Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Ungkap Suara Tanpa Rupa


__ADS_3

Ketegangan yang sempat memuncak melihat Kosim dipatuk ular kobra, kini mulai mencair. Mahmud, Abah Dul dan Kosim sudah kembali berada di gubuk kebun cabai dibawah pohon mangga nan rindang.


Abah Dul duduk di sisi kanan depan gubuk sambil menyandarkan punggungnya. Mahmud duduk disisi kirinya dengan santai menjuntaikan kakinya. Sedangkan Kosim duduk bersandar disudut dalam sebelah Abah Dul.


Matahari sudah mencapai titik kulminasinya namun teriknya matahari tak membuat panas gubuk yang ditempati Mahmud, Abah Dul dan Kosim. Ketiganya kembali melanjutkan menikmati kopi yang sudah tak lagi panas sambil menghabiskan sisa gorengan pisang.


Suasana sempat membisu beberapa saat lamanya, tenggelam dengan alam pikirannya masing-masing sebelum akhirnya Mahmud memecah keheningan.


"Sim, kamu benar tidak apa-apa. Kamu tadi dipatuk kobra loh," kata Mahmud penasaran.


"Iya nggak apa-apa Mas. Kalau saya dipatuk ya pasti sudah mati to Mas, saya nggak merasakan patukan," ujar Kosim.


"Masa Sim," sela Abah Dul.


"Beneran Bah, mana coba bekasnya." Kata Kosim sambil menunjukkan kedua kakinya.


Mahmud dan Abah Dul spontan memperhatikan kedua kaki Kosim terutama pada bagian betisnya. Keduanya mengernyitkan keningkeheranan karena memang tak ada bekas patukan ular di kaki Kosim.


"Apa kita salah liat ya Mud?" Kata Abah Dul menggantungkan pertanyaannya penuh ketidak percayaan.


"Nggak mungkin, wong jelas-jelas kobra itu menyambar betis Kosim." Tegas Mahmud.


"Iya sih, saya juga melihat dengan jelas. Tapi kok..." Ucapan Abah Dul terputus disela Kosim.


"Udah, udah. Saya nggak apa-apa kok, pulang yuk udah duhur." Sela Kosim.


"Ya udah hayu." Kata Mahmud.


Kosim segera mengemas sisa pisang goreng dan bungkus kopi lalu menenteng termos. Sedangkan Mahmud mengalungkan cangkulnya di bahu kiri dan tangan kanannya menenteng parang yang dibawa Kosim sebelumnya. Kemudian ketiganya melangkah meninggalkan gubuk kebun cabai milik Mahmud berjalan pulang.


Sepanjang perjalanan tak banyak obrolan yang keluar. Di otak Abah Dul sendiri masih sibuk memikirkan kejadian di kebun cabai, ia mengait-ngaitkan pertanyaan Kosim sebelumnya dengan kejadian patukan kobra di betis Kosim.


"Apakah sekarang Kosim mempunyai kelebihan setelah mati suri ataukah ini karomah dari amalan zikir yang diberikan Gus Harun." Kata Abah Dul didalam batinnya.


"Yang pertama Kosim seperti mengetahui akan ada bahaya dan kedua dia seperti tak mempan di patuk ular, aneh!" Lanjut Abah Dul dalam batin.


Mahmud pun demikian, ia memikirkan keanehan pada Kosim. Ia pun mengaitkan kejadian tadi pagi saat Kosim baru pulang dengan di kebun. Kalau tadi pagi Kosim mengatakan, 'cemas ya, sampai telpon Abah Dul' sedangkan waktu di kebun Kosim teriak, 'awas ada ular.'


"Kok dia bisa tau ya," kata Mahmud dalam batin.


Tak terasa ketiganya sudah sampai di rumah Mamud. Abah Dul langsung permisi pulang sedangkan Mahmud bergegas menuju bak mandi melalui pintu samping.

__ADS_1


Tinggal Kosim yang duduk lesehan di teras depan dan bersandar pada tiang saka rumah sembari menghisap sisa rokok ditangannya.


Pikirannya melayang mengingat-ingat lagi suara tanpa rupa yang lagi-lagi muncul disaat keadaan genting. Saat dirinya dipatuk kobra sebetulnya dia tau akan tetapi patukan kobra itu memang tak menyentuh kulit betisnya. Kobra itu justru seperti membal dan terpental.


"Kalau Abah Dul nggak tau siapa dan kenapa suara tanpa rupa itu selalu muncul, lalu kepada siapa lagi saya bertanya mencari tau?" Gumam Kosim dalam hatinya.


"Lalu apakah suara tanpa rupa itu bisa membantu saya melawan perjanjian gaib dengan siluman monyet?!"


......................


Masih dihari ke-11 melawan perjanjian gaib, selepas sholat magrib berjamaah Mahmud dan Kosim midangan di teras depan. Sedangkan Dewi dan Arin duduk didepan televisi menemani Dede bermain.


Suasana awal malam itu terasa biasa-biasa saja tak ada lagi rasa cemas dan khawatir dengan kemunculan teror mahluk gaib. Hingga malam keempat ini keluarga Mahmud dibuai terlena oleh keadaan yang dirasa baik-baik saja. Bahkan para tetangga yang biasanya pada midangan pun sudah tak ada.


