Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KAROMAH PUSAKA


__ADS_3

“Siapa yang menyuruhmu?!” tanya Abah Dul.


Namun mahluk itu hanya diam seperti menatap lekat- lekat sukma Abah Dul. Abah Dul tahu kalau mahluk itu


sedang menatapnya meskipun mata mahluk itu hanya bias samar terlihat. Mahluk itu tak mau menjawabnya.


Tak mau berlama- lama Abah Dul langsung mengggerakkan tangan kanannya lurus menjulur keatas lalu sesaat


berikutnya muncul kilatan cahaya putih berkilauan. Andai dilihat mata manusia pastilah akan langsung menutup matanya karena saking silaunya kilatan cahaya itu.


Cahaya yang muncul dari genggaman tangan Abah Dul tampak sebuah tongkat berwarna kuning emas yang terus-


menerus memancarkan sinarnya yang menyilaukan. Seketika sosok maluk kurus tinggi itu tersurut mundur tiga langkah sambil menyilangkan kedua tengannya menutupi wajah datarnya.


Jarak mundurnya lumayan jauh sekitar 30 meteran jauhnya dari hadapan sukma Abah Dul. Jika itu langkah manusia, tiga langkahnya mungkin hanya 3 atau 4 meteran saja, namun mahluk tak kasat mata itu lain. Mengingat bentuk tubuhnya memiliki kaki panjang yang menopang tubuh kurusnya yang menjulang, alhasil rentang jarak satu langkah kakinya pun 10 kali lipatnya.


Setelah tubuh kurus tinggi itu berhenti dari tersurut mundurnya, tiba- tiba dia memekik dengan suara sember


dan melengking keras.


“Grrrrrkkkkhhhh…!!!”


Bersamaan dengan pekikan sember dan lengkingannya, keluar semburan api dari mulutnya menjalar mengarah pada sukma Abah Dul. Abah Dul terkesiap, ia tak menyangka ada mahluk gaib yang memiliki kemampuan seperti itu dan dirinya baru pertama kali ini bertemu sekaligus bertarung dengannya. Sehingga  Abah


Dul belum mengetahui seberapa besar kekuatan yang dimiliki sosok jangkung bermuka rata itu.


Sejengkal lagi semburan api menggulung deras menghantam tubuh Abah Dul, secepat kilat Abah Dul membuat


gerakkan memutar tongkat emas di genggamannya di depan dadanya. Seketika terdengar suara berdengung seperti ada ribuan tawon yang mengerubutinya. Suara dengungannya sangat keras keluar dari putaran tongkat emas itu. Sinar emas langsung menyelimuti seluruh tubuh Abah Dul, sekilas sosok Abah Dul terlihat seperti


Dewa dalam cerita film- film, dimana saat kemunculannya diselimuti cahaya.

__ADS_1


Sedetik berikutnya laju gulungan api yang meluncur deras itu menghantam cahaya emas tepat ditengah- tengah


pusarannya, “Duarrrrrr..!!!”


Suara ledakan kontan menggema di kehampaan saat gulungan api yang disemburkan mahluk jangkung itu berbenturan dengan kekuatan dari pusaka tongkat emas Abah Dul. Alam tak kasat mata bergetar


hebat, pijakan kaki Abah Dul sedikit goyah oleh getarannya. Abah Dul tersurut mundur satu langkah, dia hanya memundurkan kaki kirinya untuk menahan dorongan ketika benturan terjadi.


Di saat benturan itu pula dari balik putaran tongkat emasnya, abah Dul sempat melihat dengan jelas ada kilatan


cahaya emas besarnya seukuran pohon kelapa melesat cepat dari pusat pusaran tongkat emasnya. Abah Dul terperanjat, dirinya tidak mengira dari tongkat emasnya itu mengeluarkan serangan balasan kearah sosok jangkung sesaat setelah gulungan api itu menghantamnya.


Duarrrrr…!!!


Suara ledakan kembali menggelegar dialam kehampaan. Namun suara ledakkan kali ini dibarengi dengan berpendanya cahaya merah darah yang memcah hancur dari sosok mahluk jangkung. Tak ada jeritan, tak ada sepatah kata yang terucap dari mahluk tak kasat mata itu. Tubuhnya musnah seketika seiring partikel- partikel cahaya merah darah menghilang secara beruntun satu demi satu.


