
Hari ke-13 Melawan Perjanjian Gaib,
Kejadian semalam membuat Kosim tak habis pikir. Ketika tangannya menyentuh tangan anaknya yang sedang kerasukan siluman monyet, dirinya merasa seperti tersengat listrik. Terasa panas terbakar, kesemutan bahkan hingga mengepulkan asap.
Pagi ini Kosim duduk sendirian diteras sambil bersandar pada saka rumah. Pikirannya lebih terfokus memikirkan kejadian pada dirinya, bukan soal siluman monyet yang hampir saja membuat celaka Arin, Mahmud, Abah Dul hingga Dede sendiri.
"Ada dua kemungkinan, efek itu terjadi karena beradunya dua kekuatan yang kontra. Kekuatan siluman monyet dengan kekuatan yang ada pada saya sendiri atau ada campur tangan dari sosok pemilik suara tanpa rupa," kata Kosim dalam hati.
Kosim yang masih awam dengan hal-hal berbau supranatural hanya bisa berdefinisi melalui logikanya. Ia sendiri hanya merasa memiliki kekuatan kebatinan setelah menjalankan amalan zikir yang diberikan oleh Gus Harun.
Sedangkan adanya 'Suara Tanpa Rupa' yang kerap kali membantu Kosim itu didapatnya semenjak Kosim mengalami mati suri. Sejak saat itu 'suara tanpa rupa' kerap muncul secara tiba-tiba apabila Kosim atau orang disekitarnya berada dalam keadaan darurat.
Kosim sendiri masih belum bisa membedakan antara pertolongan dari pemilik suara tanpa rupa dengan pertolongan yang dari hasil zikirnya. Ia hanya merasakan dirinya dilindungi dan ditolong.
"Haduuuh, makin rumit aja kalau mikirin itu," keluh Kosim sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Sudahlah, siapapun itu yang menolong dan melindungi saya pokoknya saya sangat berterima kasih." Ucapnya membatin.
"Pagi-pagi sudah melamun Sim," Mahmud sudah nongol di pintu sambil nenteng gelas kopi.
"Eh, Mas Mahmud. Iya Mas lagi mikirin kejadian semalam," ujar Kosim.
"Apa yang dipikirin Sim. Semuanya kan selamat," kata Mahmud.
"Saya mikirin kejadian pada saya sendiri Mas. Ternyata saya kalah sama Dede ya Mas, hehehe.." seloroh Kosim.
"Iya ya Sim, padahal Kobra aja nggak mempan, hahaha..." timpal Mahmud ketawa.
"Ah, Mas Mahmud jangan ngeledek Mas," ujar Kosim.
"Lah iya kan Sim? Ular Kobra, perampok, serangan siluman monyet lewat semua. Tapi sama Dede langsung ngebul tangannya, hahaha..." Mahmud makin tergelak.
"Nah, itu yang lagi saya pikirin Mas. Kenapa semalam saya nggak bisa ngatasi Dede kesurupan, ya?!" Ujar Kosim sambil garuk-garuk kepala.
"Iya juga sih Sim." Kata Mahmud ikut mikir.
"Ya sudah Mas, abis sarapan saya mau ke proyek." Kata Kosim sambil beranjak dari duduknya.
"Iya deh, saya juga mau ke kebun." Ujar Mahmud.
......................
Suasana pergantian siang ke malam ditandai suara azan Magrib dari pengeras suara mushola. Cuaca sedikit mendung dan udara berasa sedikit dingin menembus celah-celah angin-angin di ruang sholat rumah Mahmud.
Selesai menunaikan ibadah sholat Magrib berjamaah dengan Dewi dan Arin, Mahmud berniat duduk midangan di teras depan. Sementara itu Kosim belum kunjung pulang dari kerjanya di proyek.
Baru saja setengah berdiri, terdengar suara ketukan dari pintu depan disusul ucapan salam.
"Assalamualikum, Muuud..." panggil suara dari luar.
"Wa'alaikum salam..." sahut Mahmud.
"Suara Abah Dul sepertinya penting banget, nih" ucapnya dalam hati lalu mempercepat bangunnya dan bergegas menuju pintu depan.
"Mud, Kosim mana?!" Tanya Abah Dul begitu pintu dibuka.
