
“Terakhir yang saya ingat, saya sempat mendengar suara ledakkan. Lalu saya merasa tubuh saya terlempar masuk kedalam pusaran pintu gerbang itu,” ungkap Mahmud sambil menerawang keatas mencari- cari kejadian
terakhir dalam ingatannya.
“Suara ledakkan?!” tanya Abah Dul megeaskan kembali.
“Ya Dul, saya sekilas melihat rumah tuan Denta hancur sebelum saya terlempar masuk kedalam pintu gerbang dimensi itu,” tegas Mahmud
meyakinkan.
Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin kontan saling berpandangan satu sama lain, seakan- akan ingin menyamakan dugaan yang ada didalam pikiran mereka. Ketiganya sama- sama menduga- duga kalau kiyai Sapu Jagat, tuan Denta, Kosim, tuan Samanta dan tuan Gosin sedang dalam masalah besar.
“Jangan- jangan Kiyai dan yang lainnya sedang dalam masalah!” kata Abah Dul dengan suara penuh penekanan.
“Betul Dul, mereka pasti sedang mendapat masalah!” ujar Basyari.
“Kang Mahmud, apakah sebelmnya terjadi masalah di kediaman tuan Denta?” tanya Gus harun menerka- nerka.
“Benar Gus, sebelumnya saat saya dan tuan Denta berada di kediaman tuan Denta itu, keberadaan kami berdua diketahui oleh para prajurit yang sedang berjaga- jaga di luar rumah itu,” terang Mahmud, ia tidak menceritakan secara rinci kalau yang menjadi penyebab sampai diketahui oleh para prajurit itu karena akibat ulah dirinya.
Seketika itu juga suasana suka cita karena kembalinya Mahmud berubah menjadi ketegangan. Raut- raut wajah Gus Harun, abah Dul, Basyari dan Baharudin menyiratkan rasa cemas dan kegundahan yang teramat sangat. Mereka kini mengkhawatirkan keselamatan guru mereka dan juga yang lainnya seperti Kosim,
tuan Denta, tuan Samanta dan tuan Gosin.
“Apa yang harus kita lakukan…?” gumam Basyari lemas. Dirinya merasa tidak ada yang bisa diperbuat lagi untuk bisa membantu Kiyai Sapu Jagat serta yang lainnya.
Abah Dul dan yang lainnya terdiam membisu, namun didalam pikiran mereka masing- masing sedang berkecamuk membayangkan kejadian yang sedang menimpa guru mereka.
......................
Alam Jin,
“Pergi dari sini tuan Samanta! Cepat bawa mereka semua ke alam fana!!!” bentak tuan Denta.
__ADS_1
Tuan Samanta terkesiap mendengar suara bentakkan tuan Denta. Baru kali ini dirinya mendengar tuan Denta berteriak begitu marahnya. Dengan berat hati, tuan Samanta perlahan- lahan bergerak mundur sambil memberi isyarat pada Kosim dan tuan Gosin.
Tanpa melihat tuan Samanta dan yang lainnya bergerak, tuan Denta seketika melesat menuju ke tempat Kiyai Sapu Jagat yang sudah siap melancarkan serangannya terhadap raja Gondewa.
“Tuan Kiyai, cepat tinggalkan tempat ini! Biarkan aku yang akan menghadapi raja keparat itu!” tegas tuan Denta bersamaan tubuhnya berdiri disamping Kiyai Sapu Jagat.
“Tidak tuan Denta! saya tidak akan pergi sebagai pengecut. Sepanjang hidup saya tidak akan bisa tenang jika saya pergi begitu saja meninggalkan tuan dalam kondisi seperti ini,” balas Kiyai
Sapu Jagat.
“Tuan Kiyai, aku mohon cepat tinggalkan alam ini dan kembali ke alam fana. Ini semua adalah masalah kami bangsa jin dan bangsa manusia tidak ada keterkaitannya sama sekali,” kata tuan Denta menegaskan.
Mendengar perkataan tuan Denta, seketika kiyai Sapu Jagat terdiam dan merasa gamang. Memang benar yang diucapkan tuan Denta, dirinya sama sekali tidak pernah besinggungan dan memiliki persoalan dengan raja Gondewa. Namun disisi lain timbul rasa kemanusiaan kiyai Sapu Jagat mendominasi di dalam pikirannya. Dirinya tidak tega membiarkan tuan Denta harus mati konyol melawan raja Gondewa sendirian.
“Aku akan menyusul tuan kiyai ke alam fana!” kata tuan Denta melihat kiyai Sapu Jagat terdiam.
“Ti….”
