
Istana Siluman Monyet, 8 hari menjelang Purnama.
Manusia bernama Kosim menjadi satu-satunya golongan manusia yang membuat Raja Kalas Pati murka. Kosim dianggap manusia ingkar dan melawan perjanjian gaibnya hingga membuat murka Raja Kalas Pati yang mengakibatkan para Petinggi dan prajurit siluman monyet banyak yang musnah saat melakukan upaya penjemputan nyawa tumbal.
Berbagai siasat sudah coba dilakukan namun setiap kali dijalankan semua upayanya selalu gagal bahkan banyak prajuritnya musnah.
Namun kini berbeda, Raja Kalas Pati nampak sedang bersuka cita memperlihatkan aura kemenangan di wajahnya yang buruk dan menyeramkan.
Di ruang utama istana, seluruh para Petinggi Siluman Monyet berkumpul. Para Petinggi itu terbagi dalam dua kelompok berdiri rapih di sisi kanan dan kiri membuat lorong jalan ditengahnya.
Ditengah-tengah diantara dua kelompok barisan itu terlihat salah satu monyet siluman perempuan setengah membungkuk hormat sedang manghadap Raja Kalas Pati.
"Anggada Gini, bagaimana dengan siasatnya. Apakah berjalan sesuai rencana?!" Seru Raja Kalas Pati pada siluman monyet perempuan dihadapannya.
"Ampun Paduka Junjungan Kami. Manusia bernama Kosim mulai putus asa dengan memberinya musibah dan kami sudah pengaruhi untuk tidak tinggal di rumah manusia bernama Mahmud. Sekarang calon budak kita berada ditempat yang mudah untuk kita menjeputnya, Paduka." Kata Anggada Gini.
"Bagus! Bagus! Rencana berubah tidak menunggu Purnama tiba! Sekarang cepat tebarkan hasutan kepada golongan manusia disekitarnya dan suruh untuk menghabisinya. Siapkan pasukan untuk menjemput nyawanya!" Seru Kalas Pati menyeringai memperlihatkan taring-taringnya yang besar dan tajam.
"Baik Paduka Junjungan Kami. Segera laksanakan!" Seru Anggada Gini.
"Hahahahaha... Hahahaha... Rasakan penderitaanmu Kosiiiiiiim...!!!" Suaranya besar dan sember mengema menggetarkan seantero ruangan utam istana.
"Hu! Hu! Hu! Hu! Hu! Hu!"
"Hu! Hu! Hu! Hu! Hu! Hu!"
"Hu! Hu! Hu! Hu! Hu! Hu!"
"Hu! Hu! Hu! Hu! Hu! Hu!"
Disambut teriakkan seluruh Petinggi siluman monyet mengiringi suka cita Rajanya sambil menghentak-hentakkan kaki dan mengacung-acungkan senjatanya keatas.
\=\=\=\=\=\=\=\=≈\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ke-7 menjelang Purnama tiba,
Kosim sudah kembali bekerja sebagai kuli bangunan di proyek perumahan di kota. Tidak biasanya sepanjang kerja hari itu pikiran Kosim merasa tidak tenang, hatinya diliputi rasa was-was tanpa diketahui sebabnya.
"Sim! Yang itu jangan dulu dilabur semen, itu kan belum diratakan dengan adukkan lagi," seru Juned dari bawah.
Kosim terkesiap kaget, dia baru menyadari yang dikerjakannya itu salah.
"Astagfirullah, kenapa saya laburi semen?" Gumam Kosim yang merasa heran sendiri.
"Iya iya Ned, aduh saya lupa!" Sahut Kosim yang berdiri diatas tangga monyet.
"Udah, udah Sim turun. Waktunya pulang nanti besok lagi dilanjutin," seru Juned.
Hari sudah beranjak senja. Kosim melihat semua pekerja sudah menghentikan pekerjaannya, dia pun bergegas turun dan melangkah menuju kamar mandi mess untuk membersihkan diri sebelum pulang.
