Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Firasat 2


__ADS_3

Masih di hari ke-8 upaya melawan Perjanjian Gaib. Selepas Duhur Abah Dul dan Gus Harun sudah tiba di rumah sakit setelah sebelumnya mendapat kabar dari Mahmud melalui telpon.


Sesuai petunjuk arahan Mahmud, Abah Dul dan Gus Harun berjalan menuju kamar Kosim melalui lorong sebelah kiri dari ruang lobi. Setelah di persimpangan kedua lalu belok kiri melewati kamar perawatan Teratai kemudian barulah sampai di ruang perawatan Kamboja tempat Kosim dirawat.


Abah Dul mulai mencermati dan menghitung didalam hati dari pintu-pintu dikanan kirinya. Ia mencari pintu ke-7 dimana Kosim dirawat sesuai petunjuk yang dikatakan Mahmud.


Keduanya berhenti tepat di pintu kamar ke-7 disebelah kiri, disitu terpampang no.13.


"Nomor tiga belas.." Gumam Abah Dul dan Gus Harun nyaris bersamaan sembari saling berpandangan penuh keheranan.


"Dul, kok bisa Kosim ditempatkan di kamar nomor tiga belas ya," kata Gus Harun setengah bertanya.


"Saya juga berpikiran begitu Gus. Kira-kira bertanda apa ya," kata Abah Dul.


Sejak dulu angka 13 sudah menjadi rahasia umum yang menyimpan beragam mitos negatif hingga sekarang. Entah secara kebetulan atau memang banyak peristiwa yang dinilai sial berkaitan dengan angka 13.


Belum sempat Abah Dul mengetuk pintu kamar, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam dan muncul Mahmud.


"Sudah lama Bah, Gus?" Tanya Mahmud.


"Ini baru saja sampai, Mud," jawab Abah Dul.


"Kenapa Kang Kosim ditempatkan di kamar ini Kang? Sela Gus Harun.


Mahmud pun menceritakan kalau semua kamar perawatan di kelas 1 terisi, hanya kamar nomor 13 ini satu-satunya yang kosong.


Mahmud mempersilahkan keduanya masuk. Disudut dekat pintu Arin sedang memangku Dede bersama Dewi duduk lesehan diatas karpet hijau.


"Gimana kondisi Kosim Rin?" Tanya Abah Dul.


"Masih belum sadarkan diri Bah," jawab Arin.


Abah Dul dan Gus Harun melangkah dikedua sisi Kosim yang terbaring. Sejenak keduanya diam mengamati tubuh Kosim dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Lalu Gus Harun yang ada disiai kiri melantunkan azan di telinga kanan Kosim setengah berbisik.


"Allahu Akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu allaailahaillallah, Asyhadu allaailahaillallah, Asyhadu anna Muhammadarrosuulallah, Asyhadu anna Muhammadarrosuulallah, Khayya alassholaah, Khayya alassholaah, Khayya'alalfalaah, Khayya'alalfalaah, Allahu Akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar laailahaillallah.."


Setelah Gus Harun selesai melantunkan Azan, Abah Dul langsung menyambung membisikan Iqomah di telinga kiri Kosim yang masih terbujur tak bergerak.


"Allahu Akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu allaailahaillallah, Asyhadu allaailahaillallah, Asyhadu anna Muhammadarrosuulallah, Asyhadu anna Muhammadarrosuulallah, Khayya alassholaah, Khayya alassholaah, hayya'alalfalaah, hayya'alalfalaah,


Qodqomati sholah, Qodqomati sholah,


Allahu Akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar laailahaillallah.."

__ADS_1


Selesai Abah Dul melantunkan Iqomah, semua yang ada di ruangan memperhatikan tubuh Kosim berharap-harap cemas mengharap ada reaksi.


Sekian lamanya menunggu namun tubuh Kosim tetap tak berkutik, tubuhnya diam tak bergeming seperti sudah tak bernyawa. Akan tetapi grafik di layar monitor masih menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan pada Kosim.


"Gimana Gus, apa yang terjadi dengan Mas Kosim?" Tanya Arin cemas.


"Yang sabar ya Mbak Arin, teruslah berdoa minta sama Gusti Allah minta yang terbaik buat Kosim," kata Gus Harun.


"Njih Gus, minta doanya juga ya Gus..." Ucap Arin.


"Insya Allah Mbak, kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Kosim," kata Gus Harun.


"Ya sudah, saya dan Dul kembali ke rumah dulu ada hal penting yang harus dikerjakan." Sambungnya.


Lalu Gus Harun memberi isyarat kepada Abah Dul dan Mahmud untuk keluar kamar. Ketiganya kemudian beranjak melangkah keluar kamar setelah lebih dulu berpamitan pada Arin dan Dewi.


Diluar kamar sejenak Abah Dul, Gus Harun dan Mahmud duduk di kursi yang ada disisi kanan depan kamar.


