
Dentuman dan getaran yang ketiga juga dirasakan tubuh Mang Ali, Mahmud dan Kosim seperti halnya yang dirasakan Gus Harun dan Abah Dul. Jelas saja ketiganya turut merasakannya karena zikir yang terus-menerus mereka ucapkan itu tujuannya untuk mempertebal dan menahan perisai yang melingkupi rumah Mahmud.
Berbeda dengan yang dirasakan Gus Harun dan Abah Dul, tubuhnya bergetar bukan saja oleh hembusan energi dari atas. Namun juga oleh karena benturan energi perisai yang ditanamnya dulu. Benturan yang ketiga ini dirasakannya lebih kuat energinya dibandingkan dua pasukkan sebelumnya.
Jerit kepanikan dari Dewi dan Arin membuat Gus Harun merasa cemas dan khawatir dengan keselaman kakak dan adik itu.
"Dul sebaiknya Mbak Arin, Dede dan Mbak Dewi diungikan saja dulu. Saya khawatir terkena imbasnya seandainya mereka turun," kata Gus Harun.
"Betul juga Gus, tapi..." ujar Abah Dul terhenti.
"Biar mereka di rumah saya saja dulu Bah," sergah Mang Ali nampaknya mengetahui keraguan Abah Dul.
"Matur suwun pisan Mang Ali. Ayo saya antar," timpal Mahmud.
"Ayo Mang Ali, sama saya juga." susul Kosim.
"Arin, Dewi untuk sementara di rumah Mang Ali dulu ya. Disini sangat membahayakan," ucap Abah Dul menoleh pada Arin dan Dewi.
"Iya, iya Bah. Saya dan Arin juga takut.." sahut Dewi.
"Yuk, Rin, Wi... Hati-hati Dedenya jangan sampai bangun." ujar Mahmud.
"Kami pamit dulu Gus, Bah..." ucap Mahmud.
"Sebentar, sebentar Kang." cegah Gus Harun menghentikan langkah mereka.
Gus Harun kemudian berdiri dan melangkah kebelakang Dewi dan Arin yang berdiri sejajar. Kemudian Gus Harun mengangkat dan membuka lebar telapak tangan kabannya diarahkan ke kepala Dewi dan Arin.
Sesaat kemudian nampak dalam pandangan tak kasat mata, gumpalan seperti kabut putih tipis membungkus seluruh tubuh Arin, Dede dan Dewi.
"Monggo..." ucap Gus Harun mempersilahkan mepanjutkan langkah mereka kembali.
Kemudian Arin dan Dewi pun beranjak dari ruang tengah untuk diungsikan di rumah Mang Ali dengan diantar Mahmud dan Kosim juga Mang Ali.
Malam kian merambah pukul 01.12 wib. Bulan Purnama kian menyala terang, sinarnya membuncah kekuningan menghampar dilangit. Namun suasana disekitar rumah Mahmud masih tetap sunyi senyap dan angin pun seolah masih berhenti berhembus.
Setelah tiga kali terjadi benturan energi diatas rumah, kini tidak ada lagi suara dentuman dan getarannya. Akan tetapi aura mencekam dirasakan semakin jelas terasa.
"Gus kalau terus-terusan dihantam dengan kekuatan yang semakin besar, bukan tidak mungkin perisai itu akan jebol juga," ucap Abah Dul dengan raut muka cemas.
"Iya Dul, itu mungkin baru kekuatan pasukannya saja. Saya rasa apabila Kalas Pati turun perisai kita nggak ada pengaruhnya sama sekali," ujar Gus Harun.
__ADS_1
"Bagaimana ini Gus?!" Abah Dul kian cemas. Sedikit gentar juga ketika Gus Harun menyebut Kalas Pati.
Sangat manusiawi jika dalam diri Abah Dul muncul perasaan cemas, khawatir bahkan takut. Setidaknya pertempuran dulu masih membekas diingatannya. Seperti apa panasnya energi kekuatan Kalas Pati saat dirinya terkapar. Padahal hanya terkena anginnya saja, bagaimana bila terkena langsung?
