Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MENGHAPUS KESAN NYELENEH


__ADS_3

Malam kian larut tak berasa jarum jam pendek sudah berada di angka 1 dini hari sedangkan jarum panjangnya berada di angka 3.


"Wi mas pamit ya," ucap Mahmud pada Dewi berdiri di teras rumah.


"Mbak Dewi kami mohon pamit, terima kasih banyak atas jamuan- jamuannya selama saya dan sahabat- sahabat saya disini," susul Gus Harun menangkupkan kedua telapak tangan di dada. Begitu pun Basyari dan Baharudin, keduanya menganggukkan kepala tersenyum mengiyakan ucapan Gus Harun.


"Matur suwun sanget ya mbak," timpal Basyari dan Baharudin.


"Njih, njih, Gus, kang Basyari, kang Baharudin. Mohon maaf jika penerimaan selama disini ada yang kurang baik.


"Wi, jangan lalai jagain Dede ya selama kami pergi," sela Abah Dul.


"Iya Bah, insya allah saya dan Arin akan menjaganya," balas Dewi.


Abah Dul langsung menenteng ransel milik Gus Harun membawakannya menuju mobil yang sudah terparkir di depan gang.


"Biar, biar saya aja Dul!" cegah Gus Harun saat Abah Dul mengangkat ransel bawaannya.


"Udah Gus, nggak apa- apa ente kan tamu ane disini berarti ini wilayah kekuasaan ane. Ente tamu disini, hehehe...." sergah Abah Dul berkelit ketika Gus Harun berupaya meraih ransel yang lebih dulu diangkat Abah Dul.


Tidak ada lagi barang- barang bekal lainnya selain milik Gus Harun. Sebab Basyari dan Baharudin hanya membawa baju yang melekat di badannya karena semua perbekalannya dibawa kabur perampok bersama mobilnya.


"Hati- hati dijalan mas, Bah titip mas Mahmud ya. Awas jangan sampai kenapa- napa," seloroh Dewi.


"Siap ibu negara, ane akan kawal dan jaga barang antik itu!" balas Abah Dul berkelakar.


"Ah, kurang asem ente Bah!" sungut Mahmud merasa tersindir.


Gus Harun, Basyari dan Baharudin ikut senyum- senyum melihat tingkah polah Abah Dul dan Mahmud.


"Assalamualaikum..." ucap Gus Harun disusul Basyari dan Baharudin.


"Wa alaikum salam..." balas Dewi melambaikan tangannya sambil menatap kepergian suaminya dan yang lainnya hingga mereka tak terlihat lagi.

__ADS_1


Keesokan hari, suasana rumah yang selalu hangat dan ramai kembali terasa begitu sepi setelah Mahmud dan Abah Dul mengantarkan Gus Harun, Basyari dan Baharudin pulang ke Surabaya sekaligus berniat menghadiri acara haul pondok pesantren yang diasuh oleh Basyari di Surabaya.


Seperti biasa Dewi dan Arin sudah bangun sejak subuh hari dan sudah melakukan aktifitas rutinnya berbenah rumah. Dewi sibuk di dapur, sedangkan Arin bersih- bersih seluruh ruangan di dalam rumah. Dan ketika cahaya matahari mulai menerangi desa Sukadami, barulah Arin keluar rumah untuk menyapu halaman yang kotor oleh guguran dedauan yang jatuh berserakkan.


“Rin, mau dimasakin apa hari ini?” Dewi muncul dari teras samping berniat pergi ke warung.


“Anu mbak, saya pengen makan yang pedas- pedas. Mmm… kalau ada ikan lele, bikin pecak lele aja mbak tapi yang pedas sambalnya ya,” sahut Arin menghentikan aktifitas menyapunya.


Dewi beberapa saat termangu, keningnya berkerut keheranan. Tumben Arin ingin makan yang pedas- pedas, pikir Dewi dalam hati. Tak lama kemudian Dewi pun tak memikirkannya lebih jauh, ia meneruskan langkahnya mencari sandalnya yang ada di teras depan lalu pergi ke warung.


“Bunda Dewi, Dede ikuuuut…!” terdengar teriakan seorang anak kecil.


Seketika Dewi menghentikan langkahnya dan berbalik badan, begitu pula dengan Arin. Lalu keduanya tersenyum menatap lembut pada anak kecil yang bersuara tadi dan sudah berdiri ditengah pintu dengan rambut yang nampak masih acak- acakan.


“Eeeeh, Dede udah bangun,” sambut Arin penuh kasih sayang.


“Dede mau ikut? Ayo sini,” kata Dewi melambaikan tangannya.


“Ayah Mamud, pakde Dul sama bapak- bapak itu pada kemana bunda?” tanya Dede celingukkan kesana kemari lalu beranjak dari tempatnya berdiri mencari- cari sandalnya dibawah teras.


“Kok Dede nggak diajak sih bunda,” rengek Dede lalu berlari kecil kearah Dewi yang sudah menunggunya.


