
Usai Abah Dul menceritakan perjalanan spiritualnya, tiba- tiba terdengar sebuah mengucap salam dari luar rumah.
“Assalamualaikum...”
“Wa ‘alaikum salam...” sahut Mahmud dan Abah Dul bersamaan.
“Itu Gus Harun datang Mud,” susul Abah Dul.
Mahmud bergegas beranjak untuk membukakan pintu, diiringi Abah Dul dan Kosim dengan wujud tak kasat mata dibelakangnya.
Kreeeteeekkk...
Di teras depan seorang pria muda dengan rambut gondrong sebahu memakai kopyah hitam, nampak sedang duduk selonjoran bersandar pada tiang rumah.
Disampingnya tergeletak tas ransel warna hitam dan sebotol air mineral berukuran sedang.
“Alhamdulilah, Gus sama siapa?” Ucap Abah Dul begitu melihat Gus Harun.
“Loh kok duduk di teras Gus, monggo monggo masuk...” timpal Mahmud.
Gus Harun yang duduk di teras dengan wajah lelah sedikit terkejut mendengar sapaan Abah Dul dan Mahmud.
Raut wajah Gus Harun tampak sangat letih setelah menempuh perjalanan jauh yang memakan waktu hingga 15 jam.
Meski berangkat dari kediamannya sekitar pukul 6 pagi, tetapi perjalanan menuju terminal hingga menaiki bus sendiri butuh 2 jam.
Jadinya kalau di hitung- hitung jarak waktu dari Banten menuju kediaman Mahmud terhitung 15 jam sudah termasuk menghitung kemacetan di jalan.
“Alhamdulillah sendiri Dul, kang Mahmud,” jawab Gus Harun kemudian ketiganya berjabat tangan.
"Mas Kosim?!" Gus Harun terkesiap melihat sosok Kosim terlihat dibelakang Abah Dul dan Mahmud.
"Njih Gus," ucap Kosim singkat.
"Mari, mari masuk..." ajak Mahmud.
Mahmud bergegas membantu membawakan tas ransel besar yang tergeletak di teras samping Gus Harun.
“Sudah, sudah nggak apa- apa kang Mahmud, nggak usah repotin,” sergah Gus Harun saat Mahmud hendak mengangkat tas ranselnya.
“Biar Gus, nggak ngerepotin kok,” Mahmud memaksa tetap membawakan tas ransel masuk kedalam.
Kemudian mereka bertiga duduk di kursi ruang. Malam masih belum larut, jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam.
__ADS_1
“Gus punten, mau minum apa?” tanya Mahmud sesaat setelah Gus Harun duduk.
“Mm, ada es ngga kang?” Gus Harun balik tanya.
“Kalau es nggak pernah sedia, adanya air kulkas Gus,” jawab Mahmud senyum simpul.
“Oh, ya udah nggak apa- apa kang. Hatur nuwun njih,” ucap Gus Harun.
“Njih, njih Gus, boten napa- napa,” balas Mahmud kemudian berlalu dari ruang tamu.
Setelah Mahmud tak terlihat masuk kedalam, Gus Harun baru menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Abah Dul.
Awalnya Gus Harun hanya meliriknya sekilas karena merasakan aura yang begitu kuat terpancar dari tubuh Abah Dul, tetapi saking penasarannya ia pun terang- terangan menatap dengan seksama.
“Apa sih Gus, kaya lihat Salamah aja,” seloroh Abah Dul yang menyadari di tatap Gus Harun.
“Hahahaha... Dul, Dul ente masih inget sama Salamah aja, hahahaha...” derai tawa Gus Harun membucah memenuhi ruang tamu.
“Ya inget lah Gus, lah wong saya yang jomblangin. Yang bikin surat saya, yang nganterin juga saya, gimana bisa lupa, hahahaha...” kelakar Abah Dul.
Beberapa saat Gus Harun teralihkan perhatiannya tentang aura itu. Ia tergelak oleh kelakar Abah Dul yang mengingatkannya pada masa- masa di pesantren dulu.
“Kenapa sih Gus, memperhatikan saya begitu?” tanya Abah Dul setelah tawa Gus Harun berhenti.
“Ane lihat, ada yang berbeda dari ente,” ucap Gus Harun.
Ucapan Gus Harun mengingatkan kembali ucapan yang sama keluar dari Mahmud sebelumnya. Sebenarnya ia sendiri tak begitu memperhatikan perbedaan pada dirinya seperti yang diungkapkan Mahmud dan Gus Harun.
