
“Jam berapa sekarang Dul?” tanya Gus Harun.
“Jam sembilan kurang 10 menit Gus,” jawab Abah Dul setelah melihat jam tangan di tangan kirinya.
Mahmud terus melajukan mobilnya dengan kecepatan semaksimal mungkin dengan ssuasana arus kendaraan yang padat setelah keluar dari rumah makan. Meski pun paling- paling keceppatannya tak kurang dari 70 km/ jam, namun ketika kondisi lalu lintas di depannya lenggang, ia menginjak pedal gas nya lebih dalam lagi.
Kini mereka sudah memasuki batas wilayah kecamatan Delimas dimana merupakan wilayah kecamatan dari Desa Sukadami. Cuacanya begitu terasa sangat berbeda sekali saat sebelum memasuki wilayah tersebut dimana sebelumnya cuaca di langit nampak cerah bahkan di langit pun cahaya bintan- bintang dan bulan bersinar dengan terang.
Begitu memasuki wilayah kecamatan Delimas, seketika langit seolah- olah tertutup oleh tabir raksasa yang gelap menaungi wilayah tersebut. Tabir hitam pekat itu terlihat begitu nyata ketika pendaran cahaya berasal dari
kilatan petir yang menjalar dari langit menghujam ke bumi. Bias cahaya petitnya memperlihatkan gumpalan- gumpalan awan hitam sangat tebal berlapis- lapis.
Sesekali suara guntur terdengar menggelegar bahkan getarannya hingga dirasakan sampai kepada Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud yang berada di dalam kendaraan.
“Perasaan dari subuh tadi langit mendung tapi nggak turun- turun hujan,” ucap mahmud.
“Cuaca ini merupakan reaksi alam ketika ada golongan mahluk gaib sedang melangsungkan acara besar kang,” ujar Gus Harun.
“Apakah berkaitan dengan monyet siluman itu Gus?” tanya Mahmud penasaran.
“Sepertinya begitu kang, malam ini seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya bahwa tanggal 1 Syuro merupakan perayaan hajat besar mereka dan bahkan bertepatan dengan 40 hari putra Kang Kosim meninggal,” terang Gus Harun.
“O iya Gus, saya hampir lupa kalau besok itu kita berencana menggelar tahlil 40 hari Dede,” timpal Mahmud.
“Gus, dada saya tiba- tiba terasa deg- degan tapi bukan deg- degan cemas atau takut, ada apa ya…?” sela Abah Dul.
“Kalau ente kang Mahmud merasakannya nggak?” tanya Gus harun.
“Justru hati saya ingin cepat- cepat sampai di rumah, kaya sedang ditunggu banget Gus,”
“Saya juga dari tadi sebenarnya merasa deg- degan sekaligus ingin segera sampai di rumah. Entah ada apa di rumah ente kang Mahmud,” ucap Gus Harun.
“Bah apa nggak dilihat dari sini melihat kondisi rumah bah?” ujar Mahmud setengah bertanya padahal mengharapkan Abah Dul melakukannya.
“Sebentar lagi juga sampai, nanti saja kita lihat langsung Mud,” sahut Abah Dul.
__ADS_1
“Oya Dul, apakah tidak ada telpon dari polisi sampai saat ini?” tanya Gus Harun mendadak teringat dengan Basyari dan Baharudin sekaligus penasaran ingin tahu kabar kedua sahabatnya itu.
Abah Dul tak langsung menjawabnya melainkan ia melihat hapenya yang berada di genggaman tangan belum di masukkan ke dalam sakunya setelah mencoba menghubungi Basyari dan Baharudin sebelumnya.
Abah Dul memeriksa recived daftar panggilan di hapenya, lalu menjawab; “Tidak ada Gus.”
“Alhamdulillah kita sampai,” ucap Mahmud.
Mahmud memarkirkan mobilnya di sisi jalan utama setelah gang kecil yang menuju rumahnya karena mobil tak bisa masuk. Setelah mematikan mesin mobil, ketiganya bergegas turun berjalan cepat menuju rumah Mahmud.
Ketika Mahmud, Gus Harun dan Abah Dul sudah terlihat rumah Mahmud, mereka semua mengerutkan kening. Di teras depan duduk diatas tikar terlihat ada empat orang yang sedang mengobrol. Dua orang perempuan dan dua orang laki- laki.
