
Di ruang makan, keluarga pak Harjo beserta Dewi, Arin dan Dede baru saja selesai menyantap sarapan pagi. Suasana sarapan di meja makan pagi ini begitu terasa berbeda bagi pak Harjo dan bu Harjo. Seperti halnya pada makan malam, suasana di ruang makan pagi pun penuh dengan rona- rona kebahagiaan dari wajah kedua orang tua Hasan dan Hariri.
“Pak, bu kami mengucapkan banyak
terima kasih selama saya dan Arin serta Dede disini sudah merepotkan ibu dan bapak. Setelah ini kami berencana mau pulang pak, bu…” kata Dewi mengawali pembicaraan setelah semuanya menyelesaikan makannya.
“Ah, nak Dewi kami justru merasa
sangat senang dengan adanya nak Dewi, nak Arin sama nak Dede. Kami jadi tidak kesepian, suasana jadi ramai. Biasanya saya, bapak dan Hariri saja yang duduk di meja makan ini, itu juga sebelum Hariri sakit dulu. Dan bahkan sebelum sakit pun seringnya Hariri keluar main sama- teman- temannya, jadi hanya ibu sama bapak saja yang duduk disini. Sedangkan Hasan pulangnya sebulan sekali, kadang
sampai dua bulan baru pulang,” ungkap ibu Harjo.
“Apa tidak sore saja pulangnya nak
Dewi, nak Arin?” tanya pak Harjo.
“Kebetulan hari ini kebun cabai kami
mau dipanen pak, semalam sewaktu saya telpon mas Mahmud minta ijin menginap disini, mas Mahmud berpesan agar menyiapkan karung- karung dan perkakas lainnya untuk panenan. Nanti ada orangnya mas Mahmud yang akan mengambilnya, jadi kami harus pulang sekarang,” terang Dewi.
Sementara Dewi sedang berbicara
dengan pak Harjo dan bu Harjo, tampak Arin diam- diam membereskan piring- piring kotor bekas makan tadi. Rupanya yang dilakukan Arin dilihat sama bu Harjo.
“Jangan nak Arin, nggak usah biar
nanti ibu saja yang membereskan piring- piring ini,” cegah bu Harjo saat Arin hendak mengumpulkan piring- piring diatas meja bekas makan.
“Tidak apa bu biar Arin saja, masa
ngerepotin orang tua, hehehe…” sahut Arin tak menghentikan mengumpulkan piring- piring kotor.
“Ibu jadi nggak enak nak Arin, malah
tamu ibu yang beresin…” ujar bu Harjo.
“Tidak apa- apa bu, ibu duduk aja
biar Arin yang beresin ya,” sergah Arin.
Bu Harjo tersenyum penuh rasa kagum
melihat Arin yang tetap meneruskan niatnya membereskan piring- piring bekas makan. Semua mata tertuju memperhatikan Arin mengambil piring- piring bekas makan dari hadapan mereka lalu menumpuk piring- piring kotor menjadi satu.
“Berat nak Arin biar Hasan saja yang
membawanya ke belakang,” cegah bu Harjo melihat tumpukkan piring hendak
diangkat Arin.
“I, iya mbak biar saya saja,” timpal
Hasan segera bangkit dari duduknya melangkah ke tempat Arin berdiri.
‘Mbak?’ Arin protes dalam hati, sambil berdiri diam di tempat.
‘Bukannya tadi malam sudah sepakat
untuk tidak panggil ‘mbak lagi?’ ucap Arin dalam hati.
“Sini mbak, malah melamun…” kata
Hasan yang sudah berdiri dibelakang Arin dan sedikit kesulitan mengambil
__ADS_1
tumpukkan piring karena terhalang tubuh Arin.
“Dih, siapa yang melamun mas? Enak saja,” sungut Arin tapi masih berdiri tak menggeser posisinya sama sekali.
“Ya mbak Arinnya geser dong mbak,
gimana saya mau angkat piringnya?” kata Hasan.
“Eh, I, iya ya, hehehe…” timpal Arin
cengengesan.
“Ah, kalian berdua ini sepertinya
sangat serasi!” seru bu Harjo girang melihat perdebatan kecil Arin dan Hasan.
“Mas Hasan aja tuh bu,” sungut Arin
mengadu.
“Loh kok saya yang disalah- salahin
toh mbak?” timpal Hasan protes.
“Hahahaha…. Hahahaha… hahahaha…”
kontan saja semuanya tertawa melihat tingkah Hasan dan Arin.
Lalu keduanya bergegas meninggalkan
ruang makan, Hasan membopong tumpukkan piring- piring kotor dan Arin mengekor dibelakang Hasan menuju ke dapur.
Sepeninggal Hasan dan Arin dari
“Nak Dewi gimana apa sudah
disampaikan ke nak Arinnya?” tanya bu Harjo.
