Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PERMINTAAN KOSIM


__ADS_3

Rasa sepi sangat terasa sekali setelah satu demi satu orang-orang yang menghadiri tahlilan meninggalnya Dede beranjak pulang dari rumah Mahmud. Suasana duka masih begitu terasa menaungi rumah Mahmud. Beberapa hari yang lalu baru saja acara selesai menggelar tahlil 40 hari meninggalnya Kosim, kini acara yang sama kembali di gelar namun dengan almarhum yang berbeda yakni putranya.


Di ruang tengah, Dewi menemani Arin yang masih terbaring sejak pulang dari pemakaman Dede. Arin terlihat sangat shok, kondisinya masih sangat lemah, bebrapa kali dia pinsan terhitung setelah pemakaman. Setiap kali tersadar dari pinsannya, saat itu juga dia kembali tak sadarkan diri. Seolah Arin tidak kuat harus menghadapi musibah kematian berturut-turut.


Perasaannya hancur lebur, rasanya tak sanggup lagi untuk meneruskan hidupnya. Baru saja lewat 40 hari Kosim meninggalkannya dan sisa-sisa kedukaannya masih belum hilang, kini menyusul Dede, putra satu-satunya pun pergi untuk selamanya.


Sementara itu di teras depan hanya ada Abah Dul dan Mahmud yang masih duduk lesehan. Keduanya duduk lesehan diatas tikar di teras depan. Tak banyak obrolan yang keluar, hanya sesekali lalu kembali terdiam, keduanya sibuk dengan alam pikirannya masing-masing.


Mahmud sendiri memutuskan untuk tidak kembali ke rumah sakit karena ia merasa dirinya baik-baik saja dan menganggapnya hanya luka-luka luar yang nantinya akan sembuh dengan sendirinya. Padahal jauh di dalam batinnya, sesungguhnya rasa sakit di seluruh tubuhnya sekuat tenaga dia tahan agar dapat ikut tahlilan untuk mendoakan kematian Dede. Perasaan bersalah yang teramat besar di dalam hatinya yang membuat Mahmud kuat menahan sakit fisiknya.


Wajah Mahmud masih nampak menggurat kesedihan yang bercampur dengan penyesalan dan rasa bersalah yang tak henti-hentinya mengganggu pikirannya. Hatinya sangat terpukul dan dirinya masih menganggap kalau kematian Dede di sebabkan olehnya.


"Mud... ente istirahat saja, biar saya melekan disini," ucap Abah Dul.


Abah Dul sendiri belum menyadari kalau Mahmud sedang menanggung rasa bersalah yang teramat besar. Ia juga tidak tahu kalau Mahmud merasa bahwa kematian Dede itu gara-gara dirinya. Sampai akhirnya Mahmud sendiri mengungkapkan beban batinnya kepada Abah Dul.


"Bah, Dede meninggal gara-gara saya bah," ucap Mahmud lirih menatap Abah Dul.


"Astagfirullah, Mud... Ente jangan begitu, semuanya sudah menjadi takdir ilahi. Ente tidak salah apa-apa Mud," ujar Abah Dul kaget mendengar penuturan Mahmud.


"Tapi Bah, seandainya malam itu saya tidak memaksakan untuk pulang mungkin saja Dede akan selamat," ucap Mahmud menundukkan kepala dalam-dalam.


"Tidak Mud, apa yang ente lakukan juga bagian dari usaha untuk menolong Dede. Tetapi Allah berkehendak lain, jikaDede di takdirkan hidup biarpun ente memaksakan pulang untuk mengantarkan batu mustika itu, ya kamu juga akan sampai disini," tegas Abah Dul.


Mahmud terdiam, ia mencerna kalimat demi kalimat apa yang diucapkan Abah Dul. Setelah di pikirkan dalam-dalam, memang yang di ucapkan Abah Dul itu ada benarnya sehingga membuat hatinya berangsur-angsur sedikit lebih lega.


"Ya sudah, ente masuk Mud, istirahat biar kondisi ente cepat pulih," ucap Abah Dul.


"Iya, Bah." sahut Mahmud singkat kemudian beranjak meninggalkan Abah Dul sendirian di teras depan.


Udara malam berhembus semilir sedikit terasa dingin, mungkin akibat cuaca masih diselimuti mendung sejak pagi tadi. Abah Dul menggeser duduknya pindah ke tempat yang sebelumnya di duduki Mahmud dan menyenderkan punggungnya pada tembok.

__ADS_1


Pikiran Abah Dul melayang jauh memikirkan peristiwa terakhir kali menghadapi bangsa siluman monyet. Rasa sesalnya pun timbul dipikirannya dengan segala kalimat andaikan... andaikan... andaikan...


"Andaikan waktu itu tidak terlambat mengejar mereka..."


