
BANTEN,
Didalam masjid seusai menjalankan sholat isya berjamaah, Abah Dul dan Gus Harun masih duduk beriringan. Kebetulan ini adalah malam Jumat, suasannya masih ramai karena santri-santri banyak yang masih berada didalam masjid untuk mengikuti berbagai kegiatan, seperti Marhabanan, latihan holaqoh, latihan rebana dan ada juga yang latihan ceramah. Mereka berkelompok-kelompok menurut kegiatannya masing-masing. Yang latihan rebana berada diluar ruangan sedangkan yang lainnya berada di ruangan berkelompok disudut dan pinggir ruangan dalam masjid.
"Gus, menurut ente apakah mahluk siluman monyet itu masih memburu Kosim atau keluarganya?" Tanya Abah Dul menghentikan sejenak zikirnya.
"Ana rasa kemungkinan masih tetap akan datang Dul. Hanya saja mungkin akan menjadi persoalan lain ketika para siluman itu telah mengetahui kalau orang yang mereka buru ternyata sudah meninggal," jawab Gus Harun menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan meniti tasbih di jari-jarinya.
"Artinya siluman-siluman itu akan tetap mengambil istrinya atau anaknya?" Abah Dul bertanya meyakinkan.
"Bisa jadi seperti itu. Sebab bangsa meteka itu kalau sudah A ya harus A tidak bisa membatalkannya," ujar Gus Harun.
Abah Dul terdiam, wajahnya membayangkan kengerian yang akan terjadi kedepannya. Dia kira setelah Kosim meninggal akan memutus segala hubungannya dengan para mahluk siluman monyet itu. Abah Dul juga rupanya membenarkan dan sangat masuk akal soal kemungkinan mereka akan tetap menuntut nyawa sebagai gantinya.
"Astagfirullah!" pekik Gus Harun dan Abah Dul secara tiba-tiba.
Tubuh kedua orang itu sama-sama merasakan getaran yang sangat kuat. Gus Harun dan Abah Dul spontan saling berpandangan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Perisai!" seru Gus Harun.
Abah Dul tersentak, dia baru ingat getaran itu berasal dari perisai kubah yang melindungi rumah Mahmud. Jika getaran itu muncul berarti ada hantaman dari sebuah energi gaib yang sangat kuat.
"Ayo kesana!" ucap Gus Harun lagi.
Abah Dul tak menjawab tapi langsung membetulkan posisi duduk bersilanya, begitu pula dengan Gus Harun. Keduanya lalu memejamkan mata, mulutnya bergerak-gerak membaca bacaan yang sama. Beberapa saat kemudian kedua tubuh itu diam tak bergerak, secara tak kasat mata dua sukma keluar dari tubuh Abah Dul dan Gus Harun. Dua sukma itu kemudian melesat cepat keatas membentuk kilatan cahaya menembus langit-langit masjid dan menghilang.
......................
__ADS_1
RUMAH MAHMUD,
Mahmud masih menelisik mencari tahu ada apa diatas gentengnya. Namun hingga beberapa saat lamanya ia tidak menemukan apapun disana. Kemudian Mahmud kembali masuk kedalam rumahnya, pikirannya terus mengira-ngira apa yang menjadi penyebab hingga membuat getaran dan suara diatas rumahnya.
Tak lama setelah Mahmud masuk rumahnya, dua kilatan cahaya putih turun dari atas dan berdiri depan rumah itu tempat dimana Mahmud sebelumnya berdiri. Dua cahaya putih itu yang tak lain adalah sukma-sukma Abah Dul dan Gus Harun.
"Ayo periksa keatas Dul," ucap sukma Gus Harun.
"Njih Gus," sahut sukma Abah Dul.
Kedua sukma itu lantas melayang diatas genteng rumah Mahmud. Lalu mengamati dengan seksama kondisi perisai gaib yang dibuat oleh Gus Harun. Beberpa detik kemudian mata sukma Gus Harun melihat ada sebuah bekas benturan pada perisai dibagian tengahnya yang berwarna hitam. Sukma Gus Harun langsung memeriksanya dan wajahnya seketika berubah menegang.
"Ada apa Gus?" Tanya sukma Abah Dul.
"Ada bekas benturan energi disini Dul, tapi sepertinya bukan dari energi bangsa siluman monyet," ucap suma Gus Harun dengan dahi berkerut heran.
