
Buuuummmm…!!!
Suara dentuman terdengar keras saat sinar putih dan segulung angin berhawa panas saling bertemu di udara. Kosim terdorong mundur lima langkah kebelakang oleh daya kekuatan dorongan dari ledakan tersebut. Lalu tiba- tiba Kosim bertekuk lutut sambil memegang dadanya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menopang tubuhnya agar tidak
jatuh tersungkur.
Tuan Denta, Kiyai Sapu Jagat, tuan Samanta dan tuan Gosin yang berada di sekitarnya pun turut terdorong mundur beberapa langkah dan nyaris jatuh terjengkang. Kening tuan Denta dan yang lainnya nampak berkerut dalam- dalam menahan daya dorongan dari bentrokkan dua kekuatan besar tersebut.
“Ini gawat! Situasinya tidak memungkinkan untuk bertarung melawan raja Gondewa!” pekik tuan Denta, matanya memperhatikan kondisi Kosim yang nampak sudah tidak berdaya.
“Kita harus mencobanya tuan Denta!” sanggah kiyai Sapu Jagat yang nampak masih penasaran dengan raja Gondewa.
“Jangan tuan Kiyai Sapu Jagat! Kekuatannya
sangat besar sekali!” sergah tuan Denta.
Kiyai Sapu Jagat nampak tidak puas dengan
penyataan tuan Denta, ingin rasanya dia menjajal kekuatan raja Gondewa secara langsung.
‘Gusti Allah tidak mungkin membiarkan mahluk yang paling mulianya di musnahkan oleh bangsa golongan iblis!’ kata kiyai Sapu Jagat dalam hati.
Keyakinan itulah yang mendorong keberanian kiyai Sapu Jagat untuk melawan kekuatan raja Gondewa dan mengabaikan peringatan yang diberikan tuan Denta. Tanpa menghiraukan peringatan tuan Denta, secepat kilat kiyai Sapu Jagat melesat kearah Kosim yang masih bertekuk lutut memegang dada.
“Tuan kiyai…!!!” teriak tuan Denta saat melihat kiyai Sapu Jagat memaksakan diri melesat kearah Kosim.
Kiyai Sapu Jagat berdiri membelakangi Kosim, sorot kedua matanya menatap tajam kearah raja Gondewa seakan ingin menyelami kekuatan yang dimiliki raja Gondewa.
“Hahahaha…. Hahahaha…. Hahahaha… Manusia tak tahu diri! Kalian tidak akan pernah mampu melawanku!” teriak raja Gondewa dengan angkuhnya.
Perkataan raja Gondewa tak membuat Kiyai Sapu Jagat merasa terpancing amrahnya. Dia tampak terlihat tenang, diam- diam mulutnya tak henti- henti membacakan amalan- amalan tingkat tinggi. Kali ini kiyai Sapu bersiap langsung mengerahkan kekuatan tingkat tingginya, tidak lagi mencoba- coba dengan tingkat kekuatan secara bertahap.
“Nak Kosim, kamu cepat pergi ke tempat tuan Denta dan yang lainnya disana!” perintah kiyai Sapu Jagat.
Kosim mengangguk kecil, lalu perlahan- lahan bangkit berdiri. Sorot kedua matanya masih nyalang menatap raja Gondewa penuh dengan dendam membara. Kosim tidak bisa menerima perbuatan raja Gondewa yang telah menghilangkan Mahmud, namun dia sadar diri kekuatan yang dimilikinya tidak bisa melawan kekuatan raja Gondewa. Kosim hanya bisa melenguh lalu dengan satu kali hentakkan kaki, dia melesat kearah tuan Denta dan yang lainnya berkumpul.
__ADS_1
“Tuan Kosim, anda terluka cukup parah!” ucap tuan Denta cemas melihat kondisi Kosim.
“Ahhh, saya tidak apa- apa tuan Denta. Lagi pula tak lama lagi waktu saya akan berakhir,” balas Kosim muram sambil terus memegang dadanya.
Kosim merasakan seluruh tubuhnya panas
seperti terbakar, padahal dirinya hanya terkena efek dari benturan serangannya dan tidak terkena langsung oleh kekuatan raja Gondewa. Karena itulah Kosim menyadari sepenuhnya kalau kekuatan yang dimilikinya jauh dibawah kekuatan dari raja Gondewa.
Kosim hanya bisa menatap muram kearah raja Gondewa dan pasukkannya dengan tatapan geram. Dia sendiri merasa serba salah karena tidak dapat melakukan apa- apa untuk membalaskan atas kehilangan kakak iparnya. Kosim hanya memendam amarahnya yang menggupal di dada yang dilampiaskan dengan mengepalkan kedua tangannya erat- erat.
Di depan sana Kiyai Sapu Jagat sudah bersiap- siap untuk menyerang raja Gondewa. Kedua tangannya yang terkepal lurus di samping, perlahan- lahan dibuka menghadap kedepan. Mulutnya nampak masih terus berkomat- kamit membaca amalan tingkat tingginya.
Sesaat kemudian kedua tangan kiyai Sapu Jagat nampak bergetar- getar, lalu muncul cahaya putih yang menyelubungi kedua telapak tangannya. Cahaya putih yang membungkus kedua telapak tangan itu sedikit demi sedikit kian membesar bentuk sebuah bola sebesar batu gunung.
