
Hari sudah melewati tengah malam, didalam kamar sebuah rumah sederhana terletak dipinggiran hutan dan sedikit terpencil dari pemukiman penduduk, seorang pemuda duduk bersila dengan khusuk dibawah cahaya remang-remang dari lampu minyak tempel. Didepannya terdapat nampan berisikian bermacam-macam bunga beraneka warna mengitari pedupaan ditengahnya yang mengepulkan asap dengan bau kemenyan yang sangat kental.
Dihadapan pemuda itu duduk bersila pula seorang pria tua berusia kisaran 70 tahunan. Rambutnya sedikit panjang sebahu terlihat telah memutih diikat dengan kain batik, dagunya tertutup oleh jenggot yang juga telah memutih terlihat menjuntai panjangnya sekitar 5 centi meteran.
Mulut pemuda itu tak henti-henti komat kamit membaca mantera. Dan sayup-sayup dari bibir pemuda itu terdengar dia menyebut-nyebut satu nama seseorang. Nada suaranya terdengar bergetar begitu menggidikkan tatkala dia secara terus menerus memanggil-manggil nama itu penuh dengan penjiwaan.
“Ariiiiin.... Ariiiiin.... Ariiiin...”
Dihadapan pemuda, pria tua itu menyunggingkan senyumannya. Dalam penglihatan mata batinnya ia melihat seorang wanita muda tengah terduduk dipinggiran dipan dengan kedua tangannya menggapai-gapai sambil memanggil-manggil nama Komar.
“Ariiiiin.... Ariiiiin.... Ariiiin...” Ucap pemuda yang bernama Komar dengan bibir bergetar.
Pria tua berambut putih itu tersenyum puas melihat reaksi seorang wanita yang disebut-sebut namanya oleh Komar. Wanita itu terlihat meracau balas memanggil-manggil nama Komar.
Tetapi beberapa saat kemudian penglihatan mata batin pria tua itu menjadi gelap. Pria tua itu tak lagi dapat melihat wanita yang sedang di guna-gunainya. Wajahnya seketika terkesiap kaget penuh keheranan, kenapa tiba-tiba mata batinnya tertutup. Belum habis rasa keheranannya, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras disusul suara tubuh menghantam didinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.
Braaaaakkk..!
“Aaaaaaakkhhh!” suara lengkingan Komar terdengar diluar rumah.
Bersamaan dengan pekikan Komar, tubuhnya terpental menghantam dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu hingga jebol dan tubuh Komar terpelanting jatuh diluar samping rumah. Nampan yang berisi aneka kembang dan pedupaan pun langsung berterbangan berserakan setelah selarik kilatan cahaya putih menghantam tubuh Komar itu.
“Uhukkh...”
Komar memuntahkan segumpal darah dari mulutnya. Ia menderita luka dalam yang sangat parah oleh hantaman kekuatan tak kasat mata itu. Pria tua dihadapan Komar pun juga mengalami nasib yang sama. Tubuh ringkihnya terdorong menghantam dinding yang terbuat dari anyaman bambu itu namun beruntung dia sedikit bisa menahannya hingga tidak sampai bernasib seperti Komar yang terlempar hingga keluar rumah.
“Uhukkk, uhukkk,” pria tua itu terbatuk-batuk sembari memgangi dadanya yang terasa sesak.
“Kurang ajar!” pekik pria tua itu langsung membetulkan posisinya yang terjengkang.
__ADS_1
Dia kemudian bergegas beranjak keluar rumah untuk memeriksa keadaan Komar yang terlihat terkapar dari lobang bekas dihantam itu. Disamping rumah, Komar tergeletak tak bergerak diatas tanah yang dipenuhi semak belukar. Namun dari mulutnya terdengar erangan-erangan kesakitan, dari sudut-sudut bibirnya mengalir darah hingga mengotori dagunya. Disamping kepalanya ada segumpalan darah bekas muntahannya.
......................
Pagi hari, ketika Dewi hendak berangkat kerja ia melihat Mahmud sedang ngopi duduk di ruang tamu. Dewi pun lantas ikut duduk disebelahnya, kebetulan ia ingin menanyakan tentang peristiwa semalam pada suaminya itu mumpung Arin belum bangun. Dewi penasaran dari semalam karena merasa ada yang tidak beres dengan adiknya sehingga seseorang melakukan itu.
"Mas, semalam itu apakah siluman monyet datang menggangu lagi?" bisik Dewi kemudian duduk disebelah suaminya.
“Kalau menurut saya sih, bukan Wi. Arin seperti sedang di guna-guna oleh seseorang Wi," jawab Mahmud.