Disaat bersamaan, didalam kediaman tuan Denta tersebut tuan Samanta telah membuka pintu gerbang menuju alam fana. Nampak pusaran kabut berwarna putih berdiameter 5 meter berputar- putar searah jarum jam. Kosim yang dipersilahkan lebih dulu memasuki pintu gerbang tersebut oleh tuan Samanta tiba- tiba tubuhnya di tabrak oleh tubuh Kiyai Sapu Jagat yang di lemparkan oleh tuan Denta.
Tubuh Kosim seketika terdorong masuk ke dalam pusaran kabut tipis bersama tubuh kiyai Sapu Jagat. Sementara tuan Samanta dan tuan Gosin yang melihat kejadian tak terduga tersebut tersentak kaget. Akan tetapi setelah mengetahui sekilas kalau yang menabrak tubuh Kosim dan lenyap sama- sama masuk kedalam pintu gerbang tersebut adalah sosok yang mereka kenali, keduanya pun tersenyum lega.
“Cepat masuk tuan Gosin!” seru tuan Samanta mempersilahkan tuan Gosin memasuki pintu gerbang.
“mari kita sama- sama masuk tuan!” tegas tuan Gosin.
“Tidak tuan Gosin, pintu gerbang ini haya bisa dimasuki satu persatu,” kilah tuan Samanta.
Tuan Gosin nampak ragu- ragu, terbesit didalam pikirannya kalau tuan Samanta tidak akan ikut bersamanya. Akan tetapi pikiran buruk itu dia tepis jauh- jauh, dan pikirannya lurus mempercayai saja alasan tuan Samanta kalau pintu gerbang itu tidak bisa dimasuki secara
bersama- sama.
Akhirnya tuan Gosin pun segera bergerak
__ADS_1
untuk memasuki pusaran kabut tipis tersebut. Sesaat tuan Gosin menoleh sejenak kearah
tuan Samanta seakan- akan untuk meyakinkan kalau tuan Samanta akan menyusul mengikutinya memasuki pintu gerbang tersebut.
Tuan Samanta mengangguk kecil seraya
tersenyum tipis. Melihat anggukan kepala tuan Samanta, perasaan tuan Gosin pun menjadi yakin dan mantap memasuki pusaran kabut tipis. Sesaat kemudian tubuh tuan Gosin lenyap seketika didalam pusaran kabut tipis yang membawanya ke dunia fana.
Tuan Samanta termenung memandangi
pintu gerbang yang telah mengantarkan Kosim, Kiyai Sapu Jagat dan tuan Gosin tersebut kembali ke alam fana sambil menyunggingkan senyum tipis. Kemudian tuan Samanta mengangkat tangan kanannya lalu mulutnya komat- kamit membaca matera. Dan seketika itu juga pusaran kabut tipis dihadapan tuan Samanta lenyap tak berbekas. Lalu dengan cepat tuan Samanta melesat kearah tuan Denta berada.
Langit sudah mulai tertutup oleh awan tebal yang bergulung- gulung memadat persis diatas raja Gondewa berdiri. Lidah- lidah sambaran petir berkilatan menjilat- jilat kebawah.
“Tuan Samanta!” pekik tuan Denta terkesiap kaget melihat kemunculan tuan Samanta di sampinya.
“Mari Jenderal kita sama- sama bertarung melawan raja iblis itu sampai titik akhir kehidupan kita!” tegas tuan Samanta.
Tuan Denta menggeleng- gelengkan kepalanya, dirinya tidak menyangka Panglima perangnya dahulu masih begitu setia menemaninya. Tuan Denta menoleh dengan tatapan penuh kekaguman lalu menepuk pundak tuan Samanta seraya berkata dengan lugas; “Baiklah Panglima! Terima kasih telah setia sampai akhir kehidupanku!”
Tuan Samanta mengangguk dengan mantap
penuh keyakinan sebagai jawabannya. Lalu kedua Ksatria dari kerajaan jin terdahulu tersebut mulai mempersiapkan diri melakukan penyerangan terhadap raja Gondewa. Segera tuan Denta memunculkan pedang besarnya yang berwarna keperakan, begitu pula dengan tuan Samanta segera mengacungkan tangannya lurus ke langit.
Seketika selarik cahaya merah darah turun dari langit menghujam keujung tangan tuan Samanta yang teracung. Saat itu juga sinar merah darah seketika membentuk sebuah pedang besar dan tergenggam erat di tangan tuan Samanta.
Sementara raja Gondewa yang melihat tuan Denta dan tuan Samanta mengeluarkan senjatanya masing- masing, membuatnya
semakin geram. Raja Gondewa menyeringai memperlihatkan empat taringnya yang
mencuat di kedua sudut bibir melihat kedua
mahluk yang dipandangnya hanyalah semut- semut kecil hendak melakukan perlawanan.** BERSAMBUNG
__ADS_1