
Setelah Mahmud selesai manyampaikan maksud dan tujuannya kepada pak Wira, seketika itu juga Pak Wira begitu tercengang mendengarnya. Ia mengerutkan keningnya dalam- dalam mencoba mencerna dengan logika serta akal sehatnya. Sekian detik pak Wira terhenyak dengan alam pikirannya, raut wajahnya masih terlihat bingung bercampur rasa tidak percaya.
“Tapi Mud, apakah mungkin anaknya Kosim yang sudah dikubur selama empat puluh hari itu bisa hidup kembali? Lalu apakah jasadnya tidak rusak?!” tanya pak Wira ditengah kegamangannya.
“Saya sangat yakin dengan mimpi saya itu pak Wira, tidak ada yang tidak mungkin dengan kekuasaan Gusti Allah. Maka dari itu saya meminta bantuan bapak untuk mengakomodir segala sesuatunya termasuk meminta bantuan dari pihak rumah sakit atau Puskesmas serta pihak kepolisian jika perlu untuk mendampingi dalam penggalian ini. Saya mohon agar secepatnya dilakukan sekarang pak,” terang Mahmud meyakinkan pak Wira meskipun dibumbui cerita bohong.
Yang disampaikan Mahmud sesuai dengan seperti apa yang diajarkan Gus Harun sebelumnya, walau harus mengarang cerita dengan berpura- pura bermimpi. Hal itu semata- mata hanyalah untuk memudahkan orang- orang seperti sang kepala desa dapat memahami dan dapat menerima dengan cepat alasan melakukan penggalian kubur putra Kosim.
Mendengar penjelasan Mahmud tersebut pak RT mengangguk- anggukan kepala, ia langsung percaya begitu saja karena melihat latar belakang Mahmud sebagai orang yang saleh dan sangat dihormati di desanya.
Lain halnya dengan pak Wira yang sebelumnya sempat tidak percaya dan sempat menolak, namun kali ini pak Wira terlihat sudah sedikit bisa menerima setelah Mahmud meyakinkannya. Meski pun didalam hati kecilnya masih ada ganjalan yang mengatakan bahwa hal ini sangat mustahil, sangat tidak mungkin. Jika ini benar- benar terjadi sesuai dengan cerita mimpi Mahmud, dan anaknya Kosim dapat hidup kembali, dipastikan Sukadami akan menjadi pusat perhatian seantero jagat.
“Baiklah Mud, saya akan langsung memerintahkan pamong desa untuk menyiapkan segala sesuatunya agar secepatnya di lakukan,” tegas pak Wira.
“Alhamdulillah kalau begitu pak, saya akan pulang dulu nanti kita ketemu di pekuburan pak,” ucap Mahmud.
“Pak RT, tolong sampeyan segera hubungi para penggali kubur suruh berkumpul di pekuburan sekarang,” perintah pak Wira pada pak RT.
“Njih pak, kalau begitu saya pamit langsung ke rumah pak Darman,” ujar pak RT.
“Saya juga sekalian pamit pak, terima kasih banyak sebelumnya pak atas bantuannya,” timpal Mahmud.
“Njih, njih… insya allah saya akan memfasilitasi semuanya Mud,” balas pak Wira.
Setelah menyalami pak Wira, Mahmud dan pak RT bergegas beranjak pergi meninggalkan rumah Kepala Desa. mahmud dan pak RT bersama- sama keluar dari rumah pak Wira, namun setelah di depan pagar mereka berpisah, Mahmud menuju rumahnya kembali sedangkan pak RT menuju rumah warga yang biasa menggali kubur.
Sepeninggal Mahmud dan pak RT, pak Wira segera mengambil telpon selulernya untuk menghubungi perangkat desanya dan memerintahkan untuk mempersiapkan semuanya.
__ADS_1
Sementara itu Mahmud dengan berlari- lari kecil kembali kerumahnya membuat beberapa warga yang melihatnya merasa heran. Beberapa warga yang kebetulan berpapasan dengan Mahmud seketika heran
melihat raut wajah pada Mahmud dipenuhi ketegangan sembari berlarian kecil dengan tergesa- gesa.
"Nggak biasanya kang Mahmud nggak menyapa," gumam salah satu warga.
"Ada apa dengan kang Mahmud ya?" tanya salah seorang warga lainnya heran.