Sepanjang jalan pulang, perasaan Kosim diliputi kegelisahan yang teramat sangat, jantungnya berdegub tidak normal ada perasaan deg-degan yang semakin kuat namun dia sendiri tidak tahu sebabnya.
Diatas sepda motor pikiran Kosim kian gundah dipenuhi kecemasan tanpa sebab. "Ada firasat apa ya?" Kosim bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
Hari sudah mulai temaram memasuki waktu Magrib, Kosim terus memacu sepeda motornya. Semakin dekat jarak ke rumahnya jantung Kosim semakin berdebar kencang. Perasaannya semakin tidak enak.
Ketika mulai memasuki gang menuju rumahnya dari jarak 20 meter Kosim melihat banyak orang memenuhi jalan gang.
"Sepertinya orang-orang itu berekerumun didepan rumah saya," gumam Kosim.
Begitu Kosim mendekati rumahnya, beberapa orang yang melihat langsung berteriak.
"Itu Kosim! Itu Kosim!"
Semua orang yang memenuhi halaman rumah Kosim spontan menoleh kearah Kosim yang datang menaiki sepeda motor. Sorot mata orang-orang itu menatap tajam kearah Kosim penuh dengan kebencian.
"Tenang... tenang... tenang!" Beberapa orang berseru sembari mengangkat tangannya.
"Ada apa pak RT?!" Tanya Kosim heran, diberhentikan sebelum masuk ke halaman rumahnya.
Puluhan warga penuh dengan wajah marah langsung mènggeruduk kearah Kosim dan melingkarinya. Kosim langsung dirangkul Pak RT untuk melindunginya.
"Tenang! Tenang! Jangan main hakim!" Teriak Pak RT mengangkat tangannya.
Kosim turun dari sepeda motornya langsung dirangkul oleh Pak RT dengan dibantu dua orang perangkat desa yang turut mengamankan Kosim.
"Ada apa Pak RT?!" Kosim terus-menerus bertanya heran dengan wajah memucat melihat puluhan warga yang nampak marah dengan dirinya.
Beberapa warga nyaris tidak dapat menahan emosinya begitu melihat Kosim. Mereka merangsak berusaha melayangkan pukulan ke kepala Kosim namun dihalang-halangi oleh dua orang perangkat desa.
Kosim terus berada dalam rangkulan Pak RT yang melindunginya. Pak RT membawa Kosim menerobos kerumunan warga dengan susah payah dibantu dua pamong desa menuju rumahnya.
Seorang warga tiba-tiba mengantam kepala Kosim dari belakang luput dari penjagaan Pak RT dan dua pamong desa.
"Aduh!!!" Kosim spontan berteriak kesakitan sambil menunduk memegangi kepalanya.
Melihat ada yang mengawali, beberapa warga lainnya bertambah beringas merangsak lalu menendang perut Kosim.
"Aduh!" Jerit kesakitan Kosim diantara teriakkan warga yang mulai liar memburu ingin menghajarnya.
Kosim jatuh terduduk menahan perutnya yang sakit terkena tendangan. Rangkulan Pak RT pun terlepas karena terdesak-desak warga yang terus merangsak.
Dua orang pamong desa mati-matian berusaha keras melindungi Kosim dari amukkan warga. Pak RT dan dua perangkat desa kemudian mendekap rapat melindungi tubuh Kosim sembari terus berjalan merangsak diantara kerumunan warga untuk masuk rumah.
"Usir dia Pak!"
"Dasar ngepet!"
"Pergi kamu Sim!"
"Usir Pak!"
"Ngepet!"
"Nyupang!"
Teriakan caci maki warga bersahutan mengiringi Kosim masuk rumah.
__ADS_1
"Sudah, sudah! Bubar, bubar!" Teriak Dua pamong desa dari atas teras rumah Kosim.
