Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
SANG PENJAGA


__ADS_3

Terdengar sebuah suara yang menggema memenuhi seisi hutan disertai dengan berguncangnya hutan tersebut. Pijakkan di tempat Tuan Denta, Abah Dul dan Kosim bergetar beberapa saat bersamaan dengan suara itu memanggil-manggil salah satu dari tiga mahluk itu.


"Abdul Basiiit.... Abdul Basiiit.... Abdul Basiiit...."


Tuan Denta dan Kosim turut berhenti melihat Abah Dul menghentikan perjalanannya ke dalam hutan terlarang. Badan Abah Dul berputar-putar sambil mendongak dan memperhatikan kesekelilingnya. Keningnya mengerut dalam-dalam seperti mengingat-ingat dan mencoba mengenali suara panggilan itu. Namun meskipun terasa familiar, akan tetapi Abah Dul tak kunjung bisa mengingatnya. Semakin dia mencoba mengingat-ingat pemilik suara itu malah semakin tidak bisa menemukan satu nama pun di kepalanya.


"Suara apa itu tuan Denta?!" Diujung kebuntuannya Abah Dul bertanya pada tuan Denta.


Tuan Denta menatap Abah Dul sejenak lalu berkata, "Anda mau melanjutkan atau mau mendengarkan suara itu dan kembali ke asalmu?!" tegas tuan Denta mengingatkan.


"Lanjutkan tuan!" sela Kosim sebelum Abah Dul memberikan jawaban kemudian menarik tangan Abah Dul.


Abah Dul pun tak sempat memberikan jawaban apa-apa, lidahnya serasa kelu untuk mengucapkan keinginan mengetahui siapa yang memanggil-manggil namanya itu. Abah Dul hanya menuruti tarikkan tangan Kosim kemudian ketiganya kembali melanjutkan mengikuti arus tarikkan kekuatan dari dalam hutan.


Semakin lama suara yang memanggil Abah Dul kian tak terdengar lagi dan menghilang dari pendengaran Abah Dul yang sudah melayang kembali mengikuti daya tarikkan itu yang seolah menyedot tubuh ketiganya semakin bertambah kuat.


Beberapa saat kemudian di depan Abah Dul, Kosim dan tuan Denta mulai terlihat pendaran cahaya merah menyeruak dari semak-semak belukar dan pepohonan raksasa. Ketiga mahluk itu berhenti bergerak seiring menghilangnya daya tarikan secara tiba-tiba berjarak 20 langkah dari pusat cahaya merah itu. Di sekitar mereka berdiri, nampak puing-puing bekas reruntuhan bangunan yang sebagian besar sudah tertutupi oleh ilalang dan semak belukar.


"Tuan, apakah itu yang di maksud yang di ceritakan tuan?" tanya Abah Dul.


"Benar, cahaya meràh itu sepertinya berada di tengah-tengah bangunan bekas istana kerajaan," sahut tuan Denta.


"Bekas kerajaan?!" tanya Abah Dul heran.


"Iya, nanti aku ceritakan sejarah kelamnya. Sekarang kita cari tahu dulu benda apa yang bersinar merah itu," kata Tuan Denta.


"Baik tuan, mari..." ujar Abah Dul.


Ketiganya melangkah dengan meloncat satu persatu dari atas batu ke batu lainnya untuk menuju posisi sumber cahaya merah yang kian terang bersinar. Pada loncatan ke batu yang ketiga, tiba-tiba langkah mereka di hentikkan oleh munculnya pusaran angin yang begitu besar di depan Abah Dul, Kosim dan tuan Denta.


Ketiganya berhenti diatas sebuah batu besar dan hanya menatapnya dengan wajah terkesiap hanya menanti pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya. Hempasan angin dari pusaran itu sempat menggoyahkan tubuh ketiganya hingga nyaris terdorong mundur dan hampir membuat mereka jatuh dari atas batu. Ketiganya saling berpegangan erat-erat satu sama lain untuk bertahan diatas batu.


Sesaat kemudian hempasan angin dari pusaran itu lama-lama berkurang... berkurang... berkurang... lalu hilang tak lagi terasa hembusannya. Namun wajah Abah Dul, Kosim dan tuan Denta terbelalak melihat sosok mahluk besar dan tinggi di hadapannya. Samar-samar terlihat wajah mahluk itu berwarna merah dengan tanduk mencuat tajam di tengah dahinya.