Begitu pula dengan Abah Dul dan Mang Ali yang biasanya sudah berkumpul setelah magrib sekarang belum kelihatan batang hidungnya. Kini di rumah Mahmud hanya ada Mahmud, Kosim, Dewi, Arin dan Dede.


Sambil menikmati kopi, Mahmud dan Kosim terlibat obrolan serius. Mahmud masih penasaran dengan kejadian-kejadian seharian ini.


"Sim, waktu di kebun itu darimana kamu tau tiba-tiba berteriak ada ular didekat saya. Kamu kan ada di gubuk sama Abah dan nggak mungkin bisa melihat ular jaraknya jauh gitu," kata Mahmud.


"Hehehe... Iya Mas, sebenarnya saya juga sedang cari tau siapa yang selalu memperingati saya." Terang Kosim dengan tersenyum simpul.


"Iya, jadi ada suara yang tiba-tiba muncul gitu Mas. Suara itu seperti membisiki saya." Jelas Kosim.


"Maksudmu suara tanpa rupa gitu Sim?" Mahmud kian penasaran.


"Iya Mas," kata Kosim sambil menganggukan kepalanya.


"Terus, terus pernah mengalami kejadian apalagi Sim selain di kebun tadi?" Mahmud memburu pertanyaan yang kian membuatnya penasaran.


Baru saja Kosim hendak menceritakannya, Abah Dul dan Mang Ali datang sambil mengucapkan salam. Kosim pun urung melanjutkannya.


"Waalaikum salam, Monggo, monggo Abah, Mang Ali.." Jawab Mahmud.


"Keliatannya seru amat," celetuk Mang Ali.


"Hehehe.. Biasa aja Mang Ali. Mau minum apa Mang Ali, Abah?" Kosim menimpali celetukan Mang Ali.


"Teh tubruk Sim," jawab Abah Dul.


"Saya mah kopi Sim," timpal Mang Ali.

__ADS_1


Kosim pun kemudian masuk untuk membuatkan pesanan Abah Dul dan Mang Ali. Sepeninggal Kosim masuk, Mahmud pun langsung mencurahkan rasa penasarannya terhadap Kosim.


"Bah, Kosim cerita kalau kejadian di kebun siang tadi itu dia dibisiki suara tanpa rupa," ungkap Mahmud.


Kening Abah Dul mengerut sesaat, ia langsung teringat pertanyaan Kosim saat di gubuk. Kosim sempat bertanya dan ngomongin soal suara tanpa rupa dan rupanya benar-benar dialami Kosim.


"Berarti benar Mud," ujar Abah Dul.


"Benar gimana Bah?" Tanya Mahmud.


"Iya, Kosim sempat nanyain soal suara tanpa rupa itu sebelum kejadian ada kobra. Tapi belum banyak cerita keburu dia lari kearah ente tuh," kata Abah Dul.


Tak berapa lama Kosim muncul dengan membawa dua gelas, yang satu kopi dan satunya teh tubruk. Setelah meletakkan gelas ďihadapan Abah Dul dan Mang Ali, ia pun duduk disebelah Mahmud.


"Sim, apa bener tentang suara tanpa rupa itu?" Tanya Abah Dul penasaran.


"Iya Bah, makanya sewaktu di gubuk itu saya nanya." Jawab Kosim.


Kosim pun kembali menceritakan semua kejadian sepanjang siang tadi. Dari mulai kejadian di angkot, di rumah Kasno, saat pulang ke rumah dan terakhir kejadian di kebun cabai. Semuanya selalu diawali kemunculan suara tanpa rupa yang membisiki telinganya, sehingga dirinya dapat mencegah atau mengantisipasinya.


Secara kesimpulannya suara tanpa rupa itu sangat membantunya bahkan melindungi.


Abah Dul terdiam sejenak, raut mukanya menyiratkan sedang berpikir keras. Banyak perkiraan dan kemungkinan siapa pemilik suara tanpa rupa itu.


"Saya belum bisa memastikan, siapa sosok pemilik suara itu Sim. Tapi kalau sekiranya itu baik buat kamu sebaiknya jaga dan jangan disalah gunakan, Sim." Terang Abah Dul.


"Insya Allah Bah, atau ini merupakan khodam dari hasil zikir yang diijazahkan Gus Harun, Bah? Kata Kosim.


"Waallahu a'lam, Sim. Saya nggak bisa memastikannya." Ujar Abah Dul.


Obrolan tersebut terhenti seiring terdengarnya azan Isya dari pengeras suara mushola yang tak jauh dari rumah Mahmud.


Keempatnya terdiam sambil mendengarkan suara azan. Seiring selesainya suara azan, tiba-tiba Kosim berseru hingga membuat semuanya tersentak kaget.


"Bahaya, bahaya! Siluman Monyet itu hendak menyerang!" Seru Kosim.


Raut muka Abah Dul, Mang Ali dan Mahmud seketika berubah panik dan cemas. Mereka mulai percaya dengan apa yang diucapan Kosim.


Tak ada yang menyangka sama sekali kalau siluman monyet itu kembali datang menagih perjanjian gaibnya. Dan kini mereka datang secara tiba-tiba disaat semuanya lengah dan terlena oleh suasana yang sudah tenang selama tiga hari ini.


......................

__ADS_1


__ADS_2