
................Belum juga membuka telapak tangan dari mukanya, tiba-tiba datang hembusan angin besar menerpa tubuh Abah Dul dan Gus Harun dari arah halaman. Kontan saja Abah Dul dan Gus Harun segera menyingkirkan telapak tangan dari mukanya. Dan.... mata mereka terbeliak lebar, terkesiap menatap ke halaman!
Kita tahan dulu soal siapa yang datang dihadapan Gus Harun, Abah Dul serta sukma Ustad Basyari dan Ustad Baharudin. Mari kita lihat situasi dan kondisi di rumah Mang Ali.
Setelah menitipkan Arin, Dede dan Dewi pada istrinya Mang Ali, kemudian Mahmud, Kosim dan Mang Ali pun bergegas kembali ke rumah Mahmud. Namun baru saja keluar dari rumah Mang Ali, terdengar suara bergemuruh dari atas.
Deru suara angin diatas genteng rumah Mang Ali yang datang tiba-tiba membuat Mang Ali, Mahmud dan Kosim menghentikan langkahnya. Wajah ketiganya nampak menegang, mata mereka celingukkan meneliti sekelilingnya mengamati setiap bayangan gelap yang ada di kiri kanannya dengan penuh kewaspadaan.
Namun sekejap saat mencermati bayangan-bayangan hitam itu ternyata hanyalah batang-batang dan dedaunan pohon pisang, dengan spontan Mang Ali, Mahmud dan Kosim serempak melepaskan nafas lega.
"Hufffh..!"
Lalu ketiganya mendongakkan kepalanya penuh rasa was-was. Dan mata mereka pun terbelalak melihat segumpalan awan gelap pekat yang tersorot bias cahaya bulan Purnama berada sangat dekat diatas kepala Mang Ali, Mahmud dan Kosim. Jaraknya sekitar 10 meteran diatas kepalanya.
Mang Ali, Mahmud dan Kosim langsung tersurut mundur, wajah ketiganya seketika memucat panik melihat pemandangan yang aneh dan menakutkan itu.
Gumpalan awan hitam pekat itu sekonyong-konyong hendak menimpanya dengan membayangkan besaran beratnya manakala menimpa kepala mereka sehingga dengan spontan kedua tangan Mang Ali, Mahmud dan Kosim langsung menutup kepala untuk melindungi diri.
Akan tetapi perkiraan ketiganya salah, gumpalan awan hitam pekat itu terhenti diatas kepala mereka. Beberapa detik ketiganya hanya pasrah tetapi perkiraannya akan tertimbun gumpalan awan itu tidak terjadi. Mang Ali, Mahmud dan Kosim pun secara reflek kembali mendongak melihat gumpalan awan diatasnya dengan mulut ternganga.
Akan tetapi belum habis rasa paniknya, gumpalan awan hitam pekat itu tiba-tiba buyar dengan mengeluarkan suara riuh dan teriakan nyaring.
"Nyiiiiit...!"
"Nyiiiiit...!"
"Nyiiiiit...!"
"Nyiiiiit...!"
"Nyiiiiit...!"
"Nyiiiiit...!"
"Nyiiiiit...!"
"Nyiiiiit...!"
Gumpalan awan hitam pekat diatas kepala Mang Ali, Mahmud dan Kosim membuncah berubah menjadi sepasukan monyet siluman melayang turun dalam wujud nyata terlihat jelas dihadapan mata mereka.
"Hahahahahahaha...! Hay manusia bernama Kosim, serahkan dirimu sebelum teman-temanmu dibasmi Raja Kalas Pati! Hahahahahahahaha...!"
Monyet bertubuh tinggi besar itu berseru berdiri mengangkat senjata pedang yang mengkilap tajam ditangan kanannya tinggi-tinggi.
__ADS_1
Wajah Mang Ali, Mahmud dan Kosim terkesiap kaget bukan main. Dada mereka bergetar keras seiring degub jantungnya yang menghentak-hentak kencang. Ketiganya berada dalam kepanikan yang tak terkira.