Melihat reaksi lawan didepannya, raja Gondewa malah menyunggingkan mulutnya lalu tertawa terbahak- bahak. Tak tampak sedikitpun rasa takut dari ekspresi wajahnya, tetapi sebaliknya raja Gondewa semakin keras tertawa terbahak- bahak melihat yang dilakukan kiyai Sapu Jagat.
“Hahahaha… Hahahaha… Hahahaha… Aku tidak mau membuang- buang tenagaku hanya untuk meladeni semut- semut seperti.kalian!!!” bentak raja Gondewa sambil menunjuk lurus kearah kiyai Sapu Jagat.
“Jangan sombong Gondewa!!!” teriak kiyai Sapu Jagat yang kini mulai geram melihat kesombongan raja Gondewa.
“Benda?!” Benda apa yang kau maksud?!” tanya kiyai Sapu Jagat tak mengerti.
“Tanyakan saja pada temanmu itu, jenderal Denta si anjing setia dari raja Al Marid itu!!!” seru raja Gondewa dengan lantang.
Mendengar perkataan raja Gondewa, spontan kiyai Sapu Jagat menoleh kearah tuan Denta berada. Dirinya masih belum memahami situasi yang sedang terjadi dan juga dengan benda yang diminta oleh raja Gondewa.
Sementara tuan Denta yang mendengar caci maki raja Gondewa, seketika wajahnya membesi. Pandangan matanya menatap tajam dipenuhi kobaran dendam dan amarah yang sudah tersulut memuncak. Tuan Denta merasa sangat terhina oleh perkataan raja Gondewa apalagi sampai menyebut nama rajanya yang sangat dia hormati.
“Kurang ajar kau Gondewa!!!” teriak tuan Denta yang tak lagi bisa menahan amarahnya.
Mendengar tuan Denta menyebut nama junjungannya tidak dengan sebutan raja, seketika seluruh prajurit jin yang berbaris di belakang raja Gondewa langsung berteriak marah sambil mengacungkan senjatanya.
“Bunuh jenderal keparat itu!”
“Bunuh jenderal keparat itu!”
__ADS_1
“Bunuh jenderal keparat itu!”
“Bunuh jenderal keparat itu!”
“Bunuh jenderal keparat itu!”
Suara teriakkan puluhan ribu pasukan jin menggema dibarengi dengan hentakkan- hentakkan kaki mereka secara berirama.
Teriakkan- teriakkan prajurit jin tersebut kontan saja semakin membuat raja Gondewa langsung tersulut amarahnya. Seketika raja Gondewa mengacungkan tangan kanannya ke langit sambil berteriak keras, namun tak jelas kalimat apa yang diteriakkannya.
Tiba- tiba langit seketika menjadi gelap, mendung- mendung kelabu bergulung- gulung menutupi langit yang temaram. Cahaya petir menyambar- nyambar keluar dari gulungan- gulungan awan yang bergerak berkumpul diatas kepala raja Gondewa, disusul suara gemuruh yang membahana di seantero langit.
Melihat perubahan suasana yang begitu mengerikan, insting tuan Denta langsung
memerintahkannya untuk menyingkir. Akan tetapi tuan Denta tak menghiraukannya, meskipun merasakan bahaya besar sedang mengancamnya. Justru tuan Denta memperingatkan pada sahabat- sahabatnya untuk menyelamatkan diri.
“Tuan Samanta, bawa mereka pergi dari sini!” perintah tuan Denta dengan suara bergetar.
Tuan Samanta tampak ragu- ragu untuk
melaksanakan perintah atasannya itu sebab dirinya bertekad akan membantu tuan Denta apapun yang akan terjadi nantinya. Dia masih terpaku menatap tuan Denta seolah menolak perintah tersebut.
“Pergi dari sini tuan Samanta! Cepat bawa mereka semua!!!” bentak tuan Denta.
Tuan Samanta terkesiap mendengar suara bentakkan tuan Denta. Baru kali ini dirinya mendengar tuan Denta berteriak begitu marahnya. Dengan berat hati, tuan Samanta perlahan- lahan bergerak mundur sambil memberi isyarat pada Kosim dan tuan Gosin.
Tanpa melihat tuan Samanta dan yang lainnya bergerak, tuan Denta seketika melesat menuju ke tempat Kiyai Sapu Jagat yang sudah siap melancarkan serangannya terhadap raja Gondewa.
“Tuan Kiyai, cepat tinggalkan tempat ini! Biarkan aku yang akan menghadapi raja keparat itu!” tegas tuan Denta bersamaan tubuhnya berdiri disamping Kiyai Sapu Jagat.** BERSAMBUNG
RUMAH MAHMUD,
Baru saja selesai makan, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin sangat terkejut melihat tubuh Mahmud yang tiba- tiba berguncang- guncang dengan keras.
Wajah Abah Dul yang semula sudah mulai tenang, seketika kembali dirundung kekhawatiran. Raut wajahnya sangat cemas dan gundah yang semakin menjadi- jadi.
__ADS_1