
Sekujur tubuh Mahmud terasa lemas seketika melihat kondisi Dede di pangkuannya yang terlihat semakin hilang
rona kemerahan di kedua pipi Dede. Ia menghempaskan punggungnya dengan putus asa pada dinding tanah liang lahat, Mahmud bersandar sambil memandangi wajah keponakannya yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri itu dengan perasaan terpukul.
Tanpa terasa air mata Mahmud perlahan meleleh dan luruh dikedua pipinya saat memandangi wajah Dede yang
polos tak berdosa. Wajah anak berusia 3 tahunan itu terlihat memucat tergolek lemah diam tàk bergerak dengan kepala sedikit terdongak.
Hati Mahmud merasakan kedukaan untuk kedua kalinya mendapati Dede meninggal. Ditatapnya lekat- lekat wajah mungil diatas pangkuannya itu, namun jauh di dasar hati sanubarinya Mahmud terus -menerus berdoa mengharap keajaiban itu benar- benar datang terjadi.
Tanpa disadari tetesan air mata Mahmud jatuh tepat di celah kedua bibir mungil anak itu, beberapa tetesan air
mata itu lalu meresap masuk kedalam mulut Dede. Mahmud mengerjap- ngerjapkan kedua matanya yang membuat air mata yang jatuh diantara kedua bibir Dede kian banyak membasahinya.
Mahmud tak lagi bisa menahan tangisannya, ia tersedu- sedu bersandar pada dinding tanah di dasar liang
lahat. Hingga suara tangisannya dapat di dengar oleh orang- orang yang berada diatasnya tak terkecuali Arin dan Dewi.
“Mas… mas Mahmud… benarkah Dede masih hidup?” tanya Arin melongokkan kepalanya melihat ke dalam liang lahat.
“Kenapa Mas Mahmud menangis?” timpal Dewi.
Kontan saja semua mata langsung tertuju pada area kuburan yang sudah terbuka tersebut. Mereka semua menantikan jawaban dari Mahmud atas pertanyaan yang di serukan Arin dan Dewi penuh dengan rasa penasaran.
“Apa mungkin anaknya Kosim hidup lagi?” bisik beberapa warga.
“Rasanya tidak mungkin, Din…” balas warga lainnya.
“Tapi lihatlah jasad anak itu masih utuh tidak rusak sama sekali,” ujar warga lainnya.
“Iya juga ya, kenapa bisa begitu?” tanya warga yang berbisik pertama.
__ADS_1
“Tapi kata pak RT, kang Mahmud mendapat mimpi disuruh cepat- cepat membongkar makam anak itu karena dari petunjuk mimpi tersebut katanya masih hidup,” ucap pria setengah baya.
“Kalau yang rmimpinya kang Mahmud sih, saya sangat percaya Mang Dirman. Tapi lihat itu kang Mahmud sepertinya sedang menangis sambil memeluk anaknya Kosim,” timpal warga lainnya.
Obrolan yang nyaris sama dengan membahas satu topik tentang anaknya Kosim terus dibicarakan para warga yang bergerombol dan mengelilingi kuburan yang di gali. Semua mata tak lepas memperhatikan semua yang terjadi di area kuburan Dede.
Langit diatas desa Sukadami masih belum berubah, awan mendung kelabu masih memayungi desa itu. Namun kini tak lagi terdengar suara gemuruh guntur dan kilatan- kilatan petir seperti sebelumnya yang secara intens terdengar dan menghiasi langit diatas area pekuburan.
Ditengah- tengah suasana hening dan pandangan semua orang tertuju pada kuburan Dede dimana Arin dan Dewi tengah memandangi dasar liang lahat menantikan jawaban dari Mahmud, tiba- tiba terdengar suara beberapa orang dari kejauhan dibelakang kerumunan warga.
“Permisi… permisii… permisi…”
“Permisi… permisii… permisi…”
“Permisi… permisii… permisi…”
Suara orang- orang yang meminta jalan itu terdengar begitu jelas, sehingga secara spontan semua pandangan warga menoleh kearah sumber suara. Tampak dari belakang kerumunan warga muncul Abah Dul yang sudah mereka kenal berjalan disela- sela warga bersama 3 orang yang tidak dikenal.
“Siapa tiga orang itu ya?!” gumam warga lainnya.
“kalau dilihat dari penampilannya, tiga orang itu tidak seperti dukun,” ujar warga lainnya.