Kedua mata Mang Ali, Mahmud dan Kosim terus saja menatap sosok monyet tinggi besar berpakaian perang itu tidak berkedip sedikit pun.
Dilihat dari pakaian yang dikenakannya, sekiranya monyet tinggi besar itu memiliki pangkat tinggi. Di kepalanya terikat melingkar logam berwarna emas, lingkaran logam di dahinya terdapat batu sebesar jempol tangan berwarna merah menyorotkan cahaya.
Dipergelangan tangannya melingkar logam emas menutup lengan hingga sebatas siku. Sementara pakaian yang dikenakannya mungkin dari golongan pangkat minimalnya Panglima perang versi golongan bangsa siluman.
"Serahkan dirimu hay Kosim!!!" Suara teriakkan monyet berpangkat tinggi itu sekali lagi menggetarkan dada Mang Ali, Mahmud dan Kosim.
"Mang Ali, senjata...! Senjata..!" Seru Mahmud mengingatkan dalam paniknya.
Mang Ali tersentak sadar oleh teriakkan Mahmud lalu secepatnya merogoh mengambil keris dari belakang dibalik bajunya. Keris Skober berwarna hitam legam itu langsung dihunus dalam genggaman tangan kanan Mang Ali, sedang tangan kirinya digenggamnya erat werangka berwarna coklat kehitaman terlihat sudah usng.
Mulut Mang Ali komat-kamit seiring keluarnya keris Skober dari werangka merapalkan ajian penopang yang membangkitkan kekuatan dari keris pusaka itu.
Sementara Mahmud dan Kosim yang semula berdiri berjajar segera tersurut mudur tatkala tiba-tiba melihat keris Skober bergetar keras digenggaman tangan Mang Ali yang teracung keatas. Terlihat sangat menggidikkan ketika keris yang sudah banyak memakan darah korbannya sejak ratusan tahun silam itu menyala pada bagian tengah mengikuti eluk tujuhnya hingga cahayanya keluar diujungnya yang runcing.
Selarik cahaya kelabu melasat kelangit terpancar dari ujung keris Skober. Cahayanya yang menyala disepanjang batang keris itu menimbulkan warna merah kehitaman pada kedua sisinya, seperti besi yang sedang dibakar dalam bara api.
"Heeyyaaaaaaaaaaaaaaaa....!!!"
Mang Ali terkesiap melihat sekelabatan cahaya kuning emas yang datang tiba-tiba menyasar kearah kepalanya diringi dengan suara bising menderu.
Mahmud dan Kosim menyaksikan dengan perasaan ngeri, sangat jelas didepan matanya pedang itu meluncur deras ke leher Mang Ali yang sesaat lagi lehernya terpenggal. Keduanya kontan menutup mukanya rapat-rapat dengan perasaan pasrah.
Namun tubuh Mang Ali reflek berkelit kakinya dengan ringan dan lincah membuat gerakan mundur sambil menundukkan kepalanya dengan gesit. Gerakkan silat tingkat atas yang dimilikinya sangat mendukung dalam situasi pertarungan jarak dekat.
Sabetan pedang yang bercahaya kuning emas itu lewat tiga jengkal diatas kepala Mang Ali. Andai saja gerakkan Mang Ali terlambat, sudah pasti kepalanya akan terpenggal sebatas pangkal lehernya.
Meskipun pedang tajam berkilat itu hanya mengenai tempat kosong diatas kepalanya, namun hawa panasnya masih dapat dirasakan Mang Ali bahkan sampai tercium bau rambutnya yang terbakar.
Sesaat setelah pedang itu melintas dari kepalanya, Mang Ali melakukan gerakkan balas menyerang dengan terukur. Kakinya digerakan selangkah kedepan sedang tangan kanannya yang menggengam keris Skober secepat kilat membuat gerakkan tusukkan, seraya berteriak;
"SKOBER MEMBELAH GUNUNG!"
