Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KEPULANGAN DEDE


__ADS_3

Kabar kepulangan putra Kosim dari rumah sakit cepat tersebar luas di desa Sukadami. Para tetatangga Mahmud dan beberapa warga berbondong- bondong mendatangi rumah Mahmud, hanya untuk melihat keadaan bocah itu. Sampai- sampai warga desa menyebutnya ‘Bocah Ajaib!’ sebab bocah yang sudah meninggal dan di kubur selama 40 hari itu, kini hidup kembali. Mereka tahu dan melihat secara langsung dengan kepalanya sendiri dari mulai proses penggalian kuburannya hingga melihat jasadnya yang masih.


Dalam sehari sejak peristiwa proses kebangkitan Dede dari dalam kubur tersebut kabarnya sudah menyebar luas. Bukan  hanya masyarakat Desa Sukadami saja yang mengetahui kabar mustahil tersebut melainkan sudah menyebar luas hingga keluar desa bahkan hingga ke warga masyarakat dari kecamatan lain.


Saat kepulangan mereka dari rumah sakit tiba di rumah,  Mahmud beserta Dewi, Arin, Dede, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin sempat terkejut melihat sudah ada puluhan warga yang berkumpul di depan rumahnya. Begitu melihat


Mahmud dan yang lainnya turun dari mobil, semua warga yang berkumpul di depan rumah Mahmud kontan melihat kearah rombongan Mahmud dengan wajah- wajah dibaluti rasa penasaran.


“Mas, ada apa ya? Banyak warga di rumah kita,” tanya Dewi heran sembari melempar pandangannya memperhatikan orang- orang yang duduk di teras rumahnya.


“Saya juga nggak tau Wi,” jawab Mahmud sambil terus berjalan sambil menggendong Dede.


Begitu Mahmud dan rombongannya sampai di depan halaman rumah, buru- buru puluhan warga langsung berdiri berbaris seperti sedang menyambut. Mahmud dan yang lainnya dibuat kian heran dan masih juga belum mengerti kenapa banyak warga mendatangi rumahnya yang bahkan menyambut kedatangan rombangan mereka.


“Assalamualaikum… maaf semuanya bapak- bapak, ibu- ibu, ada apa ini?” ucap Mahmud kepada warga.


“Wa’ ailaikum salam…” sahut warga serempak.


“Maaf kang Mahmud, ini warga pengen melihat keadaan Dede katanya,” jawab pak RT mewakili warga yang langsung di iyakan oleh mereka dengan menganggukkan kepala.


“Betul kang Mahmud, mbak Dewi, Mbak Arin,” timpal salah seorang ibu- ibu.


“Kami sangat penasaran ingin melihat Dede, Mud,” susul Bi Darmi tetangga Mahmud.


“Iya, iya kang…” timpal suara warga lainnya.


Mahmud, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin pun merasa kaget, mereka tidak menyangka kalau peristiwa kebangkitan Dede akan berdampak besar seperti yang terlihat sekarang. Warga masyarakat terlihat sangat penasaran dan antusias sekali sampai- sampai mendatangi kediaman Mahmud.

__ADS_1


Kehidupan di kampung itu rasa solideritas antar warga masih sangat tinggi. Apalagi dengan adanya peristiwa seperti yang terjadi sepanjang pagi tadi.


“Oh, ya alhamdulillah Dede sekarang sudah sehat bapak- bapak, ibu- ibu. Sampeyan- sampeyan lihat kan?” balas Mahmud sambil memperlihatkan Dede pada puluhan warga.


“Mak Darmi itu lagi sakit ayah Mamud,” kata Dede tiba- tiba.


Mendengar ucapan bocah kecil tersebut spontan semua warga menoleh pada Bi Darmi seolah- olah meminta jawaban kebenaran yang diucapkan Dede. Bi Darmi sendiri merasa terkejut mendengarnya, lalu ia pun mengangguk sambil tersipu- sipu malu.


“Iya nak Dede, hehehe…” balas Bi Darmi malu- malu.


Seketika raut wajah semua warga tercengang setelah mendengar jawaban bi Darmi. Ternyata yang diucapkan bocah itu ternyata benar, sehingga terlintas dalam benak mereka kalau anak itu memiliki keistimewaan dan sakti.