Kosim berhasil masuk rumah dalam perlindungan Pak RT. Kosim dan Pak RT duduk lemas didalam ruang tamu. Wajahnya masih terlihat panik dan ketakutan melihat warga berkerumun mulai beringas di halaman rumah.
Beruntung bagi Kosim andai tidak mendapat perlindungan dari perangkat desa mungkin dia menjadi bulan-bulanan bahkan bisa meregang nyawa dianaya warga.
"Ayo bubar, bubar! Biar kami urus, ayo kembali ke rumah masing-masing!" Seru salah satu pamong desa.
Beberapa saat kemudian sebagian besar warga perlahan-lahan mulai membubarkan diri. Beberapa orang ibu-ibu terlihat masih enggan meninggalkan halaman rumah Kosim.
"Ibu-ibu sudah, sudah pulang saja biar kami yang mengurusnya." Kata pamong desa.
"Ya asalkan Kosim pergi dari kampung ini!" seru salah seorang ibu-ibu dengan geram.
"Iya pergi dari sini!" teriak yang lainnya.
"Iya iya, nanti saya sampaikan! Sudah, ayo pulang!" sergah perangkat desa.
Akhirnya beberapa ibu-ibu beranjak pergi dari halaman rumah Kosim dengan cibirannya.
Sepeninggal ibu-ibu tadi, datang Kepala Desa berboncengan dengan seorang perangkatnya.
"Gimana keadaannya Lim?" Tanya Kepala Desa kepada salah satu pamong desa bernama Salim.
"Alhamdulillah terkendali Pak Kuwu. Walau sempat terjadi penganiayaan tapi tidak berlangsung lama berhasil dicegah." Jawab Halim.
"Monggo masuk Pak Kuwu. Kosim ada didalam bersama Pak RT." sambungnya.
Kepala Desa pun lantas masuk rumah, "Assalamualaikum..." ucap Kepala Desa.
"Waalaikumsalam, monggo Pak Kuwu," sahut Kosim dan Pak RT.
"Gimana kondisimu Sim?" Tanya Kepala Desa sambil duduk di kursi seberang meja menghadap Kosim dan Pak RT.
"Yah nggak apa-apa Pak Kuwu. Untung ada Pak RT dan Pak Salim sama Pak Kardi yang melindungi saya," jawab Kosim pasrah.
"Arin dan Dede kemana?" Tanya Kepala Desa celingukkan.
"Saya nggak tau Pak Kuwu, saya juga baru pulang kerja didepan rumah sudah banyak orang," jawab Kosim.
"Arin dan Dede diamankan di rumah Mak Ijah Pak Kuwu. Saat mendengar warga mau menggeruduk rumah Kosim saya cepat-cepat kesini dan langsung menyuruh Arin sembunyi di rumah Mak Ijah sebelum warga datang." terang Pak RT.
"Syukurlah kalau begitu. Sim, punten pisan. Sebenarnya gimana? Apa betul yang dituduhkan warga kalau kamu melakukan nyupang monyet?" Tanya Kepala Desa.
"Demi Allah Pak Kuwu, saya berani di sumpah apapun saya tidak pernah melakukannya." Jawab Kosim tanpa ragu-ragu.
Kemudian Kosim menjelaskan semuanya. Dia menceritakan semua yang dilakukannya dari awal, sebab musabab nekad datang ke gunung Ng, ritual gagal hingga teror-teror yang menghantuinya.
"Kalau semisal Pak Kuwu, Pak RT tidak percaya ataupun warga yang merasa dirugikan nanti Abah Dul dan Mas Mahmud yang menjelaskannya." ucap Kosim.
"Iya, iya... Kalau saya percaya Sim dan urusan warga biar saya dan perangkat desa akan memanggil warga yang gegernya merasa kehilangan uang." Kata Kepala Desa.
"Terima kasih banyak Pak Kuwu, Pak RT," ucap Kosim.
__ADS_1
......................