“Belum bu, tadi saya belum sempat
ngobrol, tapi firasat saya sih sepertinya Arin menaruh hati sama mas Hasan bu. Saya lihat tadi malam mereka terlihat ngobrol berdua di teras depan, hehehe…” jawab Dewi tersenyum.
“Oh ya??? Kok ibu tidak tahu ya, pantesan saja tadi Hasan dan nak Arin terlihat seperti sudah akrab saja. Kok bisa- bisanya mereka duduk berduaan di depan,” ujar bu Harjo mengerutkan keningnya dalam- dalam.
“Saya juga tidak tahu bu, saya tidak
sengaja keluar kamar awalnya berniat mencari Arin karena dia lama tak masuk- masuk kamar katanya haus. Tapi di cari- cari di dapur nggak ada, di ruang tamu juga tidak ada, iseng- iseng saya buka hordeng depan, eh Arin sedang duduk berduaan sama mas Harun,” ungkap Dewi.
“Oooohhh pantes saja kelihatannya
sudah akrab tidak canggung lagi, hehehe…” ujar bu Harjo terlihat senang.
Pak Harjo dan Hariri hanya senyum-
senyum saja mendengarkan percakapan Dewi dan bu Harjo. Pak Harjo sendiri merasa sangat senang kalau Hasan sudah menemukan tambatan hatinya, apalagi wanita itu
adalah Arin. Begitu pula dengan Hariri, jauh di dalam benaknya dirinya sangat
bersyukur sekali jika kakaknya menikah dengan Arin, sebab secara otomatis Dede akan menjadi keponakannya. Dan itu berarti nazar Hariri terbayar kontan, bukan hanya akan mengangkat anak itu menjadi adiknya bahkan secara tidak langsung sudah menjadi keluarganya.
Hariri awalnya sangat terkejut saat
pertama kali melihat Dede, sebab anak kecil tersebut sangat mirip dengan
__ADS_1
seorang anak kecil yang hadir dalam mimpinya di malam kesembuhannya. Hariri sangat yakin kalau Dede adalah anak kecil yang memberikan kesembuhan pada sakitnya
yang diutus oleh Gusti Allah untuknya.
Tok… tok… tok…
“Assalamualaikum, pak Harjo…”
Tok… tok… tok…
“Assalamualaikum, pak Harjo…”
Suara ketukan pintu dan suara salam
dari depan rumah seketika membuat obrolan yang penuh kebahagiaan itupun terhenti. Mereka saling berpandangan satu sama lain, karena sura ketukan dan suara salam tersebut bukan hanya terdengar dari satu orang saja melainkan lebih dari tiga orang.
Buru- buru pak Harjo segera bergegas
kedepan untuk menemuinya, sementara bu Harjo, Dewi dan Hariri nampak masih terlihat bingung dan bertanya- tanya. Kira- kira tamu siapa pagi- pagi begini datang ke rumahnya.
Kreteeeekkkk…
Suara pintu dibuka oleh pak Harjo
dari dalam. Begitu pintu terbuka pak Harjo mendapati tiga orang berdiri di
depan pintu, ketiganya adalah pak Bekel bersama seorang pamong desa lainnya serta pak Yudi yang merupakan ketua RT setempat. Namun bukan karena ketiga orang itu yang membuat pak Harjo terkejut, melainkan melihat puluhan warga telah berkumpul di halaman depan rumahnya yang didominasi oleh ibu- ibu.
“Ada apa ini pak Bekel?!” tanya pak
Harjo heran.
“Maaf sebelumnya pak Harjo, saya
mewakili warga untuk menyampaikan keluhan warga yang melaporkan bahwa ada perempuan yang menginap disini, apa betul begitu pak?” terang pak Bekel.
“I, iya benar. Dan mereka itu
kerabat jauh saya, kenapa memangnya pak?”
“Bohooong…!!!”
“Bohooong…!!!”
“Bohooong…!!!”
Teriak para warga yang kebanyakan
ibu- ibu dengan suara lantang. Pak Harjo tak habis pikir, kenapa warga
mempermasalahkan keberadaan Dewi dan Arin. Padahal pak Harjo sendiri sudah memberitahukan hal tersebut sebelumnya kepada pak Purnama selaku kepala desanya langsung diacara syukuran kemarin.
“Saya lihat tadi malam Hasan sedang
berduaan dengan perempuan itu! Mereka terlihat saling berpegangan tangan!” teriak seorang ibu- ibu.
“Usir saja!”
“Usir dari desa kita!”
Suara teriakkan- teriakkan itu kian
gaduh, hingga terdengar oleh bu Harjo, Dewi, Hariri, Arin serta Hasan yang
__ADS_1
berada didalam rumah. Mereka pun buru- buru keluar menuju teras rumah menyusul pak Harjo sendirian seolah- olah menjadi terdakwa dihadapan warga.* BERSAMBUNG