
Setelah Hasan kembali duduk di sebelah bapaknya, kini giliran Hariri yang beringsut maju mendekati Dewi untuk bersalaman dan mengenalkan diri.
"Saya Hariri mbak Dewi," ucap Hariri mencium tangan Dewi.
"Oh ini dek Hariri? Gimana keadaannya sekarang dek?" tanya Dewi.
"Njih mbak," sahut Hariri kemudian beringsut ganti kehadapan Arin.
"Saya Hariri, mbak Arin," ucap Hariri santun juga mencium tangannya saat bersalaman. Hal itu dilakukan sebagai rasa hormat kepada orang yang lebih tua darinya.
"Njih Dek Hariri, jaga kesehatan ya," ucap Arin.
"Njih mbak," sahut Hariri, lalu beringsut hendak kembali ke tempatnya.
"Ini anak saya Dek, namanya Dede," cegah Arin membuat Hariri tak jadi kembali ketempatnya duduk.
Hariri spontan melihat arah yang dutunjukan Arin pada seorang anak kecil yang duduk anteng di pangkuan ibunya.
Deg...!!!
Seketika jantung Hariri berdegub keras saat matanya melihat kearah Dede yang sedang asyik sendiri memainkan jemarinya yang mungil.
"Saya sepertinya pernah melihat anak kecil ini, tapi... Dimana ya?" batin Hariri bertanya- tanya.
Hariri tertegun memandangi Dede, otaknya berpikir keras mengingat- ingat tentang anak kecil yang sedang duduk di pangkuan ibunya sendiri itu. Wajah anak kecil itu seperti tidak asing lagi dipikirannya.
"Har melalui anak inilah kamu bisa sembuh seperti sekarang ini," bisik ibunya.
Sekujur tubuh Hariri langsung bergetar hebat mendengar bisikan ibunya. Antara percaya dan tidak yakin, saat Hariri tiba- tiba teringat dengan sosok anak kecil yang hadir dalam mimpinya di malam kesembuhannya.
"Ja, jadi anak dalam mimpi itu..." gumam Hariri memandangi lekat- lekat wajah Dede yang tampak acuh tak acuh dengan tingkah anak- anaknya.
__ADS_1
Merasa sedang ada yang menatapnya, Dede tiba- tiba menoleh kearah Hariri. Tetapi hanya sesaat saja lalu kembali dengan dunianya sendiri memainkan jemarinya dan mengacuhkan Hariri.
"Kakak harus banyak minum air putih tuh," ucap Dede tiba- tiba dengan ekspresi acuh tak acuh sambil menunjuk botol air mineral yang ada dihadapannya.
Hariri seketika kembali tertegun mendengar suara anak kecil itu. Kini didalam batinnya merasa sangat yakin seribu persen kalau anak kecil dihadapannya itu adalah sosok anak yang ada di dalam mimpi.
"Suaranya sama persis dengan yang ada di dalam mimpi. Suaranya menggetarkan hati, dan rasa getaran itu sama seperti di mimpi itu," kata Hariri dalam hati.
Hariri langsung mengambil botol air mineral yang ditunjuk Dede. Ia merasa seperti ada yang menuntunnya untuk mengambil botol air mineral tersebut. Entah mengapa didalam hatinya terlintas pemikiran kalau botol air mineral yang ditunjuk anak kecil itu adalah obat untuk dirinya.
"Ma, makasih ya De," ucap Hariri dengan suara bergetar.
Pak Harjo, pak Diman, Arin, Bu Harjo dan Dewi seperti memahami apa yang dilakukan oleh Hariri yang langsung mengambil botol air mineral yang di tunjuk Dede.
Mereka sangat mempercayai dari setiap ucapan Dede adalah suatu kenyataan. Sebab mereka sama- sama sudah mengalaminya sendiri.
Kalau pak Harjo dan Bu Harjo begitu mempercayai ucapan Dede karena sudah terbukti dengan sembuhnya Hariri. Sedangkan pak Diman sudah dua kali mendapati ucapan Dede itu menjadi kenyataan. Yang pertama kesembuhan istrinya dan yang kedua baru saja dialami bersama Dewi dan Arin saat perjalanan tadi.
"Saya sudah berjanji jika ketemu dengan anak itu akan saya angkat jadi adik saya sendiri," ucap Hariri dalam hati teringat dengan sumpahnya.