Dengan gerakkan artistik nan indah, keris Skober sedikit menyerong keatas dengan sorot cahaya kelabu dari pucuknya menghujam deras kebagian perut monyet tinggi besar itu.
"Tidaaaaaaaaaaaakkkk....!!!"
Monyet siluman itu terbelalak lebar! Dirinya tidak mengira akan mendapat serangan balasan secepat kilat itu.
Diawali oleh sinar kelabu menyorot tajam langsung menembus tubuh monyet siluman itu tanpa sempat mengelak. Sedetik berikutnya hawa panas laksana membakar tubuh luar dalam manakala keris Skober menghujam amblas hingga sebatas gagangnya menembus tubuh monyet tinggi besar itu.
__ADS_1
"Nyiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit...!"
Suara jeritan menyayat keluar dari mulut monyet siluman yang hanya sesaat. Diujung jeritan kesakitannya perlahan tidak terdengar lagi bersamaan dengan suara ledakkan dahsyat.
"Jedarrrrrrr...!!!"
Tubuh monyet tinggi besar itu seketika hancur bercerai berai kesegala arah. Gerakkan-gerakkan silat yang dimainkan Mang Ali sangat mendukung kekuatan maha dahsyat yang terkandung didalam keris Skober di tangannya sehingga menjadi senjata yang sangat berbahaya dan mematikan.
Sementara itu Mahmud dan Kosim yang mash menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya langsung terduduk lemas diatas tanah dengan bertumpu pada kedua lututnya yang gemetaran.
"Innalillahi wainnailaihi rojiuun.."
"Innalillahi wainnailaihi rojiuun.."
Keduanya tertunduk, tangisannya terdengar tersedu-sedu membuat bahunya naik turun berguncang-guncang.
"Maafkan saya Mang Ali... Sampeyan orang baik, sampeyan rela dan ikhlas membela saya dengan taruhan nyawa..." ucap Kosim lirih ditengah isak tangisnya.
"Saya tidak menyangka persahabatan kita berakhir seperti ini Mang Ali. Saya bersaksi sampeyan orang baik, jujur dan ikhlas..." ucap Mahmud menimpali.
Suasana sesaat hening, Mahmud dan Kosim masih larut salam tangis kesedihannya. Keduanya mengira Mang Ali telah tewas terpenggal.
"Astagfirullah! Kalian mendoakan saya mati apa?!" Seru Mang Ali melihat Mahmud dan Kosim masih menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Mahmud dan Kosim tertegun kaget, keduanya langsung berhenti menangis. Kontan saja keduanya terperangah mendengar suara khasnya Mang Ali, lalu Mahmud dan Kosim segera mendongak keatas. Sesaat lalu mata mereka dikucek-kuceknya, kemudian dipelototinya dengan seksama tubuh Mang Ali dari ujung rambut hingga kaki.
"Mang Ali?!"
"Mang Ali?!"
Seru Mahmud dan Kosim saling menimpali, keduanya serasa tidak percaya kalau dihadapannya berdiri Mang Ali masih memegang keris Skober yang sudah dimasukkan kembali kedalam werangka.
Mang Ali melangkah mendekat, seraya berkata; "Pegang tangan saya Mud. Pegang badan saya Sim," kata Mang Ali sambil meraih tangan Mahmud dan Kosim.
"Alhamdulillahirobbil alamiin...:
Mahmud dan Kosim sangat tidak menyangka kalau Mang Ali lolos dari sabetan pedang. Keduanya tidak mengetahui kejadiannya karena langsung menutup rapat-rapat mukanya, yang didengarnya hanya ledakkan dan getarannya saja.
......................
🔴Huuhhh...! Keluarkan nafasnya, kita rehat dulu diminum kopinya...
🔴Semoga di hari Jumat ini yang sudah mengikuti, membaca, memberi atau pun tidak, semuanya dilancarkan rezekinya, dimudahkan segala persoalannya, Amiin...🤲🤲🤲
__ADS_1