"HUAHAHAHAHAHA...."


"HUAHAHAHAHAHA...."


"HUAHAHAHAHAHA...."


Suara tawa dari sosok mahluk itu langsung menggema menatap Abah Dul, Kosim dan tuan Denta di jarak pandang 10 langkah di depannya. Abah Dul dan Kosim tersurut mundur memandang ngeri mahluk itu, tetapi cepat-cepat di tahan tuan Denta yang hampir membuatnya terdorong jatuh.


"Maafkan kami jika keberadaan kami tidak diperkenankan!" seru tuan Denta sambil melangkah maju menyeruak diantara tubuh Abah Dul dan Kosim.


"Xhjxdbdhxkendj, kebdhdtwjsbs keudhdhd hdheyeb. uehrufheodbdhsyej...!" kata sosok mahluk bertanduk dalam bahasa Jin.

__ADS_1


Abah Dul dan Kosim saling berpandangan melongo tanpa mengerti apa yang di katakan oleh mahluk menyeramkan itu. Kemudian keduanya melihat tuan Denta mengatakan dalam bahasa yang sama dengan mahluk bertanduk itu.


"Szvxnejei hebdjdi hskydhr..." jawab tuan Denta.


"Wjsheyejdkwu urhrike fafwhejej!" kata mahluk bertanduk kemudian menatap Abah Dul dan Kosim.


"Ldjdyeg shsgghhdjrjd..." jawab tuan Denta.


"Akdhdhdhd jfhdhdj jfhd hfhd jdhdhd uyhfykk kdjdhdjdh..." kata mahluk bertanduk.


Setelah tuan Denta menjawab, mahluk itu langsung menghilang meninggalkan seberkas cahaya melesat kearah pusat cahaya merah.


"Maaf tuan, bahasa apa itu dan apa yang tadi tuan bicarakan?!" tanya Abah Dul penasaran.


"Itu bahasa jin, dia mengenalkan diri namanya Al Jabarut dia yang diperintahkan menjaga benda itu," jawab tuan Denta.


"Lalu kenapa dia menatap kami tuan?!" tanya Abah Dul sedikit cemas.


"Dia tahu kalau anda dari golongan manusia dan anda dari golongan arwah penasaran," ujar tuan Denta.


"Aku sampaikan maksud dan tujuan memasuki wilayah ini dan Al Jabarut sangat senang," sambung tuan Denta.


"Kenapa dia merasa senang tuan?" sela Kosim.


"Dengan menyerahkan benda itu berarti tugasnya selama beribu-ribu tahun berakhir dan dia akan bebas menjalani kehidupannya," ungkap tuan Denta.


"Betul sekali, dia pengawal pribadi Raja dan sangat setia mengabdi hingga ribuan tahun menjaga wasiat sebelum raja pertama musnah," kata tuan Denta.


"Ayo kita di suruh cepat-cepat kesana. Dia akan menyerahkan benda itu," sambung tuan Denta.


Diawali tuan Denta ketiganya kembali meloncati bebatuan dan puing-puing reruntuhan hingga ketiganya berhenti pada sebuah reruntuhan bangunan yang menindih sebuah benda berbentuk kotak. Pada bagian penutupnya nampak terbuka sedikit terganjal oleh ranting, dan dari sanalah keluar semburat cahaya merah kehitaman memancar terang menerangi sekitarnya.


Tuan Denta berdiri menatap benda itu diikuti Abah dul dan Kosim. Dia tidak mau tergesa-gesa melancangi untuk mengambil benda tersebut sebelum ada instruksi selanjutnya, tuan Denta menunggu kemunculan Al Jabarut kembali. Dan benar saja Al Jabarut tiba-tiba kembali muncul di seberang benda kotak yang mengeluarkan cahaya merah itu.


"HAHAHAHAHAHA.... KJHJKDHJ NGDUDGJEYGY LKJKHS!" Kata Al Jabarut.


"Jdrdgsfsg kdgshs ldkdh dbshdg," jawab tuan Denta.


