
Usai melaksanakan sholat Duhur berjamaah, Abah Dul, Gus Harun dan Mahmud bersiap menyantap makan siang yang sudah disediakan Dewi dan Arin diruang tengah.
Dede bocah berusia 3 tahunan sedang bermain mobil-mobilan didepan televisi yang masih satu ruangan. Tanpa sebab yang jelas, Dede tiba-tiba menangis dengan histeris.
Arin sang ibunya muncul berlari dari dapur menyongsong Dede yang sudah berdiri hendak lari seperti ketakutan. Disusul Mahmud, Dewi lalu Abah Dul Dan Gus Harun langsung mengerubuti Dede yang sudah dalam dekapan Arin.
"Dede kenapa? Dede kenapa?" Tanya Arin cemas.
"Ayah, buuu... Ayahhhh..." Dede menyebut ayahnya dengan ekspresi ketakutan.
Semua yang ada disitu saling berpandangan dengan muka sama-sama kebingungan. Gus Harus segera menempelkan telapak tangannya pada bagian ubun-ubun kepala Dede.
Sejenak Gus Harun memejamkan matanya sambil komat-kamit membaca doa. Sesaat kemudian ditiupkan ke bagian kepala Dede dan seketika suara tangisan Dede mereda dan berhenti.
Tak ada air mata yang keluar dari Dede meskipun menangis histeris. Hal ini membuat Gus Harun berfirasat kalau ada yang tidak wajar dengan Kosim.
"Dul, ente cepat lihat Kosim. Firasat saya nggak enak," kata Gus Harun sambil menepuk pundak Abah Dul.
Abah Dul sangat paham yang dikatakan Gus Harun. Lalu ia beranjak ke ruang tamu untuk menjalankan ilmu mata batinnya melihat keberadaan Kosim.
"Mbak Arin, bawa masuk Dede ke kamar dulu. Tenangin Dede ya.." Lanjut Gus Harun pada Arin.
"Njih Gus.." Jawab Arin sambil berlalu menuju kamar.
Semuanya tiba-tiba merasakan berdebar-debar saat terdengar bunyi telepon dari saku Mahmud. Mahmud buru-buru mengeluarkan hapenya, sejenak ia melihat layar telpon terdapat panggilan telpon dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo.." Jawab Mahmud setelah memencet tombol terima.
"Iya, betul. Kenapa dengan Kosim?!" Tanya Mahmud berubah panik mendengar suara dari seberang telpon.
"Baik, baik.. Saya segera kesana, iya terima kasih Pak." Kata Mahmud menyudahi telponnya.
"Kenapa Kosim Mas?" Tanya Dewi cemas.
"Kosim kecelakaan ditempatnya bekerja." Jawab Mahmud.
"Masya Allah! Kang Kosim kecelakaan???" Arin tiba-tiba muncul dari kamar dengan wajah panik dan cemas.
"Tenang, tenang dulu Rin. Mudah-mudahan nggak kenapa-napa. Biar Mas dan Mbakmu yang akan ke rumah sakit, kamu di rumah saja dulu..." Kata Mahmud.
"Nggak Mas, saya harus ikut. Pokoknya ikut!" Sergah Arin.
Abah Dul urung melakukan terawangan mata batinnya mendengar ribut-ribut menyebut nama Kosim. Ia pun bergegas kembali ke ruang tengah.
"Ya sudah, sudah, nggak apa Arin ikut juga Mud. Biar saya sama Gus Harun jaga rumah." Sela Abah Dul ditengah perdebatan kepanikan.
"Nanti segera kabari kondisi Kosim begitu sampai di rumah sakit ya." Sambungnya.
__ADS_1
"Iya Bah. Wi segera berkemas Arin juga, saya ambil mobil dulu pinjam sama Pak Kuwu." Kata Mahmud bergegas berlalu.
......................
Mahmud, Dewi dan Arin yang menggendong Dede tergesa-gesa mendatangi petugas yang berjaga di lobi Rumah Sakit M.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu?" Sambut wanita berhijab putih petugas lobi.
"Siang bu, kalau pasien bernama Kosim di ruang apa ya, bu," tanya Mahmud.
"Sebentar ya, pak saya cek dulu. Masuk jam berapa?" Tanya petugas lobi.
"Barusan, siang ini bu.." Jawab Mahmud.
"Oh, iya. Pak Kosim masih di ruang IGD pak. Dari sini lurus lalu belok ke kiri pada lorong pertama." Terang petugas lobi.
"Makasih, bu.." Ujar Mahmud, Dewi dan Arin bersamaan.
Ketiganya bergegas menuju ruang IGD seperti yang diarahkan petugas lobi. Nampak hilir mudik orang-orang dengan keperluannya masing-masing semuanya nampak terlihat tergesa-gesa.
Begitu pula dengan Mahmud, Dewi dan Arin setengah berlari memasuki lorong pertama dan dihadapannya terpampang tulisan 'IGD' pada sebuah pintu kaca yang tertutup tirai putih dari dalam.
Didepan ruangan nampak ada Juned yang masih mengenakan pakaian proyek duduk di kursi depan kamar IGD . Saat melihat kedatangan Mahmud, Dewi dan Arin, Juned pun langsung berdiri menyambutnya.
"Keluarganya Kosim?" Tanya Juned menyongsong ketiganya.
"Iya Pak. Saya Juned yang mengajak Kosim bekerja di proyek," kata Juned mengenalkan dirinya.
