
Malam sebelumnya semalaman suntuk hingga Subuh hari Gus Harun, Abah Dul, Mahmud, Mang Ali dan Kosim ngobrol membicarakan soal kemungkinan-kemungkinan kapan Raja Siluman Monyet itu datang sesuai ancamannya untuk memaksa membetot nyawa Kosim atau anaknya.
Mereka masih tanda tanya besar, apakah Raja Kalas Pati datang ditanggal 13 malam ke-14 Purnama atau ditanggal 14 malam ke-15. Namun untuk menjaga-jaga segala kemungkinan, Gus Harun dan Abah Dul sepakat menanti dan bersiap siaga mulai malan ke-14.
Bagi Gus Harun dan Abah Dul, ancaman yang datang melalui mimpi itu diyakini bukan omong kosong semata. Bahkan kedua sahabat satu pesantren itu benar-benar menanggapinya sangat serius hingga meminta bantuan kembali dua sahabat satu pesantren lainnya, Basyari dan Baharudin.
Tidak lupa juga keduanya menyambangi gurunya Kiyai Sapu Jagat dengan cara kilat yakni 'meloloskan sukma' untuk meminta restu sekaligus meminta wejangan-wejangan menghadapi Raja Siluman.
Tetapi bagi Kosim, ancaman malam Purnama itu tidak begitu diseriusinya seperti Abah Dul dan Gus Harun. Justru Kosim lebih memilih pasrah dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi menimpa dirinya. Dorongan menafkahi Arin dan Dede dengan upah besar itu lebih mendominasi pikirannya ketimbang nyawanya.
Kapan lagi dirinya dapat memberikan uang yang banyak yang sudah nampak didepan mata untuk membahagiakan istrinya dan anaknya, begitu pikirnya. Padahal saat ini Arin sendiri sudah tidak lagi peduli dengan penghasilan Kosim.
Banyak atau sedikit, Arin akan menerimanya dengan hati lapang penuh dengan rasa syukur. Drirnya tidak lagi menuntut Kosim berpenghasilan besar hanya karena omongan-omong busuk tetangga-tetangganya.
......................
Hari ini Selasa tanggal 13 Februari,
Berarti hanya tinggal malam ini Kosim berada di rumah Mahmud sekaligus malam terakhirnya di rumah Mahmud. Karena besok paginya Kosim akan pergi meninggalkan keluarganya untuk bekerja bersama temannya di proyek Seismik di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Dan berarti juga malam ini adalah malam tanggal 14 alias MALAM PURNAMA!
Sebagian besar orang mengetahui kalau yang beraroma-aroma angka 13 memaknainya dengan angka sial. Namun banyak orang pula yang sebenarnya tidak mengetahui sebabnya angka 13 itu menjadi angka sial. Meski begitu mereka tetap mempercayainya, alasannya karena hanya untuk menghindari kesialan saja.
Bukan tanpa sebab kalau angka 13 itu didiskriminasikan sebagai angka yang sial. Konon berkembangnya mitos angka 13 itu awalnya dibawa oleh orang-orang bangsa Eropa hingga ke Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dahulu.
Kala itu jaman sebelum semodern sekarang suku-suku bangsa Eropa sangat kental dengan hal-hal magic dan banyak peristiwa kematian yang terjadi pada tanggal 13 malam Jumat yang di klaim sebagai pembunuhan secara mistis. Sehingga kepercayaan berbau mistis pun tercetus sejak saat itu, yang kita kenal sekarang bernama 'Friday the 13th'.
Meski harinya berbeda dengan peristiwa awalnya, akan tetapi angka 13-nya tetap melekat hingga sekarang dan tidak lagi terpaku dengan malam Jumat.
Sejak pagi cuaca dilangit awan mendung masih tebal menutupi langit. Hujan yang turun nampaknya tidak sebanding dengan tebal dan pekatnya mendung, hanya rintik-rintik kecil saja. Akan tetapi suara-suara gemuruh dan gelegar petirnya tidak henti-henti bersahutan diatas sana.
__ADS_1
Warga desa Sukadami pun nampaknya lebih memilih untuk berdiam diri di rumah. Suasana malam ini menjadi lenggang tidak ada seorang warga pun yang keluar rumah, mereka lebih memilih meringkuk dibalik sarungnya.
Berbeda dengan suasana didalam kediaman rumah Mahmud. Perasaan harap-harap cemas sudah dirasakan melingkupi semua orang yang ada didalam rumah itu.
Gus Harun, Abah Dul dan Mang Ali sudah berada di rumah Mahmud sebelum waktu Magrib sekalian melaksanakan sholat Magrib dan Isya berjamaah di rumah Mahmud.
