Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
SETITIK ASA


__ADS_3

10 menit telah berlalu,


Kosim yang melayang di belakang pintu ruang ICU, terhenyak mendengar penuturan Arin kalau Dede di bawa sepasukan monyet masuk ke dalam bangunan istana. Penuturan istrinya itu sama persis dengan pemandangan yang Kosim alami beberapa saat yang lalu.


Sosok Kosim berwujud kabut tertegun lama menatap anaknya yang terbaring tak bergerak dengan mata tak berkedip. Sorot matanya menyiratkan penuh kesedihan, kekhawatiran, kemarahan dan juga penyesalan yang tak terkira.


“Kalau sampai satu jam tidak kembali, maka....” Kosim tak kuasa meneruskan kata-katanya.


Kosim lantas berlalu dari ruangan itu dengan menembus dinding kamar hendak menemui Mahmud yang dilihqtnya sedang duduk termangu di kursi di depan ruangan itu.


“Astagfirullah, Sim?! Bagaimana Abah Dul?! Berhasil?!” Mahmud langsung memberondong pertanyaan di sela-sela terkejutnya melihat Kosim.


Kosim yang muncul tiba-tiba dari tembok di belakang Mahmud membuat Mahmud terkejut bukan main hingga ia beringsut dari tempat duduknya.


“Tidak berhasil mas, saya pun tidak berhasil juga mereka terlalu kuat...” jawab Kosim datar.


“Astagfirullah....” ucap Mahmud menutup mukanya rapat-rapat.


Bayangan Mahmud sudah melambung jauh kemana-mana, pikirannya sudah lebih dulu menduga-duga situasi dan kondisi Dede yang akan terjadi.


“Lantas Abah Dul sekarang gimana?” tanya Mahmud penuh harap banyak dengan upaya Abah Dul.


“Abah Dul sedang mencari bantuan mas,” jawab Kosim tanpa ekapresi.


“Ya Allah... berikan kami petunjuk, selamatkan Dede...” ucap Mahmud lirih dengan wajah masih tertutup keduq tangannya


Kosim menatap sayu kakak iparnya yang baik dan sayang dengan dirinya dan anak istrinya itu tanpa bisa berkata-kata lagi. Beberapa saat situasi hening tanpa ada yang berbicara.


Untung saja suasana depan ruang ICU sepi dari lalu lalang orang-orang. Andaikan ada yang melihat tindak tanduk Mahmud, mungkin mereka akan mengira kalau Mahmud sudah Gila. Sebab selain terlihat Mahmud berbicara sendirian, ekapresi wajahnya pun terlihat berubah-ubah, terkejut, cemas, muram.


......................


Istana Raja Siluman Monyet,


Seorang anak kecil yang sedang lucu-lucunya terus meronta-ronta histeris penuh ketakutan dalam cengkraman dua monyet bertubuh besar di samping kanan dan kirinya. Tangisannya begitu menyayat melihat mahluk-mahluk aneh di sekelilingnya. Anak itu menangis sekeras-kerasnya dengan kaki mengejat-ngekat berontak untuk di lepaskan, namun seberapa pun kerasnya berontak meronta-ronta tidak ada artinya bagi anak itu. Selain tenaganya jauh kalah besar juga tidak akan mungkin bisa melarikan diri ditengaj-tengah ribuan monyet siluman.


“Masukkan anak itu ke kerangkeng bersama anak-anak lainnya!” Perintah Raja Kalas Pati.

__ADS_1


Seketika anak kecil yang tak lain adalah Dede itu meraung kian keras ketika Raja Kalas Pati betbicara. Suaranya yang besar dan sember membuat wajah polos bocah itu langsung pucat pasi, rautnya terlihat sangat ketakutan luar biasa.


“Aaaaaakkkkkkhhh.... mamaaaaaahhhhh.... mamamaaaaaahhhh...”


Dede berteriak-teriak memanggil ibunya dengan histeris. Tangisannya semakin menjadi-jadi, tubub mungilnya meronta-ronta liar.


“Laksanakan junjungan!” kata tiga monyet tinggi besar yang memimpin penjemputan tumbal yang tersisa setelah dua pimpinan lainnya berhasil dimusnahkan Abah Dul.


Dua monyet yang mencengkeram tangan Dede langsung mengangkatnya hingga kaki anak itu menggantung 2 meteran dari pijakannya. Kemudian mereka membawa Dede keluar dari ruang utama Istana Siluman Monyet itu diiringi teriakkan dan tangisan Dede yang sangat menyayat penuh ketakutan.


