
Gus Harun, Abah Dul, Basyari serta Baharudin yang berpegagangan erat pada batang tongkat emas seketika merasakan getaran hebat. Tongkat emas seakan memiliki kesadarannya sendiri dan mencoba berontak untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan empat murid kiyai Sapu Jagat. Tongkat emas meronta- ronta seperti ada kekuatan yang menariknya sehingga terjadi tarik menarik antara reaksi tongkat emas dengan Gus Harun bersama 3 sahabatnya yang terus mempertahankannya.
Dirasakan oleh Gus Harun yang menurutnya tidak mungkin kondisi tarik –menarik itu akan terus berlangsung lama dan kemungkinan dapat memenangkannya pun sangat kecil, otak Gus Harun berpikir cepat agar dapat menguasai sepenuhnya tongkat emas tersebut. Kepercayaan diri Gus Harun timbul tatkala mengingat dirinya sudah dapat membuat tongkat emas tersebut mengecil, kemudian Gus Harun mengucapkan perintah pada tongkat emas tersebut agar tidak terpengaruh oleh kekuatan tarikan yang berasal dari Raja Kalas Pati.
“Tahan!” teriak Gus Harun.
Seketika tongkat emas langsung menunjukkan reaksi menuruti perintah Gus Harun. Bahkan tongkat emas pun berhenti bergetar dan tidak lagi menunjukkan reaksi memberontak. Reaksi tongkat emas kini menjadi kebalikannya, tongkat emas tersebut seketika menancap kokoh dan getarannya pun seketika lenyap. Kini tongkat emas nampak kokoh menancap hingga mampu memberikan perlindungan pada empat murid Kiyai Sapu Jagat tersebut tanpa terpengaruh oleh kekuatan yang menarik mereka.
“Kembalilah! Cepat tinggalkan tempat ini!” sebuah suara tanpa rupa tiba- tiba muncul dan didengar oleh Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin. Mereka sangat mengenal betul suara tanpa rupa yang didengarnya itu yang tak lain adalah suara dari Kiyai Sapu Jagat.
“Njih Yai!” seru mereka serempak.
Masih dengan posisi saling berpegangan pada batang tongkat emas milik Raja Kalas Pati, empat murid Kiyai Sapu Jagat tersebut langsung melesat kearah utara meninggalkan area istana siluman monyet.
Sementara itu raut muka Raja Kalas Pati terlihat semakin murka dan kian menyeramkan setelah beberapa lamanya mengerahkan kekuatan penuh untuk memanggil senjata anadalannya namun yang dipanggilnya tidak juga kunjung muncul. Raja Kalas Pati mendongak keatas langit sambil berteriak dengan keras menunjukkan kekesalannya, suaranya menggema di seantero jagat alam siluman monyet yang disambut oleh suara gelegar guntur serta kilatan- kilatan petir yang menggantung di langit.
Sedetik kemudian, Raja Kalas Pati menghentikan teriakkan kemarahannya lalu sorot matanya yang merah darah diarahkaN pada kiyai Sapu Jagat yang berdiri 30 jengkal di depannya.
“Sapu Jagat! Kembalikan senjataku!” teriak Raja Kalas Pati.
“Aku akan kembalikan senjatamu tapi dengan satu syarat!” balas Kiyai Sapu Jagat.
“Syarat?! Kamu tidak berhak memberikan syarat di duniaku!” teriak Raja Kalas Pati kian murka.
“Ya sudah, kalau begitu aku pergi karena tidak ada urusan denganmu lagi Kalas Pati!” balas Kiyai Sapu Jagat.
__ADS_1
“Tidak ada yang bisa kembali ke dunia kalian hidup- hidup! Kalian harus musnah disini!” ancam Raja Kalas Pati.
“Hahahaha…. Kalas Pati kesombonganmu masih sama seperti dulu dan itu akan membuatmu musnah lebih dulu!” balas Kiyai Sapu Jagat.
Raja Kalas Pati seketika terdiam, dia seperti disadarkan oleh ucapan Kiyai Sapu Jagat yang membuat dirinya diingatkan kembali dengan peristiwa pertarungan puluhan tahun silam. Seketika nyali Raja Kalas Pati langsung menciut teringat dengan peristiwa tersebut dimana dirinya nyaris di musnahkan andai saja kiyai Sapu Jagat tidak memberikannya pengampunan dan membebaskannya.