Sebelumnya, suasana di ruang tamu rumah pak RT semua orang yang ada di situ menatap lekat- lekat wajah Abah


Bebrapa saat setelahnya, semua orang melihat baju koko yang melekat di tubuh Abah Dul sudah basah oleh


keringat. Pak RT langsung meraih kipas tangan yang tergeletak tak jauh darinya bekas mengipasi putrinya, lantas langsung mengipas- ngipaskan ke tubuh Abah Dul.


Mahmud tak tinggal diam, mulutnya komat- kamit membaca satu- satunya amalan yang diberikan oleh Gus


Harun. Dia tahu Abah Dul sedang bertarung melawan mahluk gaib karena Mahmud pun dapat melihatnya secara tidak sengaja. Terbentang begitu saja di matanya. Awalnya Mahmud hendak membantu Abah Dul, tetapi setelah melihat Abah Dul mengeluarkan sebuah senjata, ia pun menyurutkan memberikan bantuannya. Mahmud sangat yakin Abah Dul mampu mengatasinya.


Wajah Abah Dul yang basah olehkeringat nampak menegang membuat orang- orang menjadi sangat cemas. Meskipun mereka tidak tahu apa yang dialami Abah Dul, namun mereka bisa menduga kalau Abah Dul sedang bertarung dengan mahluk gaib. Bagi warga pedesaan, hal- hal mistis yang berkaitan dengan mahluk gaib bukan lagi hanya dianggap mitos. Mereka masih sangat kental kepercayaannya terhadap campur tangan mahluk gaib dan masih mereka mempercayainya.


“Bapaaaak…” Lirih suara Tinah terdengar memecah kecemasan semua orang.


“Tinah… Tinah…” pak RT langsung merengkuh kepala putrinya.

__ADS_1


“Alhamdulillah… Tinah sudah sadar! Tinah sudah sadar!” pekik ibu- ibu spontan.


Air mata Pak RT tak terbendung lagi, tangisnya membuncah. Melihat keharuan bapak dan anak itu membuat sebagian orang yang ada di ruang tamu itu turut berlinangan air matanya, terutama kaum ibu- ibu.


Pada akhirnya mereka tak tahan lagi membendung air matanya. Tangisnya pun membuncah.


Ada yang langsung mengusap- usap lengan Tinah, ada yang mengusap- usap perut Tinah, apapun yang dapat mereka sentuh ibu- ibu itu mengusapnya.


Bersamaan dengan itu Abah Dul, perlahan- lahan membuka matanya lalu meraupkan telapak tangan ke wajahnya sambul bergumam mengucap “Alhamdulillah”. Abah Dul segera melihat kondisi Tinah yang berada di pelukan bapaknya.


“Punten pak RT, Tinahnya di dudukkan dulu. Mm, bu RT tolong minta air putih buat minumnya Tinah ya bu RT,” pinta Abah Dul.


Tinah duduk menghadap lurus kearah posisi Mahmud yang masih duduk bersilah. Abah Dul kemudian menggeser


duduknya kebelakang punggung Tinah. Ia menggerakkan telapak tangannya seperti sedang mendeteksi dari ujung kepala Tinah hingga ke bagian pinggang tanpa menyentuh, sekitar 5 cm dari kulit Tinah.


 “Alhamdulillah… Tinah…” Abah Dul


menyapa Tinah dengan lembut.


 “Dalem Bah,” sahut Tinah sopan.


 Kondisi tubuh Tinah tampak kembali normal, tidak seperti sebelumnya pada saat Tinah berlaku tak wajar


tadi. Wajahnya pucat, sorot matanya tajam dan liar menyiratkan ketakutan yang teramat sangat. Kini kondisi Tinah berangsur- angsur terlihat bugar kembali.


“Tadi apa yang Tinah rasakan..?” tanya Abah Dul.


Pertanyaan itu seperti mewakili tanda tanya di hati orang- orang yang ada di situ sehingga anpa sadar mereka semua mengangguk- anggukan kepala. Dengan raut wajah penasaran mereka menunggu- nunggu jawaban dari Tinah.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2