Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Jaga Lilin


__ADS_3


Hari ke-5 Menjelang Purnama, dinihari Pukul 03.35 wib.


Iring-iringan warga melintasi rumah-rumah penduduk dipagi hari menjelang Subuh membuat warga terbangun mendengar riuhnya suara diluar rumah. Lantas tak sedikit yang langsung ikut bergabung setelah mendengar teriakkan-teriakkan massa.


"Babi ngepet tertangkaaaap!"


"Babi ngepet tertangkaaaap!"


"Babi ngepet tertangkaaaap!"


"Babi ngepet tertangkaaaap!"


Rombangan iringan-iringan warga pun kian bertambah banyak mengiringi Parni dalam cekalan Aparat desa didampingi Pak Kuwu, Abah Dul dan Mang Ali yang berjalan didepan. Rumah Parni berjarak kurang lebih 4 kilo meteran dari lokasi Parni diringkus saat beraksi di rumah Haji Asnawi. Sepanjang jalan wajah Parni tertunduk dalam-dalam, rautnya mengguratkan ketakutan yang teramat sangat bercampur dengan rasa malu sambil terus menangis mengeluarkan air matanya.


"Huuuuuuhhh... Dasar ngepet!"


"Bakar sajaaa...!"


"Usiiiiirrr...!"


Cibiran dan caci maki hingga teriakkan untuk membunuhnya keluar dari setiap warga yang melihatnya dari depan rumah saat iring-iringan massa itu lewat. Namun setidaknya Parni bersyukur sampai detik itu dia masih hidup karena kemarahan warga yang ingin membunuhnya dapat dicegah oleh Pak Kuwu maupun Abah Dul untuk tidak membunuhnya.


......................


.............. Di dalam sebuah kamar dalam bias cahaya lilin, nampak tubuh gempal seorang lelaki paruh baya sedang duduk bersila menatap sebatang lilin merah didalam sebuah baskom seng bercorak bunga. Dibawah lilin terdapat kembang warna-warni memenuhi baskom itu.


Beberapa saat lamanya dahi pria itu terus-menerus berkerut menunjukkan wajahnya yang keheranan.


"Sudah tiga jam lebih Parni belum pulang. Kalau dia kenapa-kenapa pasti api ini bergerak-gerak tapi sedari tadi nyala api tenang-tenang saja. Apa dia mencari rumah di desa lain?" Gumam Karjo.


Sesaat kemudian keheningan didalam kamar itu buyar, samar-samar telinga Karjo mendengar suara riuh dari luar rumahnya. Karjo mencoba menajamkan pendengarannya lagi, "Babi ngepet tertangkap... babi ngepet tertangkap.."


Sontak saja raut wajah Karjo berubah panik setelah jelas mendengar teriakkan warga. Buru-buru dia meniup lilinnya, bergegas beranjak berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar.


"Ayo menyebar, menyebar...! Kepung rumahnya!" Samar-samar suara teriakkan Pak RT diluar semakin mendekat.

__ADS_1


Segera Karjo membuka pintu kamar lalu melangkah keluar kamar yang sudah gelap itu. Sedikit berjinjit dia melangkah lebar-lebar menuju pintu belakang. Suara riuh warga dengan teriakkan-teriakkan cacian dan makian semakin jelas terdengar dari dalam rumah. Karjo kian panik, riuhnya suara-suara itu cukup menandakkan banyaknya massa tanpa perlu mengintip keluar. Karjo cepat-cepat membuka grendel dan kunci pintu belakang.


Sejenak Karjo melongokkan kepalanya melihat situasi dibelakang rumah. Setelah dirasa sepi, cepat-cepat dia keluar mengendap-endap bersiap kabur. Baru saja lima langkah keluar dari pintu belakang, dari ujung pojok rumah beberapa warga melihat Karjo.


"Itu Karjoooo... itu Karjo, mau kaburrrr...!" Teriak warga.


Karjo kontan lari kearah berlawanan menghindari warga yang melihatnya. Diujung pojok rumah satunya tiba-tiba tubuh Karjo bertabrakkan dengan warga yang juga sedang berlari menuju belakang rumah.


Bruukkkkgh..!


Tubuh Karjo terjengkang bergitupun dengan warga yang ditabraknya. Belum sempat Karjo berdiri, warga lainnya yang berada dibelakang temannya yang jatuh langsung berteriak dan menangkapnya.


"Karjo disiniiiii...!" Teriak seorang warga.


Tapi kalah gesit, Karjo berhasil mengelak lalu menendangnya hingga seorang warga itupun tersungkur menindih temannya yang belum sempat bangun.


"Aduh..!"


Karjo lantas meloncati kedua warga yang tersungkur lalu berlari menyelinap dipekarangan tetangganya sebelum beberapa warga yang pertama melihatnya tadi sampai ditempatnya. Sebagian warga spontan ikut membantu mengejar pelarian Karjo yang lari kencang melewati pekarangan rumah tetangganya lalu menyelinap terus berlari kesetanan melalui jalan setapak diantara rumah-rumah warga.


