
“Ayo San, katanya mau lihat kejutan dari bapak!” sergah pak Harjo memotong ucapan Hasan.
Seketika Hasan menoleh pada ibunya, keduanya saling berpandangan, pandangan Hasan seakan- akan bertanya kejutan apa yang di maksud oleh bapaknya? Namun sedetik kemudian ibunya tersenyum penuh arti, ia teringat dengan pembicaraan suami dan anaknya di telpon kemarin.
“Udah ikut saja San,” ujar ibunya mengajak Hasan menuju pak Harjo yang senyum- senyum penuh misteri.
“Kejutan apa sih pak?” tanya Hasan penasaran.
“Ikuti saja bapak,” jawab pak Harjo singkat sambil melangkah masuk kedalam rumah.
Hasan hanya manut saja sambil melangkah dibelakang bapaknya lalu diikuti ibunya. Di dalam benaknya sejuta tebakan saling bermunculan, apakah dirinya dibelikan sesuatu oleh bapak?
“jangan- jangan perjodohan nih?!” benak Hasan mulai curiga.
“Tapi dari tadi nggak ada cewek?” bantinnya.
Beberapa saat kemudian sampailah pak Harjo di depan pintu kamar Hariri. Hasan terlihat makin bingung, kejutan apa yang diberikan bapaknya di dalam kamar Hariri. Yang dia tahu selama ini Hariri sedang sakit aneh yang dalam perkiraannya hanya ada satu kemungkinan yakni adiknya itu hanya menunggu ajal.
Tok.. tok.. tok..
“Assalamualaiku…” Pak Harjo mengetuk pintu kamar Hariri lalu mengucap salam.
Hasan mengerutkan keningnya kian dalam sambil menggeleng- geleng kepala, di dalam hatinya memprotes bapaknya. Kenapa bapaknya mengetuk pintu dan mengucap salam, Hariri kan tidak mungkin untuk membukakan pintu. Jangankan untuk berjalan, membalas ucapan salam bapak saja rasanya tidak mampu.
Ditunggu beberapa saat, tetapi tidak ada reaksi apapun yang terdengar dari dalam kamar Hariri. Hasan makin geregetan dengan ulah bapaknya, biasanya juga kalau mau masuk ke dalam kamar Hariri langsung buka kamar saja. Tapi kenapa sekarang bapaknya bersikap seolah- olah Hariri tidak dalam keadaan sakit dan terbaring tak berdaya.
Tok… tok… tok…
“Har… ini bapak, ada yang ingin ketemu kamu Har,” ucap pak Harjo kembali mengulang.
Setelah dutunggu- tunggu tetap saja tidak ada sahutan dari dalam kamar Hariri. Pak Harjo mulai gelisah, wajah terlihat panik. Dia menoleh kepada istrinya, meminta keterangan dari istrinya. Istrinya langsung menggeleng- gelengkan kepala menjawab arti tatapan pak Harjo.
Kesabaran pak Harjo pun habis ditambah rasa panik mulai timbul dihatinya. Perlahan –lahan pak Harjo membuka
pintu kamar Hariri dengan dada berdebar- debar cemas.
Kreteeeeekkk….
__ADS_1
Pintu kamar Hariri memang tidak dikuci, pintu pun terbuka sedikit. Pak Harjo langsung melihat kedalam kamar,
namun pandangannya terbatas hanya mengikuti lebar daun pintu yang hanya terbuka sedikit. Sebatas pandangannya itu pak Harjo melihat meja belajar setengahnya dan tidak menemukan Hariri di meja tersebut.
Hasan dan ibunya dibuat penasaran dengan tindak tanduk pak Harjo, Hasan sendiri semakin heran melihat tingkah
bapaknya. Kenapa sekarang saat mesuk ke kamar Hariri terlihat sangat berhati- hati seperti itu. Hariri berusaha ikut melihat ke dalam kamar dengan melongok- longokkan kepalanya yang terhalang kepala bapaknya.
Daun pintu pun kembali di buka lebih lebar oleh pak Harjo. Pertama- tama pandangannya melihat tempat tidur, disana tidak didapati Hariri juga, lalu karena sudah mulai panik menguasai hatinya, pak Harjo pun akhirnya membuka pintu kamar Hariri lebar- lebar.
“Astagfirullah!” pekik pak Harjo tiba- tiba tersurut mundur.
“Ada apa pak? Kenapa dengan Hariri?!” tanya Hasan kaget melihat bapaknya mundur hingga menabraknya.
“Sudah, sudah nanti saja San,” ujar bapaknya.
Hasan dan ibunya terlihat sangat bingung sekaligus penasaran dengan tingkah pak Hasan.
“Pak kenapa dengan Hariri?!” Hasan bersikeras ingin menegtahui apa yang terjadi dengan adiknya di dalam kamar.
“Nanti saja San, jangan sekarang,” jawab pak Harjo menahan Hasan sambil kembali menutup pintu kamar.
