Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
BAHAGIA DITENGAH PRAHARA 3


__ADS_3

Udara Pegunungan Guci Tegal sangat sejuk meskipun akhir pekan ini terik matahari baru saja melewati titik kulminasinya. Mobil-mobil pribadi berseliweran lewat di jalan depan rumah ibu Ayu Ning Tyas hendak menuju ke tempat wisata.


Pemandangan tersebut sudah tidak asing lagi bagi ibu Ayu Ning Tyas, Zakiyah maupun Mahmud jika sudah memasuki akhir pekan banyak wisatawan yang datang. Sebab posisi rumahnya berada di jalan menuju tempat objek wisata pemandian air panas Guci.


"Sudah siap semua?" tanya Mahmud sambil menunggu Zakiyah selesai mengunci pintu.


Abah Dul dengan sigap langsung melangkah bergegas membuka pintu mobil hendak menghidupkan mesin mobil.


"Bah, Bah..! Mau kemana?" tanya Mahmud.


"Ya markirin mobil, kan mau jalan," jawab Abah Dul.


"Hikhikhik... Siapa yang mau naik mobil, wong pekuburannya dekat disitu tuh dekat jalan," ujar Mahmud.


"Ngomong dari tadi!" sungut Abah Dul dengan mata melotot ke Mahmud.


Semuanya pada cekikikan melihat tingkah Abah Dul. Zakiyah spontan melirik ikut melihat ekspresi wajah Abah Dul yang tersipu meskipun matanya melotot ke kakaknya sambil menutup mulutnya.


"Kalian berdua tuh ya, dari masih remaja sampe sekarang masih aja kaya tikus dan kucing aja." kata ibu Ayu Ning Tyas.


"Hahahahaha..." Semuanya serempak tertawa, Abah Dul hanya bisa garuk-garik kepalanya yang tak gatal.


"Sudah, sudah hayuk jalan ah," kata ibu Ayu Ning Tyas lagi.


Mereka pun melangkah pergi meninggalkan rumah menuju pekuburan untuk berziarah ke makam ayahnya Mamud yang lokasinya tak begitu jauh hanya 100 meteran dari rumah.


Mahmud berjalan beriringan dengan Dewi lalu ibu Ayu Ning Tyas berjalan beriringan dengan Zakiyah disusul Kosim sambil menggendong Dede beriringan dengan Arin. Sedangkan Abah Dul berjalan menunduk sedang menyalakan rokok berada paling belakang tepat dibelakang Kosim.


Baru beberapa langkah keluar dari gerbang rumah, tiba-tiba Kosim berhenti mendadak karena telinganya berdengung.


"Aduh!" teriak Abah Dul.


Kontan saja tubuh Kosim tertubruk Abah Dul dari belakang yang tidak melihat Kosim berhenti karena sedang menunduk menyalakan rokok sambil berjalan. Tubuh Kosim yang slim terdorong kedepan oleh tubuh besar Abah Dul membuatnya nyaris menubruk Zakiyah.


Kegaduhan dibelakang membuat semuanya menoleh ke belakang tertuju pada Kosim lalu beralih menatap ke Abah Dul.


"Ada apa lagi sih," seru Mahmud.


"Tau Kosim tuh tiba-tiba berhenti," sahut Abah Dul.


"Hallahh! Saking aja ente sedang ngelamun Zakiyah," ceplos Mahmud.


Spontan semuanya tergelak tertawa oleh ucapan Mahmud. Zakiyah pun langsung menepuk punggung kakaknya.


"Ih, Mas mah..." sergah Zakiyah tersipu-sipu.


Dibelakang, Abah Dul hanya mengacungkan tangannya dengan tangan terkepal sambil melotot kearah Mahmud tanpa sepatah kata pun.

__ADS_1


Derai tawa mengiringi langkah mereka keluar gerbang rumah menuju area pemakaman umum.


Sesaat akan memasuki area pemakaman, Abah Dul mencolek punggung Kosim. Kosim pun menoleh dan mensejajarkan langkahnya disebelah Abah Dul.