"Kosim belum pulang Bah masih di proyek. Kenapa Bah sepertinya penting banget, masuk Bah," susul Mahmud.
"Waduh! Saya lupa ngasih tau kalau malam ini malam Jumat. Saya khawatir siluman monyet itu akan datang lagi," ujar Abah Dul.
"Saya telpon Kosim aja Bah," sergah Mahmud.
__ADS_1
"Iya Mud, syukur-syukur sudah dalam perjalanan pulang." Kata Abah Dul.
"Wi, bikin minum buat Abah Dul." Seru Mahmud melangkah mengambil hapenya diatas bufet.
"Kopi apa teh tubruk?" Sahut Dewi dari depan televisi.
"Kopi, kopi." Sela Abah Dul sembari duduk di kursi tamu.
"Kopi Wi..!" Mahmud meneruskan ucapan Abah Dul.
Setelah Mahmud mengambil hapenya diatas meja, ia pun segera mencari kontak Kosim dan menelponnya. Beberapa saat kemudian terdengar suara peringatan dari provider, "Maaf nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan atau sedang tidak aktif, silahkan mencoba beberapa saat lagi."
"Nggak aktif hapenya Bah," kata Mahmud.
Tak beberapa lama Dewi muncul membawa dua gelas kopi dan diletakkan diatas kayu kusen-kusen jendela disisi Abah Dul karena meja tamunya pecah digebrak Kosim sehari sebelumnya.
"Diminum Bah," ujar Dewi.
"Loh, ini mejanya kenapa Wi?!" Abah Dul baru nyadar kalau meja didepannya bolong tanpa kaca.
"Pecah kemarin Bah karena Kosim, hehehe..." ujar Dewi sambil berlalu.
"Ohh..." balas Abah Dul.
Mahmud menghempaskan pantatnya di kursi sebelah Abah Dul ikut cemas memikirkan Kosim yang belum juga pulang ditambah lagi dengan hapenya tidak aktif.
"Perkiraan Abah, malam ini bakal ada serangan lagi gitu Bah?" Tanya Mahmud penasaran.
"Perkiraan saya sih mereka bakal datang lagi malam ini dengan kekuatan yang lebih besar. Sebab kalau menurut teman-teman para praktisi supranatural kalau malam Jumat itu merupakan pusat kekuatan bangsa mahluk gaib," Terang Abah Dul.
"Bisa jadi upaya serangan kemarin hanya sebatas menyelidiki dan mengukur kekuatan yang ada disini Mud." Sambungnya.
"Iya Mud, naluri saya mengatakan bakal ada upaya penjemputan tumbal lagi. Usai sholat Magrib tadi perasaan saya mendadak tidak enak, saya langsung kepikiran Kosim makanya langsung kesini," terang Abah Dul.
"Mang Ali kesini nggak Mud?" Tanya Abah Dul.
"Nggak tau Bah, mungkin rada malaman." Jawab Mahmud.
"Coba telpon Kosim lagi, Mud. Perasaan saya makin nggak enak," sergah Abah Dul, kian menunjukkan kecemasannya terhadap keselamatan Kosim.
Beberapa saat Mahmud kembali membuka hapenya dan menelpon. Beberapa saat Mahmud menunggu namun telpon yang dihubungi malah tidak aktif.
"Tuut... tuut.. tuut.."
Lagi-lagi telpon Kosim tak dapat dihubungi. Mahmud langsung menutup saja saat suara operator peringatan itu muncul.
"Nggak nyambung juga Bah," tukas Mahmud.
Abah Dul dan Mahmud dibuat kian dibuat gelisah. Beragam prasangka buruk langsung menghantui pikiran keduanya.
......................
Sementara itu ditempat Kosim berada, didalam ruangan bangunan mess proyek yang dulu pernah runtuh menimbun Kosim. Seorang pekerja meronta-ronta liar sedang dipegangi kedua kaki dan tangannya oleh beberapa pekerja lainnya.
Ada lima orang pekerja proyek terlihat panik melihat temannya sedang kerasukkan mahluk halus.
"Panggil ustad disekitar sini!" Seru salah seorang yang memegangi tangan.
Salah satu pekerja lainnya bergegas keluar mess untuk mencari ustad di pemukiman penduduk sekitar.
