
Tidak terasa Kosim sudah tiga jam duduk sendirian di ruang tamu. Pikirannya tak lepas dari bayangan-bayangan monyet dengan segala teror yang menyeramkan. Kejiwaan Kosim berada dalam fase traumatik sehingga apa yang dilihatnya seringkali menjadi sebuah ilusi yang timbul dari ketakutan yang menguasai bawah alam sadarnya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.12 wib, Kosim benar-benar merasa kantuk berat. Kosim beranjak melangkah ke kamarnya meninggalkan gelas kopi dan rokoknya diatas meja tamu.
Kesunyian dinihari semakin manambah jelas suara-suara jangkrik dan kodok bersahutan. Ini merupakan malam pertama Kosim tidur di rumahnya yang tidak ditempati lebih dari tiga minggu.
Setelah menutup pintu kamar sejenak Kosim berdiri memandang wajah Arin dan Dede yang terlelap dalam tidurnya. Kosim mendekati bibir dipan lalu mengusap-usap kepala Dede beberapa kali kemudian beralih mengusap-usap pipi Arin dan mencium kening istri dan anaknya.
"Saya akan menjaga kalian," ucap Kosim.
Kosim mulai membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga sebatas leher. Tidak seperti tiga jam sebelumnya matanya susah dipejamkan, kali ini tak butuh waktu lama Kosim pun tertidur.
......................
Kosim terus saja berlari sekencang-kencangnya menyelinap diantara batang-batang pohon besar, wajahnya terlihat sangat ketakutan. Sesekali dia menoleh kebelakang dengan panik. Nafasnya tersengal-sengal memburu meloncati ranting-ranting liar yang dilewatinya.
"Hahahahaha... mau lari kemana Kosiiiim!!!"
Suara besar dan sember itu terdengar menggema seantero jagat membuat Kosim semakin kalut kian mempercepat larinya. Akan tetapi suara itu sekonyong-konyong terus mengikutinya seolah dekat berada dibelakangnya. Kosim menoleh lagi ke belakang namun hanya kegelapan yang dilihat, tidak menemukan sosok apapun.
"Wuahahahahaha..!"
"Wuahahahahaha..!"
"Wuahahahahaha..!"
"Wuahahahahaha..!"
Suara besar dan sember kembali menggema, Kosim kian ketakutan bahkan suara tawa terbahak itu kini muncul bukan hanya satu melainkan banyak saling bersahutan menggema seantero jagat. Kosim terus berlari tak tentu arah menyelinap dan melompat diantara pepohonan besar dan ranting-ranting liar yang dilalui didepannya.
Rasa perih di kaki dan badannya terkena goresan-goresan kayu ranting dan semak belukar tak dipedulikannya. Yang dia pikirkan hanyalah lari sejauh mungkin dari mahluk yang mengejarnya namun tidak diketahui wujudnya.
Kosim menoleh kebelakang lagi penuh kekalutan, lagi-lagi tidak dijumpai mahkluk apapun. Saat kepalanya kembali menatap kedepan, sebatang pohon melintang sebatas kepalanya tanpa dia ketahui. Tak pelak lagi kepalanya langsung membentur batang pohon tersebut dengan telak membuat tubuhnya terpelanting jatuh dengan keras.
"Bukkk...!"
Kosim memicingkan matanya, meringis kesakitan sambil meringis memegangi keningnya yang berdarah-darah. Kepalanya terasa sangat sakit sekali, tubuhnya menggelosoh dibawah batang pohon besar yang melintang.
"Wuahahahaha..."
"Wuahahahaha..."
"Wuahahahaha..."
"Sebentar lagi kamu akan menjadi budakku. Kamu akan menjadi abdiku, hahahaha...!"
"Tidaaaaakkk..!!! Tidaaaaak...!!! Kosim berteriak-teriak histeris.
__ADS_1
Kosim terduduk beringsut-ingsut sambil mendongakkan kepalanya berputar kesana kemari dengan liar mencari sumber suara. Tiba-tiba Kosim terkejut bukan main, matanya terbelalak lebar! Dihadapannya terlihat jelas sepasang kaki dengan bentuk yang sangat besar.
Spontan Kosim mendongakkan kepalanya dan nampaklah mahluk yang sangat tinggi dan besar. Samar namun siluetnya terbentuk dengan jelas berwarna hitam pekat berdiri menunduk menatap dengan sorot mata tajam kearah Kosim masih beringsut berusaha menjauh.
"Purnama...!!! Purnama...!!! Purnama...!!!
Suara menggidikkan besar dan sember itu sangat terasa menyakitkan telinga Kosim. Kosim menutup telinganya kuat-kuat namun tetap saja suara itu masih membuat telinganya terasa sakit bukan main.
"Sakiiiit...!!! Sakiiiiit...!!! Sakiiit...!!!" Kosim berteriak histeris.
Kosim merasakan tepukkan berkali-kali pada pipinya namun Kosim masih terus saja berteriak-teriak, "Tidaaaakkk...!!! Tidaaaakkk...!!! Tidaaaakkk...!!!
"Sakiiiit...!!! Sakiiiiit...!!! Sakiiit...!!!" Kosim terus berteriak histeris.
"Maaaasss... Bangun Mas!"
"Bangun Maasss...!!!"