Mahmud terus berlari kecil tidak menghiraukan orang- orang yang melihatnya karena pikirannya terfokus dengan
tugas yang harus dikerjakannya. Beberapa saat kemudian Mahmud sudah sampai di rumahnya, ia langsung bergegas masuk dan menuju ruang tengah.
Bersamaan dengan tibanya Mahmud di ruang tengah, Mahmud melihat tubuh Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin sedang berguncang- guncang dan bergetar hebat. Mahmud hanya terpaku menatap ke empat
sosok yang duduk melingkar sling berhadapan itu dengan tatapan bingung.
“Apa yang harus saya lakukan?!” tanya Mahmud dalam hati merasa kebingungan.
“Apa yang sedang terjadi dengan mereka?!” sambung Mahmud dalam hati.
“Semoga Gus Harun beserta yang lainnya tidak mengalami kendala apapun…” gumam mahmud, pikirannya melayang mengingat kembali saat dirinya berada di alam siluman.
Tanpa sadar perlahan- lahan Mahmud memjamkan matanya, ingatannya membawa kembali ke dalam situasi yang menegangkan yang baru pertama kali dialaminya sepanjang hidupnya berada dialam gaib dalam situasi peperangan. Lalu bertemu mahluk- mahluk yang bentuknya beraneka ragam dan menyeramkan hingga bertemu dengan arwah- arwah yang tertawan.
Jedaaarrrr!!!
Tiba- tiba suara geledek berdentum keras diatas rumah Mahmud dibarengi dengan kilatan petir yang berkilau terang, seketika membuat Mahmud tersentak dan sadar dari lamunan yang sempat menyeretnya hanyut
__ADS_1
kedalam peristiwa yang dialami sebelumnya.
“Saya harus cepat- cepat melakukan penggalian kubur Dede!” seru Mahmud dalam hati sekaligus menyemangati diri sendiri.
Lantas Mahmud bergegas pergi ke dapur dimana Arin dan Dewi sebelumnya dilihatnya berada disana.
“Ariiin! Ariin…!” seru Mahmud sembari melangkah memanggil- manggil adik iparnya.
“Ada apa Mas?!” Dewi yang menyahut manjawab panggilan Mahmud. Mungkin Arin tidak mendengar panggilan itu karena berada di sisi luar rumah.
“Wi tolong siapkan satu stel pakaian punya Dede ya, sekarang…” kata Mahmud.
“Pakaian Dede?!” sahut Dewi sangat terkejut sekaligus keheranan.
“Iya pakaian Dede, ayo cepat Wi,” sergah Mahmud tak menghiraukan wajah heran istrinya.
“De, de, dede udah meninggal Mas!” ucap Dewi terbata- bata dengan nada ditekan khawatir di dengar oleh Arin.
“Iya Wi, saya tau. Udah sekarang ambilkan pakaian Dede satu stel ya nanti saya jelaskan!” kata Mahmud geregetan karena Dewi terus bertanya.
Mahmud sebenarnya sangat bingung untuk menjelaskan situasi yang sedang di hadapinya saat ini. Ditambah lagi dengan kematian Dede yang sebenarnya akibat melawan perjanjian gaib itu tidak diketahui oleh Dewi dan Arin. Bahkan adanya rentetan peristiwa kemunculan monyet- monyet siluman yang mengganggu Arin dan Dede pun tidak mereka ketahui sebabnya. Dan sengaja untuk merahasiakan semuanya dari Arin maupun Dede.
Dengan langkah gamang, Dewi pun akhirnya pergi juga menuju kamar yang ditempati Arin dan Mahmud pun mengikutinya di belakang Dewi.
Saat melintas di ruang tengah, Mahmud sempat melirik jarum jam yang tergantung di atas tv di dinding belakang
tv. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi!
__ADS_1
Sementara itu Dewi yang masuk ke kamar Arin langsung membuka lemari pakaian tempat menyimpan baju- baju Dede. Dewi memilihkan baju yang paling bagus dan terbaru yang paling disukai Dede semasa hidupnya.
Tak beberapa lama kemudian Dewi keluar kamar lalu memberikan satu stel baju yang di minta Mahmud yang sudah dibungkus kedalam kantong kresek berwarna hitam.** BERSAMBUNG