
Saat ledakan terjadi, tubuh Mahmud terpental dan melayang sangat jauh kearah timur dari posisinya semula. Tubuh Mahmud melayang- layang di kehampaan tak sadarkan diri tanpa ada yang tahu keberadaannya.
Kiyai Sapu Jagat yang lebih dulu muncul di lokasi Mahmud sebelumnya terlihat celingukkan kesana kemari mencari keberadaan Mahmud. Ia melayang memutari sekelilingnya dalam radius 1 km, namun tak juga menemukannya.
Kosim pun mumcul di tempat dirinya menabrakan diri terhadap tongkat raja Kalas Pati yang meluncur mengarah tubuh Mahmud sebelumnya pun celingukkan memperhatikan sekelilingnya. Ia tak mendapati tubuh kakak iparnya tersebut.
Kosim menajamkan penglihatannya kearah bawah menyapu seluruh permukaannya, namun tetap saja tidak menemukan tanda- tanda keberadaan Mahmud.
"Kang Mahmud dimana sampeyan kang?" gumam Kosim muram.
Disaat Kosim sedang memikirkan keberadaan Mahmud, tiba- tiba terdengar suara berat namun berwibawa mengucapkan salam dari arah belakangnya.
"Assalamualaikum.."
"Wa' alaikum salam.." jawab Kosim langsung membalikkan badan melihat kearah sumber suara.
Kosim terkejut melihat seorang pria tua memakai gamis hijau serta berikat kepala sorban putih berdiri melayang menatapnya dengan tersenyum penuh wibawa.
"Bukankah anak ini yang bernama Kosim?" tanya pria bergamis hijau sambil tersenyum.
"Njih, betul pak tua. Mohon maaf sebelumnya, pak tua siapa?" sahut Kosim balik tanya dengan raut tampak bingung karena orang asing yang ada didepannya ternyata mengetahui namanya.
"Saya guru dari Harun, Abdul Basit, Basyari dan Baharudin nak Kosim," balas pak tua bergamis hijau yang ternyata adalah Kiyai Sapu Jagat.
"Ohw, punten beribu- ribu punten, saya tidak mengenali Kiyai. Maafkan saya kiyai," sahut Kosim lalu bergegas menyongsong tangan Kiyai Sapu Jagat untuk menyalami dan mencium tangannya.
"Hehehe... Ndak apa- apa, ndak apa- apa nak Kosim. Saya memkluminya, karena nak Kosim sama sekali belum pernah bertemu dengan saya," balas kiyai Sapu Jagat tersenyum hangat.
"Kenapa kiyai ada disini? Apakah kiyai juga ikut membantu kami?" tanya Kosim penasaran.
"Yah, awalnya saya hanya mengawasi saja setelah murid- murid saya meminta restu hendak melakukan ini nak Kosim. Namun keadaanlah yang memaksa saya turun langsung," balas Kiyai Sapu Jagat.
"Ohw matur suwun sanget Yai, matur suwun sanget. Semua ini gara- gara saya biang penyebabnya, saya juga sangat menyesal Yai," ucap Kosim langsung murung menyesali dirinya.
"Ini semua sudah menjadi suratan takdir Gusti Allah nak Kosim. Yang penting kamu sudah bertobat dan sungguh- sungguh menyesali perbuatanmu nak," ucap kiyai Sapu Jagat.
__ADS_1
"Njih Yai, saya sangat, sangat menyesal. Andai saja saya diberi umur panjang hidup di dunia, saya rela menebusnya dengan cara apapun," tutur Kosim.
"Iya nak Kosim, saya percaya saya dapat melihat penyesalanmu nak. Ya sudah sekarang kamu pasti sedang mencari kakak iparmu, Mahmud kan?" tanya Kiyai Sapu Jagat.
"Njih Yai, apakah Yai melihatnya? kearah mana kang Mahmud terpental Yai?!" tanya Kosim penuh harap kiyai Sapu Jagat melihatnya.
"Saya sudah mengitari wilayah ini tapi saya tidak melihat adanya Mahmud, nak Kosim," jawab kiyai Sapu Jagat.
"Dimana ya kang Mahmud?" gumam Kosim kecewa.
"Ayo kita kembali ke rumah Mahmud dulu untuk menemui murid- muridku. lalu kita akan sama- sama mencarinya," kata Kiyai sapu Jagat.
"Tapi Yai, bagaimana dengan Raja kalas Pati dan para prajuritnya? saya khawatir mereka akan menyerang kealam manusian Yai!" sergah Kosim cemas.
"Kalas Pati dan prajuritnya tak akan mengganggu lagi. Saya sudah negosiasi dengannya," jawab Kiayai Sapu Jagat.