Seharian ini Gus Harun berada di rumah Abah Dul. Selepas Subuh tadi Abah Dul sengaja mengajak Gus Harun ke rumahnya agar bisa beristirahat total untuk memulihkan kondisinya yang belum sempat beristirahat semenjak kedatangannya kemarin sebagai persiapan nanti malam.
Setelah sholat Isya berjamaah tadi, Kosim langsung berpamitan pada Gus Harun, Abah Dul, Mahmud dan Mang Ali untuk mempersiapkan perbekalan yang akan dibawanya besok berangkat ke Wonosobo.
"Punten, saya pamit dulu sebentar untuk menyiapkan perbekalan buat berangkat besok." Ucap Kosim beranjak dengan menggendong Dede.
"Monggo, monggo..." kata Gus Harun sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bersamaan itu Dewi dan Arin juga pamitan dan langsung beranjak melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Sesaat suasana kembali hening sepeninggal Kosim serta Dewi dan Arin. Namun dibalik keheningan itu jauh didalam hati Gus Harun, Abah Dul, Mahmud dan Mang Ali sesungguhnya sama-sama merasakan adanya debaran-debaran halus yang muncul sejak mereka melaksanakan sholat Isya berjamaah tadi.
"Iya bener Mud. Saya juga merasakan sejak sholat Isya tadi," sela Mang Ali.
"Dul? Ente?" Tanya Gus Harun menoleh ke Abah Dul.
"Iya Gus, yang dirasakan Mahmud sama Mang Ali juga saya rasakan." Sahut Abah Dul.
"Apakah malam ini Kalas Pati benar-benar akan datang ya Gus?!" Gumam Mang Ali setengah bertanya.
"Diluar masih hujan?" Tanya Gus Harun.
"Sepertinya masih gerimis, kenapa Gus?" Timpal Mahmud.
__ADS_1
Gus Harun terdiam sejenak raut wajahnya datar, sepertinya sedang memikirkan atau sedang menimbang-nimbang sesuatu dipikirannya.
"Gus, inikan tanggal 13, apakah berpengaruh dengan keberuntungan atau kesialan," celetuk Mang Ali.
"Kita serahkan sepenuhnya pada Gusti Allah Mang Ali. Pada hakekatnya Gusti Allah menciptakan hari-hari dan tanggal itu semuanya bagus. Mungkin saja secara kebetulan saat tertimpa musibah terjadi dihari dan tanggal itu, sehingga disebutnya sebagai hari sial." Terang Gus Harun hati-hati agar Mang Ali tidak merasa tersinggung.
Mang Ali termasuk salah satu orang yang memegang teguh itungan hari termasuk mempercayai ada hari sial dan ada angka sial. Maklum saja karena Mang Ali keturunan yang menganut ilmu Kejawen yang segala sesuatunya harus dipertimbangkan menurut hitung-hitungan angka.
Secara turun temurun semenjak dari Buyutnya dahulu, seringkali diminta untuk menentukan nama menurut hitung-hitungan. Tidak jarang masyarakat sekitarnya akan datang dan menanyakan bagus atau tidaknya nama anaknya termasuk nasib rejekinya.
Selain itu hitungan Kejawen juga menjadi acuan bagi masyarakat di kampung manakala akan menggelar hajatan. Mereka akan menanyakan hari yang bagus agar cuaca tidak hujan dan banyak yang datang kondangan.
Soal benar dan tidaknya mitos semua itu, Waallahu A'lam Bishowab. Manusia hanya bisa memperhatikan dari peristiwa-persitiwa yang terjadi sehingga akan dijadikannya sebagai pengingat di masa yang akan datang.
"Kita jangan lengah sedikit pun, sebaiknya selalu waspada dengan sering-sering mengamati cuaca diluar," ucap Gus Harun.
"Maksudnya Gus?!" Sela Mahmud.
Baru saja Gus Harun akan mengatakannya, muncul Dewi dan Arin membawa bakul nasi dan tumpukkan piring, obrolan pun menjadi terhenti. Setelah meletakkannya, kedua kakak beradik itu kembali lagi ke dapur untuk mengambil lauk-pauknya.
"Makan dulu ya..." ucap Dewi sambil mengambilkan nasi dipiring satu persatu.
"Kosimnya dipanggil dulu Rin, kita makan bareng.." kata Mahmud mengingatkan Arin.
"Iya Mas," Arin langsung melangkah menuju kamarnya.
Tidak lama kemudian Kosim dan Arin sudah kembali dan bergabung di ruang tengah. Suasana makan malam pun berlangsung tanpa banyak obrolan. Makan malam kali ini seakan-akan lebih terasa sebagai makan malam perpisahan dengan Kosim.
......................
__ADS_1
🔴BERSAMBUNG...