kajiman serta kepada tuan Denta dan Raja Kajiman agar mundur dan kembali pulang.
“Baik tuan!” balas wakil pimpinan pasukan jin dan wakil pimpinan pasukan Kajiman.
Namun Gus Harun tidak kunjung mendapat balasan dari tuan Denta dan Raja Kajiman. Seketika muncul perasaan tak enak di hatinya, prasangka buruk membayangi pikirannya sepanjang jalan menuju rumah Mahmud.
“Apa yang terjadi dengan tuan Denta dan Raja Kajiman?!” tanya Gus Harun dalam hati.
......................
Tampak empat sosok tubuh milik Gus Harun, Abah Dul Baharudin dan Basyari yang tak bergerak masih dalam posisi duduk bersila saling berhadapan. Tiba- tiba ke empat tubuh tersebut bergerak tersentak! Sesaat ke empat tubuh itu bergetar hebat lalu terbatuk- batuk secara bersamaan.
“Uhukk…”
“Uhukk…”
“Uhukk…”
“Uhukk…”
“Alhamdulillahirobbil alamiin…” ucap Gus Harun diikuti Abah Dul, Baharudin serta Basyari.
Beberapa saat mereka celingukkan lalu saling memandangi satu sama lainnya. Mereka merasa
seperti baru terbangun dari mimpi yang sangat panjang.
__ADS_1
“Jam tujuh!” seru Abah Dul saat tak sengaja matanya melihat jam dinding.
“Sepertinya kang Mahmud, mbak Dewi dan mbak Arin sudah ada di pekuburan,” ujar Gus harun.
“Ayo Gus kita kesana,” sergah Abah Dul.
Saat Gus Harun diikuti Abah Dul, Baharudin serta Basyari bergegas bangun dari duduknya,
mereka semua limbung dan nyaruh terjatuh jika tidak saling berpegangan.
“Sudah terlalu lama kita meninggalkan raga kita,” kata Gus Harun.
Perlahan- lahan ke empat orang itu mulai mengatur nafasnya. Di tariknya nafas dalam-
dalam lalu ditahannya beberapa saat kemudian di hembuskannya perlahan- lahan. Hal itu mereka lakukan hingga beberapa kali hingga badan mereka merasa segar dan dapat kembali mengontrol tubuhnya dengan sempurna.
“Mari Gus, Har, Bas… “ ajak abah Dul lalu mereka keluar rumah menuju pekuburan.
......................
Sementara itu beberapa menit yang lalu di tempat pekuburan,
Semua orang yang berada di pekuburan di kejutkan dengan cahaya putih yang berasal dari
liang lahat anaknya Kosim yang menyorot ke langit, cahaya putih itu secara tiba- tiba surut lalu masuk ke dalam liang lahat. Kini di area pekuburan tidak lagi silau oleh terangnya cahaya putih sehingga pandangan mata dari puluhan orangbyang memenuhi area pekuburan seketika dapat melihat dengan jelas situasi di atas area kuburan.
Ternyata area pekuburan sudah dipenuhi oleh warga masyarakat bukan hanya dari warga
masyarakat desa Sukadami saja melainkan banyak pula dari warga masyarakat desa- desa tetangga. Dan kini puluhan bahkan ratusan pasang mata serentak tertuju pada kuburan anaknya Kosim yang sudah dikerumuni warga yang berdiri mengelilingi kuburan yang di gali tersebut.
Saat itu juga suasana di area pekuburan seketika menjadi hening, tak terdengar lagi suara- suara obrolan dari warga masyarakat yang berada di tempat itu. Hanya tatapan- tatapan ratusan pasang mata tertuju pada area kuburan yang di gali menantikan apa yang akan terjadi.
Di dalam liang lahat, bersamaan dengan surutnya cahaya yang memancar dari jasad Dedebsebelumnya sontak saja membuat Mahmud terkesiap. Hilangnya cahaya yang memancar dari tubuh Dede yang berada di pangkuannya seketika membuat pikiran Mahmudbmenjadi kalut tak menentu.
“Ya allah, apakah ini pertanda gagal?! Apakah upaya pengembalian arwah Dede tidak berhasil?!” ucap Mahmud lirih, ia merasa putus asa dan sangat terpukul kalau upaya sahabat- sahabatnya sia- sia.
Sekujur tubuh Mahmud terasa lemas, ia menyandarkan punggungnya pada dinding tanah liang lahat sambil memandangi wajah keponakannya sekaligus sudah dia anggap sebagai putranya sendiri.** BERSAMBUNG
__ADS_1