Ia juga belum lupa bagaimana rasanya sekujur tubuhnya seolah meradang terbakar dari dalam. Rasa panas itu mengikuti aliran darah hingga disekujur tubuhnya benar-benar mati rasa. Dan pertempuran dengan Kalas Pati itu juga merupakan satu-satunya pertempuran yang membuatnya merasa kalah semenjak malang melintang di dunai pergaiban.
"Dul, hilangkan rasa cemas dan khawatir ente. Rasa itu hanya akan membuat ente merasa lemah dan tidak percaya diri. Yakinkan hati ente, berbuat semampu kita selebihnya biar Gusti Allah yang menentukan!" Seru Gus Harun dengan suara tertekan.
Abah Dul terkesiap kaget dengan ucapan Gus Harun seolah-olah tahu apa yang sedang bergejolak didalam pikirannya.
"Astagfirullah!" Seru Abah Dul merasa seperti baru tersadar dari alam bawah sadarnya yang yang baru saja menyeretnya mengubah menjadi seorang penakut.
Gus Harun begitu peka dan sensitif saat melirik melihat sekilas raut wajah Abah Dul secara diam-diam. Ia merasakan ada ketakutan dan kecemasan yang besar tiba-tiba menghantui pikiran Abah Dul. Begitu pula saat mendengar dari getaran suaranya terasa jelas menyiratkan kengerian.
"Maaf Gus, saya sempat terlena tiba-tiba pertempuran dulu itu muncul begitu saja dipikiran saya ketika nama Kalas Pati ente sebut," ucap Abah Dul.
Tiba-tiba sukma Ustad Basyari dan sukma Ustad Baharudin menyela ucapan Abah Dul.
"Ente sudah menyelesaikan amalan yang Jumat lalu diberikan Romo, Dul?" Sergah sukma Ustad Basyari tiba-tiba.
"Kenapa ente jadi melo begitu Dul!" Timpal sukma Ustad Baharudin.
"Ayo jangan melemah Dul! Kita berjuang bersama-sama hingga takdir menentukan!" Gus Harun memberi semangat Abah Dul sembari menepuk bahunya.
Tanpa menunda waktu, Abah Dul langsung meletakkan tangannya dikedua ujung lutut dengan telapak tangan terbuka menghadap keatas. Matanya dipejamkan lalu mulutnya terlihat membacakan seauatu.
Beberapa saat kemudian dalam pandangan tak kasat mata yang tidak dapat dilihat oleh Mahmud, Kosim dan Mang Ali, seketika tubuh Abah Dul terselimuti asap putih tipis membungkus tubuhnya.
"Alhamdulillah..." ucap sukma Ustad Basyari dan sukma Ustad Baharudin bersamaan.
Abah Dul kini merasakan ada perubahan besar didalam tubuhnya setelah membaca amalan yang diberikan gurunya, Kiyai Sapu Jagat. Sorot matanya lebih tajam dan menyiratkan aura kekuatan dan tidak tampak lagi raut kegundahan, cemas dan khawatir di wajahnya. Sepertinya sudah siap bertempur melawan siapapun.
Sementara itu suasana dinihari yang semula senyap tidak terdengar suara-suara serangga malam serta tidak berasa ada angin yang sekonyong-konyong berhenti berhembus, secara tiba-tiba saja menjadi suasanya riuh ramai seketika.
Suara binatang malam mendadak terdengar keras disana sini saling bersahutan dari sekeliling rumah Mahmud. Begitupun dengan angin yang tiba-tiba berhembus besar hingga menyibakkan dan menggoyang-goyangkan gorden-gorden di ruang tengah.
"Dul, Bas, Har! Berisaplah!" Seru Gus Harun mengingatkan.
"Gus apa sebaiknya jangan disini, kita ke halaman depan saja?" ujar Abah Dul.
"Ente benar Dul, ayo kita keluar." kata Gus Harun sambil beranjak berdiri.
__ADS_1
Hembusan angin terasa kencangnya menerpa tubuh Gus Harun dan Abah Dul saat pintu keluar dibuka oleh Abah Dul. Keduanya langsung menutup matanya dengan punggung tangan.
