
Ketika Dewi menunjuk ke salah satu dari tiga penjahat, dia terkejut luar biasa. Begitu juga dengan Arin, secara bersamaan kakak beradik itu melihat wajah penjahat yang tergeletak di bawah tong sampah dengan begitu jelas. Wajah orang itu tampak tak asing bagi Arin dan Dewi!
“Apa tujuan mereka?!” gumam Dewi.
"Mbak, itu....." ucap Arin dengan tangan gemetaran menunjuk orang yang sama.
Tak butuh waktu lama masa tampak mulai berdatangan dari berbagai arah ke tempat kejadian dengan cepat. Masa yang datang tidak semuanya mengetahui kejadian yang sebenarnya, sebagian besar mereka tertarik melihat orang- orang di pasar berlarian ke lokasi kejadian. Sebagian lagi penasaran dengan kerumunan masa yang membentuk lingkaran sedang melihat ke arah Hasan, Dewi, Arin dan ada 4 orang tergeletak yang menjadi pusat perhatiannya.
3 orang yang tergeletak masih tampak bergerak menggeliat- geliat menahan rasa sakit. Sedangkan satu orang yang tergeletak didekat tong sampah kelihatannya tidak bergerak sama sekali, namun dadanya masih tampak kembang kempis menandakan dia hanya pinsan.
Rombongan masa yang pertama kali datang ke tempat kejadian karena mendengar teriakkan adanya perampokan, langsung merangsak ke tempat 3 orang yang terkapar dengan kepala terbungkus helm yang menggeliat- geliat menahan kesakitan. Tanpa ada yang mengomandoi masa langsung menghajar ketiga komplotan rampok tersebut sehingga tampak membentuk tiga kerumunan masa dengan masing- masing mengeroyok satu pelaku.
Buk !!!
Buk !!!
Buk !!!
Buk !!!
“Mampus!!!”
“Rasain!!!”
Buk !!!
Buk !!!
“ampuuun…”
“ampuuun…”
“ampuuun…”
Ketiga pelaku perampokkan hanya bisa mengerang- ngerang kesakitan meringkuk sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Masa semakin banyak yang datanga lalu ikut- ikutan memukul, menendang para pelaku dengan berutal dan nampak ingin sekali menghabisi para pelaku perampokkan tersebut.
Dor…!
Dor…!
__ADS_1
Dor…!
Tiba- tiba terdengar suara letusan senjata api sebanyak tiga kali, seketika aksi masa yang mengeroyok ketiga pelaku langsung berhenti dan tersurut mundur dengan wajah terkejut.
“Berhenti…! Berhenti…! Berhenti…!” teriak salah seorang dengan cukup keras.
Masa yang sudah semakin banyak berkumpul seketika menoleh ke sumber suara. Dua orang anggota polisi menyeruak diantara kerumunan masa sambil mengacungkan pistol yang tadi diletuskan sebanyak tiga kali ke udara sebagai peringatan.
“Sudah! Sudah jangan main hakim sendiri! Biar kami yang mengurusnya lebih lanjut!” tegas seorang anggota polisi, kemudian langsung meringkus 3 orang komplotan rampok. Satu orang yang pelaku yang tergeletak pinsan langsung di gotong kedalam mobil polisi dengan dibantu massa.
“Bapak dan ibu- ibu mohon ikut kami ke kantor untuk membuat laporan sekaligus keterangannya,” pinta anggota polisi pada Hasan.
Sementara itu Hasan tampak terbengong- bengong melihat kesana kemari dari satu pelaku ke pelaku lainnya dengan tatapan bingung. Hingga pandangan matanya tertuju pada salah satu pelaku yang helmnya terlepas. Hasan kontan terkesiap melihat orang tersebut dengan mata membelalak lebar.
“Pak Bekel?!” gumam Hasan dengan suara tertahan, pandangannya nanar mengikuti sosok tubuh kurus sedang digotong keatas mobil bak terbuka.
Kebingungan Hasan emnjadi berlipat ganda, bukan hanya karena orang yang pinsan dan digotong ke dalam mobil tersebut merupakan orang yang dikenalnya melainkan Hasan masih belum mengerti dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini.
“Kenapa banyak sekali orang- orang berkerumun disini? Dan nampaknya mereka semua sangat marah dengan empat orang itu,” ucap Hasan dalam hati.
Hasan termangu menatap kosong mobil polisi yang bergerak meninggalkan parkiran pasar, dan juga satu demi satu orang- orang yang mengerumuni tempatnyua berdiri pun mulai pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Ditanya Arin seperti itu Hasan tak langsung menjawab, bahkan Hasan terlihat semakin bingung dengan pertanyaan Arin tersebut. Dengan reflek Hasan melihat sekujur badannya sendiri untuk memeriksa kondisi anggota tubuhnya, walau pun tubuhnya tak merasakan ada yang sakit sama sekali.
