Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Rahasia Suara Tanpa Rupa


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang dari rumah temannya yang berprofesi sebagai Paranormal itu Kosim duduk termenung disudut belakang bangku angkot nomor 19.


Didalam angkot hanya ada tiga penumpang. Satu jengkal disebelah kiri Kosim seorang ibu-ibu sedang mengantuk duduk. Dua ibu-ibu penumpang lainnya duduk di bangku depan Kosim dengan aneka macam belanjaan.


Sementara pikiran Kosim masih diliputi tanda tanya besar tertang pemilik suara yang membisiki telinganya. Suara tanpa rupa itu selalu memperingatinya manakala ada sesuatu yang mengancam.


Kosim Masih ingat betul suara tanpa rupa itu muncul bukan pertama kali ini saja. Semenjak dirinya terbangun dari mati suri, suara itu kerap kali muncul secara tiba-tiba. Namun saat itu karena kondisi kesehatannya masih belum stabil dan belum pulih 100 persen, Kosim pun menganggapnya hanya sebagai halusinasi dari pikirannya semata.


Disatu sisi suara tanpa rupa itu sangat membantu dirinya. Karena itu pula Kosim penasaran sangat ingin mengetahui darimana dan siapa pemilik suara yang sudah membantu melindunginya.


Kosim mengingat-ingat lagi kejadian didalam angkot sewaktu berangkat pagi tadi. Peringatan dari suara tanpa rupa itu benar-benar nyata dan benar adanya.


Yang paling dirasakan Kosim sebagai keanehan lainnya adalah pada saat itu tiba-tiba dirinya merasa sangat berani meskipun lehernya berada dalam ancaman golok.


Bahkan ujung golok yang jatuh tepat menghujam punggung telapak kakinya sama sekali tak dirasakannya. Ujung golok yang tajam berkarat itu seperti tak mengenai kulitnya malahan golok itu membal.


"Siapa yang melindungi saya?" Gumam Kosim dalam hati.


Kosim teringat lagi saat akan masuk ke rumah Kasno. Suara tanpa rupa itu kembali memperingatkannya dan ternyata benar adanya kalau temannya itu berniat memerasnya. (baca episode sebelumnya)


"Siapapun pemilik suara tanpa rupa itu, saya sangat berterima kasih sekali," kata Kosim dalam hati.


Sepanjang perjalanan pulang pikiran Kosim hanya dipenuhi dengan menerka-nerka pemilik suara tanpa rupa. Hingga tanpa terasa perjalanan pulang dari desa Paningkir selama kurang lebih 25 menitan akhirnya sampai di mulut gang jalan menuju rumah Mahmud.


"Kiri, kiri..!" Seru Kosim sekaligus membuat ibu-ibu yang sedang mengantuk terbangun.


Cuaca masih terlihat masih pagi sekitar pukul 9-an,


Kosim segera beranjak turun lalu mengulurkan uang 7 ribu kepada sopir angkot melalui jendela pintu sebelah kiri yang terbuka lebar.


"Cepat pulang, di rumah sedang cemas! Sampai telpon Abah Dul mencari-cari kamu," Suara tanpa rupa itu tiba-tiba terdengar lagi di telinga Kosim.


Kosim bergegas cepat-cepat melangkah pulang. Kali ini ia benar-benar percaya dengan suara tanpa rupa itu. Kepergiannya tidak ada yang mengetahui karena Kosim tak mau membuat istrinya dan dua kakak iparnya cemas.


Namun perkiraan Kosim salah, ia sama sekali tak menyangka kepergiannya yang tak memberi kabar itu justru malah membuat keluarganya cemas.


......................


Di rumah Mahmud,


Pagi itu Arin bangun lebih dulu dari kakaknya sekitar jam 7 pagi. Semenjak bangun tidur, Arin langsung melakukan rutinitasnya mencuci piring di dapur dan membuat sarapan.


Arin mengira suaminya sedang berada di teras samping sedang membakar sampah karena ada asap seperti bakar-bakaran sampah masuk ke dapur melalui jendela.


"Kosim kemana Rin?" Tanya Dewi, yang baru bangun tidur sambil melangkah masuk ke bak.


"Kayanya disamping lagi bakar sampah tuh," jawab Arin.

__ADS_1


Terdengar suara Mahmud teriak dari teras depan, Wiii, bikinin kopi ya.."


Sementara itu Dewi sudah keburu masuk kamar mandi, Arin yang mendengar seruan berinisiatif membuatkannya kopi, pikirnya kakaknya pasti tak mendengar karena sedang berada di dalam kamar mandi.


Tak beberapa lama Arin datang membawa secangkir kopi dan memberikannya pada Mahmud.


"Loh, kok kamu yang buatin Rin. Dewi mana?" Tanya Mahmud heran.


"Mbak Dewi sedang di kamar mandi, pasti nggak dengar, hehehe.." Ujar Arin.


"Kalau Kosim kemana Rin, dari tadi nggak kelihatan?" Tanya Mahmud heran.


"Itu disamping sih?" Jawab Arin.


"Mana, nggak ada Kosim." Sergah Mahmud.


