
Hanya satu dua orang tetangganya saja yang kebetulan sempat menyaksikan melihat kondisi tubuh Kinarsih yang hitam. Mak Ojah terpaksa meminta tolong pada tetangganya tatkala Kinarsih sedang sekarat ketika menjelang subuh hari.
Karena di rumah tersebut hanya ada Mak Ojah dan Kinarsih saja pada akhirnya Mak Ojah pun meminta pertolongan tetangganya.
Dua orang tetangganya bernama ibu Subur dan ibu Jufri begitu sampai di kamar Kinarsih sontak terkejut dan
bergidik ngeri melihat kondisi Kinarsih yang sedang sekarat dengan tubuh melepuh lalu perlahan- lahan kulitnya
menghitam gosong.
Mengingat apa yang dilihatnya itu kedua ibu- ibu itu hanya tertunduk sambil menutup mulutnya. Keduanya sangat terenyuh bagaimana kondisi Kinarsih yang kulitnya gosong tanpa sebab yang tidak jelas.
Hal itu pula yang membuat Ibu Subur dan ibu Jufri bertanya- tanya dalam hatinya yang dirasakannya penuh dengan keanehan. Namun pertanyaan tersebut hanya disimpan saja di dalam hati mereka.
Mak Ojah segera membawa Karso dan Romlah masuk kedalam kamar Kinarsih. Romlah dan Karso memgikuti dari belakang dengan rasa penasaran.
Mak Ojah pun menceritakan kejadian semalam tentang kondisi Kinarsih saat- saat kulit disekujur tubuhnya gosong menjadi hitam seperti terbakar kepada Romlah dan Karso dengan suara pelan.
"Lewat tengah malam sekitar jam satuan, Emak mendengar teriakkan- teriakan Kinarsih dari dalam kamarnya,"
tutur Emak Ojah menghela nafas sejenak.
"Terus mak?" cecar Romlah dan Karso bersamaan.
"Ya emak buru- buru mendatangi kamar Kinarsih. Saat mak buka pintu kamarnya, mak liat Kinarsi sedang kelojotan berguling- guling diatas kasurnya. Mak mencoba menahan tubuh Kinarsih tapi mak malah kena pukulan tangan Kinarsih membuat mak jatuh tersungkur," ucap emak Ojah.
Karso dan Romlah tertegun mendengar cerita awal mak Ojah. Namun keduanya tidak juga mengerti dan dibuat penasaran dengan apa yang menyebabkan putrinya seperti itu.
Keduanya menunggu penuturan mak Ojah selanjutnya dengan rasa penasaran yang teramat sangat.
__ADS_1
"Emak nggak tau kenapa Kinarsih tiba- tiba seperti itu. emak dan dua orang tetangga yang sebelumnya emak minta bantuannya pun hanya bisa tertegun melihat Kinarsih meronta- ronta berguling- guling diatas kasur yang nampaknya sangat kesakitan. Saat emak, ibu Subur dan bu Jufri hendak berupaya memegang kaki Kinarsih, spontan kami melepaskannya kembali karena merasakan panas seperti di sundut api dan bahkan tangan
kami tangan kami pun melepuh," tutur mak Ojah.
"Kinar!!" pekik Romlah kontan menutup mulutnya dengan telapak tangannya,
Pikiran Romlah seketika teringat dengan panggangan ayam yang di hidangkan mbah kuncen di Gunung "G"
terlihat hitam gosong dan masih mengepulkan asap. Romlah juga membayangkan dengan raut ngeri bagaimana
jika yang dipanggang itu adalah ternyata sebenarnya anaknya, pasti betapa sakitnya tatkala anak semata wayangnya itu sebagai ayamnya yang dipanggang.
Air mata Romlah pun langsung luruh membasahi kedua pipinya. Tersirat ada rasa penyesalan yang teramat sangat. Dan ia sangat meyakini kalau panggangan anak ayam yang dihidangka mbah kuncen itu adalah anaknya. Romlah terkulai lemas menyandar pada tembok kamar Kinarsih lalu tubuhnya menggelosoh dan terduduk dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kinar... Kinar... Kinarsih..." ucap Romlah dengan lirih.
