
Tahlilan malam ke 4 meninggalnya Dede terasa begitu lain, yang menghadiri tahlilan pun lebih banyak dari tiga malam sebelumnya. Situasinya penuh kehebohan karena sebagian warga yang datang itu sangat penasaran dengan kabar kembalinya Abah Dul.
Usai tahililan, sambil menikmati suguhan kue-kue dan air teh manis mereka semua terlihat antusias menanyakan peristiwa menghilangnya dan kemunculannya Abah Dul.
Di ruang tamu yang di jadikan tempat utama tahlil, Abah Dul sibuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang. Sedangkan di teras depan dan di halaman terbentuk beberapa kelompok mendengarkan cerita dari Mang Soleh, Tisna, Gopar, Kasno dan Jafar.
Kelima orang tersebut menjadi nara sumber top malam itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sekaligus tak bosan-bosannya menceritakan kembali saat-saat peristiwa munculnya Abah Dul.
Diantara kerumunan orang-orang, sesosok mahluk tak kasat mata berdiri sambil memegang sebilah tongkat kayu di tangan kirinya memperhatikan tak jauh di belakang mereka yang berkelompok di halaman. Sosok itu memandang heran pada banyaknya kerumunan orang di rumah Mahmud, ia terus memperhatikan dengan seksama wajah-wajah setiap orang yang ada di sana.
Setelah satu jam-an berlalu, satu persatu warga pun mulai meninggalkan rumah Mahmud, sampai akhirnya tinggalah Abah Dul, Mahmud dan ustad Arifin. Ketiga orang itu kemudian berpindah duduknya dari semula duduk di ruang tamu menuju ke teras depan.
Sesosok mahluk tak kasat mata yang melihat tiga orang keluar dan duduk di teras langsung mengerutkan dahinya. Dia mencoba mengingat-ingat dan merasa masih mengenali wajah dua orang yang duduk di teras itu. Dia merasa pernah bertemu bahkan pernah bertarung dengan kedua orang itu.
Wajahnya langsung berubah geram menatap tajam pada ustad Arifin dan Abah Dul setelah berhasil mengingatnya. Dia teringat dengan peristiwa bentrokkan beberapa waktu lalu yang membuatnya terluka parah oleh dua orang itu.
Sosok itu yang tak lain adalah Ki Suta tidak beranjak dari tempatnya. Ki Suta menajamkan pendengarannya untuk menguping pèmbicaraan sekaligus memastikan diantara ketiga orang itu salah satunya adalah orang yang sedang di carinya yaitu Abah Dul.
"Sebenarnya Abah Dul pergi kemana?" tanya ustad Arifin yang sedari tadi menyimpan pertanyaan.
Sebenarnya pertanyaan seperti itu yang selalu di lontarkan orang-orang sedari awal setelah Abah Dul kembali, namun Abah Dul tidak menjawabnya dengan berterus terang. Abah Dul hanya mengatakan dirinya tidak tahu berada di mana. Akan tetapi bagi ustad Arifin yang sama-sama memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi sangat memahami jawaban Abah Dul yang terkesan menutup-nutupi.
__ADS_1
"Hehehehe... Iya ustad sebenarnya saya di bawa Kosim memasuki alam Jin," ungkap Abah Dul.
Mahmud dan Ustad Arifin terkejut mendengar pengakuan Abah Dul. Terutama ustad Arifin, pantas saja saat dirinya melakukan pencarian dengan mendeteksi melalui aura tidak bisa menemukannya ternyata Abah Dul berada di alam lain.
"Lalu sekarang Kosim dimana bah?" tanya Mahmud.
Abah Dul terdiam sejenak, ia mengangkat jempolnya memberikan kode menunjuk ke belakangnya. Mahmud dan ustad Arifin pun mengerti kalau Kosim ada diantara mereka. Pertanyaan itu sekaligus mengingatkan permintaan tuan Denta yang memintanya mengantarkan ke tempat di makamkannya Syehk Maulana.
Sementara itu Ki Suta yang mengamati obrolan itu terkesiap. Wajahnya langsung membesi, sepasang matanya berkilat merah saat mendengar salah satu orang yang sedang diamatinya itu menyebut nama Abah Dul.