Untungnya tanah dihalaman basah oleh gerimis sejak siang tadi, jika tidak pasti sudah diguyur debu-debu yang menyongsongnya. Suara-suara riuh serangga kian santer terdengar bersahutan dari kejauhan yang entah berada dimana.
Baru saja Abah Dul dan Gus Harun keluar dari pintu, matanya terbelalak lebar menyaksikan 20 ekor monyet besar sebesar dua kali lipat dari tubuh manusia berdiri tegak menatap tajam.
Dua puluh ekor monyet siluman itu berpakaian perang pengkap sambil memegang pedang dan tongkat. Mereka nampak sudah bersiap menyerang Gus Harun dan Abah Dul serta dua sukma.
Senjata gaib yang sudah digenggaman Abah Dul dan Gus Harun serta sukma Ustad Basyari dan Ustad Baharudin seketika menyala putih menyilaukan. Seakan-akan mengingatkan pemiliknya untuk waspada.
"Heyaaaaa...!"
"Heyaaaaa...!"
"Heyaaaaa...!"
"Heyaaaaa...!"
Teriakkan nyaring dari dua puluh monyet siluman mengiringi lompatannya kearah Abah Dul, Gus Harun dan dua sukma dengan senjata terhunus keatas. Namun Abah Dul, Gus Harun dan dua sukma sudah siap sejak awal dengan segala kemungkinannya, sehingga hanya sampai dua meter saja tubuh monyet-monyet siluman itu melompat tertahan.
Empat kilatan cahaya putih menyilaukan, langsung menyongsong tubuh-tubuh monyet yang menerjang melayang. Empat kilatan cahaya itu datang dari sabetan empat senjata pusaka ditangan Abah Dul, Gus Harun dan dua sukma. Cambuk Amal Rosuli ditangan Gus Harun memapras telak barisan pertama monyet-monyet siluman, disusul sabetan Tombak Mata Kembar dari tangan Abah Dul membelah badan dari kepala hingga ************ monyet-monyet siluman secara acak.
Tidak kalah mengerikannya dengan Pedang Abu Bakar ditangan sukma Ustad Basyari digerakkan secara vertikal dengan cepat mengarah bagian atas. Sesaat berikutnya dalam sekejapan mata pedang besar itu memangkas kepala-kepala monyet siluman, satu persatu kepala-kepala monyet siluman itu tanggal dari tubuhnya masing-masing berpentalan berjatuhan diatas tanah. Cairan merah kehitaman langsung mancur dari ujung leher bekas tebasan.
Sementara sukma Ustad Baharudin memainkan tongkat ditangan kananya membuat gerakan vertikal pula namun menyasar pada bagian tengah tubuh siluman monyet. Nasib monyet siluman itu tak jauh beda dengan teman-teman yang terpenggal kepalanya. Bedanya siluman monyet ini tubuhnya terpotong sebatas perut menjadi dua bagian oleh sapuan Tongkat Pagar Alam. Andai saja pertempuran itu berada dalam padangan kasat mata dan dalam bentuk wujud tubuh kasar, bakal terlihat banyak genangan darah berceceran yang bercampur dengan genangan bekas air hujan.
Dalam hitungan menit dua puluh monyet-monyet siluman besar itu betumbangan ambruk ke tanah lalu musnah meninggalkan asap dan bau busuk daging terbakar yang sangat menyengat.
"Alhamdulillah..."
"Alhamdulillah..."
"Alhamdulillah..."
"Alhamdulillah..."
Ucapan syukur keluar dari Abah Dul, Gus Harun dan dua sukma sembari menangkupkan telapak tangannya ke wajah.
Belum juga membuka telapak tangannya dari mukanya, tiba-tiba datang hembusan angin besar menerpa tubuh Abah Dul dan Gus Harun dari arah halaman. Kontan saja Abah Dul dan Gus Harun segera menyingkirkan telapak tangan dari mukanya. Dan.... mata mereka terbeliak lebar, terkesiap menatap ke halaman!
......................
__ADS_1
š“Huhhh! Ambil nafas dulu ya... Lemaskan otot-ototnya, sebentar nambah kopi dulu.
š“Diabsen dulu, Siapa aja yang sudah bacaā