“Apanya yang beda Gus?” tanya Abah Dul.
“Aura ente itu loh lebih kuat dari sebelumnya. Pasti ente mendapat ujian perjalanan spiritual ya,” ujar Gus Harun.
Wajah Abah Dul mendadak terkesiap, dugaan sahabat alumni pesantrennya itu memang tak meleset sama sekali. Abah Dul benar- benar kagum dengan sensitifitasnya yang luar biasa.
Meski pun sudah sejak dulu Abah Dul sudah mengetahui bakat spiritual yang dimiliki Gus Harun, namun baru sekarang ia benar- benar mempercayai sepenuhnya.
Jika dulu semasa di pesantren, bakat kesensitif-an Gus Harun hanya dianggapnya sebagai candaan bersama dua sahabat lainnya, Basyari dan Baharudin.
Abah Dul teringat dengan salah satu yang diungkapkan Gus Harun ketika itu.
“Dul, ane lihat aura ente sekarang berwarna hijau, ente lagi demen siapa sih?” seloroh Gus Harun di kamar pondokkan.
Saat itu Abah Dul terkejut dengan ucapan Gus Harun itu. Sebab tak dapat dipungkiri, memang ketika itu dirinya sedang menyukai salah satu santri putri.
__ADS_1
Tapi karena merasa malu, dirinya hanya berkilah dengan candaan, “Sok tau ente, kaya dukun, hahahaha...”
Dan ucapan Gus Harun tentang aura itu muncul kembali saat ini. Dan kali ini dirinya benar- benar mempercayai sepenuhnya kalau itu merupakan bakat spiritual yang dimiliki Gus Harun.
Bukan hanya itu saja Gus Harun sering kali mengungkapkan apa yang di rasakan dan dilihatnya, hanya sekedar untuk mengingatkan teman- temannya.
Belum sempat Abah Dul menjawabnya, Mahmud muncul dengan membawa 1 botol air putih dingin dan segelas air yang sudah terisi diatas baki.
“Waah, ngobrolin apa nih? Kayaknya seru banget,” sela Mahmud sambil menaruh minuman di hadapan Gus Harun.
“Ini loh Mud, Gus Harun nanya kayak ente tadi. Katanya ane ada yang beda,” ujar Abah Dul.
“Lah, emang iya ya Gus. Saya merasakan ada sesuatu apa gitu, iya kan Gus?” Kata Mahmud.
“Benar kang, wah, wah... ente juga kang sudah meningkat pesat, sudah banyak kemajuan sekarang...” ungkap Gus Harun.
“Ah, yang benar sih Gus?” sergah Mahmud.
“Nah, betul betul betul. Ane belum sempat mengutarakan itu, eh keburu dia yang nanya duluan...”
"Iya benar mas, saya juga melihatnya," sela Kosim yang sedari awal hanya diam memperhatikan saja.
Akhirnya Abah Dul pun kembali menceritakan sewaktu menjalani perjalanan spiritualnya kepada Gus Harun setelah Gus Harun mendesaknya.
Mahmud kembali menyimak cerita yang sama yang sebelumnya Abah Dul ceritakan. Gus Harun nampak manggut- manggut merasa terkesan dengan cerita itu.
Setelah ngobrol banyak, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
“Ya sudah Mud, ane pamit pulang dulu. Dan Gus Harun biar istirahat di rumah ane aja ya,” ucap Abah Dul.
"O iya, Sim ente nggak apa- apa disini dulu kan?" sambung Abah Dul.
"Iya Bah," sahut Kosim.
“Oh, iya deh kalau begitu,” balas Mahmud.
Abah Dul dan Gus Harun pun keluar dari rumah Mahmud. Suasana malam di luar kian terlihat cerah oleh bias kekuning- kuningan terangnya bulan menjelang bulan purnama.
Sepeninggal Gus Harun dan Abah Dul, tanpa disadari oleh Mahmud dan Kosim ada sesosok bayangan hitam bersembunyi dibalik pohon mangga di samping rumah Mahmud.
Melihat Abah Dul dan Gus Harun meninggalkan rumah Mahmud, sosok bayangan berbaju hitam itu menyeringai senang.
"Hmmm, bagus! bagus! hahaha..." gumam sosok bayangan hitam itu.
__ADS_1
......................