
Hari ke-13 malam ke-14,
Dua minggu sudah Kosim berupaya melawan perjanjian gaib. Kosim dan keluarganya masih dapat bertahan meskipun dalam hari-harinya selalu dihantui rasa cemas, khawatir hingga ketakutan. Ancamannya bukan main-main, bisa nyawa Dede, nyawa Arin atau Kosim sendiri.
Malam itu hembusan udara malam mulai terasa dingin menusuk tulang padahal baru jam 8 malam. Suara gesekkan ranting-ranting dan dedaunan pohon-pohon disekitar rumah Mahmud jelas terdengar, sesekali berpadu dengan suara-suara jangkrik dan bangkong.
Kosim duduk sendirian di teras depan dengan ditemani segelas kopi dan rokok. Setelah sholat Isya Mahmud sudah berangkat menghadiri undangan tahlil di rumah tetangganya yang rumahnya berada di gang sebelah. Mungkin Abah Dul dan Mang Ali pun ada disana.
Tadinya Kosim juga turut berangkat bersama Mahmud tetapi dicegah oleh Mahmud untuk tinggal dirumah saja untuk menjaga Arin, Dewi dan Dede, khawatir terjadi sesuatu. Dalam situasi sendirian pikiran Kosim berputar-putar memikirkan situasi dan kondisi yang selama ini dihadapinya.
"Entah sampai kapan keadaan akan seperti ini terus. Ini harus cepat-cepat diakhiri, sebelum terlanjur ada korban atau sebelum Arin tau. Nggak mungkin selamanya akan bisa bertahan terus dari buruan mahluk-mahluk siluman itu," ucap Kosim dalam hati.
"Jika diakhiri dengan pertempuran dengan menundukkan Raja Siluman Monyet, peluang dan resikonya 50:50. Bisa saja Abah Dul dan sahabat-sahabatnya menundukkannya namun juga bisa saja keempat orang baik itu mengorbankan nyawanya, mereka kalah" sambung Kosim dalam hati.
Kosim menghisap rokok ditangannya dengan tarikan nafas panjang lalu dihempaskannya kuat-kuat seolah sedang menepis kerumitan yang dihadapinya.
"Satu-satunya cara yang aman adalah melakukan negosiasi. Tapi bagaimana caranya? Saya nggak bisa seperti Abah Dul dan sahabat-sahabatnya yang mampu menembus alam gaib bangsa siluman." gumamnya dalam hati.
Saat Kosim sedang tercenung sambil menyandarkan kepalanya di tiang saka rumah, tiba-tiba ia terlonjak kaget memdengar Arin berseru memanggilnya dari dalam rumah.
"Maaaaasss...!" seru Arin dari ruang tengah.
Kosim dibuat cemas dan panik oleh panggilan istrinya. Pikirannya langsung tertuju pada Dede dengan perasaan prasangka buruk, "pasti ulah monyet sialan!" ucapnya dengan suara ditekan.
Kosim bergegas bangkit dari duduknya melangkah cepat menemui Arin. Dilihatnya Arin dan Dewi sedang menata makanan diruang tengah sedangkan Dede lagi bermain dengan mobil-mobilannya didepan televisi.
"Kenapa Rin?!" tanya Kosim dengan wajah cemas.
"Ini makan dulu!" jawab Arin sambil menata piring-piring diatas tikar.
Untungnya Arin sedang sibuk meletakkan piring-piring sehingga ia tak melihat wajah cemas Kosim. Kosim menarik nafas lega sambil mengelus dada setelah mendengar jawaban Arin.
"Huhhh!" tanpa sadar menghempaskan nafasnya melalui mulut cukup kencang.
Arin pun menghentikan aktifitasnya lalu mendongak memperhatikan Kosim penuh heran.
"Napa sih Mas?" tanya Arin heran.
"Hehehe... Nggak apa-apa kirain ada huru-hara lagi." ucap Kosim tersenyum kecut.
"Nanti aja nunggu Mas Mahmud, biar bareng-bareng makannya," sambung Kosim.
"Mas Mahmud mungkin sudah makan ditempat tahlilan Sim. Hayu ah makan aja," ujar Dewi.
__ADS_1
"Oh iya ya Mbak. Yowis hayu lah," timpal Kosim.
"Deee... Dedeee, sini makan sama ayah," ucap Kosim sambil melambaikan tangannya ke anaknya yang masih asyik bermain. Bocah 3 tahunan itu lantas beranjak bangun dan berlari ke pangkuan Kosim dengan senyum lebar.
Malam ini makan malam hanya berempat saja. Suasana makan pun tak banyak obrolan. Kosim makan dengan lahapnya, sesekali menyuapi Dede dengan ayam goreng kesukaannya. Selang beberapa lamanya terdengar langkah langkah kaki dan kasak kusuk suara obrolan Mahmud, Abah Dul dan Mang Ali, mereka sudah pulang dari undangan tahlil masing-masing membawa besek ditangannya.
"Mud, saya pulang dulu ya, anterin besek barangkali dirumah belum pada makan," kata Mang Ali.
"Monggo, monggo Mang Ali." sahut Mamud.
"Mang Ali punten sekalian titip anterin ke rumah ya," sela Abah Dul.
"Sini Bah," kata Mang Ali.
