Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
SUKA CITA


__ADS_3

RUMAH MAHMUD,


Baru saja selesai makan, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin seketika terkejut dan spontan menoleh kearah tubuh Mahmud yang tiba- tiba bergerak berguncang- guncang dengan keras. Dari kening Mahmud mulai basah oleh bulir- bulir keringat sebesar biji- biji jagung. Namun kedua mata Mahmud masih tertutup rapat.


Wajah Abah Dul yang semula sudah mulai tenang, seketika kembali dirundung kekhawatiran yang teramat sangat. Raut


wajahnya sangat cemas dan gundah tampak terlihat menegang dan kekhawatirannya terhadap Mahmud semakin menjadi- jadi.


“Apa yang terjadi dengan Mahmud Gus?!” tanya Abah Dul gundah.


“Saya belum tahu Dul, kita tunggu saja selanjutnya,” jawab Gus Harun.


“Apakah di alam jin sedang terjadi sesuatu ya?” tanya Baharudin megambang.


“Mungkin mereka sedang menghadapi suatu masalah seperti pertarungan misalnya,” ujar Basyari.


“Iya, yang pasti kang Mahmud dan yang sedang bertarung,” timpal Gus harun.


“Kita harus menolong mereka Gus!” kata Abah Dul.


“Tapi Dul, gimana kita bisa menembus alam jin? Kalau pun kita bisa menembus alam jin, kita belum tentu berada di tempat Mahmud dan yang lainnya berada,” balas Gus Harun.


“Dul, bukankah ente pernah bertemu tuan Denta di alam jin? Gimana ente bisa sampai disana?” tanya Basyari mengingatkan.


Abah Dul tak langsung menjawabnya, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Abah Dul berusaha mengingat- ingat kembali bagaimana dirinya memasuki alam jin kala itu.


Beberapa saat lamanya Abah Dul mengingat- ingatnya kembali, namun ia tak juga dapat mengetahui bagaimana proses saat dirinya berpindah alam. Gus Harun, Basyari dan Baharudin menahan nafas menunggu jawaban dari abah Dul,


“Saya tidak ingat Har,” gumam Abah Dul menggelengkan kepala dengan lesu.


Setelah mendengar jawaban Abah Dul, ketiganya menghempaskan nafasnya secara bersamaan. Tersirat kekecewaan dari wajah Gus Harun, Basyari dan Baharudin. Tanpa ada yang mengomandoi mereka semua kembali memperhatikan tubuh Mahmud yang masih bergerak- gerak bahkan bergetar.


Sedetik berikutnya tubuh Mahmud tiba- tiba terhentak, tubuh Mahmud terlonjak sedikit lalu kembali terduduk. Tak lama kemudian sebuah suara terucap dan terdengar seperti gumaman; “Alhamdulillahirobbil alamiin…”


Mendengar Mahmud mengucapkan hamdalah, seketika itu juga Abah Dul, Gus harun, Basyari dan Baharudin spontan memekik sembari mengucapkan hamdalah secara bersamaan; “Alhamdulillahirobbil alamiiin…”


Abah Dul yang duduk disebelah Mahmud


langsung menggapai pundak Mahmud dan memeluknya erat. Matanya berkaca- kaca


menahan keharuan dan rasa syukur yang tak terhingga mendapati tubuh Mahmud yang

__ADS_1


sudah dapat bergerak dan mengucap hamdalah. Begitu pun dengan Gus Harun, Basyari dan Baharudin, ketiganya kontan saling menubruk tubuh Abah Dul dan Mahmud.


“Alhamdulillahirobbil alamiiin…”


“Alhamdulillahirobbil alamiiin…”


“Alhamdulillahirobbil alamiiin…”


Tak henti- hentinya kalimat syukur tersebut diucapkan Abah Dul, Gus harun, Basyari serta Baharudin sambil berpelukkan. Keempat tubuh yang saling bertumpuk memeluk Mahmud, membuat Mahmud sesak nafas dan terbatuk- batuk.


“Uhukk… uhukk… uhukk… haus, haus…” ucap Mahmud.


Mendengar Mahmud terbatuk- batuk membuat Baharudin yang posisi pelukkannya paling akhir dengan cepat langsung melepaskan pelukannya. Disusul Basyari, Gus Harun dan terakhir Abah Dul. Keempatnya segera kembali duduk, namun lebih dekat jaraknya mengerubungi Mahmud, sementara Abah Dul langsung mengambil gelas yang sudah tersedia sebelumnya di ruangan


tersebut lalu menuangkan air putih dan diberikannya pada Mahmud.


Mahmud langsung menerima gelas berisi air dari tangan Abah Dul dan langsung meneguknya sampai tandas. Lalu memberikan gelas kosong itu pada Abah Dul kembali sembari memberi isyarat meminta air lagi. Abah Dul segera menuangkan air kembali kedalam gelas dan memberikannya pada Mahmud.


Mahmud nampak sangat kehausan sekali, dengan cepat gelas berisi air minum kedua itupun di teguknya hingga ludes tak bersisa setetes pun. Abah Dul dan sahabat- sahabatnya terbengong- bengong melihat tingkah Mahmud yang tak biasa. Namun sesaat kemudian mereka


baru menyadari kalau raga Mahmud sudah terlalu lama ditinggalkan sukmanya.