"kalau begitu mari Yai kita ke rumah Mahmud, monggo Yai," ujar Kosim mempersilahkan Kiayai Sapu Jagat untuk lebih dulu didepan sambil mengacungkan jari jempolnya dengan hormat.
Tanpa ada kata- kata lagi dari Kiyai Sapu Jagat, ia pun langsung melesat kearah utara disusul Kosim dibelakangnya.
DI RUMAH MAHMUD,
"Kang Mahmud pasti terpental oleh ledakkan kekuatan tersebut," ujar Baharudin.
"Ya, saya pun berpikir demikian har. Mahmud pasti terdorong jauh," duga Abah Dul.
"Tapi yang ane lebih kepikiran dengan keadaan kang Mahmud, karena ledakkan tersebut sangat dekat
jaraknya," kata Gus Harun.
“Waduh, benar juga kata ente Gus!” timpal Basyari manggut- manggut membenarkan kekhawatiran Gus Harun.
“Jadi bagaimana apakah kita langsung mencarinya atau tetap menunggu kabar dari mama Yai?” tanya Abah Dul mulai merasakan cemas dengan keadaan Mahmud.
Reflek Abah Dul memandangi tubuh Mahmud yang diam tak bergeming sedikit pun. Kedua mata Mahmud masih terpejam rapat, tak ada tanda- tanda Mahmud akan kembali ke raganya. Abah Dul langsung berpikir jauh terhanyut dalam kecemasannya, jika terjadi apa- apa dengan Mahmud lalu bagaimana dirinya dan sahabat- sahabatnya menjelaskan semuanya pada Dewi dan Arin?
__ADS_1
Kekhawatiran tersebut semakin membuat Abah Dul gelisah, raut wajahnya menunjukkan rasa cemas yang sangat besar.
“Assalamualaikum…”
“Assalamualaikum…”
Mendengar suara- suara yang tiba- tiba muncul di ruang tengah tersebut membuat Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin tersentak kaget. Lalu sedetik berikutnya mereka berempat pun bernafas lega setelah mengetahui siapa yang datang mengucapkan salam tersebut.
“Wa’ alaikum salam Yai… Kang Kosim…” jawab Gus Harun serta yang lainnya bersamaan.
“Bagaimana keadaan kalian?” tanya Kiyai Sapu Jagat dalam wujud samar- samar, lalu duduk di sebelah antara Gus Harun dan Mahmud, sementara Kosim duduk diantara Abah Dul dan Baharudin.
“Alhamdulillah Yai, kami masih diberi perlindungan sama Gusti Allah,” jawab Gus Harun mewakili sahab- sahabatnya.
“Kang Kosim baik- baik saja?!” tanya Baharudin memperhatikan wujud Kosim yang nampak seperti bayang- bayang.
“Alhamdulillah, saya baik- baik saja ustad,” jawab Kosim.
“Apakah Yai atau ente Sim bertemu dengan Mahmud? Lalu kenapa Mahmud tidak ikut serta dengan Yai?” tanya Abah Dul tak sabar karena sangat mencemaskan keadaan Mahmud.
“Tenag, tenangkan diri kalian… karena itulah saya mengajak nak Kosim kesini untuk menemui kalian. Saya dan nak Kosim sudah berusaha mencari disekeliling tempat Mahmud sebelumnya. Tetapi kami tidak dapat menemukan keberadaan Mahmud,” terang Kiyai Sapu Jagat.
Mendengar keterangan gurunya, membuat Abah Dul sangat kecewa dan raut wajahnya menunjukkan semakin cemas. Gus Harun dan yang lainnya terdiam, mereka tak tahu apa yang harus diucapkan. Melihat murid- muridnya terdiam dan terlihat cemas, kiyai Sapu Jagat pun kembali melanjutkan ucapannya.
“Untuk itu saya kesini berniat mengajak kalian untuk sama- sama mencari Mahmud,” sambung Kiyai Sapu Jagat.
“Tapi Yai, bagaimana dengan raja Kalas pati?!” sergah Gus Harun.
“Karena itu pula kita harus cepat- cepat menemukan Mahmud,” kata Kiyai Sapu Jagat.
“Maksud Yai??” tanya Abah Dul.
“Raja Kalas Pati meminta kalian untuk mengembalikan senjata nya. Saya pun menyetujuinya tapi dengan syarat yang saya tawarkan,” terang Kiyai Sapu Jagat.
“Syarat apa Yai?” sergah Gus Harun.
__ADS_1
“Saya meminta Kalas Pati dan seluruh siluman monyet untuk tidak lagi mengganggu kalian beserta sahabat- sahabat kalian. Namun, saya meminta waktu sampai semuanya kembali dengan selamat,” ungkap Kiyai Sapu Jagat.
“Kalau begitu, mari Yai kita kembali kesana mencari Mahmud!” tegas Abah Dul tak sabar.**BERSAMBUNG