"Nanti kesini lagi Mang Ali, jangan sampai keduluan Mang Ali palsu, hahaha..." seloroh Mahmud disambut ketawa Abah Dul dan Mang Ali.
"Kalau kesini kasih ciri, tanganya gini Mang Ali ya." kata Abah Dul sambil meletakkan jempol tangan di dada.
"Iya betul Mang Ali. Kalau nggak ada kode nanti bisa dimusnahkan Abah, hahaha..." ujar Mahmud tegelak.
Ketiganya tertawa-tawa mengiringi langkah kaki Mang Ali meninggalkan rumah Mahmud. Lalu Mahmud pun meneruskan langkahnya masuk rumah.
"Assalamualaikum..." ucap Mahmud sambil membuka pintu.
"Itu Mas Mahmud udah pulang," ujar
Kosim.
Dewi bangkit dari duduknya menyambut suaminya.
"Udah pada makan belum?" tanya Mahmud pada Dewi.
"Ini lagi pada makan, Mas. Mas sendiri udah makan belum?" jawab Dewi.
"Udah makan disana Wi. Ya udah ini tambah-tambah lauk," ujar Mahmud menyerahkan besek ke Dewi.
"Ada Abah Dul diluar. Biar saya aja yang bikin minuman kamu terusin aja makannya Wi," kata Mahmud sambil melangkah beriringan.
"Mas makan, Mas." kata Kosim melihat Mahmud masuk ruang tengah.
"Iya Sim, udah makan disana. Terusin makannya, Dede juga makan yang banyak ya..." balas Mahmud sambil mencolek pipi Dede yang duduk dipangkuan Kosim.
Mahmud pun meneruskan langkahnya menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk Abah Dul, Mang Ali serta dirinya. Sementara itu diteras luar Abah Dul duduk menyandar pada tembok dibawah jendela. Pikirannya melayang mengingat-ingat rentetan kejadian demi kejadian gangguan-gangguan monyet siluman. Yang dipikirkannya nyaris sama dengan yang dipikitkan Kosim yakni untuk segera mengakhiri.
__ADS_1
"Kalau dibiarkan begini terus nggak bakal ada ujungnya. Kasihan Mahmud juga tiap malam selalu ikut menjaga-jaga." gumam Abah Dul dalam hati.
"Cara Kosim mengakhiri ini semua patut dicoba. Tapi nggak mungkin saya sendirian menemui Raja Kalas Pati.' sambungnya.
Tak berapa lama Mahmud nongol sambil membawa nampan diatasnya ada tiga gelas kopi dan stoples makanan ringan.
"Mang Ali belum datang Bah?" tanya Mahmud.
"Palingan lagi menuju kesini," jawab Abah Dul.
"Mud, kayaknya harus segera menggunakan cara Kosim untuk mengakhiri gangguan monyet-monyet siluman itu Mud," ujar Abah Dul.
"Sebaiknya begitu Bah. Tapi apa mungkin bisa dilakukan Bah? Mahluk gaib kan nggak sama dengan kita-kita yang punya perasaan, lah kalau mereka?" kata Mahmud.
"Iya juga sih Mud. Tapi nggak ada salahnya kita coba," ujar Abah Dul.
"Iya sih Bah, tapi nggak sendirian kan melakukannya?" tanya Mahmud.
"Iya Mud, saya bakal minta tolong lagi sama Gus Harun, Basyari dan Baharudin. Nanti saya hubungi mereka, Kosim mana?' kata Abah Dul.
Baru saja namanya disebut, Kosim nongol mengucap salam, "assalamualaikum, nih Kosim Bah, hehehe.."
"Waalaikum slaam..." balas Abah Dul dan Mahmud bersamaan turut tertawa.
Kosim lalu memilih posisi duduk di tempat sebelumnya bersama kopi dan rokoknya yang masih tergeletak.
"Sim soal negosiasi, menurut ente gimana?' tanya Abah Dul.
"Dari tadi saya juga memikirkan itu Bah. Ya, bingung juga Bah, pengennya saya sih saya yang akan berbicara langsung dengan Raja Siluman Monyet. Tapi saya kan nggak bisa melihat mereka dan juga nggak bisa menembus alam gaib, Bah" terang Kosim.
Abah Dul manggut-manggut membenarkan ucapan Kosim. Ia terdiam namun didalam hatinya ia berkata, "andai saja Kosim bisa meloloskan sukma seperti dirinya dan tiga sahabatnya, mungkin akan lebih mudah menyampaikannya."
"Benar juga sih Sim. Nanti deh saya coba diskusi dengan Gus Harun gimana baiknya." ucap Abah Dul.
Tak lama kemudian Mang Ali datang dan langsung mengucap salam, "assalamualaikum..." ucap Mang Ali.
"Waalaikum salam..." jawab Kosim, Abah Dul dan Kosim bersamaan.
Tiba-tiba Abah Dul mengangkat tanganya, "Stop! mana kodenya?!" seru Abah Dul.
Mang Ali spontan menghentikan langkahnya dua jengkal dari teras. Lalu ia mengangkat tangan kanannya di dada menunjukan jempolnya sambil berkata, "oke!"
Mahmud langsung terpingkal-pingkal melihat gestur yang dipraktekkan Mang Ali disusul gelak tawa Abah Dul dan Kosim, "hahahahaha...."
__ADS_1
......................