“Maaf, maaf… Gus, Bah ustad Basyari, ustad Baharudin, apa yang terjadi? Kenapa ente- ente semua pada memeluk saya?” tanya Mahmud bingung sambil menyeka lelehan air disekitar bibirnya.


Dul nangis tersedu- sedu tuh,” seloroh Gus Harun sembari memberi isyarat dengan


matanya menunjuk Abah Dul.


“Ah, sembarangan saja ente Gus. Siapa yang menangis?!” sergah Abah Dul sedikit tersipu.


“Halllahhh’ ente jangan mungkir Dul. Saya juga lihat kalau mata ente berkaca- kaca,” timpal Baharudin.


“Iya tuh kang Mahmud,” susul Basyari.


Abah Dul semakin tersipu mendapat sindiran dari sahabat- sahabatnya. Tetapi Mahmud masih tampak kebingungan dengan yang dibicarakan Gus Harun dan yang lainnya. Lalu Mahmud menoleh pada Abah Dul seolah- olah meminta penjelasan pada Abah Dul.


“Jadi begini Mud. Kita semua mencemaskan ente, bahkan saya sendiri kalut dan sempat terlintas dalam pikiran saya kalau ente tidak akan kembali dan mati di alam sana. Masalahnya hampir seharian ente tidak kembali,” ungkap Abah Dul.


Mendengar penjelasan itu Mahmud manggut- manggut dan barulah mengerti dengan sikap Abah Dul dan yang lainnya yang memeluknya erat begitu histeris.


“Iya Dul, saya juga sempat berburuk sangka kalau saya tidak akan bisa kembali ke dalam raga saya dan mati di alam jin,” ucap Mahmud.

__ADS_1


“Oh iya kang Mahmud, bagaimana bisa ente tiba- tiba berada di alam jin?!” tanya Gus Harun.


“Saya juga tidak begitu paham Gus bagaimana


saya bisa berada di alam jin. Sebab pada saat saya tersadar dan membuka mata melihat sekeliling, saya sudah berada di dalam hutan belantara,” terang Mahmud.


“Apakah kang Mahmud bertemu dengan Kiyai Sapu Jagat, kang Kosim, tuan Samanta dan tuan Gosin?” tanya Gus Harun.


“Iya Mud, soalnya mereka pergi ke alam jin sedang mancarimu,” timpal Abah Dul.


“Masya allah!” tiba- tiba Mahmud terpekik.


“Kenapa Mud?!” tanya Abah Dul.


“Kenapa kang?!” tanya Basyari dan Baharudin bersamaan.


“Ada apa kang Mahmud?!” susul Gus Harun.


“Iya benar! Saya bertemu dengan Kiyai Sapu Jagat, tuan Samant dan tuan Gosin. Bahkan sebelumnya saya sudah bersama tuan Denta,” ungkap Mahmud.


“Tuan Denta?! Tuan Denta tidak musnah?!” ulang Gus Harun seakan tidak percaya.


“Benar Gus, saya bertemu dengan mereka semua,” tegas Mahmud.


“Bagaimana bisa ente bertemu tuan Denta sebelumnya kang Mahmud?” tanya Gus Harun heran.


Mahmud pun lantas menceritakan dari awal ketika dirinya tersadar dari pinsannya dan mendapati dirinya sudah berpindah alam. Mahmud juga menceritakan pertemuannya dengan tuan Denta yang secara tidak sengaja di tempat yang sama. Tak lupa pula Mahmud menceritakan kondisi tuan Denta saat pertemuan tersebut. Hingga peristiwa terakhir saat berada di kediaman tuan Denta pun di ceritakan.


“Gawat!” pekik Mahmud tiba- tiba.


Seketika Mahmud tersadar dan teringan dengan kondisi tuan Denta, Kiyai Sapu Jagat, tuan Samanta, tuan Gosin dan Kosim saat menceritakan dirinya pada kejadian terakhir kali di rumah tuan Denta.


“Ada apa kang Mahmud?!” sergah Gus Harun.


“Gawat Gus, saat ini tuan Denta, kiyai Sapu Jagat dan yang lainnya dalam situasi yang sangat berbahaya. Saya melihat banyak pasukan kerajaan jin sedang menuju ke tempat kediaman tuan Denta,” ungkap Mahmud.


“Lalu apa yang terjadi? Kenapa ente bisa kembali sedangkan yang lainnya tidak Mud?!” tanya Abah Dul dibuat penasaran.


Mahmud diam sejenak, ia mengingat- ingat lagi pada saat dirinya terakhir kali berada bersama mereka di kediaman tuan Denta.


“Yang saya ingat, tuan Denta sudah membukakan pintu gerbang untuk kembali kesini. Tapi….” Mahmud menghentikan ucapannya mencoba mengingat- ingatnya lagi.

__ADS_1


“Tapi apa Mud?!” sergah Abah Dul tak sabar.


“Terakhir yang saya ingat, saya sempat mendengar suara ledakkan. Lalu saya merasa tubuh saya terlempar masuk kedalam pusaran pintu gerbang itu,” ungkap Mahmud sambil menerawang keatas.** BERSAMBUNG


__ADS_2