"Gimana kondisi Kosim mas, gimana sampai bisa kecelakaan?" Sela Arin bernada cemas.
"Saya sendiri nggak tahu persis Mbak. Saat berada di mess mengantar Kosim ganti baju kerja tiba-tiba saja ada suara seperti benda menabrak dinding mess lalu tiang-tiang atapnya runtuh dan menimpa Kosim," terang Juned.
Obrolan terhenti saat tiba-tiba pintu ruang IGD terbuka dari dalam. Spontan semuanya menoleh ke dokter yang keluar dengan megenakan seragam hijau lengkap dengan teleskop dilehernya
"Dokter, gimana kondisi Kosim?" Arin menyongsong dengan pertanyaan cemas.
"Maaf, ibu siapa?" Tanya Dokter.
"Saya istrinya dan ini kakak saya," jawab Arin sembari menunjuk Dewi dan Mamud.
Mahmud, Dewi, Arin dan Juned menatap cemas wajah Dokter menanti jawaban. Dokter menatap satu persatu wajah keempatnya lalu kembali tertumpu pada Arin.
"Luka-lukanya lumayan parah tapi sudah dapat ditangani. Sejak datang Bapak Kosim tidak sadarkan diri sampai sekarang pun ia belum siuman, ibu yang sabar ya, banyak-banyak berdoa.." Ucap Dokter kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Arin langsung melongokkan kepalanya melalui kaca pintu yang sedikit terbuka mencari-cari sosok Kosim. Matanya melirik kesana-kemari dilihatnya ada satu sosok yang terbaring dibawah sorot lampu diatas meja operasi.
Arin melihat selang infus terlihat menempel ditangan pada tubuh yang terbaring tetapi ia tak dapat melihat jelas wajahnya karena tertutup masker oksigen yang menutupi sebagian mukanya. Diatas kepalanya monitor pendeteksi denyut nadi dan detak jantunh terlihat grafiknya bergerak naik turun.
__ADS_1
Jawaban Dokter tadi terus menghantui pikiran Arin, Dewi dan Mahmud. Berbagai tanda tanya mengganjal didalam hatinya masing-masing menimbukan kecemasan yang teramat sangat.
Dewi membimbing tubuh Arin yang terlihat mulai melemas sambil menggendong Dede. Lalu Arin didudukan pada kursi tunggu didepan ruangan itu.
"Ya sudah Pak, Mbak saya pamit dulu kembali ke tempat kerjaan nanti sore saya jenguk Kosim lagi. Oya, semua biaya rumah sakit sudah ditanggung pihak proyek Pak." Kata Juned kepada Mahmud.
"Terima kasih ya, Mas Juned.." Kata Mahmud.
Juned pun menyalami Mahmud, Dewi dan Arin sebelum pergi meninggalkan mereka.
Tidak berapa lama setelah perginya Juned, pintu ruang IGD terbuka. Ketiganya langsung berdiri dan melihat kearah pintu.
Sebuah belangkar didorong petugas rumah sakit keluar dari dalam ruang IGD, diatasnya tergolek seorang lelaki masih mengenakan pakaian proyek.
Mahmud teringat perkataan Juned, kalau Kosim tertimpa atap bangunan sesaat setelah berganti pakaian proyek. Ia pun langsung menghentikan petugas yang mendorong blangkar.
"Tunggu, tunggu.. Berhenti sebentar Pak," sergah Mahmud.
Pandangan mata Mahmud, Dewi dan Arin langsung tertuju pada seraut muka yang sètengah mukanya tertutup masker oksigen.
"Kosim..." Gumam Mahmud.
"Mas Kosiiiim..." Seru Arin, sambil berusaha meraih tubuh diatas blangkar tapi dicegah seorang petugas.
"Bu, bu.. Maaf, ibu siapanya Pak Kosim?" Tanya petugas.
"Saya istrinya dan ini kakak saya. Mas Kosim mau dibawa kemana Pak?" Tanya Arin berderai air mata.
"Dipindahkan ke ruang perawatan Bu. Silahkan ibu-ibu dan bapak ikut kami mengantarkan ke kamar." Kata petugas.
Ketiganya mengekor berjalan dibelakang petugas yang mendorong belangkar keluar dari lorong IGD lalu berbelok ke kiri.
Kamar nomor 13! Petugas yang membawa Kosim memasuki kamar 13. Jantung Mahmud seketika berdegub kencang. Pikirannya dipenuhi beragam prasangka buruk dengan angka 13.
"Pak, Pak.. Apa bisa dipindah jangan di kamar ini," cegah Mahmud spontan.
"Maaf Pak, kamar lain sudah terisi semua hanya kamar ini yang kosong dan nama Kosim sudah ada pada pendaftarnya di kamar ini." Kata petugas rumah sakit.
"O, ya sudah Pak. Makasih ya Pak.." Kata Mahmud.
Setelah selesai membaringkan Kosim dan memasang peralatan kesehatan, dua petugas rumah sakit itupun keluar.
Kini tinggal Mahmud, Dewi dan Arin yang menggendong Dede hanya bisa memandangi wajah Kosim yang diam tak bergerak.
Monitor diatas kepala Kosim memperlihatkan grafik detak jantungnya yang naik turun tak beraturan. Suaranya seakan menjadi irama mengiringi kecemasan ketiganya.
Mahmud lalu keluar kamar untuk mengabari Abah Dul melalui sambungan telponnya.
__ADS_1
......................