"Ada apa Sim?" tanya Abah Dul berbisik.


Abah Dul sudah sangat paham kalau tiba-tiba Kosim berhenti berarti pasti ada sesuatu pesan masuk di telinganya.


"Nggak tau Bah, cuma bilang 'hati-hati' aja," jawab Kosim.


"Waduh, ada apa ya?" gumam Abah Dul.


Memasuki area pemakaman disambut dua pohon asam yang besar dan sangat rindang. Nampaknya usianya sudah tua terlihat dari batang pangkalnya yang besar dan terdapat rongga-rongga ditengahnya menyerupai gua.


Mereka berjalan beruntutan dengan hati-hati disela-sela diantara makam-makam agar tidak menginjak bagian tengah kuburan.


Posisi makam ayah Mahmud berada agak ketengah sehingga butuh perjuangan berjalan berliku-liku melintasi sisi makam ke makam lain.


Tanpa disadari, sepasang mata merah dari rerimbunan pohon bambu disudut pekuburan terus mengawasi rombongan Mahmud yang sedang menuju makam ayahnya.


Detak jantung Abah Dul tiba-tiba saja berdegub kencang. Ia merasakan tidak nyaman dengan situasi di pemakaman tersebut. Matanya melirik kesana kemari melihat sekitarnya akan tetapi semuanya nampak terlihat baik-baik saja tidak ada yang ganjil.


Hingga pada sebuah makam yang terletak dekat dengan pohon Kamboja yang berukuran sedang, Mahmud menghentikan langkahnya. Mahmud berjongkok disamping kanan batu nisan berwarna abu-abu bertuliskan nama "Wirya Sanjaya." Lalu secara beruritan diikuti ibu Ayu Ning Tyas, Zakiyah, Dewi, Arin, Dede duduk dipangkuan Kosim dan Abah Dul.


Mereka berjongkok melingkari makam Wirya Sanjaya. Diatas pusaranya Ibu Ayu Ning Tyas, Zakiyah dan Dewi menaburi bunga-bunga yang dibelinya di kios dipinggir jalan seberang pemakaman.


Abah Dul merasakan desiran angin itu tak wajar, lalu spontan memperhatikan satu persatu wajah mereka dari mulai Mahmud, ibu Ayu Ning Tyas, Zakiyah, Dewi, Arin, Dede serta Kosim.


"Tampaknya mereka baik-baik saja," ucap Abah Dul dalam hati.


Meski dilihat sekelilingnya tidak ada tanda-tanda keganjilan, tetapi Abah Dul tetap merapalkan salah satu amalannya untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu.


Tidak berapa lama Mahmud selesai berdoa diakhiri dengan membaca alfatihah terucap dari semuanya. Saat Mahmud hendak berdiri, secara tiba-tiba pohon Kamboja yang ada dibelakang sisi kanannya mendadak roboh kearahnya.


"Astagfirullah!" seru Mahmud.


Suara derakkan batang patahnya membuat Mahmud reflek mendekap ibunya untuk melindunginya. Zakiyah, Dewi dan Arin menjerit bersamaan melihat pohon Kamboja itu akan menimpa Mahmud dan ibu Ayu Ning Tyas.


Abah Dul yang sudah siaga sedari tadi langsung berdiri sembari mengibaskan tangannya yang sudah terisi setengah tenaga dalam.


Deru angin tenaga dalam meluncur deras diatas kepala Arin, Dewi dan Zakiyah. Laksana menangkis, tenaga dalam yang dihantamkan Abah Dul seperti mengganjalnya. Sesaat berikutnya pohon Kamboja yang tinggal sejengkal lagi menimpa Mahmud itu kembali berdiri tegak lalu roboh kesisi lain.


Mahmud yang sudah pasrah sebelumnya, masih memeluk erat ibunya. Didalam hatinya dia merasa akan tertindih pohon Kamboja, namun yang ditunggu-tunggu tidak ada apapun yang menimpa tubuhnya.


