
Rumah Mahmud, Disaat Yang Sama...
Abah Dul, Gus Harun, Mahmud, Basyari dan Baharudin masih memikirkan cara agar dapat membantu Kiyai Sapu Jagat, Kosim, tuan Denta, tuan Samanta serta tuan Gosin yang berada di alam jin. Namun sejauh ini mereka belum juga dapat menemukan cara untuk bisa pergi ke alam jin dan langsung muncul di tempat tujuan yakni kediaman tuan Denta.
Sebetulnya mereka bisa saja memasuki alam jin, akan tetapi yang mereka khawatirkan adalah bagaimana jika mereka ketika masuk ke alam jin lalu muncul berada di tempat lain? Bukan di kediaman tuan Denta.
"Satu- satunya jalan hanyalah tuan Denta sendiri atau tuan Samanta yang bisa membawa kita langsung ke tempat itu," kata Abah Dul.
"Ente benar Dul, kalau pun kita memaksakan diri masuk kesana tapi kita muncul bukan di tempat yang kita tuju itu sama saja akan sia- sia. Lagipula kediaman tuan Denta tentunya tidak memiliki alamat tertulis seperti rumah- rumah kita disini," ujar Gus Harun.
Ditengah- tengah perbincangan tiba- tiba muncul kabut tipis yang membentuk pusaran berputar- putar ditas kapala Abah Dul, Mahmud, Gus Harun, Basyari dan Baharudin.
"Astagfirullahal azim!" pekik mereka bersamaan mendongak menatap pusaran kabut tipis.
"Apa itu?!" tanya Mahmud tersurut mundur hingga mentok di tembok ruangan.
Belum juga terjawab pertanyaan Mahmud, tiba- tiba muncul dari dalam pusaran kabut tipis dua sosok bayangan berwujud manusia. Dua sosok tersebut nampak samar namun masih terlihat jelas secara keselurhan bentuk fiaiknya.
"Kosim!" pekik Abah Dul.
"Yai!" susul pekikan Gus Harun.
"Alhamdulillahirobbil alamiin..." ucap Basyari dan Baharudin spontan setelah mengenali kedua sosok yang muncul dan melayang tersebut.
"Assalamulaikum..." terdengar suara Kiyai Sapu Jagat mengucap salam.
__ADS_1
Disamping Kiyai Sapu Jagat, nampak Kosim hanya menganggukkan kepala berusaha menyunggingkan senyum. Namun senyumannya terlihat sangat kaku dengan wajah muram, sehingga terkesan bukan senyuman melainkan seringaian.
"Wa alaikum salam..." balas Abah Dul, Gus Harun, Mahmud, Basyari dan Baharudin serempak.
Sedetik kemudian satu sosok kembali keluar dari dalam pusaran kabut tipis dan langsung melayang berjajar bersama Kiyai Sapu Jagat dan Kosim. Semua mata memandang kearah kemunculan tuan Gosin, tuan Gosin balas menyapa dengan menganggukkan kepala.
"Tuan Gosin!" pekik Mahmud.
Seketika timbul harapan didalam diri Gus Harun dan yang lainnya bahwa tuan Denta dan tuan Samanta juga akan muncul menyusul setelah melihat Kiyai Sapu Jagat, Kosim dan tuan Gosin sudah bisa kembali bersama mereka.
Secara naluriayah Gus Harun serta sahabat- sahabat berpikir pastilah tuan Denta dan tuan Samanta juga ikut bersama Kiyai Sapu Jagat, Kosim dan tuan Gosin. Pandangan mata mereka tertuju pada pusaran kabut putih dengan berharap tuan Denta dan tuan Samanta akan segera muncul.
Akan tetapi ekspresi dari raut wajah- wajah mereka semua tiba- tiba terkesiap kaget melihat pusaran pintu gerbang itu perlahan- lahan memudar. Dan tak lama kemudian pusaran kabut putih itu pun lenyap begitu saja.
Gus Harun serta yang lainnya langsung menoleh pada Kiyai Sapu Jagat dengan pandangan mata seolah- olah meminta penjelasan kenapa tuan Denta dan tuan Samanta tidak muncul bersama mereka.
Kiyai Sapu Jagat segera memahami apa yang murid- muridnya pikirkan langsung menanggapi ekspresi yang menyimpan pertanyaan tersebut.