Sementara diluar tak jauh dari mess, Kosim sedang duduk ngobrol dengan Juned. Kosim tiba-tiba terdiam, telinganya berdengung lalu disusul suara bisikkan di telinga kanannya.
__ADS_1
"Ada yang kesurupan mahluk halus penunggu pohon randu didekat mess."
Bersamaan hilangnya suara tanpa rupa di telinga Kosim, melintas salah seorang pekerja tadi dengan langkah tergesa-gesa hendak mencari ustad.
"Kang, kang mau kemana tergesa-gesa?!" cegah Kosim.
"Anu Mas, itu mau nyari ustad. Di mess ada yang kesurupan!" Seru pekerja itu hendak meneruskan langkahnya.
"Siapa Din?!" Sela Juned.
"Itu Kang Si Jupri," jawab perkerja bernama Udin.
"Udah, udah Kang. Nggak usah, biar saya coba menolongnya." Sergah Kosim.
Kosim, Juned dan Udin pun langsung bergegas menuju mess dengan setengah berlari.
Begitu sampai didepan pintu mess, tanpa disadari secara kasat mata Kosim dapat melihat ada sosok mahluk hitam sedang meronta-ronta didalam tubuh pekerja yang kesurupan.
"Lepas, lepaskan saja Kang!" Seru Kosim.
Keempat pekerja yang memegangi tangan dan kaki Jupri langsung menjauh begitu melepas cekalannya.
Pekerja yang kesurupan bernama Jupri itu langsung berdiri dengan bertolak pinggang. Meskipun banyak orang, tetapi entah kenapa Jupri hanya menatap tajam kearah Kosim.
Dengan kekuatan dan keberanian yang tidak disadari oleh Kosim, perlahan melangkah dihadapan Jupri yang hanya berjarak satu langkah didepannya.
Tiba-tiba Jupri melompat menerjang Kosim sambil mengayunkan tangannya ke kepala. Kosim memyadari betul dirinya hendak dihantam, matanya melihat dengan jelas kepalan tangan Jupri meluncur deras kearah kepala samping kirinya namun Kosim tetap diam tak ada gerakan untuk menghindar.
Sepertinya Kosim sengaja membiarkan saja pukulan itu menghantamnya. Lalu sesaat kemudian terdengar suara dentuman hingga menggetarkan mess.
"Booommm!!!" Kepalan tangan Jupri menghantam telak bagian samping kepala Kosim.
Bersamaan itu Jupri langsung terpental ke belakang hingga menabrak dinding mess yang terbuat dari triplek hingga jebol.
Kosim melihatnya dengan jelas saat Jupri terpental. Dia sendiri masih berdiri ditempatnya tanpa bergeser dan tanpa terluka sedikit pun.
Semua para pekerja yang menyaksikan itu hanya melongo keheranan. Kosim lalu bergerak menyongsong Jupri yang nampak terkapar dengan separuh badannya berada diluar ditengah dinding yang jebol.
"Ampuuuun... ampuuuun... ampuuun Tuanku.." Erang Jupri masih yang masih dalam pengaruh mahluk halus.
"Tuanku?!" Kosim heran dengan panggilan itu.
"Pergi! Jangan pernah ganggu orang-orang yang ada disini lagi!" Hardik Kosim.
"Baik Tuanku, baik..." Ucap Jupri.
Usai mengucapkan itu, tubuh Jupri langsung lunglai tergeletak tak sadarkan diri. Rupanya mahluk halus penunggu pohon randu di belakang mess sudah keluar dari tubuh Jupri.
Kosim lantas mengusap dada Jupri sembari membaca satu-satunya amalan yang dimilikinya pemberian dari Gus Harun.
Beberapa detik kemudian Jupri tersadar lalu duduk celingukan melihat sekeliling. Ekspresi wajah Jupri terlihat heran dan bingung mendapati tubuhnya berada diantara dinding mess yang bolong.
"Loh, ngapain pada ngerubutin saya? Kenapa dindingnya bolong" Tanya Jupri dengan mimik muka heran.
Bukannya menjawab pertanyaan Jupri, malah teman-temannya spontan pada menertawakannya.
Ditengah-tengah riuhnya suara tertawa para pekerja, telinga Kosim tiba-tiba kembali mendengung.
"Cepat pulang, di rumah mencemaskanmu!"
......................
__ADS_1