
Malam semakin larut minuman kopi pun sudah diganti dengan gelas baru. Abab Dul, Mahmud, Mang Ali dan Kosim sudah bersiap-siap menjalankan rencana pengungakapan pelaku pesugihan babi ngepet.
Proses kerja babi ngepet ini tak jauh berbeda seperti yang ada di film-film atau sinetron televisi, pelakunya bisa suami atau istrinya. Keduanya akan berbagi tugas, yang satu menjaga lilin dan satunya bertugas mencari target dengan merubah wujudnya menjadi babi.
Biasanya selain membaca mantra ada juga benda yang dipakai pelaku sebagai sarana untuk merubah wujudnya menjadi babi yang didapat dari sang Kuncen.
"Punten Bah, nanti tunggu kode dari saya. Begitu saya menemukan posisinya Abah langsung saja menuju ke tempat yang saya sebutkan," kata Mang Ali memecah keheningan.
"Siap Mang Ali," jawab Abah Dul.
Mahmud dan Kosim hanya memperhatikan dua orang dihadapannya yang sama-sama memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi dengan aliran yang berbeda.
Jika Abah Dul memperolehnya dari Kiyai Sapu Jagat saat mondok di Pesantren di Madura, sedangkan ilmu kebatinan Mang Ali merupakan keturunan dari buyutnya yang menguasi beragam ilmu Kejawen dengan mantra-mantranya berbahasa Jawa.
Jarum pendek jam dinding diatas tembok belakang televisi menunjukkan tepat diangka 12.
Sesaat kemudian Mang Ali merubah duduknya dengan bersila, kaki kanan menekuk ditumpangkan diatas paha kirinya sedangkan kaki kirinya ditekuk berada dibawah paha kanannya. Disusul kedua tangannya ditangkupkan didepan dada. Matanya perlahan-perlahan dipejamkan sembari mulutnya bergerak-gerak membaca mantra.
Mang Ali sedang mengerahkan ilmu Kejawennya melakukan pelacakkan terhadap keberadaan Babi jadi-jadian yang geger di kampungnya Kosim.
Bukan kali ini saja Mang Ali sudah beberapa kali diminta tolong oleh warga dari luar desa sekitar untuk melakukan pengungkapan pelaku pesugihan semacam ini dan semuanya selalu berhasil.
Beberapa lamanya suasana hening, Abah Dul, Mahmud dan Kosim terus memperhatikan Mang Ali menunggu aba-aba hasil pendeteksian yang dilakukan Mang Ali.
Waktu menunjukkan pukul 12 malam, jarum panjang jam dinding berjalan melewati angka 4... Mang Ali belum memberikan aba-aba.
Suasana hening senyap hingga suara jangkrik dan bangkong diluar rumah pun sangat jelas terdengar di ruang tengah berpadu dengan suara detak jarum jam.
Jarum panjang jam dinding terus berjalan, kini melewati angka 6. Mang Ali masih belum juga memberi aba-aba pada Abah Dul.
Tapi tak lama kemudian Mang Ali mengangkat tangan kanannya, seraya berkata; "Bah, di pekuburan dibawah pohon Randu."
Abah Dul yang sudah siap sedari tadi langsung melepas sukamanya melesat cepat menuju tempat yang disebutkan Mang Ali.
Suasana sunyi senyap dan gelap ditengah pekuburan terlihat samar-samar oleh cahaya bulan sesosok manusia sedang bersedeku. Diatas pangkuannya terlipat kain hitam, diahadapnnya terdapat kresek hitam berisikan bunga 7 warna, mulutnya komat-kamit nampak sedang membaca mantra.
Sukma Abah Dul muncul disamping orang tersebut hanya berjarak 5 meteran tanpa diketahui kehadirannya. Sukma Abah Dul terlihat geram tak sabar ingin langsung menghajarnya namun urung dilakukan teringat pesan Mang Ali sebelumnya.
"Tapi ingat Bah jangan langsung meringkusnya. Tunggu orang itu berubah menjadi Babi, lalu ikuti sampai orang itu melakukan aksinya disalah satu rumah warga. Dan saat itulah baru diringkus." Begitu pesan Mang Ali.