Pandangan mata Arin mengikuti Dede berlari kecil menuju Dewi sambil tersenyum dan menggeleng- gelengkan kepala tanpa menjawab rengekkan Dede. Tanpa sadar Arin hanyut masuk ke dalam lamunannya dengan pandangannya melihat kearah Dede dan Dewi yang sudah melangkah pergi ke warung.


“Andaikan mas Kosim masih hidup, akan berasa lengkap,” gumam Arin menerawang.


“Atau apakah mungkin saya mencari penggantinya? Ah, tidak! Tidak! Rasanya tidak ada orang lain lagi yang seperti mas Kosim. Kasih sayangnya, sabarnya, rasa tanggung jawabnya, sepertinya cuma mas Kosim yang bisa, ” ucap


Arin dalam benaknya. Mulutnya senyum- senyum tanpa di sadarinya.


Ditengah lamunannnya, tiba- tiba sehelai daun kering melayang jatuh tepat mengenai kening Arin lalu luruh melewati wajahnya. Seketika itu juga Arin tersadar dari lamunannya seraya memekik tertahan; “Ngaco, kamu ngaco Arin!”


Arin memaki- maki dirinya sendiri sembari menepuk- nepuk kedua pipinya bergantian, lalu cepat- cepat meraih sapu lidinya yang tergeletak di tanah dan melanjutkan menyapu halaman rumah.

__ADS_1


Sepertinya rumah Mahmud akan sepi dalam beberapa hari kedepan selama Mahmud dan Abah Dul ke Surabaya. Mahmud sempat mengatakan pada Dewi, dirinya dan Abah Dul akan pulang setelah selesai mengikuti acara haul disana, namun tidak ditentukan dengan pasti berapa hari lamanya.


Sementara itu Dewi dan Dede sudah sampai di warung sayur langganannya. Seperti biasanya warung Bi inah itu sudah dikerubuti para ibu- ibu yang berbelanja aneka ragam b ahan masakan.


Saat melihat Dewi datang bersama Dede, semua ibu- ibu yang semula terfokus memilih bahan- bahan masakannya seketika menoleh kearah mereka berdua. Lalu tanpa ada yang mengomandoi, ibu- ibu itu mengerumuni Dede dan Dewi sambil menyentuh- nyentuh dan mengusap badan Dede. Mulai dari kepala, rambut, pipi, bahu, kedua tangan Dede bahkan ada yang sampai memegang- megang kakinya pula.


“Dede… kamu sudah sehat?” tanya seorang ibu- ibu sambil memegangi pipi Dede nampak sangat penasaran.


“Kamu lebih putih sekarang De,” timpal ibu- ibu lainnya juga memegang lengan Dede dan mengusap- usapnya.


“De kata orang- orang, Dede bisa mengobati orang sakit ya?” seloroh ibu- ibu lainnya.


Anak kecil itu spontan berontak merasa risih seluruh badannya di pegangi ibu- ibu, ia berusaha menghindar dengan menyembunyikan diri didepan kaki Dewi yang tengah memilih- milih bahan masakannya.


“Kenapa De?” tanya Dewi merasakan Dede mendekap erat kakinya.


Dede tak menjawab pertanyaan Dewi, ia semakin merekatkan kepalanya diantara kedua lutut Dewi. Melihat tingkah lucu dan menggemaskan Dede, membuat ibu- ibu tertawa- tawa saja.


“Mbak Dewi, kelihatannya Dede sekarang lebih aktif ya?” tanya salah seorang ibu- ibu yang turut menggoda Dede.


“Iya bu,” sahut Dewi singkat sambil terus memilih- milih bahan sayuran.


“Eh, mbak Dewi ada yang aneh nggak sih yang terjadi pada Dede setelah hidup lagi itu?” tanya seorang ibu- ibu yang berada disebelahnya.


“Hehehehe… biasa saja kok bu, ya seperti Dede yang dulu,” jawab Dewi dengan bijak.


“Itu gimana ceritanya kang Mahmud bisa tahu kalau Dede masih hidup didalam kuburnya?” tanya ibu- ibu lainnya penasaran lalu di angguki ibu- ibu lainnya yang turut penasaran.


“Wallahu a’lam bu, itu semua berkat kuasa Gusti Allah. Mas Mahmud hanya diperlihatkan dalam mimpinya,” jawab Dewi.


“oooh…” sahut ibu- ibu serempak sambil melongo menatap Dewi.


“Katanya Dede bisa menyembuhkan orang sakit ya mbak Dewi setelah hidup lagi,” tanya ibu- ibu lainnya.

__ADS_1


“Ah, nggak kok ibu- ibu. Itu hanya cerita yang dibesar- besarkan saja. Sebetulnya Dede belum mati ibu- ibu, menurut dokter Dede itu mengalami mati suri atau bahasa kedokterannya mengalami koma,” terang Dewi berusaha menghilangkan kesan yang nyeleneh pada Dede.** BERSAMBUNG


__ADS_2