"Pada awalnya saya bertekad melawan raja jin untuk membantu tuan Denta. Akan tetapi Tuan Denta meminta saya dan yang lainnya agar segera meninggalkan alam jin untuk kembali ke alam ini. Saat itu saya bersikukuh tak mau meninggalkan tuan Denta sendirian menghadapi raja jin, tetapi tiba- tiba saja lengan saya di betotnya hingga terlempar ke tempat tuan Samanta membuka pintu Gerbang," terang Kiyai Sapu Jagat.
"Tapi Yai, kenapa tuan Samanta tidak ada bersama Kosim dan tuan Gosin?" tanya Abah Dul heran.
"Tuan, akulah yang terakhir memasuki pintu gerbang itu. Dan saat itu tuan Samanta mengatakan akan mengikutinya, tapi sepertinya tuan Samanta memutuskan tidak ikut bersama kami. Mungkin dia memilih untuk membantu tuan Denta," ungkap tuan Gosin menjawab pertanyaan Abah Dul.
Mendengar penjelasan tuan Giain membuay Abah Dul, Gus Harun, Mahmud, Basyari, Baharudin, Kosim serta kiyai Sapu Jagat seketika merasa terenyuh dengan sikap tuan Samanta. Dia begitu setianya terhadap tuan Denta meskipun kasta itu sebetulnya sudah terlampau lama sudah tidak berlaku lagi bagi kedua mahluk golongan jin terasebut dimana jabatan Jenderal yang disandang tuan Denta dan Panglima perang yang disandang tuan Samanta sudah tidak lagi berlaku semenjak runtuhnya kerajaan yang mereka bela dibawah pimpinan raja Jin Al Marid.
__ADS_1
"Anak- anakku, sepertinya saat ini keadaan sudah kembali aman. Saya akan pamit untuk kembali," ucap Kiyai Sapu Jagat memecah keheningan yabg sempat hanyut dalam keharuan.
Mendengar ucapan pamit kiyai Sapu Jagat, kontan ekspresi wajah- wajah Gus Harun serta yang lainnya nampak begitu berat hati. Ada rasa ketidak nyamanan yang dirasakan oleh Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin serta yang lainnya jika kiyai Sapu Jagat tidak ada bersama mereka lagi.
"Yai, nyuwun sewu, bagaimana dengan kesepakatan yang dibuat bersama raja Kalas Pati mengenai tongkat emas yang saya simpan ini?!" tiba- tiba Gus Harun teringat dengan perjanjian yang dibuat gurunya bersama raja Kalas Pati sebelumnya.
Kiyai Sapu Jagat tidak langsung menjawab, ia terlihat sedang berfikir sejenak. Nampaknya kiyai Sapu Jagat juga baru teringat kembali dengan kesepakatan yang dibuatnya tersebut.
"Mm, biar saya yang selesaikan dan sekalian saya bawa senjata milik Kalas Pati itu nak, untuk diserahkan langsung," jawab kiyai Sapu Jagat.
"Njih Yai," sahut Gus Harun, lalu segera ia membetulkan duduknya.
Gus Harun tampak memejamkan kedua mata, mulutnya komat kamit membaca amalan untuk menghadirkan tongkat emas milik raja Kalas Pati yang telah disimpannya.
Bersamaan dengan berhentinya mulut Gus Harun membaca amalan, seketika muncul cahaya kuning emas memancar terang digenggaman Gus Harun.
Semua mata memandang takjub dengan senjata milik raja Kalas Pati tersebut yang nampak begitu indah penuh artistik. Mereka semua memastikan kalau tongkat tersebut terbuat dari emas murni, disepanjang tongkat emas terukir guratan- guratan yang membentuk simbol saling berhubungan dengan gambar satu sama gambar lainnya hingga memenuhi sepanjang tongkatnya.
Mungkin jika tongkat itu ditimbang beratnya diperkirakan mencapai 10 kg lebih. Andaikan emas murni itu dijual, dapat dipastikan orang yang menjualnya akan menjadi milyarder dadakan.
(Jika saja saya atau mungkin juga kamu yang menemukan tongkat emas itu sudah pasti akan di jual, hehehehe...)
Gus Harun langsung menyerahkan tongkat emas kepada Kiyai Sapu Jagat. Kiya Sapu Jagat segera menerimanya tanpa terlihat merasa berat sama sekali ketika memegangnya.
"Kalau begitu saya pamit sekarang, jaga diri kalian baik- baik anak- anakku..." ucap Kiyai Sapu Jagat, lalu dalam sekejap melesat keatas dan menghilang.
__ADS_1