
Seperti Kosim saja, Abah Dul sengaja mempermainkan Mang Ali. Dia tak ingin langsung menghajarnya meskipun gemas tangannya sudah tak sabar ingin menghajarnya.
Mang Ali palsu itu terus menanyakan keberadaan Kosim, "Mana Kosim...?" suaranya terdengar datar.
"Ah, Mang Ali kayak nggak biasanya aja pake nanya-nanya Kosim. Biasanya juga langsung masuk, mau apa sih?" Kata Abah Dul sengaja mempermainkannya.
"Mau saya ajak main ke teman," jawab Mang Ali datar.
"Sini masuk dulu Mang Ali," ujar Abah Dul sambil melambai-lambaikan tangannya.
Namun Mang Ali palsu itu seperti enggan masuk rumah, dia memilih berdiri saja di halaman.
"Salaman dulu Mang Ali, sejak datang kita lupa bersalaman." Abah Dul terus merajuk agar Mang Ali mendekat.
Nampaknya Mang Ali palsu tidak menyadari kalau penyamarannya sudah diketahui sejak awal. Sejenak ia ragu-ragu dan kebingungan dengan ajakan Abah Dul. Karena tak mau penyamarannya kebongkar, Mang Ali pun mengulurkan tangannya bersalaman dengan Abah Dul.
Abah Dul menyambutnya sambil tersenyum lebar, "Naaah, begitu Mang Ali sebagai teman sih." Ucap Abah Dul.
Abah Dul langsung menggengam dengan erat telapak tangan Mang Ali. Getaran hebat dirasakan Abah Dul bersamaan dua telapak tangan itu berjabatan. Sedetik berikutnya hawa panas merayap masuk naik hingga ke lengan Abah Dul.
Abah Dul terkesiap, tak ingin mengambil resiko cepat-cepat Abah Dul menghentakkan tangannya tanpa melepas jabatan tangannya. Amalan 'Penghancur Sukma' yang sudah dipersiapkannya dihantamkan melalui telapak tangan yang saling berjabat erat.
Beberapa saat kemudian mula-mula tangan Mang Ali bergetar keras lalu tubuhnya terguncang-guncang hebat. Hanya hitungan detik Mang Ali terus bertahan namun sedetik berikutnya tubuhnya mengeluarkan asap.
Abah Dul terus menggengam tangan Mang Ali semakin erat, sementara asap di tubuh Mang ali kian menebal hingga terdengar jeritan keras.
"Aaaaaaaaaaaaakh....!!!"
Bersama mengilangnya jeritan itu tubuh Mang Ali pun musnah seperti terbakar. Hanya menyisakan asap tebal sesaat lalu membumbung keatas dan menghilang.
Kosim yang sedari tadi bersembunyi sambil melihat pertarungan Abah Dul dengan Mang Ali palsu langsung keluar setelah Mang Ali musnah.
"Aduh! Kosim bikin kaget saja!" Seru Abah Dul melihat kemunculan Kosim dari samping.
Abah Dul tidak tahu kalau Kosim sejak tadi bersembunyi diteras disamping dan melihatnya layaknya nonton opera.
"Berarti ente ya Sim yang tadi jorokin Mang Ali? Wah, wah, kuwalat ente," ujar Abah Dul sambil terkekeh.
Kosim dan Abah Dul pun sama-sama terkekeh-kekeh mengingat kelakuan dirinya masing-masing yang telah memperdayai siluman monyet yang juga mencoba memperdayai keduanya.
Ditengah derai tawa Abah Dul dan Kosim, datang Mang Ali. Penampilannya sama persis dengan Mang Ali palsu tadi, memakai kaos oblong bertuliskan iklan rokok dan memakai sarung.
Saat Mang Ali hendak mengucap salam, keburu disela oleh seruan Kosim, "Stop Mang Ali! Tetap berdiri disitu," seru Kosim sembari menyorongkan telapak tangannya seperti tukang parkir.
__ADS_1
Kontan saja Mang Ali menghentikan langkahnya dengan wajah kebingungan. Kosim lalu berjalan tiga langkah kesamping kanan dari teras tempatnya berdiri.
Mang Ali percaya saja seruan Kosim karena sedang bersama Abah Dul. Dia pikir Kosim ada sesuatu yang mengancam dirinya.
Tetapi Kosim bukannya memperhatikan tubuh gempal Mang Ali melainkan memperhatikan belakang Mang Ali. Kosim ingin memastikan kalau dibelakang Mang Ali ada bayang-bayangnya atau tidak. Karena yang dia lihat pada Mang Ali palsu tidak ada bayangannya meski tersorot lampu teras.
"Ada apa sih, Sim?!" Tanya Mang Ali keheranan melihat tingkah Kosim.
Sementara Abah Dul hanya senyum-senyum saja melihatnya. Sesaat kemudian Kosim malah duduk santai menyandarkan punggungnya di tembok bawah jendela.
"Masuk, masuk Mang Ali, hehehehe..." kata Kosim dengan ekspresi tanpa merasa berdosa.