Sesaat kemudian selesai membaca mantra, orang itu membuka bajunya lalu melipatnya dan memasukkannya didalam kresek hitam bersama kembang.
Kain hitam dipangkuannya lalu dibentangkan lantas menyelimuti tubuhnya dengan posisi bersujud. Sukma Abah Dul terkesiap melihat orang itu berubah wujudnya menjadi seekor Babi hutan dengan dua taring berkilat putih keluar dibawah moncong hidungnya.
Baru kali ini Abah Dul menyaksikan proses perubahan wujud orang ngepet menjadi Babi. Ingin rasanya menghajar saat itu juga kalau tidak ada pesan Mang Ali. Tanggannya reflek mengepal kuat menahan geram.
"Gruukkhhh.."
"Gruukkkhh.."
"Gruukkkhh.."
Setelah tubuhnya berubah menjadi Babi, kemudian dengan suara khasnya setengah berlari mahluk jejadian itu bergerak menuju kearah timur. Sukma Abah Dul melayang mengikutinya di belakang.
__ADS_1
Babi ngepet itu memasuki pemukiman penduduk melalui pekarangan dan terus berlari melalui celah-celah rumah warga. Hingga pada satu rumah berpagar besi warna hijau, Babi ngepet itu berhenti, kepalanya menengok ke kanan dan kiri seperti mengawasi situasi.
Sukma Abah Dul makin gregetan melihat tingkah laku Babi ngepet itu namun masih ditahannya. Ia terus memperhatikan dari jarak yang tidak terlalu jauh dibelakang Babi ngepet.
Suasana disekitar rumah itu nampak sepi, tak ada warga yang lewat. Sesaat kemudian Babi ngepet itu setengah berlari memepet tembok pagar mengarah samping rumah. Dibawah jendela salah satu kamar, Babi ngepet itu berhenti.
"Sekarang saatnya, kurang ajar!" Gumam Abah Dul geram.
Tampak Babi ngepet itu menggesek-gesekan tubuhnya pada tembok rumah tersebut. Melihat itu Sukma Abah Dul yang sudah geram sejak tadi ditahannya, langsung menggerakkan tangannya menghantamnya dari jarak 2 meter.
Sekelebat cahaya putih meluncur cepat menghantam kepala samping kiri Babi Ngepet. Kontan saja Babi ngepet itu terpekik mengeluarkan suaranya seperti manusia bersamaan tubuhnya terdorong menghantam tembok rumah.
"Aaaakkhhh..."
Sesaat kemudian Babi jejadian itu menggelosoh terkapar tak bergerak dibawah jendela. Sukma Abah Dul kembali mengerahkan amalannya, kali ini selarik sinar putih membentuk tali meluncur mengikat tubuh Babi itu.
Setelah dirasa tak mungkin babi itu akan menghilang ataupun melarikan diri, sejenak sukma Abah Dul memperhatikan sekelilingnya mencari tanda posisi rumah tersebut. Setelah ketemu kemudian dengan cepat langsung melesat kembali ke raganya.
"Alhamdulillah," ucap Abah Dul.
"Kena Bah?!" Pertanyaan serentak dari Mahmud, Kosim dan Mang Ali.
"Mud cepat telpon Pa Kuwu untuk ngasih tau kalau babi ngepetnya ketangkep ada di rumah besar berpagar besi warna hijau. Disebelah kirinya ada rumah dengan tulisan dijual. Saya harus kesana lagi menjaga babi ngepet itu," kata Abah Dul.
"Itu rumah Haji Asnawi!" Seru Kosim terkejut.
Sesaat kemudian tubuh Abah Dul kembali diam tak bergerak. Mahmud segera meraih hapenya diatas bufet.
"Pak Kuwu...... Pak Kuwu.... Pak Kuwu..... yesss!" gumam Mahmud mencari kontak lalu langsung menelponnya.
"Mang Ali nanti kita kesana tapi tunggu Abah Dul kembali,. Sim keluarin motornya ya," ujar Mahmud.
"Iya Mas," jawab Kosim langsung bangkit menuju ruang tamu.
Kosim mengeluarkan dua sepeda motor miliknya dan milik Mahmud yang sudah dimasukkan di ruang tamu.