Raja Kalas Pati terlihat bimbang, kesombangannya sebagai Raja Siluman Monyet tidak ingin menunjukkan ketakutannya. Namun disisi lain untuk melawan kiyai Sapu Jagat sepertinya tidak akan mampu dan hanya membuat dirinya musnah. Yang terpikirkan di dalam isi kepalanya hanyalah siasat licik bagaimana caranya agar membuat dirinya tidak musnah.
Setelah terdiam beberapa saat, Raja Kalas Pati akhirnya buka suara; “Baiklah, apa syaratnya?!” tanya Raja Kalas Pati menahan geram.
“Aku hanya minta satu hal Kalas Pati!” seru Kiyai Sapu Jagat.
“Cepat katakan Sapu Jagat!” balas Raja Kalas Pati.
“Aku minta mulai saat ini kamu tidak boleh berurusan dengan murid- muridku dan juga dengan orang- orang yang kenal dengan murid- muridku!” tegas Kiyai Sapu Jagat.
Akan tetapi di satu sisi lain, kalau pun melawan kiyai Sapu Jagat dirinya pun tak akan mampu mengalahkannya bahkan mungkin juga kiyai Sapu Jagat tak akan memberikan ampunan untuk kedua kalinya yang berarti dirinya akan dimusnahkan.
‘Hahahaha… lebih baik aku turuti saja permintaannya. Apa beratnya syarat tersebut? Setelah itu aku akan kembali membangun kekuatan kerajaanku, Hahaha….’ Kata Raja Kalas Pati dalam pikirannya yang licik.
“Kalau kamu tidak bersedia dengan syarat itu, ya sudah aku akan pergi. Selamat ti..” seru kiyai Sapu Jagat.
“Tunggu!!!” sergah Raja Kalas Pati, sekaligus menghentikan kiyai Sapu Jagat yang sudah membalikkan badannya bersiap untuk pergi.
Kiyai Sapu Jagat berhenti ditempat tanpa membalikkan badannya, ia menunggu ucapan raja Kalas Pati selanjutnya.
__ADS_1
“Aku bersedia menerima syarat itu!” tegas Raja Kalas Pati.
“Baiklah, beri aku waktu untuk mencari dua sahabat dari murid- muridku dahulu dan membawanya pulang. Setelah itu tongkat emas mu akan aku kembalikan.” Balas Kiyai Sapu Jagat.
“Apa kamu yakin dua orang yang kamu maksud itu masih hidup?!” tanya Raja Kalas Pati menyugingkan senyum sinis.
“Insya Allah, selamat tinggal!” balas kiyai Sapu Jagat.
Raja Kalas Pati tersenyum sinis mengiringi kepergian Kiyai Sapu Jagat yang melesat keatas lalu lenyap dibalik pekatnya langit siluman.
ALAM MANUSIA DI RUMAH MAHMUD,
5 tubuh manusia tampak tengah duduk bersila diam tanpa ada gerakkan sedikit pun, tak lama kemudian empat dari lima tubuh tersebut tiba- tiba saja berguncang lalu tersentak secara bersamaan. Sedangkan satu tubuh tidak ada reaksi sedikit pun, tubuh itu masih diam tak bergeming dengan posisi bersila menghadap ke empat tubuh lainnya. Ke empat tubuh tersebut tak lain adalah Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin dan satu tubuh yang tak bergerak adalah tubuh Mahmud.
“Alhamdulillahirobbil alamiin…” ucap Gus Harun, Abah Dul, Basyari serta Baharudin bersamaan.
Secara spontan Gus Harun dan yang lainnya menatap tubuh Mahmud yang diam tak bergeming di hadapan mereka. Saat itu juga mereka pun tersadar kalau Mahmud masih berada di alam siluman.
“Bagaimana ini Gus? Apakah kita kembali ke sana dan membawa Mahmud?” tanya Abah Dul Cemas.
“Juga bagaimana dengan kang Kosim, tuan Denta serta raja Kajiman?” timpal Baharudin.
Gus Harun tak langsung menjawab, ia nampak berpikir keras mempertimbangkan segala sesuatunya jika kembali kesana. Akan tetapi pertimbangan lainnya pun tak kalah pentingnya yakni soal keselamatan Mahmud, Kosim, tuan Denta dan raja Kajiman.
“Jika pun kita kembali kesana, kita belum tau posisi kang Mahmud dan yang lainnya berada,” sahut Gus Harun.
__ADS_1
“lalu apa yang kita lakukan sekarang Gus?” ujar Basyari.
“Kita tunggu kabar dari mama yai,”sahut Gus Harun tak yakin.** BERSAMBUNG