
Di rumah Mahmud,
Desa Sukadami masih tampak dipayungi mendung tebal padahal hari sudah menjelang pagi. Harusnya cahaya
fajar diufuk timur sudah terlihat semburatnya, namun sudah dua hari ini cahaya matahari tertutup oleh awan tebal menyelimuti langit diatas desa Sukadami.
Situasi yang sudah jam 6 pagi namun masih tampak malam itu tak dapat membohongi ayam- ayam jantan untuk meneriakkan kokoknya seolah memberi kabar bahwa hari sudah pagi. Suara kokoknya sudah terdengar saling bersahutan dikejauhan. Suara kokokannya berbaur dengan suara guntur yang sesekali terdengar menggelegar diirngi kilatan- kilatan petir dengan kedipan cahayanya laksana seperti sebuah blits kamera.
Sebelumnya saat Arin dan Dewi bangun tidur dan keluar kamar untuk melaksanakan sholat subuh, kakak beradik itu sempat terkejut begitu keluar dari kamarnya mendapati Mahmud, Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin tengah duduk melingkar saling berhadapan di ruang tengah. Dalam penerangan temaram oleh bias cahaya dari lampu teras, Arin dan Dewi sempat memperhatikan tubuh Mahmud dan yang lainnya duduk tegak tak bergerak sama sekali.
Arin dan Dewi meneruskan niatnya untuk melaksanakan sholat subuh berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Keduanya berusaha melangkah tanpa menimbulkan suara khawatir mengusik kegiatan
Gus Harun beserta yang lainnya.
Mahmud, Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin masih dalam posisi duduk bersila, kedua tangan mereka beada diatas lutut dengan telapak tangan terkepal. Arin dan Dewi tidak mengetahui kalau suami dan empat sahabatnya itu sudah duduk semalaman bahakn keduanya tidak mengetahui sama sekali kalau tubuh- tubuh yang tengah duduk bersila tersebut sukmanya tengah berada di alam lain.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, seperti biasa Arin dan Dewi melakukan aktifitas rutinnya di dapur
menjalankan tugasnya masing- masing. Arin mencuci pakaian secara manual di samping rumah, sedangkan Dewi sibuk menyiapkan masakan untuk sarapan.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi, tanpa diketahui oleh Arin dan Dewi tubuh Mahmud tiba- tiba
bergetar hebat. Tubuh Mahmud seperti terhentak sesaat lalu kembali tenang, sesaat kemudian terdengar Mahmud menghembuskan nafasnya sedikit berat dan tersengal- sengal.
“Alhamdulillahirobbil alamiin…” gumam mahmud sambil meraupkan telapak tangan ke wajah.
Mahmud menoleh ke sampping kanan, dilihatnya Gus Harun yang masih tampak memejamkan mata tak bergerak sama sekali. Lalu pandangannya beralih memperhatikan satu persatu mulai dari tubuh Abah
Dul, Baharudin dan terakhir Basyari. Ketiganya juga masih dengan posisi sama duduk bersila tak bergeming.
“Dede!” gumam Mahmud.
Seketika ingatannya memunculkan rangkaian kejadian yang dialaminya di alam gaib, Mahmud merasakan itu semua seperti hanya rangkaian peristiwa didalammimpi. Namun peristiwa yang dilaluinya tersebut benar- benar nyata yang dirasakan dan dilihatnya langsung.
Mengingat semua itu segera Mahmud beranjak berdiri dari duduknya karena harus pergi menemui Kepala Desa untuk meminta bantuan menjalankan tugas yang paling menentukan. Sebelum keluar rumah, Mahmud melangkah ke dapur lebih dulu berniat mengambil air minum karena merasakan tenggorokannya kering dan merasa haus sekali.
__ADS_1
“Mas…” sapa Dewi melihat Mahmud muncul di dapur.
“Wi, Arin mana?” balas Mahmud sekaligus bertanya.
“Itu di samping sedang mencuci, Mas mau dibikinin kopi?” ucap Dewi menawarkan suaminya.
“Nanti saja Wi, minta air putih saja saya haus sekali,” kata Mahmud.
Dewi segera mengambilkan segelas air putih lalu memberikannya pada Mahmud. Mahmud pun menerimanya dan dengan sedikit buru- buru langsung meneguk air minum tersebut sampai tandas. Dewi terbengong- bengong melihat tingkah suaminya yang tak biasa.
“Mas kenapa?” tanya Dewi heran.
