Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
UMPAN PESUGIHAN


__ADS_3

Wajah- wajah penuh harap- harap cemas nampak terlukis di raut semua orang yang ada di rumah


pak RT itu. Mereka semua kompak memandangi Tinah menunggu menceritakan dan sangat penasaran ingin tahu dan mendengar Tinah menjawab pertanyaan dari Abah Dul tersebut.


Tinah tak menyadari kalau dirinya sedang menjadi pusat perhatian para tetangganya. Ia malah meraih air minum yang sudah diberikan doa- doa oleh Abah Dul. Dua kali tegukkan air putih itu memasuki kerongkongannya, Tinah merasakan pikirannya perlahan- lahan mulai bugar.


“Tinah,kenapa kamu sampai histeris tadi. Seperti orang yang sangat ketakutan sekali?” Abah Dul mengulangi lagi pertanyaannya setelah melihat Tinah sudah lebih bugar dan tenang.


Seketika Tinah menundukan kepalanya seperti sedang mengingat- ingat sesuatu didalam memori otaknya. Matanya mengerjap- kerjap reflek seperti memikirkan sesuatu. Lalu beberapa detik kemudian Tinah menghela nafas berat, Tinah kembali minum satu teguk air putih digelas dan perlahan- lahan dia mulai mengingat kejadian itu.


Namun yang Tinah ingat dengan jelas di otaknya hanya di saat- saat terakhir sebelum dirinya tak sadarkan diri. Semua orang menahan nafas menanti Tinah menceritakan awal mula kejadiannya yang membuat Tinah berteriak- teriak histeris ketakutan.


“Awalnya tidak ada sesuatu yang janggal bah dari keluar rumah berangkat sekolah hingga sampai di sekolah dan belajar, semuanya berjalan seperti biasanya. Nah, saat sudah satu jam dan memasuki jam kedua belajar itu tiba- tiba saya melihat bapak guru yang sedang menerangkan di depan papan tulis itu perlahan- lahan memudar dan


terlihat buram, lalu terlihat berputar- putar sama persis seperti garis lingkaran pada obat nyamuk,” terang Tinah.


Tanpa disadari mulut ibu- ibu itu semuanya ternganga mendengarkan sepanjang Tinah bercerita.


“setelah itu pandangan saya menjadi gelap seketika, akan tetapi sesaat kemudian yang saya lihat bapak guru yang berdiri di depan kelas itu sudah tidak ada lagi. Sosoknya berganti dengan sosok tinggi, sangat tinggi dan kurus. Lalu...” terang Tinah.


Tinah menghentikan ceritanya untuk menarik nafas. Tetapi justru semua orang yang ada di situ menjadi kian penasaran.


“Lalu gimana Tin..?!” tanya mereka serempak.


Tinah sedikit tersentak kaget mendapat berondongan pertanyaan itu seolah Tinah tidak menyadari kalau orang- orang sedang penasaran dengan ceritanya. Tinah ceklingukan mengedarkan pandangannya melihat kesekelilingnya, kini ia baru sadar kalau dirinya sedang di kerubuti para tetangganya.


“Mahluk tinggi kurus itu memaksa saya untuk ikut dengannya. Saya bener- bener sangat takut bah,” ujar Tinah.


“Seperti apa wajah mahluk itu Tin?!” timpal ibunya.

__ADS_1


“Wajahnya nggak begitu jelas sepeti nggak ada mukanya bu,” sahut Tinah.


“Hiiiiiiihhhh...!” timpal semua ibu- ibu serempak merasa ngeri.


Abah Dul mengerutkan dahinya, batinnya mengatakan mustahil terjadi begitu saja tanpa adanya sebab. Setelah suara koor itu reda Abah Dul bertanya lagi;


“Mungkin sebelum- sebelumnya Tinah pernah ngapain atau menemui kejadian apa gitu Tin. Ya, mungkin tadi malam atau di jalan sewaktu berangkat sekolah, ada kejadian apa?”


Abah Dul meyakini kalau sosok mahluk yang di musnahkannya itu sejenis mahluk yang biasa mengambil nyawa untuk tumbal pesugihan atas suruhan orang yang menjalani pesugihan. Semua orang kembali dibuat penasaran oleh pertanyaan Anah Dul.


Tinah nampak berpikir keras, ingatannya menelusuri kembali dari sewaktu malam hari dan juga dari hari kemarinnya tetapi Tinah tak merasa mengalami kejadian aneh. Tinah kembali mengingat saat dirinya berangkat sekolah sejak dari rumah hingga sampai di sekolahnya.