"Yang bakar sampah siapa, bukannya Mas Kosim?" Arin balik tanya.


"Itu mah asap sampah tetangga sebelah Rin," jawab Mahmud.


"Lah, jadi dari pagi Mas Kosim nggak ada? Aduh, kemana ya Mas?" Arin mulai cemas.


"Sejak saya bangun tidur Mas Kosim sudah nggak ada Mas. Saya kirain sedang bersih-bersih di halaman samping," ucap Arin.


"Waduh!" Mahmud pun ikut cemas.


"Kosim Wi, nggak ada," sergah Mahmud.


"Lah, tadi kata Arin lagi bakar sampah," ujar Dewi.


"Itu mah tetangga bukan Kosim," kata Mahmud.


"Aduuuh, kemana Mas Kosim ya Mbak..." sela Arin kian cemas.


Seisi rumah mulai kebingungan menerka-nerka kemana perginya Kosim. Mahmud, Dewi dan Arin saling bertanya satu sama lain. Semuanya memang tidak ada yang tahu kepergian Kosim.


Timbul kekhawatiran dan kecemasan pada ketiganya. Beragam prasangka buruk memghantui pikiran mereka.


"Apa ke rumah Abah Dul, ya?" Kata Mahmud mengira-ngira.


"Coba telpon Abah Mas," sergah Dewi.


"Ya udah ambilin hape Wi," ucap Mahmud.


Selang tak lama Dewi kembali menenteng hape dan mengulurkannya kepada Mahmud, "Nih Mas."


Arin dan Dewi menunggu Mahmud menelpon Abah Dul dengan raut muka cemas. Kakak beradik itu berharap Kosim ada di rumah Abah Dul.

__ADS_1


"Halo, assalamualaikum Bah... Anu Bah, Kosim ada disitu nggak? Oh.. iya dari pagi Bah. Ya udah ditunggu ya Bah." Mahmud menutup telponnya.


"Gimana Mas, Kosim ada?" Tanya Dewi.


"Ada nggak Mas?!" Sela Arin.


"Nggak ada katanya," jawab Mahmud.


"Apa Mas Kosim berangkat ke proyek ya," gumam Arin.


Kecemasan Arin cukup beralasan karena ia khawatir dengan kesehatan Kosim. Padahal kemarin Arin sudah melarangnya agar tidak berangkat kerja dulu sampai kondisi kesehatannya benar-benar pulih.


Apalagi setelah Kosim mengalami mati suri, keadaannya terlihat tidak stabil. Seringkali Arin melihat Kosim tiba-tiba seperti orang kaget padahal tidak sedang melihat apapun.


Ketiganya duduk termangu di teras depan dengan ragam prasangka negatif dipikirannya masing-masing.


Keheningan itu buncah karena tiba-tiba Arin terlonjak kegirangan hingga membuat Mahmud dan Dewi tersentak kaget.


"Itu Mas Kosim!" Seru Arin sambil menunjuk ke arah jalan.


"Alhamdulillaaaaah..." Ucap Mahmud dan Dewi berbarengan.


"Assalamualikum.." Ucap Kosim begitu sampai di depan rumah.


"Waalaikum salam," balas Arin, Mahmud dan Dewi serempak.


"Dari mana sih Mas, pergi nggak bilang-bilang?" Arin langsung memberondong pertanyaan sembari menyalami mencium tangan Kosim.


Sikap Arin kini benar-benar sudah berubah setelah Kosim mengalami mati suri. Andai saja sebelum itu pastilah Kosim langsung kena damprat habis-habisan.


Kosim sendiri merasa heran dengan sikap Arin yang berubah lembut dan penuh kasih sayang. Yang ia tahu selama ini istrinya sangat pemarah dan seringkali berkata kasar. Dan karena itu pula membuat dirinya menjadi kalut sehingga timbul tekad melakoni pesugihan.


Kosim memang tidak tahu pada waktu dirinya koma selama dua hari di rumah sakit, selama itu pula Arin tak henti-hentinya meratapi perlakuannya yang kasar pada Kosim. Dan Arin sudah menyadari dan menyesali semua prilakunya.


Melihat raut sisa-sisa kecemasan pada istri dan kakak iparnya, terlintas diingatan Kosim dengan ucapan suara tanpa rupa tadi sewaktu turun dari angkot. Dia pun iseng-iseng ingin membuktikannya lagi kebenaran peringatan itu.


"Kalian semua cemas yah, sampai-sampai Kang Mahmud telpon Abah Dul," kata Kosim dengan mimik muka tanpa merasa salah.


"Kok kamu tau Sim? Abah telpon kamu ya." Sergah Mahmud.


"Saya kan nggak bawa hape Kang, hehehe..."


Meskipun keheranan dan menimbulkan pertanyaan dihati, namun ketiganya nampak tak terlalu mempersoalkannya. Kepulangan Kosim sudah cukup menghilangkan kecemasan mereka.


"Udah yuk, pada sarapan dulu. Lumayan bikin nasi goreng." Sela Dewi.


Kedua kakak beradik dan kedua ipar itupun masuk rumah.

__ADS_1


......................


__ADS_2