"Andaikan saat itu tidak lengah...."


"Andaikan ketika itu kekuatannya dapat mengalahkan Kalas pati...."


Abah Dul merasa upayanya selama ini benar-benar telah gagal. Dirinya mengira meninggalnya Kosim akan membuat semuanya normal kembali, dan siluman monyet itu tak lagi datang menuntut. Tetapi ternyata semua perkiraannya salah, nyatanya nyawa Kosim tidak berada dalam hukuman Siluman Monyet sehingga siluman itu mengambil Dede sebagai penggantinya. Sangat kejam!


Wajah Abah Dul mendadak muram menahan geram mengingat siluman pesugihan itu. Tetapi beberapa saat kemudian ekspresinya kembali berubah kali ini wajahnya terlihat murung mengingat kekuatan raja siluman monyet itu. Rasanya tidak mungkin dirinya dapat menandinginya. Abah Dul menyadari kekuatan ilmunya belum sampai untuk berhadapan langsung dengan Raja dari salah satu mahluk gaib tersebut.


Selama ini banyak yang di temui Abah Dul hanyalah mahluk-mahluk halus yang memang tingkat kekuatannya masih berada dibawahnya sehingga selalu dapat mengatasinya. Tetapi kini ia menyadari betul bahwa mahluk gaib juga ada yang memiliki kekuatan yang sebegitu besar diatas tingkatannya.


“Assalamualaikum,”


Sebuah suara tiba-tiba terdengar sehingga cukup mengagetkan Abah Dul kaget meskipun suara itu pelan. Bukan karena keras atau pelannya yang membuat Abah Dul kaget, melainkan suara itu terdengar tiba-tiba tanpa terlihat ada seorang pun yang datang.


“Bantu saya membalaskan dendam Bah...” ucap Kosim datar tak menghiraukan keterkejutan Abah Dul.


“Bagaimana saya membantunya Sim? Bagaimana juga membalasnya?! balas Abah Dul balik tanya.


“Cari sebuah mustika salah satu Raja Iblis di tanah Jawa ini,” ucap Kosim.


“Mustika raja iblis?! Nggak mungkin Sim, nggak mungkin!” ujar Abah Dul.


“Mustika itu ada pada Raja Jin yang menguasai pulau Jawa ini,” kata Kosim tak mengacuhkan keluhan Abah Dul.


“Dimana saya mencariny!” Abah Dul kian pesimis.


“Mari ikut saya!” ujar Kosim dingin.

__ADS_1


"Ttta, tapi," belum sempat Abah Dul menuntaskan kata-katanya Kosim langsung mennggenggam lengannya dan seketika lenyap dari teras rumah Mahmud.


Seketika pandangan Abah Dul gelap tak dapat melihat apa-apa. Abah Dul hanya merasakan pusing di kepalanya seperti berputar-putar.


......................


Dewi terbayung mendengar sayup-sayup suara azan dari corong mushola-mushola dan masjid. Dewi yang tertidur di samping Arin langsung duduk mengerjap-ngerjapkan matanya melihat jam dinding.


“Subuh?” Ucap Dewi, lalu di kucek-kuceknya lagi kedua matanya melihat ke jam dinding.


Dinginnya hembusan angin terasa deras menerpa tubuh Dewi membuat Dewi bergidik kedinginan. Ia sedikit heran biasanya angin yang masuk tersebut karena pintu depan terbuka.


Dewi segera bangkit beranjak memeriksa pintu depan. Dan benar saja, pintu depan terbuka lebar, Dewi celingukkan akan tetapi tidak menemukan Abah Dul maupun Mahmud di luar. Dewi baru ingat kalau Mahmud duluan masuk kamar katanya ada Abah Dul di luar.


“Apa Abah Dul pulang? Tapi masa iya nggak menutup pintunya atau mungkin dia kelupaan,” gumam Dewi.


“Ada apa Wi? Kaya kebingungan gitu?” tanya Mahmud muncul melangkah menuju Dewi yang sedang tertegun.


“Ini mas, pintunya terbuka lebar tapi Abah Dulnya nggak ada. Kalau dia pulang biasanya kan di tutup,” ungkap Dewi.


“Masa sih?!” timpal Mahmud tak percaya.


Mahmud berjalan terpicang-pincang ke teras memeriksa sekelilingnya, seraya berseru; “Ini sandalnya masih ada!”


“Hah?! Beneran mas?!” timpal Dewi kemudian mendekat ke Mahmud.


“Lah iya, kemana Abah Dul ya?!” gumam Dewi.


“Nanti agak terangan saya ke rumahnya Wi, ayo sholat Subuh dulu,” ujar Mamud kemudian mengajak Dewi masuk.


......................

__ADS_1


__ADS_2