Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
DENDAM MEMBARA #2


__ADS_3

Pak tua segera menguburkan jasad mbah Utung yang sedang mengalami pembusukkan itu dengan rasa jijik hingga beberapa kali dirinya harus muntah-muntah meskipun sudah menahan rasa mualnya sekuat tenaga. Meskipun hidungnya sudah ditutupi berlapis-lapis kain tetap saja bau busuk yang keluar dari bangkai mbah Utung yang sangat menyengat itu masih dapat tercium.


Setelah membungkusnya dengan tikar pandan yang ada di ruang pondokkan itu, lalu Pak Tua menyeret-nyeret jasad mbah Utung keluar dari pondokkan dengan susah payah. Diiringi suara puluhan monyet-monyet yang ada di halaman pondokkan saling bercicit keras saling menimpali satu sama lain, pak tua itu keluar pondokkan dengan menyeret buntalan jasad itu. Monyet-monyet itu berbaris dibelakang Pak tua dan mengikutinya menuju liang lahat.


Pak Tua menyeretnya menuju lobang yang sudah di gali sebelumnya di belakang pondokkan untuk menguburkan jasad kakaknya tanpa ada prosesi pemakaman yang layak serta tak ada bunga sehelai kelopak pun bahkan sebagai nisannya hanya diberi tanda dengan sebatang ranting pohon yang bercabang. Dia memguburkannya begitu saja seperti menguburkan bangkai kucing. Setelah selesai pemakaman itu atau lebih tepatnya menguburkan bangkai selesai, kemudian pak tua duduk bersimpuh disisi kuburan itu.


"Saya berjanji kakang, akan membalas kematian kakang. Saya tau kakang mati akibat bertarung dengan seseorang karena saya melihat ada bekas muncratan darah di dinding itu. Saya akan menuntut balas kakang! Nyawa harus dibayar dengan nyawa!" ucapnya dengan amarah yang meledak-ledak.


Hari sudah menjelang senja, suasana sekitar pondokkan sudah terlihat gelap. Pondokkan yang sebelumnya sudah dibersihkan dengan mengepelnya menggunakan dedauan dari pohon-pohon yang ada disekitarnya dan dicuci bersih membanjurinya dengan air, kini sudah mengering. Dan tidak lagi tercium bau busuk yang menyengat seperti pertama kali dia masuk.


Pak tua menyalakan beberapa lilin yang dia kumpulkan sebelumnya dari sisa-sisa ritual mbah Utung yang berserakkan dilantai. Cuaca sedikit hangat oleh terangnya nyala api dari lilin dihadapannya. Kemudian pak tua duduk bersila ditengah-tengah ruang pondokkan. Dirinya berniat mencari tahu dengan mengerahkan ilmu yang dia miliki.


Pak tua nampak memejamkan matanya, keningnya berkerut dalam-dalam seperti sedang memusatkan konsentrasinya.Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi, mulutnya komat-kamit merapalkan mantara lalu sesaat kemudian tubuhnya bergetar seiring dengan keluar suara berat dari mulutnya.


"Kakang... hadirrrrr.... hadiiiirrrr.... hadirlah kakang.... saya memanggilmu!" Teriaknya keras-keras.


Sesaat suasana hening usai pak tua itu mengucapkan kalimat pemanggilan roh mbah Utung. Namun itu tidak betlangsung lama, tiba-tiba terdengar suara desiran angin mendesing keras terdengar diatas pondokkan. Suara-suara gesekkan ranting-ranting dan dedaunan dari pohon-pohon disekeliling pondokkan menimbulkan kengerian yang menggidikkan bulu kuduk. Kemudian muncul suara dari atap seperti diinjak-injak lalu disusul riuh cicitan monyet dalam jumlah banyak. Tak lama kemudian berhembus asap tebal masuk menerobos dari arah atas. Asap itu muncul menerobos atap pondokkan turun dihadapan pak tua yang masih bersila dengan mata terpejam . Mula-mula asap itu tipis lama kelamaan asap menebal lalu membentuk siluet sosok tubuh manusia.


Kini, asap itu telah membentuk satu tubuh dengan memakai pakaian setelan komboran berwarna hitam sama seperti yang dipakai oleh pak tua. Kepalanya melingkar terikat kain batik cokelat yang mengikat rambut putihnya yang kusut panjang sebahu. Wajahnya nyaris mirip dengan wajah pak tua, hanya bedanya terlihat lebih tua dari usia pak tua.


"Suto adikku..." suara sosok yang terbentuk dari asap itu dengan suara berat.

