Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
ANCAMAN BARU


__ADS_3

Didalam pondokkan di tengah hutan lerenng Gunung Ng, Ki Suto mengerutkan dahinya dalam-dalam, ia merasa heran memikirkan sinar kelabu yang membentuk bola yang berkekuatan setengah tenaga dalamnya terpental tidak dapat menemui sasarannya. Jangankan dapat menghantam sasarannya, untuk menerobos masuk rumah itu saja tidak bisa. Bahkan dirinya terdorong mundur manakala serangannya mental kembali. Ki Suro semalaman hingga berganti siang masih memikirkan apa yang menjadi hantamannya mental. Kemudian dia memejamkan matanya untuk kesekian kalinya untuk memeriksa keadaan tempat yang menjadi sasarannya semalam.


“Sialan! Saya tidak tau ada aura yang melindungi rumah itu,” gumam Ki Suto setelah menyadari penyebabnya.


Ditengah keheranannya itu tiba-tiba muncul suara tertawa, suaranya serak dan berat menggema memenuhi ruangan pondok. Ki Suto celingukkan kesana kemari, pandangannya menyapu kesetiap sudut dan atap pondokkan.


“Hahahahaha.... Hahahahaha....” suara sember menggema memenuhi ruangan pondokkan.


“Siapa?! Tunjukkan wujudmu!” teriak Ki Suto geram.


Wuuuusssssshhhh....


Usai Ki Suto berkata, hembusan angin datang dari arah depannya dengan kencang menerpa tubuhnya. Kencangnya angin itu membuat tubuh Ki Suro terdorong kebelakang meskipun dalam posisi duduk bersila. Ki Suto mengerutkan dahinya dalam-dalam menahan dorongan itu dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Ki Suro waspada kalau-kalau hembusan itu mengandung energi yang melukai tubuhnya. Namun sesaat kemudian dirinya merasa lega karena angin yang menerpa tubuhnya itu hanyalah berupa kekuatan energi tanpa melukai bagian dalamnya. Hembusan angin itu hanya sebentar namun mengandung kekuatan yang sangat besar. Lalu tiba-tiba muncul sosok mahluk tinggi besar duduk dihadapan Ki Suto. Kepalanya bermahkota emas itu nyaris menyentuh atap pondokkan, sorot matanya berkilat merah, tubuhnya dipenuhi bulu-bulu lebat berwarna kelabu kehitaman.


“Aku adalah Kalas Pati, Raja Siluman Monyet. Dan saudara tuamu Utung itu adalah pawonganku, pengikutku yang sangat setia. Dialah yang menuntun manusia melakukan perjanjian denganku untuk mendapatkan harta kekayaan,” Suaranya terdengar sember dan besar membuat Ki Suto bergidik ngeri.


Ki Suto terperangah, duduknya kian beringsut mundur menatap ngeri sosok dihadapannya. Mulutnya ternganga tak bisa berkata-kata.


“Jangan takut Suto! Kalau kamu bersedia menggantikan Utung, aku akan membantumu membalaskan dendam. Aku tahu siapa manusia yang telah membuat saudara tuamu mati, hahahahaha...” kata Raja Kalas Pati tertawa.


Ki Suto terdiam sejenak memikirkan tawaran Raja Kalas Pati yang cukup menggiurkan, terlebih lagi dirinya dijanjikan akan turut membantu membalaskan dendam atas kematian kakaknya.


“Baik, saya bersedia,” ucap Ki Suro tanpa ragu.


“Hahahahahaha... baguuuus, baguuuuusss! Sekarang minum ini,” kata Raja Kalas Pati sambil memberikan secawan berisi cairan merah kehitaman.


Tanpa ragu-ragu Ki Suto meraih cawan berisi cairan merah kehitaman itu lalu segera meneguknya sampai tandas. Ki Suto menyeka mulutnya dengan lengan bajunya sambil menyeringai hingga memperlihatkan gigi-giginya berwarna merah terlamuri minuman itu.


“Hahahahahaha... baguuusss! Kamu sekarang sudah menjadi abdiku. Sekarang pejamkan matamu, aku akan memberikan kekuatan khusus agar kamu dapat membuka jalan komunikasi ke alam siluman monyet. Dan sekaligus kekuatan penanda kalau kamu adalah abdiku.” Kata Raja Kalas Pati.


Ki Suto mengangguk kemudian memejamkan matanya. Perlahan tangan Raja Kalas bergerak katas kepala Ki Suto dengan telapak tangan mengembang. Telapak tangan dengan jari-jari sebesar pisang ambon itu lalu ditempelkan tepat pada ubun-ubun Ki Suto. Mulut lebarnya terlihat bergerak-gerak membacakan mantra. Tak lama kemudian telapak tangan yang menekan ubun-ubun Ki Suto memancarkan cahaya merah berpancaran keluar dari sela-sela jari Raja Kalas Pati.