“Husss! Ngaco aja, Abah Dul itu orang yang shaoleh taat beribadah. Mana mungkin bawa- bawa dukun,” sergah yang lain.
Semua pandangan tertuju mengikuti langkah Abah Dul dan 3 orang yang tak lain adalah Gus Harun, Basyari dan
Baharudin. Abah Dul dan 3 sahabatnya berjalan terburu- buru menuju kuburan Dede dengan sedikit terhambat harus menyelinap di sela- sela warga yang berdiri menghadap kuburan Dede.
Melihat kedatangan Abah Dul beserta 3 orang yang tak dikenal, beberapa warga yang berdiri dibibir kuburan Dede pun menggeser posisinya. Tak beberapa lama Abah Dul, Gus Harun, Basyari serta Baharudin telah sampai dan langsung menghampiri Arin dan Dewi diikuti Gus Harun, Basyari dan Baharudin di belakangnya.
“Bah, benarkah Dede masih hidup?!” buru- buru Arin bertanya begitu Abah Dul sampai disampingnya sambil memegang lengan Abah Dul dan menggoyang- goyangkannya dengan keras.
__ADS_1
“Insya Allah, insya allah Rin. Tenangkan dirimu ya,” jawab Abah Dul lalu pandangannya diarahkan melihat ke dasar liang lahat.
Mendengar percakapan diatas dimana Arin menyebut nama Abah Dul, seketika Mahmud mendongak keatas. Bersamaan dengan itu Abah Dul pun melihat kearah Mahmud hingga pandangan mata keduanya bentrok. Abah Dul mengerutkan dahinya dalam- dalam melihat raut muka Mahmud dengan kedua matanya berlinangan air mata, Abah Dul melihat dengan jelas kalau Mahmud sangat bersedih.
Pandangan Abah Dul dialihkan pada raut muka anak kecil yang berada diatas pangkuan Mahmud. Dahinya kian berkerut dalam manakala menlihat kondisi wajah anaknya Kosim yang tergolek lemas. Seketika itu juga Abah Dul
merasakan seperti ada keganjilan berada di sekitar liang lahat anaknya Kosim tersebut.
“Air! Air! Air! Ada yang bawa air?!” seru Abah Dul tiba- tiba.
Seruan Abah Dul itu kontan saja membuat warga yang berdiri tak jauh darinya tersentak kaget. Beberapa saat mereka terlihat saling pandang satu sama lain seolah mereka saling menanyakannya, “Apakah bawa air?”
“Ada! Ada!” tiba- tiba salah seorang petugas medis berseru lalu bergegas mengulurkan sebotol air mineral memberikannya kepada Abah Dul.
Setelah menerima botol air mineral, Abah Dul segera meloncat turun ke dasar liang lahat. Dengan sedikit kesusahan mencari posisi untuk sekedar berjongkok karena sempitnya liang lahat, akhirnya Abah Dul pun dapat berjongkok menghadap Mahmud yang posisinya duduk bersila memangku jasad Dede.
“Bah, kenapa Dede tidak bangun juga?” tanya Mahmud lirih.
“Sabar, Mud… sabar…” balas Abah Dul lalu memejamkan mata.
Setelah beberapa saat kurang dari satu menit Abah Dul kembali membuka matanya, kemudian menempelkan telapak tangannya pada dada anak kecil itu. Bibi Abah Dul nampak berkomat –kamit membaca doa, sedetik kemudian nampak dahi Abah Dul mengerut.
“Hidup! Dede sudah hidup Mud!” tegas Abah Dul.
Mendengar ucapan Abah Dul yang sangat meyakinkan, seketika wajah Mahmud berbinar- binar dan langsung kembali duduk tegak sambil mengusap- usap rambut Dede.
“Apa benar Dul?!” tanya Mahmud meyakinkan kembali.
“Insya allah! Insya allah!” balas Abah Dul.
Segera Abah Dul membuka tutup botol air mineral di tangannya, sejenak mulut Abah Dul kembali komat- kamit membaca doa lalu di tiupkannya pada air mineral itu melalui mulut botol yang sudah dibuka.
__ADS_1
“Cepat teteskan air minum ini di bibirnya Mud, usahakan agar airnya masuk kedalam kerongkongannya,” kata Abah Dul memberikan air mineral.* BERSAMBUNG