Sementara itu didepan rumah Karjo, tangisan Parni semakin keras terdengar. Suaranya tersedu-sedu kian keras saat warga mendobrak pintu depan rumahnya. Setelah terbuka Abah Dul, Mang Ali dan Pak Kuwu masuk kedalam rumah diikuti warga.


"Lim, jaga Parni jangan sampai lepas dan tunggu diluar!" Kata Pak Kuwu kepada Pamong desa.


Didalam rumah Parni gelap gulita, semua lampu dalam keadaan dimatikan. Abah Dul, Mang Ali dan Pak Kuwu mencari-cari kamar yang dijadikan ritual menjaga lilin. Berbekal lampu senter hape satu persatu membuka kamar. Kamar paling depan dibuka tanpa terkunci tapi nampaknya bukan karena didalamnya hanya ada tempat tidur dan lemari. Abah Dul kemudian membuka lagi kamar disebelahnya yang juga tidak terkunci. Isinya dak jauh berbeda dengan kamar pertama.


"Itu ada satu kamar lagi!" Seru Pak Kuwu.


Abah Dul bergegas menuju kamar terakhir yang sedikit tersembunyi disebelah kamar mandi seperti yang ditunjukkan Pak Kuwu. Abah Dul membukanya, lampu senter hape langsung menerangi isi kamar. Sebuah baskom seng bermotif bunga didalamnya ada lilin dan kembang warna-warni terhampar diatas tikar. Lilinnya masih tegak berdiri namun sepertinya nyala apinya baru saja dipadamkan karena masih terlihat asap tipis keluar dari sumbunya.


"Karjo sudah keburu kabur," kata Pak Kuwu.


"Wah, benar itu lilin sama baskomnya!" Seru salah seorang warga yang melongokkan kepalanya melihat kedalam kamar.


"Pak RT dan warga tolong bawa semua benda-benda itu, ya." Kata Pak Kuwu.


"Baik, Pak Kuwu." Jawab Pak RT.

__ADS_1


Tiba-tiba semua orang yang ada didalam rumah Parni itu tersentak kaget mendengar teriakkan keras dari depan rumah Parni.


"Mampuuuussss..!!!"


"Rasakan ini...!!!"


"Bakar saja..!!!"


"Bakaaarrrr..!!!"


"Ampuuuunnn... ampuuuun.... ampuuuunn..."


Pak Kuwu, Abah Dul, Mang Ali dan beberapa warga lainnya cepat-cepat keluar melihat apa yang sedang terjadi.


"Massya Allah!" Seru Pak Kuwu, Abah Dul dan yang lainnya nyaris bersamaan.


Mereka terhenyak melihat Karjo tergeletak sudah babak belur bersimbah darah yang menutupi sebagian wajahnya. Darah mengucur dari kepalanya hingga menetes membuat merah kaos putih yang dipakainya. Rupanya warga berhasil menangkap Karjo yang sempat kabur dari sergapan warga.


Sementara Parni semakin histeris sangat ketakutan melihat suaminya dihajar massa didepan matanya. Karjo ditendang, dipentung dengan besi maupun kayu lalu tubuhnya dicabik clurit dan golok.


"Sudah, sudah, hentikan!!!" Seru Pak Kuwu.


Tubuh Karjo terkapar tak bergerak. Sepertinya reriakkan minta ampun itu merupakan ucapan terkhir kalinya karena setelah itu tubuhnya tak bergerak lagi.


"Cepat bawa ke rumah sakit! Lim, segera ambil mobil di rumah!" Seru Pak Kuwu pada Perangkat desanya.


Bersamaan itu Parni tiba-tiba berteriak-teriak histeris semakin tak terkendali. Dia meronta-ronta liar berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan kedua aparat desa. Melihat itu beberapa warga langsung membantu dua aparat desa yang nampak kewalahan menahan cekalan tangannya. Tubuh Parni langsung dijatuhkan tengkurep dengan mencekal kedua tangannya dibelakang punggung. Parni masih terus meronta-ronta, teriakkannya terdengar kacau menyebut nama-nama hewan.


"Anjing! Babi! Monyet! Kodok! Tikus! Ular! Ayam! Kambing! Sapi!"


Sebagian besar warga yang mendengarnya tertawa bercampur gemas dibuatnya. Beragam puluhan pasang mata menatapnya sinis, marah maupun iba membaur melihat Parni terus-menerus meracau tidak karuan. Tetapi sedetik berikutnya warga pun dibuat kaget


tiba-tiba Parni tertawa keras,


"Hahahahahahaha.... Hahahahaha..."


Brberapa lama kemudian suara tetawa terbahak-bahak Parni berganti dengan tangisan. Setelah itu Parni kembali meracau mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas dan tidak karuan.

__ADS_1


PARNI MENJADI GILA❗


__ADS_2