Karso yang melihat Romlah jatuh terduduk segera berjongkok merengkuh pundak Romlah. Namun Karso tidak
Berbeda dengan pemikiran istrinya yang sudah menduga- duga kalua penyebab kematian Kinarsih itu karena dijadikan tumbal pesugihan dirinya, lain dengan pikiran Karso yang sama sekali tidak terlintas sedikit pun ada dugaan seperti istrinya. Karso melihatnya merupakan hal yang wajar- wajar saja sebagai ibu yang ditinggal mati anaknya.
Meski pun Karso sendiri sebenarnya merasakan duka yang mendalam telah kehilangan anaknya, namun Karso berupaya tabah dan menerimanya sebagai takdir usia manusia. Entah lugu atau memang bodoh….
......................
3 bulan telah berlalu setelah kematian Kinarsih, sekarang Karso dan romlah menempati sebuah rumah baru yang
sangat bagus dan mewah di kampungnya. Bahkan paling bagus dan mewah diantara rumah- rumah yang ada di lingkungan kampungnya.
Pada awalnya Karso yang hanya sebagai pengumpul barang- barang rongsokan kini telah berubah 180 drajat.
__ADS_1
sekarang Karso sudah menjadi seorang bos rongsokan dan memiliki 20 orang pekerja atau karyawan di gudang penampungan barang serta 20 orang pekerja lepas yang berkeliling mencari barang- barang rongsok dari rumah ke rumah di berbagai perkampungan.
Usahanya tiba- tiba melejit semenjak kematian putri satu- satunya tiga bulan yang lalu. Entah secara kebetulan atau tidak satu minggu setelah keluarga Karso berduka, sang majikan Karso yang biasa dipanggil orang sekitar dengan nama Boss Gebes mendadak meninggal. Meninggalnya Bos Gebes menurut kabar yang beredar di masyarakat adalah terkena serangan jantung.
Setelah bos Gebes meninggal, lagi- lagi entah secara kebetulan atau tidak istri bos Gebes menawarkan usaha
rongsokan almarhum suaminya kepada Karso untuk dilelang karena merasa tidak mampu untuk meneruskan usaha tersebut. Dan istri bos Gebes berencana untuk pulang kampung dan melanjutkan hidupnya di kampung halamannya di Jawa Timur.
Tentu saja Karso langsung menerimanya dengan senang hati, apaplagi dengan harga yang terbilang sangat
murah. Istri bos Gebes memberikan harga 200 juta sudah termasuk dengan sebuah bangunan rumah tipe 46 dan bagungan gudang barang rongsok dengan pekarangan yang luas. Ditambah lagi dengan barang- barang rongsok di gudang penampungan yang sudah siap di jual kepada pengepul.
Karso yang sudah memiliki uang banyak dari hasil tirakatnya di gunung G tak kesulitan untuk membayar kontan.
Sejak saat itu Karso menjelma menjadi bos rongsokkan menggantikan almarhum bos gebes.
Selama rentang waktu 3 bulan itu Karyo merasa begitu mudahnya menjalani usaha rongsokkan hingga dapat
menghasilkan uang yang banyak dengan cepat. Entah secara kebetulan atau tidak usaha Karso berkembang begitu pesat. Bahkan karyawan yang semula hanya 10 orang, kini sudah bertambah menjadi 40 orang.
Bagi pandangan masyarakat di lingkungan karso nampak terlihat wajar karena Karso membuat cerita kalau dirinya mendapat pinjaman dari bank untuk membeli usaha rongsokan tersebut sehingga masyarakat pun percaya dan memang masuk diakal tidak nampak adanya keganjilan. Bahkan sebagian besar warga masyarakat sangat mengagumi atas keberhasilan usaha yang di jalani Karso.
......................
Waktu terus berjalan menjelang 1 tahun, kehidupan Karso dan Romlah pun begitu bergelimang harta. Mobil mewah, rumah megah, gemerlap kilauan perhiasan emas yang menghiasai di tangan, jari, leher bahkan kaki Romlah sekarang sudah menjadi ciri khas penampilannya. Kini Karso dan Romlah hidup serba kecukupan.
“Pak, ingat dua hari lagi tanggal 1 syuro,” kata Romlah usai menyantap makan malam.
“Iya, bu. Bapak juga sedang memikirkannya,” jawab Karso.
__ADS_1
BERSAMBUNG….