“Ada tamu bah, siapa ya?” tanya Mahmud mempertajam penglihatannya fokus pada dua orang laki- laki.
Abah Dul dan Gus Harun juga mempertajam pandangannya fokus pada sosok dua orang laki- laki karena yang dua orang perempuan sudah mereka hafal yakni Arin dan Dewi.
Dari arah depan rumah kedua orang laki- laki itu psosinya hanya terlihat dari samping karena sedang
berbicara dengan Arin dan Dewi yang juga terlihat dengan posisi menyamping menghadap kedua orang tamu itu. Sehingga membuat Abah Dul, Gus Harun serta Mahmud tak begitu jelas siapa sosok dua laki- laki tersebut.
Mahmud yang terlihat kebingungan dengan ekspresi Gus Harun dan Abah Dul pun ikut menghentikan langkahnya sambil melihat raut wajah Gus Harun dan Abah Dul.
“Kenapa Bah, Gus?” tanya Mahmud keheranan.
Arin, Dewi serta kedua orang laki- laki itu sepontan meoleh kearah datangnya Mahmud, Gus Harun dan Abah Dul setelah mendengar suara dari Mahmud.
“Assalamualaikum…!” ucap kedua orang laki- laki langsung berdiri dari duduknya diikuti Arin dan Dewi.
“Wa, wa’ alaikum salam!” balas Gus Harun dengan suara bergetar.
“Wa’ alaikum salam!” susul Abah Dul langsung sumringah melihat kedua laki- laki tersebut.
Mahmud hanya melongo melihat pemandangan reaksi Gus Harun, Abah Dul serta kedua oarang laki- laki yang sedang bersama Arin dan Dewi.
“Siapa kedua orang itu?” hati Mahmud bertanya- tanya.
__ADS_1
“Masya allah! Subhanallah…!” seru Gus Harun masih dengan suara bergetar.
“Alhamdulillahirobbil alamiin…!” seru Abah Dul.
Abah Dul dan Gus harun langsung merangsak kearah kedua orang itu, begitu pun dengan kedua laki- laki juga langsung menyongsong Gus Harun dan Abah Dul hingga turun ke halaman tanpa memakai sandalnya.
Gus harun dan laki- laki berperawakan sedikit lebih gemuk langsung berpelukkan erat, sedangkan Abah Dul juga langsung berpelukkan dengan laki- laki satunya yang berperawakan sedang.
Seketika suasana tampak mengharu biru, empat orang itu saling berpelukkan erat kemudian bergantian bertukar memeluksatu dengan yang lainnya.
Mahmud masih belum mengerti dengan keadaan dan hanya melihat ekspresi keempat orang yang sedang berpelukkan erat itu nampak sangat bahagia sekali. Mahmud menoleh memandangi Arin dan Dewi seolah- olah meminta penjelasan dari istri dan adik iparnya.
“Ssssttt… siapa?” bisik Mahmud.
“itu ustad Basyari dan yang sedang berpelukkan dengan Abah Dul itu ustad baharudin,” balas Dewi berbisik.
“Masya Allah! Alhamdulillah!” pekik Mahmud spontan.
Kedua mata Mahmud seketika berkaca- kaca melihat keempat orang- orang baik itu masih saling berpelukkan melepas kerinduan sebagai seorang sahabat.
Mendengar pekikan Mahmud kontan mereka berempat menoleh kearah Mahmud sambil melepaskan pekukannya perlahan.
“Oh iya, Bas, Din perkenalkan ini yang namanya Mahmud,” buru- buru Abah Dul mencairkan suasana yang sempat terhanyut oleh keharuan.
“Assalamualaikum ustad Basyari, ustad Baharudin…” ucap Mahmud segera menyamalami Basyari dan Baharudin.
“Wa’ alaikum salam… maaf kang Mahmud ndak usah panggil ustad, panggil nama saja kami nggak enak mendengarnya,” balas Basyari yang diangguki Baharudin.
“Iya kang Mahmud, panggil nama saja,” timpal Baharudin sambil menjabat tangan Mahmud.
“Ente berdua tidak kenapa- napa?” kata Mahmud sangat penasaran.
“Maaf kami merepotkan antum- antum disini,” jawab Baharudin tersenyum santun.
“Ayo, ayo masuk, kita ngobrol didalam,” sergah Mahmud.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Basyari dan Baharudin mereka semua mengikuti ajakan Mahmud masuk ke dalam rumah.** BERSAMBUNG