Tiba- tibawajahnya berubah menegang, Tinah teringat dengan satu kejadian saat berangkat sekolah itu.


“Nggak ada kejadian apapun bah, hanya sewaktu di jalan sebelum masuk gerbang sekolah di jalan saya menemukan uang kertas 100 ribuan...” ucap Tinah wajahnya mendongak kearah Abah Dul namun sorot matanya nampak menerawang berusaha mengingat- ingat kembali. Kejadian lainnya.


Tinah kembali meneruskan ceritanya dengan sedikit terbata- bata berusaha mengingat kejadian itu. Lantas Tinah mengatakan kalau saat itu setelah menemukan uang kertas itu dirinya langsung memasukkannya ke saku rok seragamnya dan meneruskan angkahnya memasuki gerbang sekolah.


“Saya pikir uang itu rejeki saya, jadi uang nemu itu langsung saja saya bayarkan ke sekolah untuk bayar iuaran bulanan. Kebetulan saya belum bayar dan menunggak 1 bulan karena bapak belum ada uang,” kata Tinah.


Tinah mengatakan, saat itu juga sebelum bel masuk berbunyi Tinah mendatangi bagian TU untuk membayar iuran bulanan itu. Semuanya berjalan tanpa ada kejanggalan sama sekali.


Setelah selesai membayar dan Tinah menerima kwitansi tanda pembayaran, hatinya sangat senang karena tunggakkan iurannya sudah dilunasi. Ia pun melenggang memasuki kelasnya tanpa ada kejadian apa- apa.


“Hmm...” gumam Abah Dul manggut- manggut.


Dugaannya benar, uang yang di temukan Tinah itu merupakan uang yang sengaja di pasang agar ada anak- anak yang mengambilnya. Untungnya Tinah tidak membelanjakan uang tersebut untuk membeli makanan, apabila sampai uang pasangan tumbal itu dibelikan makanan dan memakannya, kemungkinan bisa saja Tinah bisa langsung dibawa dan tak bisa diselamatkan.


Tanpa disadari Abah Dul menghembuskan nafas lega merasa bersyukur Tinah tidak menggunakan uang

__ADS_1


itu untuk membeli makanan. Tetapi gumaman dan hembusan nafas berat Abah Dul itu justru membuat orang- orang penasaran. Mereka ingin tahu juga apa yang menyebabkan mahluk menyeramkan itu ingin mengajak Tinah.


“Apa penyebabnya Bah?!” tanya ibu Tinah yang langsung di iyakan semuanya.


“Mm, sudah, sudah... yang penting sekarang Tinah sudah sembuh. Ayo sekarang kembali ke rumah masing- masing, biar Tinah bisa istirahat, ya.” Kata Abah Dul kemudian bangkit berdiri disusul Mahmud.


“Pak RT, bu RT kami pamit ya. Tinah, jangan tinggal sholatnya yah,” ucap Abah Dul pamit.


“Sebentar, sebentar bah, kang Mahmud,” sergah pak RT, lalu segera bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Abah Dul maupun Mahmud tahu gelagat pak RT itu hendak mengambil uang untuk diberikan kepadanya.


Abah Dul dan Mahmud pun tak menghiraukan cegahan pak RT, keduanya meneruskan langkah kakinya keluar rumah.


“Bah! Kang Mahmud! Tunggu... tunggu...!” seru pak RT dari dalam sambil setengah beropiuyiolari menyongsong Abah Dul dan Mahmud yang sedang memakai sandalnya.


“Ada apa pak RT?” tanya Abah Dul pura- pura tidak tahu.


“Ini buat beli rokok Bah, kang Mahmud,” balas pak RT sambil mengulurkan genggaman tangannya.


“Ah, nggak usah pak RT,” cegah Abah Dul.


“Jangan pak RT, nggak usah begitu. Kasih saja buat sekolahnya Tinah ya. Terima kasih banyak dan mohon maaf ya pak RT, kami pamit, assalamualaikum...” kata Mahmud.


Pak RT hanya tergagu melongo di tempatnya berdiri. Kalau sudah begitu ia tak bisa memaksa lagi, “Tte, terima kasih hatur nuhun pisan ya Bah, kang Mahmud...”


“Injih pak RT, sami- sami..” balas Abah Dul dan Mahmud.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2