"Kang Mahmud, kasus pada Kosim ini sedikit membingungkan. Biasanya dengan melantunkan azan dan iqomah pada orang yang pinsan langsung sadar. Tapi pada Kang Kosim nggak berpengaruh sama sekali," ucap Gus Harun.


"Apakah Kosim mati suri, Gus?" Sela Abah Dul.


"Saya juga berpikir seperti itu Dul. Bisa jadi Kosim mati suri," kata Gus Harun.


"Kalau mati suri itu arwah Kosim ada dimana Gus?" Tanya Mahmud.


"Kalau Kosim kira-kira berada dimana ya Gus?" Tanya Mahmud lagi.


"Nah, ini yang belum bisa saya dan Dul deteksi Kang Mahmud. Ya sudah, saya sama Dul pulang dulu Kang Mahmud sepertinya situasi di rumah juga auranya tak begitu baik," kata Gus Harun.


"Njiih Gus.." Kata Mahmud.


"Nanti Mang Ali suruh kesini untuk ikut menjaga Kosim." Sela Abah Dul.


Setelah bersalaman Abah Dul dan Gus Harun pun melangkah pergi meninggalkan kamar 13.


......................


Rumah Mahmud,


Mang Ali sudah lama duduk bersandar ditiang teras rumah Mahmud yang nampak sepi. Ia tidak tahu kalau seisi rumah sedang berada di rumah sakit menunggui Kosim yang sedang dirawat karena kecelakaan di tempat proyek.


Selang beberapa lama kemudian Abah Dul dan Gus Harun datang dengan menaiki sepeda motor dan berhenti didepan Mang Ali yang sedang duduk di teras.


"Suadah lama Mang Ali?" Tanya Abah Dul sambil menyetandar motor.

__ADS_1


"Ya lumayan dari jam dua, darimana Bah? Mahmud dan yang lainnya pada kemana? Kok sep? Mang Ali langsung memberondong pertanyaan.


Abah Dul dan Gus Harun turun dari sepeda motor lalu menyalami Mang Ali sembari duduk disebelahnya. Sementara Gus Harun langsung pamitan pergi ke bak melalui pintu samping.


"Mang Ali nggak tahu Kosim dirawat di rumah sakit?!" Tanya Abah Dul sekaligus menjawab pertanyaan Mang Ali.


"Dirawat??? Kenapa dengan Kosim Bah?" Tanya Mang Ali.


Abah Dul menceritakan semuanya dari mulai Kosim berangkat ke tempat proyek hingga mengalami kecelakaan tertimbun reruntuhan bangunan mess.


"Jadi Kosim belum sadar juga Bah?" Tanya Mang Ali penasaran.


"Iya Mang Ali. Saya juga heran, apakah kejadian kecelakaannya Kosim itu ada kaitannya dengan Siluman Monyet ataukah murni kecelakaan," kata Abah Dul.


"Ya sudah Mang Ali, sholat Ashar dulu. Mang Ali sudah sholat?" Sambung Abah Dul.


"Belum Bah, hayulah sekalian berjamaah." Jawab Mang Ali.


"Yuk Mang, nanti selesai sholat sekalian makan bareng. Kebetulan tadi dari rumah sakit sekalian beli makanan karena semuanya di rumah sakit jadi nggak ada yang masak." Kata Abah Dul.


......................


Waktu sudah memasuki senja. Awan-awan mendung bergerombol menyelimuti langit di senja ini. Tak seperti biasanya, kali ini di ufuk timur tidak terlihat bias cahaya jingga yang menandakan hari akan berganti malam.


Mang Ali, Abah Dul dan Gus Harun masih duduk lesehan diatas tikar diruang tengah sehabis makan bersama.


"Aneh tiba-tiba mendung gelap. Padahal siang tadi matahari sangat terik," celetuk Mang Ali.


"Iya juga Mang Ali ya. Gus, ente merasakan aneh nggak sih," kata Abah Dul.


"Ya makanya waktu di rumah sakit saya bilang di rumah sepertinya keadaannya nggak baik itu ya ini nih Dul," timpal Gus Harun.


"Siluman Monyet?" Tanya Abah Dul memastikan.


"Kalau dari auranya sih sepertinya iya Dul," kata Gus Harun.


"Ini yang kita tunggu Gus. Apa kita berdua saja cukup menghadinya?" Tanya Abah Dul sedikit ragu.


"Coba hubungi Basyari dan Baharudin, apakah mereka siap bertarung lagi atau tidak," kata Gus Harun.


"Baik Gus.."


Abah Dul langsung merubah dudukya dengan bersila. Tangannya dirangkapkan didepan dada, matanya perlahan dipejamkan. Sesaat kemudian mulutnya merapalkan amalan "Pemisah Raga".


Seketika tubuh Abah Dul diam kaku tak bergerak. Sukmanya sudah melesat menuju ke tempat Basyari lebih dulu di Surabaya setelah itu melesat menemui Baharudin di Kutai Kalimantan Timur.

__ADS_1


......................


__ADS_2