“Mas! Mas Hasan kenapa? Kok sepertinya mas Hasan sangat bingung?” ujar Arin turut merasa heran melihat ekspresi Hasan.
Hasan masih diam tergagu, dirinya benar- benar masih belum mengerti dengan situasi dan kondisi seperti yang di tanyakan Arin. Hasan merasa yang ada didalam ingatannya hanyalah pada saat ketika ada seseorang yang menodongnya dari belakang dan setelah itu Hasan merasa tidak ada apapun yang dilakukannya. Hasan sendiri baru tersadar setelah sosok putih keluar dari dalam tubuhnya melalui ubun- ubun
dan mendapati disekelilingnya sudah banyak dikerumuni orang serta ada 4 orang yang sudah terkapar itu pun yang Hasan tahu karena di keroyok oleh massa.
“Sss, sa, saya tidak apa- apa kok Rin,” jawab Hasan masih terlihat kebingungan melihat kondisinya sendiri.
“Wah, mas Hasan hebat!” ujar Dewi tersenyum bangga menatap Hasan.
“Hebat?! Hebat apanya ya mbak?!” Hasan malah balik bertanya kian bingung.
“Iya, tadi mas Hasan menghajar orang- orang jahat itu mas!” seru Arin.
“Hah?! Menghajar orang- orang jahat?! Kapan?!” Hasan mengerutkan keningnya dalam- dalam.
__ADS_1
Seketika Arin dan Dewi saling berpandangan dengan alis masing- masing terangkat. Tetapi sedetik kemudian Dewi dan Arin sama- sama tersenyum bangga, kakak beradik itu mengira kalau Hasan sedang bersandiwara pura- pura tidak merasa telah melumpuhkan 4 orang perampok.
“Ya sudah yuk, kita diminta ke kantor polisi untuk memberikan laporannya,” ujar Dewi mencairkan suasana yang kaku.
Hasan pun hanya menuruti perkataan Dewi, kemudian ketiganya memasuki mobil. Di dalam mobil, Dede yang tertidur di jok tengah langsung terjaga dari tidurnya bersamaan Arin duduk karena pahanya menyenggol kepala Dede yang tergolek di jok mobil.
“Bun, mana orang jahatnya?” tanya Dede malas- malasan.
Arin mengerutkan keningnya, pikirannya berkecamuk mengingat- ingat saat komplotan perampok itu beraksi. Bukankah Dede tidak melihatnya? Karena pada saat kejadian itu Dede tertidur? Benak Arin bertanya- tanya keheranan. Bagaimana Dede tahu kalau ada perampokkan?
“Udah ketangkap De, wah mas Hasan hebat loh De. Mas Hasan yang ngalahin 4 orang jahat itu,” ungkap Arin sumringah sekaligus bangga.
“Horeee… ayah Hasan hebat! Ayah Hasan hebat!” teriak Dede langsung duduk dan melonjak- lonjak kegirangan.
Hasan dalam kebingungannya hanya tersenyum kaku mendengar sorakkan Dede. “Saya yang menghajar pak bekel dan ketiga temannya?!” gumamnya dalam hati.
“Mas apakah pak Bekel dendam sama Dede ya?” tanya Dewi memikirkan salah satu pelaku.
“Entahlah mbak, saya masih belum mengerti mbak,” sahut Hasan asal karena di dalam isi kepalanya masih memikirkan ucapan Dewi dan Arin kalau dirinya yang menghajar para penjahat.
Kantor polisi tak begitu jauh dari lokasi pasar. Hanya 10 menitan mobil Hasan sudah memasuki halaman parkir kantor Polsek. Hasan, Dewi, Arin dan Dede segera turun dan berjalan memasuki kantor polisi.
“Selamat siang pak, bu. Silahkan duduk,” sambut seorang petugas di balik meja komputer.
“Terima kasih pak,” balas Hasan dan yang lainnya bersamaan.
“Apakah saudara dan saudari yang menjadi korban perampokan di pasar?” tanya petugas.
“Benar pak,” jawab Hasan yang diangguki oleh Dewi dan Arin.
“Bisa diceritakan kronologis kejadiannya?” tanya petugas.
Hasan nampak kebingungan mau menceritakan apa, sehingga ia pun menoleh pada Dewi meminta bantuannya untuk menjawab.
“Mm, begini pak. Sewaktu kami kembali dari berbelanja dan sampai di mobil tiba- tiba saja ada empat orang yang langsung menodong mas Hasan ini pak,” terang Dewi.
“Lalu bagaimana kejadian selanjutnya?” tanya petugas.
“Saat itu ka,” ucapan Dewi tiba- tiba terhenti karena di sela oleh satu suara yang sudah familiar di telinganya.
__ADS_1
“Awas kalian! Terutama anak kecil itu! Pasti akan ada yang menjemput paksa nyawamu!” teriak pak Bekel disaat bersamaan melintas sedang dibawa menuju ke ruang tahanan oleh tiga orang petugas. * BERSAMBUNG