Tak berapa lama kemudian, 3 monyet besar yang memba Dede sampai di depan ruangan dengan cahaya sinar temaram yang terpancar dari obor yang tertancap pada batu-batu dinding. Suara riuh tangisan langsung terdengar dari dalam ruangan yang besarnya lebih luas dari ruang utama istana itu laksana nyanyian penyambutan kedatangan penghuni baru di tempat itu.


Di dalam ruangan itu nampak samar-samar banyak sekali anak-anak seusia Dede sedang menagis tak henti-hentinya. Ada yang yang berdiri menggelayut pada teralis besi, ada yang duduk, ada yang berdiri, bahkan hingga ada yang tergolek sambil memanggil-manggil nama orang tuanya masing-masing.


Buuukkk!!!


Suara tubuh mungil Dede terdengar jelas setelah di lemparkan monyet siluman ke tengah-tengah anak-anak di dalam ruangan itu dan menimpa beberapa anak-anak hingga terjatuh saling tindih.


......................


Gus Harun sedang khusuk berzikir, langsung tersentak kaget ketika tiba-tiba di sampingnya muncul Abah Dul dalam wujud sukma.


"Wa'alaikum salam, Dul ente kenapa?!" Gus Harun langsung tahu kalau sahabatnya itu sedang panik.


Sukma Abah Dul pun lantas menceritakan kejadian yang baru saja di alami. Dan sekaligus juga menceritakan kemunculan Kosim dalam wujud kabut yang mencoba bertarung dengan monyet siluman.


“Jadi, apa tindakkan kita Gus?!” Tanya sukma Abah Dul.


Gus Harun tampak gusar sekaligus bingung setelah Abah Dul menceritakan situasi dan kondisinya di rumah Mahmud.


“Kalau kita memaksakan diri masuk ke lingkungan istana Raja Kalas Pati, rasanya tidak mungkin Dul. Kekuatan kita tidak sebanding dengan kekuatan Kalas Pati bahkan senjata pusaka gaib kita saja tidak bisa melukainya,” kata Gus Harun.


Sukma Abah Dul menunduk dengan wajah muram dan putus asa. Dalam kekalutannya tiba-tiba dia teringat dengan peristiwa kaburnya Kalas Pati setelah melihat aura batu merah yang terpancar dari jari Mahmud. Mengingat itu seketika sukma Abah Dul menoleh pada Gus Harun dengan sumringah penuh harapan.


“Gus ente ingat peristiwa malam sebelum Kosim meninggal?” ucap sukma Abah Dul memecah kesunyian.


“Iya, bertarung dengan Kalas Pati?!” Gus Harun balik tanya.

__ADS_1


“Njih Gus!” timpal sukma Abah Dul.


“Kenapa dengan pertempuran itu Dul?!” Gus Harun masih belum mengerti maksud pertanyaan sahabatnya itu.


“Batu Mustika Raja Ular Iblis!” ucap sukma Abah Dul menyebut kata perkata dengan intonasi yang ditekan.


“Subhanallah! Ente benar Dul. Ayo kita kesana, ente temui Mahmud secepatnya sebelum batas ajal itu tiba!” seru Gus Harun.


“Assalamualaikum,”


Tiba-tiba terdengar suara muncul menyela di tengah-tengah pembicaraan Gus Harun dan sukma Abah Dul. Membuat keduanya tersentak kaget dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


“Astagfirullah!” Pekik Gus Harun tersurut mundur.


“Wa’alaikum salam, Kosim?!” seru Gus Harun dan sulma Abah Dul beraamaan.


“Waktu tidak banyak, Dede harus di selamatkan Gus, Bah. Jika sampai lebih dari satu jam maka Dede akan meninggal,” ucap Kosim datar.


“Satu jam?!” Seru Abah Dul dan Gus Harus saling pandang dengan raut terkejut.


“Ya sudah, sebaiknya cepat bergerak Dul,” ujar Gus Harun.


“Sim, ente temui Mahmud dan pinjam batu cincin warna merah bilang kata ane. Kalau ane yang datang percuma Mahmud nggak bakal lihat,” kata Sukma Abah Dul.


“Baik bah, saya permisi Gus, bah...” ucap Kosim lalu lenyap dari tempat Gus Harun dan sukma Abah Dul berada.


“Ayo Dul, kita juga berangkat.” Ujar Gus Harun.


“Njih Gus.” Sahut sukma Abah Dul.


Tak lama kemudian Gus Harun duduk bersila lalu sukmanya keluar dari raganya dan langsung melesat keatas bersama-sama sukma Abah Dul.


Bersambung....


......................


🔴Like kalian adalah semangatku.

__ADS_1


🔴Hadiah kalian adalah imajinasiku.


__ADS_2