"Mungkin setelah acara ini selesai," ucapnya dalam hati sambil tertunduk menekuri mengingat sumpahnya sendiri.
"Nah itu Kepala Desa datang bersama pak kiyai," kata Pak Harjo memberi isyarat kearah datangnya pak Purnama dan Kiyai Ahmad yang sedang berjalan menuju ke tempat Pak Harjo dan yang lainnya duduk.
Semuanya serentak berdiri untuk menyambut kedatangan Kepala Desa dan Kiyai.
"Assalamualaikum..." ucap Kiyai Ahmad dan pak Purnama nyaris bersamaan begitu sampai di hadapan Pak Harjo dan yang lainnya.
"Wa alaikum salam..." sahut Pak Harjo dan yang lainnya serempak.
"Mari, mari silahkan Kiyai, pak Pur..." sambut Pak Harjo menunjukkan tempat yang sudah disediakan.
__ADS_1
Kiyai Ahmad dan pak Purnama duduk menempati tempat yang telah disediakan setelah menyalami Pak Harjo dan yang lainnya satu persatu.
Melihat pak Purnama dan kiyai Ahmad sudah menempati tempatnya, Pak Harjo pun segera memberi isyarat pada Hasan untuk memulai acaranya.
Hasan mengangguk mengerti dan langsung beringsut ke tengah- tengah teras yang dijadikan sebagai panggung utamanya. Lalu mengambil mikropon yang sedari tadi tergeletak diatas karpet dan sudah siap digunakan.
"Tes... Tes.. Tes..." suara Hasan langsung menggema terdengar keluar melalui sound sistem yang terpasang di luar halaman.
Suara- suara para warga yang tadinya terdengar riuh ramai, seketika langsung senyap begitu mendengar suara dari sound sistem.
"Assalamulaikum warohmatullahi wabarokatuh..." ucap Harun mulai membuka acara.
"Wa alaikim salam warohmatullahi wabarokaaatuh..." sahut para warga terdengar membahana seperti suara akapela dalam jumlah raksasa.
"Yang terhormat bapak Kepala desa Palu Wesi beserta jajarannya, yang terhormat Kiyai Ahmad, yang terhormat bapak- bapak, ibu- ibu dan seluruh warga masyarakat desa Palu Wesi. Saya atas nama bapak Harjo dan keluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada seluruh warga desa Palu Wesi yang sudah memenuhi undangan kami," kata Hasan yang bertugas sebagai pembawa acara.
Hasan kemudian menjelaskan maksud dan tujuan diselengarakannya acara tersebut kepada warga masyarakat yang telah datang memenuhi undangan keluarganya.
Acara pun berlanjut dengan diisi tausiyah oleh Kiyai Ahmad sebagai acara penutup sekaligus memimpin doa syukuran yang dikhususkan sebagai Nazar dari Pak Harjo atas kesembuhan putranya.
Tausiyah yang disampaikan Kiyai Ahmad tak terlalu lama sekitar 15 menitan yang kemudian dilanjutkan dengan doa.
Setelah selesai berdoa, langsung dilanjutkan dengan pembagian makanan. Puluhan orang yang ditugaskan sebagai panitia oleh Pak Harjo langsung menyebar membagikan makanan yang dikemas kedalam kotak satu persatu.
Suasana seketika menjadi riuh saat pembagian makanan. Mungkin mereka takut tidak kebagian, padahal Pak Harjo sengaja menyiapkannya lebih banyak dari jumlah warga desa Palu Wesi.
Butuh waktu lumayan lama sampai semua warga yang datang sudah mendapat bagiannya. Namun pada akhirnya dengan banyaknya yang membantu semuanya mendapatkan makanan tersebut.
Suasana pun sempat sunyi sejenak saat warga mulai menyantap makanannya.
Mereka duduk saling berhadap- hadapan berjajar rapih membentuk barisan sepanjang dan seluas halaman rumah Pak Harjo. Begitupun warga yang berada di luar halaman rumah Pak Harjo memenuhi sepanjang jalan desa yang melintang di depan rumah Pak Harjo.
__ADS_1
Ditengah- tengah keramaian warga menikmati makanan tersebut, ada sesosok mahluk tak kasat mata melayang diatas kepala para warga yang duduk persis searah dengan teras rumah.
Sosok tak kasat mata itu samar- samar menyunggingkan senyum melihat kearah Hariri duduk menikmati makannnya.● BERSAMBUNG