"JEHDT KFJFL BSFDGD OTHDHDGN MAKDHSV BCXVS CDGDVD VXCEGSB. JDHGETR TGRG TZVSHE LKDHSUBDJ BDMD EJEBEH HDHEYR HDJDYR..." Kata Al Jabarut.


"Ktrndj jrhrh..." jawab Tuan Denta.


Setelah tuan Denta mengatakan itu Al Jabarut langsung lenyap berubah menjadi cahaya dan melesak masuk kedalam kotak itu.


"Ayo kita cepat ambil. Al Jabarut menyuruhnya agar kita cepat-cepat meninggalkan tempat ini karena dia melihat akan ada bahaya yang sedang mengancam menuju tempat ini!" seru Tuan Denta.

__ADS_1


"Mari, silahkan tuan Denta," sahut Abah Dul.


Tuan Denta melangkah mendekati kotak tersebut lalu menyingkirkan ranting pohon yang mengganjal penutupnya. Seketika cahaya merah hilang bersamaan penutupnya tertutup. Kemudian tuan Denta mengangkat kotak itu dibantu Abah Dul dan Kosim.


"Tuan Dul, silahkan anda yang membawa kotak ini," kata Tuan Denta sembari mengulurkan kotak itu.


"Kenapa saya tuan?!" suara Abah Dul bergetar karena sedikit takut.


"Itu pesan dari Al Jabarut. Nanti aku ceritakan kalau sudah sampai di tempat yang aman, ayo cepat kita tinggalkan tempat ini!" tegas tuan Denta.


Tuan Denta langsung mamandu melayang meloncat kembali ke batu-batu yang menjadi pijakkan sebelumnya diikuti oleh Abah Dul dan Kosim untuk meninggalkan tempat itu.


Beberapa lama kemudian di setengah perjalanan kembali ke tempat persembunyian di tepi hutan terlarang, tiba-tiba pijakkan mereka bergoncang hebat. Tuan Denta, Abah Dul dan Kosim sempat goyah dan menghentikkan langkahnya menyusul suara gemuruh di kejauhan di dalam hutan.


"Suara apa itu tuan?!" seru Kosim.


"Iya tuan!" timpal Abah Dul.


"Itu mungkin ancaman yang di maksud Al Jabarut. Ayo kita percepat larinya," seru tuan Denta.


Ketiganya kembali melesat cepat menuju pinggiran hutan terlarang di tempat persembunyian sebelumnya yaitu, mulut lorong rahasia yang dibuat tuan Denta.


Sementara itu suara gemuruh dan berguncangnya hutan kian berasa dan terdengar keras mengiringi larinya Tuan Denta, Abah Dul dan Kosim. Sesaat kemudian terdengar suara dentuman keras dan sebuah hempasan angin mendorongan tubuh ketiganya hingga terlempar melayang kearah pinģiran hutan tersebut.


Buggg!


Buggg!


Buggg!


Tubuh ketiganya berjatuhan tersungkur tepat di tempat persembunyian sebelumnya akibat dorongan kuat dari suara ledakkan itu. Abah Dul yang membopong kotak mengerang menahan sakit di dadanya akibat jatuhnya menindih kotak tersebut. Kotak itu tidak terlempar dan masih dalam dekapan erat Abah Dul.


Tuan Denta langsung bangkit menolong Abah Dul yang mengerang kesakitan dibantu Kosim. Abah Dul disuruh duduk bersila oleh tuan Denta, kemudian tuan Denta mengusapkan telapak tangannya pada bagian dada Abah Dul.


"Bagaimana tuan? Apakah masih sakit?" tanya tuan Denta cemas.


"Alhamdulillah, sudah tidak sakit tuan, terima kasih..." ucap Abah Dul.


"Tuan muslim?" tanya tuan Denta dengan ekspresi berubah.


"Betul tuan. Tuan Denta?" Abah Dul balik tanya.


"Iya, puluhan tahun yang silam aku pernah di taklukkan oleh seorang manusia dari negeri Jawa yang memiliki kekuatan luar biasa hingga aku mau di islamkan olehnya." ungkap tuan Denta.


"Siapa manusia itu tuan?!" tanya Abah Dul penasaran.

__ADS_1


......................


🔴BERSAMBUNG...


__ADS_2