__ADS_1


"Kakang... kenapa kakang bisa seperti ini?!" Tanya pak tua yang dipanggil dengan nama Suto.


"Kakang mati akibat ulah dua orang Suto," jawab sosok asap itu yang tidak lain adalah jelmaan mbah Utung.


"Siapa mereka kakang?!" Tanya Suto dengan tangan terkepal menahan rahang gemeretak.


"Yang satu murid dari Kiyai Sapu Jagat dan yang kedua adalah orang yang membuat masalah bernama Kosim," jawab jelmaan mbah Utung.


"Dimana mereka?" tanya Suto lagi dengan geram.


Jelmaan Mbah Utung itu menceritakan semuanya dari awal semenjak Kosim datang mengajukan diri menjadi pengabdi Siluman Monyet hingga sampai peristiwa pertarungannya dengan Abah Dul. Semuanya diceritakan dengan lengkap dengan dibumbui kalimat-kalimat hasutan yang membuat Ki Suto merah padam mukanya menahan amarah yang meledak-ledak didalam dadanya.


"Kakang saya berjanji akan menuntut balas!" seru Ki Suto sambil mengacungkan tangannya dengan jari telunjuk menunjuk keatas.


Sementara itu diluar pondokkan diatas sebatang dahan besar ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi pondokkan. Sorot matanya dapat menembus dinding dan melihat dua sosok seperti kembar duduk berhadapan didalam pondokan. Dua mata yang menyala merah itu milik sesosok bertubuh berbulu kelabu yang sangat lebat membungkus sekujur tubuhnya. Taring panjang di mulutnya tampak jelas manakala mahluk itu menyeringai melihat dan mendengarkan obrolan dua sosok didalam pondokkan. Seiringi jelmaan mbah Utung menghilang, sosok diatas pohon itu pun langsung melesat cepat keatas lalu lenyap menyerupai kilatan cahaya berbaur diantara titik-titik cahaya bintang di langit.


......................


Rumah Mahmud,


Malam ke 9 setelah Kosim meninggal.

__ADS_1


Selepas sholat Isya, Mahmud duduk sendiri di ruang tamu. Dia merasakan betapa sepinya setelah Kosim tiada. Biasanya di ruang tamu dalam sebulan terakhir ini, obrolan-obrolan hangat dirasakannya bersama dengan sahabat-sahabatnya, Abah Dul dan Mang Ali ditambah dengan Kosim. Mahmud juga rindu dengan canda tawa mereka. Meskipun sebenarnya dalam sebulan itu suasannya penuh dengan kewas-wasan dan seringkali harus bergelut berurusan dengan mahluk-mahluk gaib tetapi suasana kebersamaan itu selalu menciptakan sensasi yang berubah-ubah disetiap malamnya.


Mahmud menghisap kreteknya dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan mencoba menikmati asap rokok yang dihisapnya. Bayangannya tentang Kosim masih sangat melekat diingatannya. Wajah Mahmud tiba-tiba muram namun penuh penyesalan, ketika dirinya teringat pernah marah terhadap Kosim karena nasihatnya untuk tidak menerima pekerjaan itu tidak digubrisnya.


"Seandainya Kosim mau mendengarkan larangan itu mungkin dia masih hidup," gumamnya penuh penyesalan.


Disaat angannya masih membayangkan tentang Kosim, tiba-tiba terdengar suara dentuman diatas gemteng rumah disertai dengan getaran bersamaan dengan bunyi itu.


Buuummm!


"Astagfirullah!" pekik Mahmud hingga terlonjak.


Tak lama kemudian Dewi muncul ke ruang tamu disusul Arin dngan wajah keheranan penuh tanda tanya besar. Arin langsung mencengkeram erat lengan Dewi dengan wajah ketakutan.


"Ada Mas?!" tanya Dewi.


"Mas juga nggak tau Wi," jawab Mahmud.


"Ya sudah, kalian masuk kamar aja barengan di kamar Arin. Ayo, ayo...," ucap Mahmud kemudian menggiring Arin dan Dewi masuk kamar.


Mahmud kemudian melangkah keluar rumah. Ia berdiri di halaman depan mendongak melihat-lihat keatas genting rumahnya. Namun dia tidak menemukan apapun diatas sana. Mahmud lupa kalau rumahnya masih dilindungi oleh aura perisai sebagai pelindung yang diciptakan oleh Gus Harun beberapa waktu lalu. Sehingga dia tidak menyadari kalau suara dentuman itu diakibatkan oleh adanya energi kekuatan besar yang berbenturan.

__ADS_1


......................


Kediaman Gus Harun, Banten...


__ADS_2