“Mmm, saya harus menemui Kepala Desa Wi, ada hal penting yang harus saya kerjakan. O iya, tolong jangan
mengusik Abah Dul dan yang lainnya ya Wi. Nanti juga mereka terbangun dengan sendirinya,” ujar Mahmud.
“I, iyya Mas,” balas Dewi masih dengan rasa bingungnya, namun tak berusaha untuk menanyakannya kembali.
“Saya pergi dulu Wi, assalamualaikum…” ucap mahmud lalu melangkah meninggalkan Dewi.
akar pohon.
“Subhanallah!” pekik Mahmud langsung berlari menaiki teras rumahnya kembali.
“Semoga tidak terjadi apa- apa dengan Gus Harun dan yang lainnya…” gumam Mahmud dalam hati.
Setelah beberapa saat melihat cuaca di langit kembali tenang, Mahmud pun segera berlari kecil menuju rumah
pak Wira.
“Kang Mahmud! Mau kemana buru- buru?!” sapa seseorang saat melintas di depan rumah ketua RT.
“Eh, pak RT. Itu saya mau ke rumah pak Wira, penting sekali. O iya, kebetulan sekali kalau pak RT tidak keberatan mari ikut saya pak,” jawab Mahmud.
“Njih, njih, baik kang kang Mahmud. Kalau begitu mari saya antar,” balas pak RT lalu bergegas mengikuti Mahmud.
__ADS_1
Mahmud dan pak RT pun berjalan beriringan menuju rumah sang Kepala Desa, meskipun di dalam hati pak RT masih sedikit bingung dan bertanya- tanya ada keprluan penting apa sehingga dirinya diminta menemani Mahmud.
“Ada hal penting apa Kang Mahmud?” tanya pak RT sambil berjalan tergesa- gesa mengikuti langkah Mahmud yang cepat.
“Nanti saja pak RT, di rumah pak Wira saya jelaskan semuanya,” jawab Mahmud sambil terus melangkah cepat.
Tak berapa lama kemudian, Mahmud dan pak RT sampi di kediaman pak Wira. Kebetulan di halaman rumah pak Wira terlihat ibu Wira sedang menyapu halaman, sementara di teras depan rumah pak Wira sedang duduk santai menikmati segelas teh tubruk sambil menghisap rokok.
“Assalamualaikum…” ucap Mahmud dengan sopan.
“Wa’ alaikum salam… eh, nak Mahmud, pak RT, mari… mari …” sahut ibu Wira mengajak Mahmud dan pak RT masuk halaman rumah.
“Punten mengganggu bu, saya mau ketemu bapak,” ucap Mahmud sambil menunjuk pak Wira dengan jempol tangannya dengan santun.
“Silahkan, masuk nak. Itu bapak sedang wedangan di teras,” balas ibu Wira.
“Njih, bu. Matur suwun ya bu, permisi…” ucap Mahmud.
“Njih nak Mahmud, pak RT, monggo, monggo…” balas ibu Wira.
Mahmud dan pak RT meneruskan langkahnya menuju tempat pak Wira duduk. Melihat kedatangan Mahmud dan pak RT, pak Wira segera berdiri menyambut keduanya dengan raut wajah bertanya- tanya dan sedikit mencemaskannya.
“Ada apa Mud?” tanya pak Wira cemas saat Mahmud dan pak RT mendekat.
“Monggo, monggo duduk…” sambung pak Wira menunjuk kursi di sebelahnya.
“Matur suwun pak,” balas Mahmud yang diangguki pak RT.
“Ada apa Mud, pagi- pagi sekali sepertinya ada hal penting sekali,” tanya pak Wira mengulangi pertanyaannya.
“Mm, begini pak…” Mahmud pun menceritakan situasi dan kondisi yang saat ini sangat memerlukan peran serta
dan bantuan dari sang Kepala Desa terutama memperbantukan perangkatnya untuk menjalankan tugasnya sesuai yang diamanatkan Gus Harun.
Setelah Mahmud selesai manyampaikan maksud dan tujuannya, seketika itu juga Pak Wira mengerutkan keningnya dalam- dalam. Raut wajahnya masih terlihat bingung bercampur rasa tidak percaya.
__ADS_1
“Tapi Mud, apakah mungkin anaknya Kosim yang sudah dikubur selama empat puluh hari itu bisa hidup kembali? Lalu apakah jasadnya tidak rusak?!” tanya pak Wira ditengah kegamangannya.** BERSAMBUNG