Kosim langsung terlonjak dari tidurnya mendengar suara perempuan. Dia terduduk diatas kasur dengan nafas tersengal-sengal dengan keringat bercucuran didahinya hingga kaosnya. Matanya liar menengok kesana-kemari menyapu seluruh ruangan kamar. Lalu terpaku ketika melihat Arin sudah berdiri disamping dipan, perlahan kesadarannya mulai kembali.
"Astagfirullahal azdiim..." ucap Kosim menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Ini minum dulu Mas. Mas mimpi ya? Mimpi apa sampai ketakutan begitu dan berkeringat," ucap Arin mengulurkan gelas.
Kosim segera meminumnya hingga tandas air segelas besar itu. Kosim hanya tertunduk diam mengingat mimpinya yang sangat nyata dan masih sangat melekat jelas dipikirannya.
"Mas mimpi apa?!" Arin mengulang pertanyaannya penuh penasaran.
"Jam berapa sekarang?" Sambungnya.
"Masih jam empatan pagi Mas sebentar lagi juga Subuh," Jawab Arin.
Tak lama kemudian sayup-sayup terdengar suara azan dari masjid.
"Tuh kan benar, yuk Sholat Subuh sekalian Mas," ucap Arin.
"He-eh," balas Kosim.
Kosim pun beranjak turun dari atas kasurnya melangkah ke bak mandi untuk mengambil wudlu diikuti Arin.
Mimpi merupakan pengalaman pikiran bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat. Kejadian dalam mimpi biasanya mustahil terjadi dalam dunia nyata, akan tetapi adakalanya mimpi juga sebagai petunjuk atau sebagai peringatan untuk seseorang.
Jadi Jangan sepelekan mimpi...❗
......................
Usai sholat Subuh Kosim tidak kembali ke kamar untuk meneruskan tidurnya. Dia sudah berniat pergi ke rumah Mahmud untuk menceritakan mimpinya sekaligus menanyakan makna dibalik mimpi tersebut.
__ADS_1
Mengisi waktu menunggu pagi terang, Kosim duduk di ruang tamu ditemani segelas kopi dan rokok. Pikirannya kembali mengingat peristiwa dalam mimpinya semalam yang sangat menyeramkan itu. Mengulang lagi kejadian dari awal seperti memutar film, ingatan Kosim meruntut alur ceritanya yang tiba-tiba berlari seperti dikejar mahluk namun tidak berwujud.
Satu demi satu terus diingatnya hingga pada satu perkataan mahluk tersebut bayangan ceritanya terhenti. Terngiang dengan jelas diingatan Kosim mahluk itu mengatakan, 'PURNAMA' berulang kali.
"Apa maksudnya dengan Purnama?!" gumam Kosim dalam hati.
'Purnama, purnama, purnama...' Kosim mengucapkannya mengulang-ulang kata Purnama seperti dalam mimpinya. Otaknya berpikir keras menerka-nerka mencari makna dibalik ucapan itu. Tetapi tetap buntu tidak menemukan jawabannya.
"Ah, mungkin hanya mimpi!"
Tidak terasa matahari pagi sudah menerangi jagat bersamaan suara kokok ayam bersahutan disekitar rumah Kosim. Cahaya matahari masuk menghangatkan ruang tamu melalui jendela rumah yang menghadap ke timur. Kosim beranjak dari duduknya melangkah untuk mandi dan bersiap berangkat ke rumah Mahmud.
......................
Di teras depan Mahmud sedang memandikan Love Bird kesayangannya. Sesekali terdengar Mahmud bersiul mengajari burung berwarna hijau dengan kombinasi orange dan kuning itu.
Tiba-tiba Mahmud spontan menoleh kearah suara sepeda motor yang datang menuju rumahnya. Wajahnya sumringah melihat siapa yang datang. Belum sempat menyapanya, orang itu sudah lebih duluan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam.." jawab Mahmud dengan senyum lebar.
"Dedeeee...., Wiii... Wi... ada Dede nih!" Seru Mahmud memanggil istrinya.
"Gimana Sim, semalam nyenyak tidurnya?" ucap Mahmud.
Kosim dan Arin sambil menggendong Dede turun dari sepeda motor lalu menyalami kakak iparnya.
"Mbak Dewi lagi pa Mas?" Tanya Arin basa-basi.
"Kayaknya di dapur tuh, Rin..." jawab Mahmud.
"Saya masuk dulu ya Mas," ujar Arin langsung melangkah masuk rumah Mahmud menemui kakaknya.
Kosim duduk di teras menghadap Mahmud yang sedang memandikan Live Bird. Diambilnya rokok dari dalam saku celanya lalu mengambilnya sebatang dan disulutnya.
"Semalam saya telpon dan WA nggak ada jawaban Mas," kata Kosim.
"Lah, masa? Saya belum cek-cek hape. Semalam tidur jam sepuluhan setelah Abah Dul dan Mang Ali midangan disini," ujar Mahmud.
"Katanya sepi nggak ada kamu Sim, hehehe.. Nggak ada pertempuran lagi kata Mang Ali mah, hehehe..." sambung Mahmud.
Kosim hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Mahmud. Baru saja Kosim hendak berkata, Arin muncul membawa dua gelas kopi dari teras samping yang berhubungan langsung dengan dapur. Kosim pun mengurungkannya.
"Kopinya Mas," kata Arin kepada Mahmud dan Kosim kemudian kembali masuk.
Sepeninggal Arin Kosim langsung menyampaikan maksud kedatabgannya.
__ADS_1
"Mas, saya mimpi aneh," kata Kosim.
......................