Dia kini akhirnya benar-benar sudah tahu dengan jelas manusia yang disebut-sebut bernama Abah Dul, yang menurut keterangan Raja Kalas Pati dialah orang yang telah membunuh saudaranya, Mbah Utung.
Darah Ki Suta seketika mendidih mengetahui orang dihadapannya itu adalah Abah Dul, dia tak dapat menahan dorongan dendamnya dan hendak bergerak langsung menyerang Abah Dul. Akan tetapi tiba-tiba gerakkannya tertahan, dia mengurungkan niatnya menerjang Abah Dul karena melihat kemunculan dua sosok lain yang berbeda berbentuk dari ketiga orang itu muncul di belakang Abah Dul.
Saat hendak berbalik, salah satu sosok itu bergerak menghadang Ki Suta. Secepat kilat Ki Suta langsung melesat keatas sehingga hanya meninggalkan jejak sebuah kilatan cahaya merah. Munculnya kilatan cahaya di halaman itu sontak saja membuat Abah Dul, Mahmud dan ustad Arifin terkesiap.
“Astagfirullah..!” pekik ketiganya bersamaan melihat kilatan cahaya merah yang muncul sekelebatan.
Sementara sosok yang menyongsong Ki Suta hanya menemukan tempat kosong, rupanya Ki Suta lebih dulu berhasil kabur. Sosok itu kemudian kembali bergabung di tempat Abah Dul dan yang lainnya dan langsung memberitahukan Abah Dul tentang adanya sosok asing itu.
“Tuan, ada mahluk lain dengan aura jahat hendak menyerang anda!” kata tuan Denta.
__ADS_1
Seketika Abah Dul tersentak, wajahnya berubah menegang sambil memperhatikan sekelilingnya, Abah Dul mengedarkan pandangannya menyapu seluruh halaman namun tidak menemukan apapun disana.
“Dia sudah pergi tuan! Anda harus berhati-hati tuan sepertinya mahluk itu sangat dipenuhi oleh amarah dendam,” kata tuan Denta.
“Dendam?!” gumam Abah Dul.
Abah Dul langsung menerawang mengingat-ingat dan mencari-cari persoalan yang ada pada dirinya dengan mengaitkan semua yang pernah berurusan dengan siapa saja. Namun Abah Dul tidak juga dapat mengingatnya.
Mahmud dan ustad Arifin hanya mendengar gumaman Abah Dul tetapi tidak dengan percakapannya dengan tuan Denta. Mendengar gumaman Abah Dul serta melihat perubahan pada wajah Abah Dul membuat Mahmud dan ustad Arifin merasa keheranan dan menimbulkan tanda tanya besar.
“Ada apa Bah?!” tanya Mahmud dan ustad Arifin berbarengan.
Abah Dul tersentak kaget tiba-tiba Mahmud dan ustad Arifin bertanya begitu, lalu segera memberikan jawabannya hanya dengan menggelengkan kepalanya pelan.
Belum juga masalah dengan Siluman monyet kelar, kini ancaman lain datang lagi mengincarnya. Bahkan meskipun sudah mendapatkan benda yang dibutuhkan untuk membalas perhitungan dengan Kerajaan Siluman Monyet sama sekali belum sempat merencanakan dilakukan tindakkan apapun.
Disisi lain Abah Dul sedikit merasa tenang dengan kehadiran tuan Denta, setidaknya tuan Denta dapat dijadikan spionase untuk ancaman-ancaman tak kasat mata. Sekaligus membuat Abah Dul bingung, apakah lebih dulu menjalankan rencana untuk membantu Kosim melampiaskan balas dendamnya terhadap Raja Kalas Pati, ataukah menunaikan janjinya kepada tuan Denta untuk mengantarkannya ke tempat di makamkannya Syehk Maulana.
Sekembalinya dari alam Jin, Abah Dul belum sempat membicarakannya lebih lanjut dengan tuan Denta untuk mengantarkannya ke makam Syehk Maulana.
Abah Dul diam-diam tersenyum penuh optimis, ia teringat dengan cerita masa lampau tuan Denta yang pernah berurusan dengan Kerajaan Siluman Monyet. Mungkin dengan meminta bantuannya akan lebih memudahkan menghancurkan siluman monyet tersebut.
__ADS_1
......................