Mahmud mendongak kepalanya celingukan melihat sumber derakkan dibelakangnya.


"Aneh, kok robohnya kesana?!" gumam Mahmud.

__ADS_1


Spontan Mahmud menoleh ke Abah Dul yang dalam posisi berdiri. Akhirnya ia sadar yang membuat pohon Kamboja itu berubah arah robohnya karena Abah Dul.


"Matur nuwun Bah..." kata Mahmud.


Ibu Ayu Ning Tyas yang tidak mengetahui sama sekali kejadiannya hanya menatap Abah Dul dengan tertegun. Sebelumnya ia hanya mendengar ada suara berderak tetapi tidak tahu kalau pohon itu akan menimpanya.


"Ayo, ayo kita keluar dari sini!" seru Mahmud.


Mahmud segera membimbing ibunya berjalan meninggalkan makam ayahnya.


"Ada apa tadi Nak?" tanya ibu Ayu Ning Tyas kepada Mahmud.


"Kurang tau bu, tiba-tiba saja pohon dibelakang Mahmud itu roboh. Kalau nggak ditolong Dul kita pasti sudah kerubuhan tuh," terang Mahmud.


"Kok aneh yo. Ndak ada hujan, ndak ada angin tiba-tiba roboh begitu," ujar ibu Ayu Ning Tyas.


"Yowis to bu, tidak usah dibahas lagi ah. Yang penting alhamdulilah kita masih selamat toh?" kata Mahmud menenangkan ibunya.


Mereka pun keluar dari area pemakaman dengan penuh tanda tanya dihati masing-masing. Dewi dan Zakiyah yang berjalan beriringan paling depan tak henti-hentinya ngobrolin peristiwa tadi.


"Kenapa tadi Mbak?" tanya Zakiyah.


"Mbak juga nggak tau Kiyah, tiba-tiba saja Mas Mahmud mendekap ibu," jawab Dewi.


"Tadi Mas Mahmud bilang terima kasih pada Mas Dul itu kenapa?" tanya Zakiyah penasaran.


"Kamu merasakan nggak ada angin kencang seperti lewat diatas kepala tadi, Kiy?" tanya Dewi.


"Iya Mbak, saya merasakan juga," jawab Zakiyah.


"Nah, itu mungkin ya. Angin yang lewat diatas kepala itu dari Abah Dul untuk menahan pohon yang hendak menimpa Mas Mahmud dan ibu," terang Dewi.


"Wah, hebat juga Mas Dul ya Mbak," ujar Zakiyah.


"Cieeee... udah mulai muji-muji," seloroh Dewi.


Zakiyah nampak terkejut mendengar seloroh Dewi, tanpa sadar ia sudah mengungkapkan rasa kagumnya pada Abah Dul yang sudah dipendamnya.


Dibelakangnya, Mahmud berjalan menggandeng tangan ibunya disusul Arin dan Dede. Sementara Abah Dul dan Kosim yang berjalan paling belakang sengaja menjaga jarak dua langkah dibelakang Arin sedang serius ngobrol.


"Ulah siapa tadi ya Bah? Kok tiba-tiba roboh padahal nggak ada hujan nggak ada angin," kata Kosim setengah berbisik agar tak kedengaran Arin yang berjalan didepannya.


"Saya sendiri masih belum tau Sim. Tapi pas di makam bapaknya Mahmud itu saya mulai merasakan suasana berbeda. Makanya saya siapin pukulan dan ternyata kekhawatiran saya terbukti jadi bisa langsung dapat mengatasinya." terang Abah Dul.


Perjalanan dari pemakaman akhirnya sampai kembali ke rumah. Zakiyah bergegas membuka pintu yang dikuncinya dan langsung menuju kamar mandi terburu-buru kebelet pipis.


"Ayo siap-siap ke pemandian air panas. Bawa perlengkapan secukupnya saja," kata Mahmud.

__ADS_1


......................


__ADS_2