"Tapi mas, dulu Arin juga pernah disukai siluman monyet kan?" sergah Dewi.
Mahmud diam sejenak, pikirannya mulai bimbang dan timbul keraguan tentang dugaannya guna-guna. Ia bahkan membenarkan juga pendapat Dewi.
"Mungkin lebih jelasnya nanti tanya ke Abah Dul aja Wi," ujar Mahmud.
“Kalau misalkan Arin di guna-guna, berarti ada sebabnya Mas," kata Dewi.
“Sekilas sih dia menyebut-nyebutbnama Komar Mas. Mmm, Komar... Komar... Komar...” gumam Dewi sambil berpikir keras.
“Apa Komarudin ya Mas,” sambung Dewi.
“Komarudin yang mana Wi? Anaknya pak Wira juga namanya Komarudin, terus anaknya pak Agung juga. Banyak Wi yang namanya Komar tuh. Awas loh bisa-bisa menjadi fitnah ” ujar Mahmud mengingatkan.
“Iya juga ya Mas,” timpal Dewi.
“Coba nanti kamu ngobrol dengan Arin, pelan-pelan kamu tanya tentang Komar yang kenal dekat dengan Arin agar lebih pasti Komar siapa, Wi.” Ucap Mahmud.
“Ya udah Mas saya berangkat dulu. Mas jadi ke kebun nggak?” ujar Dewi.
__ADS_1
“Nanti jam sembilanan Wi nerusin garapan kemarin yang tertunda.” Balas Mahmud.
“Yowis saya berangkat dulu ya Mas, assalamualaikum...” ucap Dewi kemudian mencium tangan suaminya.
“Waalaikum salam...” balas Mahmud.
Semenjak Arin menyandang status janda, Mahmud memang menganjurkan adik iparnya itu untuk tinggal bersamanya. Bukan tanpa alasan, sebab status janda dilingkungan masyarakat perkampungan masih dinilai sebelah mata atau dianggap negatif. Kekhawatiran para kaum ibu-ibu yang paling menonjol adalah mereka takut suaminya akan tergoda. Atau tuduhan sepihak yang paling sadisnya adalah si jandalah yang menggoda suami-suami mereka. Selama Arin tinggal bersama kakaknya sejak ia menjadi janda tak ada seorang pun yang berani main atau iseng-iseng bertamu ke rumahnya.
......................
Seusai menunaikan sholat Isya, Mahmud melangkah ke depan berniat duduk di teras depan. Mahmud mengambil gelas kopi diatas meja tamu bekas sore tadi dan menentengnya menuju teras depan. Sementara Dewi, Arin dan Dede berada di depan televisi.
Mahmud memang belum sempat menceritakan kejadian malam kemarin yang menimpa Arin pada Abah Dul. Dan ia berencana malam ini akan menceritakannya saat Abah Dul main ke rumahnya. Awalnya Mahmud yakin kalau Arin itu di guna-guna akan tetapi anggapan itu ia tepis mengingat Arin tidak pernah terlihat dekat dengan seseorang lelaki. Pikiran Mahmud justru tergugah oleh ucapan Dewi pagi tadi yang menanyakan kemungkinan ulah dari siluman monyet.
“Apa mungkin siluman monyet itu datang lagi?” Gumam Mahmud dalam hati.
"Assalamualaikum.." tiba-tiba suara seseorang dari samping rumah mengagetkan Mahmud.
"Wa'alaikum salam, sampe kaget Bah..." sahut Mahmud.
"Ente sih masih sore ngelamun aja, dari jauh saya perhatikan ente sepertinya punya masalah Mud. Ada apa sih?" ujar Abah Dul kemudian duduk menyandar di saka rumah sebelah kanan.
"Sebentar saya suruh Dewi bikin kopi dulu Bah," sergah Mahnud lalu berdiri dan melangkah masuk.
Beberapa saat kemudian Mahmud sudah kembali duduk di teras depan, lalu menjawab pertanyaan Abah Dul yang tertunda.
"Gini Bah, malam kemarin itu sepulangnya ente dari sini Bah...."
Mahmud menceritakan kembali peristiwa malam kemarin dari awal hingga akhirnya Arin terlepas dari pengaruh magis. Wajah Abah Dul terlihat geram seketika mendengar cerita Mahmud namun dia belum menyimpulkan apakah ulah siluman monyet ataukah memang guna-guna. Abah Dul menarik nafas panjang lalu dihempaskannya kuat-kuat, ia membayangkan kedepannya jika itu memang benar guna-guna berarti akan bertambah lagi musuhnya.
__ADS_1
......................
......................