__ADS_1


"Kamu aku berikan hak istimewa, kamu akan bisa menemuiku didalam istanaku, kapan saja dengan kekuatan khusus yang aku berikan kepadamu," kata Raja Kalas Pati.


Tubuh Ki Suto bergetar bersamaan cahaya merah itu masuk melalui ubun-ubunnya lalu menjalar seperti mengikuti jalan darah keseluruh tubuhnya. Ketika cahaya merah itu mengalir sampai keujung jari-jari kakinya, tubuh Ki Suro langsung menggelosoh dan terkapar tak sadarkan diri.


......................


Sore itu mendung tebal menyelimuti langit desa Sukadami secara tiba-tiba. Kilatan-kilatan petir di langit terlihat berpendaran disertai dengan suara petir saling bersahutan. Mahmud buru-buru segera menyudahi aktifitasnya mencangkul di kebun cabai sedang merapihkan galengan. Sesekali kepalanya mendongak melihat ke langit dengan rasa was-was. Awan kelabu terlihat bergulung-gulung membentuk gumpalan-gumpalan mendung yang tebal.


"Aneh, kenapa tiba-tiba mendadak mendung?" gumam Mahmud kemudian mencuci cangkulnya di selokan kebunnya.


Mahmud memutuskan untuk pulang saja melihat cuaca yang sudah semakin gelap karena mendung tebal yang bergerak melayang perlahan seakan-akan berkumpul diatas langit desa Sukadami.


Sementara itu di rumah Mahmud suasananya sangat sepi hanya ada Arin dan Dede, sedangkan Dewi masih berada ditempat kerjanya sebagai marketing di dealer sepeda motor. Arin yang sedang menemani Dede bermain didepan televisi, tiba-tiba menoleh melihat keluar jendela. Dilihatnya cuaca diluar sedikit meredup tidak lagi panas seperti 30 menit sebelumnya.


Arin pun bergegas beranjak meninggalkan Dede untuk mengambil jemuran cuciannya yang dijemur di samping rumah. Arin sama sekali tidak menyadari ada seseorang pemuda sedang memperhatikannya dari balik pohon mangga berbatang besar yang berada dipekarangan tetangganya. Entah sudah berapa lama pemuda itu bersembunyi dibalik pohon mangga itu tapi yang jelas ketika dilihatnya Arin keluar rumah, sepasang mata pemuda itu berbinar diiringi dengan seringai senyuman dibibirnya.


"Aku harus memilikimu bagaimana pun caranya. Saya harus meminta bantuan mbah Galing untuk mendapatkannya," Gumam pemuda itu sambil menyeringai.


......................


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam..." sahut Mahmud.


"Wi tolong bukain pintu ada tamu, saya selesein zikir dulu." seru Mahmud lagi dari ruang tempat kemudian meneruskan lagi zikirnya.


"Iya mas," sahut Dewi dari ruang tengah sedang nonton televisi bersama Arin kemudian beranjak menuju pintu depan.


"Assalamualaikum..." ucap suara dari luar pintu lagi.


"Wa'alaikum salam..." sahut Dewi bergegas membuka pintu.

__ADS_1


Kreeeeoooottt...


"Abah Dul, ah kirain siapa. Lagian kaya tamu orang lain aja sih," ucap Dewi begitu pintu dibuka.


"Hehehehe... saya juga dari jauh Wi, baru pulang dari Banten," balas Abah Dul terkekeh.


"Oh pantesan nggak ada nongol-nongolnya sejak tujuh hari Kosim, Masuk Bah," ucap Dewi mempersilahkan Abah Dul masuk.


"Mahmud mana Wi?" Tanya Abah Dul kemudian duduk di ruang tamu.


"Masih zikir Bah, Abah sholat Magrib belum? jawab Dewi balik nanya.


"Udah di mushola sebelum kesini," ujar Abah Dul.


"Mau minum apa Bah?" sambung Dewi.


"Kopi aja Wi," jawab Abah Dul. Kemudian Dewi pun berlalu dari ruang tamu.


Tidak beberapa lama setelah Dewi pergi ke dapur untuk membuatkan minuman, Mahmud muncul di ruang tamu.


"Wuiihhh, yang dari Banten kapan pulang Bah?" seloroh Mahmud begitu melihat Abah Dul.


"Eh, Mud... barusan nyampe pas magrib tadi, gimana kabar ente dan semuanya?" Tanya Abah Dul basa-basi.


Padahal tanpa sepengetahuan Mahmud, Abah Dul sudah mengetahui situasi dan kondisi di rumah itu. Abah Dul pun tersenyum geli tiba-tiba teringat perbuatannya semalam terhadap Mahmud ketika sukmanya menjailinya.


"Apasih senyum-senyum sendiri Bah? Pulang dari Banten bukannya tambah hebat, eh malah tambah gendeng," sungut Mahmud.


Abah Dul pun tak bisa lagi menahan tertawanya, ia terkekeh-kekeh sendiri membuat Mahmud semakin terbengong-bengong tak mengerti.


......................

__ADS_1


__ADS_2