Sementara di lokasi, sukma Abah Dul tidak lama setelah kembali ke tempat Babi ngepet itu tergeletak, dikejauhan terlihat Pak Kuwu beserta beberapa pamong dan puluhan warga setengah berlari tergesa-gesa menuju posisi sukma Abah Dul berdiri.
Saat sampai di depan rumah berpagar besi cat hijau, Pak Kuwu memanggil-manggil pemilik rumah.
"Assalamualaikum, Pak Haji Asnawi!" Seru Pak Kuwu.
"Assalamualaikum, Pak Haji Asnawi!" Disusul suara warga bersamaan.
Tak lama kemudian Haji Asnawi keluar dan kebingungan melihat Pak Kuwu beserta puluhan warga berkumpul didepan pagarnya.
"Ada apa Pak Kuwu?!" Tanya Haji Asnami sedikit panik bercampur bingung.
"Ada Babi ngepet tertangkap disamping rumah Pak Haji, ayo Pak Haji ikut menyaksikan." Kata Pak Kuwu.
"Babi ngepet?!" Haji Asnami terkejut bukan main lalu keluar dari balik pagar besinya.
Rombongan Pak Kuwu dan Haji Asnawi berjalan tergesa menuju samping rumah seperti petunjuk yang diberikan Mahmud.
__ADS_1
"Itu Babi ngepetnya!"
"Itu Babi ngepetnya!"
"Itu Babi ngepetnya!"
Teriak warga bersahutan begitu melihat seonggok Babi hutan tergeletak dibawah jendela kamar depan rumah Haji Asnawi.
Jumlah warga pun semakin banyak berdatangan berbaur dengan membekali diri membawa berbagai macam senjata tajam, golok, parang, clurit dan ada pula yang membawa batangan kayu maupun besi.
"Kurang ajar! Mau ngepet di rumah saya!!!" Teriak Haji Asnawi langsung murka.
"Hajaaaarrrr..."
"Habisi saja!"
"Bakaaarrrr!"
"Bakaaarrrr!"
Tanpa dikomando, sejumlah warga melemparkan batu kearah Babi jejadian itu. Disusul warga lainnya merangsak menyabetkan senjata tajam ke tubuh Babi jejadian. Pentungan dari kayu dan besi pun menghantam tubuh berbulu hitam secara bertubi-tubi.
"Hajaaaarrrr..!"
"Bakaaarrrr..!"
"Bakaaarrrr..!"
"Mampusin!!!"
Aksi brutal massa nyaris tak terkendali, dengan beringas mereka terus-menerus menghajar Babi jejadian yang sedari tadi tergolek tak ada reaksi apapun.
Warga tidak menyadari kalau Babi jejadian itu sebetulnya tidak tersentuh sedikit pun oleh lemparan-lemparan batu maupun sabetan senjata tajam dan pentungan-pentungan mereka.
"Sudah, sudah! Jangan dihakimi!!!" Cegah Pak Kuwu mengangkat tangannya.
"Sudah, sudah!!!" Kita tunggu Abah Dul dan Mahmud!" Teriak Pak Kuwu sambil mengangkat tangannya dibantu beberapa pamong desa
"Kita akan segera tau, siapa pelaku yang menjadi Babi ini!" Seru Pa Kuwu.
Perlahan-lahan warga yang sudah emosi itu akhirnya mulai menghentikan aksinya. Sementara Babi jejadian itu masih tetap dalam posisinya tak bergeming.
Sukma Abah Dul yang sedari tadi memperhatikan pun tersenyum lalu langsung melesat kembali ke raganya setelah Babi jejadian itu sudah diketahui keberadaannya oleh warga.
"Alhamdulillah," ucap Abah Dul sambil meraupkan telapak tangannya ke wajah.
"Bah, kita disuruh kesana," kata Mahmud.
"Ayo, Mang Ali Boceng sama Kosim saya sama Mahmud, yuk Mang Ali." Ujar Abah Dul.
......................
................N E X T................
__ADS_1
Diminum dulu kopinya sayang lalu tarik nafas perlahan.... lalu buka episide berikutnya ya😘😘😘