"Kalau bukan dari bangsa siluman monyet lalu berasal darimana enegi itu Gus?" Tanya sukma Abah Dul turut heran.
Kedua sukma itu lantas turun menembus atap rumah dan langsung berada di ruang tengah. Sukma Gus Harun mendeteksi dua kamar yang ada didepannya, sementara sukma Abah Dul melayang menuju ruang tamu. Sukma Abah Dul tersenyum melihat Mahmud sedang duduk di ruang tamu sambil menjepit rokok disela-sela jarinya dengan wajah terlihat kebingungan dan cemas.
"Muuud... Mahmuuud..." panggil sukma Abah Dul iseng-iseng.
Mahmud tak bergeming, ia tak mendengar apapun. Sukma Abah Dul mendekat dan kali ini dia iseng-iseng berbisik di telinga Mahmud tetapi Mahmud terlihat tak merespon sama sekali karena memang tidak mendengarnya dan tidak bisa melihat kehadiran sukmanya. Lalu timbul kejailan sukma Abah Dul untuk menakut-nakuti Mahmud. Sukma Abah Dul menarik rokok yang ada disela-sela jari Mahmud dan melemparnya ke lantai.
Mahmud tersentak kaget, wajahnya terlihat menegang. Dia merasakan tiba-tiba rokoknya terpental dengan sendirinya seperti dilempar ke lantai. Pikirannya langsung tertuju pada Kosim.
"Jangan gitu Sim..." suara Mahmud sedikit bergetar.
__ADS_1
Sukma Abah Dul tak bisa membendung tawanya, dia terkekeh-kekeh melihat Mahmud tersentak kaget dan mendengar Mahmud mengucapkan itu. Lalu Sukma Abah Dul melihat Mahmud hendak memungut rokoknya yang tergeletak di lantai itu. Sukma Abah Dul kembali menjailinya lagi, rokok yang hendak diambil Mahmud ia geser sedikit sehingga jari Mahmud hanya mengenai tempat Kosong. Mahmud kian keheranan melihat batang rokoknya bergerak menjauh. Dia celingukkan mengedarkan pandangannya kesegala arah namun tak melihat apa-apa.
"Jangan ganggu begitu Sim..." ucap Mahmud bergetar.
Sukma Abah Dul kembali terkekeh-kekeh melihat tingkah Mahmud yang menuduh Kosim yang melakukan itu. Tapi kekehan sukma Abah Dul langsung berhenti ketika telingannya ada yang menyentilnya. Ia menoleh kebelakang, dilihatnya sudah ada sukma Gus Harun sedang memelototinya.
"Usil ente nggak ilang-ilang ya Dul, ayo kembali Dul," ujar sukma Gus Harun.
Sukma Abah Dul senyum-senyum saja, kemudian sukma Gus Harun dan sukma Abah Dul melesat keatas menembus atap rumah Mahmud dan lenyap seketika meninggalkan Mahmud yang masih celungukkan keheranan bercampur rasa takut.
......................
BANTEN,
Tubuh Abah Dul dan Gus Harun yang diam tak bergerak selama kurang lebih 10 menitan itu tiba-tiba bergetar saat dua sukma memasuki raganya masing-masing. Lalu keduanya mengusap wajahnya seraya berucap, "Alhamdulillah..."
"Ente ya Dul, jailnya nggak ilang-ilang dari dulu. Kasihan kang Mahmud tuh," ucap Gus Harun.
"Hehehe... cuma sedikit Gus," timpal Abah Dul.
"Dul kalau melihat bekas benturan di perisai itu sepertinya ada kekuatan seseorang yang mencoba menghantamnya," ucap Gus Harun serius.
"Siapa kira-kira ya Gus?" Tanya Abah Dul.
"Coba ente ingat-ingat lagi barangkali pernah melakukan sesuatu berurusan dengan orang Dul," ucap Gus Harun sambil menoleh pada Abah Dul.
Abah Dul tak langsung menjawab, dia mengingat-ingat lagi semua peritiwa selama berada di rumah Mahmdu saat menangani Kosim dari teror-teror siluman monyet. Tetapi dirinya merasa yakin tidak pernah berurusan dengan orang lain atau jangan... jangan...
__ADS_1
"Apa ada kaitannya dengan pengungkapan pelaku pesugihan di desanya Kosim ya Gus?" ujar Abah Dul.
......................