"Kenapa sih Bah?" Mang Ali mengalihkan pertanyaannya ke Abah Dul.
"Tau tuh Kosim, tanya sama Kosim Mang," jawab Abah Dul ikut tertawa melihat Mang Ali kebingungan.
"Waalaikum salam Mang Ali," sindir Kosim sambil tertawa.
"Assalamualaikum, sampe lupa salam kan, hehehe..." balas Mang Ali.
"Mau cerita dulu atau saya ngambil minum dulu nih?" Tanya Kosim.
"Cerita dulu aja deh, penasaran. Ada apa sih?!" Sergah Mang Ali.
"Jadi gini Mang Ali, saat Mang Ali datang pas kita lagi pada tertawa-tawa ya kan. Nah, itu baru saja ada yang datang, orangnya sama persis dengan Mang Ali. Pakainya pun ya sama seperti yang sedang Mang Ali pake ini," terang Kosim.
"Iya Mang Ali. Ya hanya selang beberapa menit sebelum Mang Ali datang." Jawab Abah Dul membenarkan.
"Kalau Mang Ali palsu, saya lihat tidak ada banyang-bayang tubuhnya. Kalau tadi Mang Ali sih ada," terang Kosim lagi.
"Terus sekarang dimana? Kurang ajar bener, bisa jadi fitnah nih," sergah Mang Ali.
"Kemana Mang Alinya Bah?" Tanya Kosim sengaja menanyakannya supaya Abah Dul yang cerita.
"Alhamdulillah, sudah musnah Mang Ali." Jawab Abah Dul.
"Ngomong-ngomong Mahmud kemana, kok hanya berdua aja," ujar Mang Ali.
"Mang Ali sih datangnya telat. Biasanya habis isya sudah duduk disini," timpal Kosim.
"Nah, itu dia salah satu kehebatan golongan mahluk halus, Sim." kata Mang Ali.
"Hebat gimana Mang Ali?" Kosim penasaran.
__ADS_1
"Tadinya selesai sholat Isya memang mau langsung kesini. Ehhhh, nggak biasa-biasanya Minah (istrinya) ngedadak minta dibelikan martabak. Mana yang jual hanya di pertigaan sana lagi," terang Mang Ali.
"Iya juga ya Mang Ali," timpal Kosim sambil manggut-manggut.
"Eh, Sim jadi nggak bikin kopinya nih?" Seloroh Mang Ali.
Kontan saja Abah Dul dan Kosim pun tertawa dibuatnya. Kosim langsung beranjak dari duduknya melangkah melalui pintu samping kiri.
Sepeninggal Kosim, Abah Dul mengajak Mang Ali masuk sambil menceritakan kondisi Mahmud.
Di kursi tamu, Mahmud nampaknya kertiduran, kepalanya disandarkan pada sudut sandaran kursi, tangannya terkulai diatas perutnya.
"Biar saja Mang Ali. Mungkin Mahmud masih lemas," kata Abah Dul.
"Kasihan Mahmud," balas Mang Ali.
"Tapi sudah diobati Kosim Mang Ali," ujar Abah Dul.
"Syukulah, kelihatannya makin kesini Kosim makin hebat saja Bah. Banyak kemajuan setelah mengalami mati suri." tutur Mang Ali.
"Iya Mang Ali, saya merasa beruntung juga sih, Kosim sekarang bisa lah diandalkan, Mang Ali," timpal Abah Dul.
"Kayak tadi aja, bisa tau kalau itu Mang Ali palsu ya berkat Kosim. Andai Koaim nggak ngasih tau, entah gimana ceritanya. Mungkin sudah kecolongan Mang Ali," sambung Abah Dul.
Kemudian Kosim nongol dengan membawa kopi buat Mang Ali.
"Sim kopinya masih ada?" tiba-tiba Abah Bertanya setelah Kosim menaruh gelas kopinya Mang Ali.
"Masih banyak Bah," jawab Kosim.
Mang Ali terkekeh-kekeh melihat ekspresi dan jawaban Kosim, "Hikhikhik... itu kode minta dibikinin lagi, Sim..." seloroh Mang Ali.
Ketiganya pun lantas tertawa membuat Mahmud terbangun dari tidurnya.
"Aduh, ketiduran. Loh ada Mang Ali?" Kata Mahmud sembari membetulkan duduknya.
"Iya Mud, baru datang barusan. Itu sih bi Minah tiba-tiba pengen martabak, mana jauh lagi belinya." terang Mang Ali.
"Udah Mud, lanjutin aja tidurnya sana di kamar. Istirahat agar kondisinya cepat pulih," sambung Mang Ali.
"Iya Mud, istirahat aja. Ente kelihatan masih lemah." timpal Abah Dul.
"Iya deh, punten nih..." jawab Mahmud beranjak pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Tak terasa jarum jam dinding menunjukkan angka 10 malam. Di rumah Mahmud kini hanya tinggal bertiga, Abah Dul, Mang Ali dan Kosim yang melekan sepanjang malam Jumat.
......................