“Jangan San, jangan! Nanti saja!” tegas pak Harjo bersi keras melarang Hasan masuk.
Hasan tak hilang akal, saat itu Hasan pun langsung pura- pura mengalah dan menuruti bapaknya untuk tidak masuk kamar Hariri dulu.
“Njih, njih pak. Kalau begitu mari ke depan lagi pak,” ujar Hasan tersenyum menyembunyikan rencana liciknya.
Pak Harjo tak mencurigai sedikit pun yang sedang direncanakan oleh Hasan, ia sama sekali tidak melihat rencana yang di sembunyikan Hasan. Pak Harjo pun percaya saja lalu mengiyakan ajakan Hasan untuk kembali ke teras menemui pak Diman dan yang lainnya. Kemudian tanpa disadari pak Harjo, dirinya bergegas melangkah duluan disusul bu Harjo mengekor dibelakangnya.
Melihat bapaknya lengah, Hasan langsung balik badan dan membuka pintu kamar Hariri pelan- pelan. Sedikit demi
sedikit pintu kamar Hariri mulai terbuka, sementara pak Hasan terus saja berjalan menuju teras depan.
Sama seperti yang di lihat bapaknya saat pintu terbuka sedikit yang Hasan lihat setengah meja belajar. Kemudian Hasan membuka pintu itu lebih lebar lagi, pemandangan yang sama seperti yang bapaknya lihat Hasan hanya menemukan tempat tidur yang kosong. Tidak seperti bapaknya yang tidak kaget sama sekali ketika melihat tempat tidur itu kosong, namun Hariri seketika sontak kaget luar biasa.
“Kemana Hariri?! Kenapa dia tidak ada di tempat tidurnya?!” pekik Hasan terlihat panik.
__ADS_1
Dengan spontan Hasan langsung membuka lebar- lebar pintu kamar Hariri!
“Astagfirullahal azim! Subhanallah!” pekik Hasan seketika saat melihat Hariri berada di ujung bawah tempat tidur.
Hariri tampaknya tidak terganggu dengan kemunculan kakaknya yang nyelonong masuk kedalam kamarnya. Ia terus saja melakukan gerakannya.
Kedua mata Hasan terbelalak lebar- lebar dengan mulut ternganga menyaksikan adiknya. Beberapa detik Hasan
tercengang tanpa bisa mengeluarkan kalimat apapun dari mulutnya, lidahnya seakan kelu tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di hadapannya Hasan melihat adiknya sedang duduk tahiyat akhir, lalu tak lama kemudian Hariri mengucap kedua salam.
“Assalamualaiku warohmatullah… Assalamualaiku warohmatullah… “ sambil menengok ke kanan dan kekiri, Hariri selesai melaksanakan sholat Duha.
“Kak Hasan???” teriak Hariri terkejut saat melihat kakaknya berdiri tertegun menatapnya lekat- lekat.
Hariri bergegas berdiri dari duduk tahiat akhirnya lalu menghampiri Hasan yang masih diam terpaku ditempatnya.
“Kak..? Kak Hasan!” seru Hariri keras sambil menepuk bahu kakaknya yang masih juga tertegun kearahnya.
“Eh, astagfirullah!” sahut Hasan berjingkrak kaget.
“Kapan datang kak?” tanya Hariri sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami kakaknya.
Hasan masih tampak shok, setengah sadar Hasan mengangkat tangannya yang langsung di sambut Hariri dengan menjabat dan mencium tangannya.
“Kak? Kak Hasan? Halo, haloooo…!” ucap Hariri sembari melambai- lambaikan tangannya di depan mata Hasan yang masih terbengong- bengong.
“San… Hasan…!” tiba- tiba terdengar suara bapaknya memanggil- manggil, lalu tak lama kemudian pak Harjo muncul di dalam kamar.
Melihat Hasan terbengong dan Hariri masih menjabat tangan Hasan, membuat pak Harjo tertawa senang. Mendengar suara tawa bapaknya, Hasan seketika tersadar dari terkejutnya dan langsung menoleh pada bapaknya yang sedang tertawa lalu mengalihkan lagi pandangannya menatap adiknya yang masih menggenggam tangannya.
“Har… kamu… kamu…” ucap Hasan langsung memeluk adiknya.
“Iya kak, Hariri sudah sembuh, sudah sehat sekarang,” sahut Hariri dalam pelukan kakaknya.
“Kenapa kamu bengong begitu San, kayak orang kesambet saja hehehehe…” kata pak Harjo.
“Ma, maksud bapak ini toh kejutannya?!” sungut Hasan.
__ADS_1
“Kenapa bapak nggak langsung bilang kemarin?!” tanya Hasan gemas.
“Ya kalau bapak bilang kemarin namanya bukan kejutan San, hehehee…” sergah pak Harjo.** BERSAMBUNG