Tiba- tiba salah seorang ibu- ibu maju kehadapan Mahmud yang menggendong Dede seraya bertanya; “Nak Dede, suami ibu sudah lama sakit, buat jalan aja susah. Sudah berobat kemana- mana tapi tidak sembuh- sembuh juga. Apa nak Dede tau suami ibu itu sakit apa?”


“Bapak Rasta sih bandel, kalau makan sembarangan aja, hikhikhik…” jawab Dede spontan sambil cekikikan.


“Be, benar nak Dede. Kata dokter jangan makan itu, eh suami ibu tetap saja makan makanan yang dilarang. Susah dibilanginnya nak,” ujar ibu tersebut.


Perubahan pada tingkah laku anaknya Kosim juga dirasakan oleh Gus Harun, Mahmud maupun Abah Dul. Dulu, sebelum bocah itu mengalami kematian dan sudah terkubur selama 40 hari, dia tidak begitu lancar dalam bicaranya. Yang lebih mengherankan lagi setiap kali kata-


kata yang keluar dari mulutnya terdengar magis, disetiap kalimatnya berasa memiliki pengaruh besar sehingga memaksa orang yang mendengarnya dan menurutinya.  Selain itu juga tata bahasa yang diucapkannya tidak selayaknya bocah berusia 3 tahunan.


"Ah, punten punten ibu- ibu, bapak- bapak, maklum anak kecil bicaranya suka ngelantur, mohon di maafkan ya..." sergah Mahmud merasa malu dengan ucapan Dede.


"Tapi yang dikatakan nak Dede itu memang benar kang Mahmud!" ujar ibu tadi.


"Mungkin itu hanya kebetulan saja bu Ijah. permisi ya, sekarang Dede mau istirahat dulu," ucap Mahmud kemudian berjalan diantara deretan orang- orang yang berbaris memasuki rumah.

__ADS_1


"Ayah Mamud, ayah Mamud yang Dede katakan itu memang benar!" ujar Dede dengan ekspresi tak terima dengan yang diucapkan Mahmud.


"Sudah, sudah ya De.. nanti saja bicaranya, katanya Dede mau istirahat di kamar Dede," sergah Mahmud tak ingin melihat Dede jadi tontonan warga.


"Punten ya ibu- ibu, bapak- bapak... Permisi, permisi..." ucap Dewi dengan senyum santun.


Sementara itu Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin yang berjalan di belakang Mahmud, Arin dan Dewi hanya menggeleng- gelengkan kepala dengan bibir menyungging senyum.


"Nak Dede, tolong sembuhkan suami saya nak!" seru ibu- ibu tadi sambil melongok- longokkan kepalanya


diantara punggung- punggung Abah Dul dan sahabat- sahabat untuk bisa mendapat respon dari Dede.


"Sudah, sudah bu. Nanti saja ibu bisa kesini lagi besok atau nanti malam saat suasana sudah tenang ya,"


 cegah pak RT memberi saran.


Bagi masyarakat perkampungan, sesuatu yang dianggap ajaib akan mudah dipercayai dapat memberikan suatu


pertolongan. Entah itu hanyalah sugesti semata atau memang betul- betul ada kekuatan gaib yang memang ikut berperan didalamnya.


Prilaku kecil  yang ditunjukkan Dede tersebut rupanya semakin memberikan keyakinan di hati warga masyarakat yang melihatnya secara langsung. Mereka tanpa sadar sudah menyebarkan kejadian itu hingga meluas, padahal berawal dari obrolan- obrolan kecil yang akhirnya mereka memiliki penilaian tersendiri bahawa bocah kecil itu adalah malaikat yang membawa berkah.


Masyarakat luas menyimpulkan kalau di desa Sukadami ada anak ajaib yang dapat dimintai pertolongan dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini yang tidak disadari sama sekali oleh Mahmud dan keluarganya kalau peristiwa Dede yang hidup kembali akan menjadi sesuatu yang dianggap sakral dan wingit.


Namun bagi Gus Harun, melihat antuasiasme warga serta melihat gelagat yang ditunjukkan anaknya Kosim tersebut tidak begitu kaget. Menurut pandangan mata batinnya, anak Koisn tersebut memang memiliki kemampuan supranatural secara alamiyah. Bahkan Gus Harun sudah memperkirakan kalau anak itu akan menjadi pusat kunjungan orang- orang yang sedang mengalami masalah. Entah itu penyakit, ekonomi, rumah tangga dan lain


sebagainya.** BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2