
10 hari menjelang Purnama,
Suara gemuruh petir diantara derasnya hujan mengguyur rata desa Selaka Jaya dan sekitarnya semenjak lepas subuh tadi. Udara dingin di pagi buta berhembus menerobos masui melalui celah-celah jendela ruang tamu membuat Mahmud dan Kosim menaikkan kakinya diatas kursi.
Usai sholat Subuh, Mahmud dan Kosim duduk di ruang tamu. Dua gelas kopi hitam dan sisa empat gorengan pisang semalam masih tergeletak diatas meja tamu. Abah Dul dan Mang Ali sudah berpamitan pulang bersamaan azan subuh tadi usai menjemput Kosim di pekuburan Karang Turi hingga semalaman begadang.
"Sim, saya penasaran gimana ceritanya kamu sampai tergeletak di pekuburan gitu," ucap Mahmud membuka keheningan pagi buta.
Kosim tidak langsung menjawab, dia nampak bingung dan berusaha mencoba mengingat-ingatnya kembali. Dihisapnya rokok dalam-dalam sambil terus membuka ingatannya, Kosim benar-benar bingung harus bercerita dari mana, yang dia ingat hanyalah pertemuannya dengan seorang wanita dipinggir jalan lalu memboncengnya.
"Nggak tau Mas, saya nggak ingat semuanya tapi saya ingat ketika dijalan menuju proyek saya diberhentikan oleh seorang wanita dan memintanya mengantarkan pulang karena katanya nggak ada angkot yang lewat," terang Kosim lalu kembali terdiam.
Kosum menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Kosim tengadah berusaha keras kembali mencoba mengingat-ingat lagi. Timbul-tenggelam mengingatnya kadang dia ingat merasa duduk di sebuah rumah, kadang terputus lagi tidak ingat kelanjutannya.
"Ya sudah, sudah Sim jangan dipaksakan kalau memang nggak ingat," kata Mahmud tak tega melihat Kosim berpikir keras.
"Sewaktu di jalan sebenarnya saya sempat mendapat bisikan suara tanpa rupa Mas tapi saya abaikan. Katanya ada wanita bukan manusia, saya pikir mana ada siang-siang ada mahluk halus," ujar Kosim.
"Itu akibatnya Sim, sama saja kamu menghina amanat karena mengabaikannnya. Padahal pesan itu benar terjadi kan?" timpal Mahmud.
"Iya Mas, saya juga menyesal," gumam Kosim.
"Perbanyak lagi istigfarnya Sim," ucap Mahmud.
Tidak terasa diluar rumah cuaca sudah mulai terang oleh sinar matahari pagi. Kicauan burung-burung liar terdengar bersahutan disambut kicauan burung love bird milik Mahmud didalam sangkar yang tergantung disamping rumah.
"Ya sudah kalau kamu ngantuk, tidur aja Sim. Saya mau mandiin burung dulu," ujar Mahmud sambil beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Kosim singkat.
Seiring Kosim menjawab terdengar dering hape milik Mahmud. Mahmud mengurungkan langkahnya membuka pintu depan berniat keluar rumah. Langkahnya berbalik menuju bupet untuk segera mengangkat telponnya.
"Halo assalamualaikum, ya ada apa Mas... Oooh ya ya, oke Mas terima kasih ya. Ya alhamdulillah kondisi Kosim sudah membaik Mas,... iya, iya nanti saya sampaikan. Oke, oke matur nuwun Mas," Mahmud mengakhiri telponnya.
Mahmud kembali ke ruang tamu dan duduk ditempat semula berseberangan dengan Kosim terpisah oleh meja tamu.
"Sim, tadi Juned telpon kalau belum sehat betul nggak usah berangkat kerja dulu," kata Mahmud.
"O iya, iya Mas." jawab Kosim.
"Sim ingat nggak kemarin berangkat ke proyek naik apa?" tanya Mahmud sembari menatap Kosim dengan tersenyum.
Kosim mengerutkan keningnya mengingat-ingat yang dilakukannya kemarin. Sesaat kemudian Kosim terlonjak, "Astagfirullah! Saya bawa motornya Mas Mahmud," ujar Kosim.
"Waduh Mas, saya mesti kesana lagi nyari motor. Semoga nggak hilang tapi motornya ada dimana ya apa ada dikuburan," kata Kosim cemas campur kebingungan.
"Motornya ada di kantor Balai Desa Karang Turi, Sim. Ditemukan warga terparkir dibawah pohon Kamboja didalam pekuburan. Biar nanti saya saja yang kesana sambil membawa surat-suratnya." kata Mahmud.
"Saya mandi dulu terus meluncur kesana ambil motor," sambung Mahmud.
"Biar sama saya Mas. Pinjam motornya Abah Dul," sergah Kosim.
"Kamu istirahat saja. Semalaman kamu belum tidur biar saya sama Abah Dul yang kesana." kata Mahmud.
"Iya Mas..." gumam Kosim.
__ADS_1
Mahmud berlalu dari ruang tamu. Sepeninggal Mahmud, Kosim tertunduk dalam-dalam. Ada gurat kesedihan, penyesalan bahkan kemarahan berkecamuk jadi satu didalam hatinya.
"Mas Mahmud sangat baik meskipun saya sebagai ipar dari adik istrinya. Saya sangat berhutang budi padanya dan mungkin nggak bisa saya balas sampai kapan pun. Sudah terlalu banyak pengorbanan yang Mas Mahmud berikan buat saya dan keluarga saya, Arin, Dede," ucap Kosim dalam hati.
"Apa jadinya jika sampai Mas Mahmud menjadi korban demi membela perbuatan saya, sungguh saya orang yang paling jahat di dunia. Ya Allah, apakah saya akan terampuni atas perbuatan yang mencoba bersekutu dengan iblis yang pernah saya lakukan? Tapi saya sungguh-sungguh hilap," gumamnya menyesali.
Tanpa disadarinya air matanya sudah luruh dikedua pipinya. Kosim buru-buru mengusapnya dengan telapak tangannya. Menengadah lalu mengerjap-kerjapkan matanya yang sembab dan masih berkaca-kaca.
Wajahnya nampak semakin kuyu dan sedikit pucat ditambah karena kecapekan namun Kosim masih enggan beranjak untuk tidur. Pikirannya masih terbelenggu rangkaian kejadian-kejadian yang menimpanya.
Pikirannya kembali melayang memikirkan semua kejadian demi kejadian yang menimpanya maupun menimpa orang-orang yang membelanya.
"Mahmud pernah hampir mati, Mang Ali pernah juga kritis, Arin, Dede juga tak luput mendapat imbas dari perbuatan saya," kata Kosim dalam hati.
"Apakah saya menyerah saja agar semuanya tidak terkena akibatnya. Mungkin saja terjadi orang-orang baik bisa mati karena mempertahankan membela saya membela perbuatan saya."
Kosim menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dengan tarikan panjang napasnya. Relung hatinya dirundung dilema penuh kebingungan dan keputus asaan.
Dalam kekalutannya, timbul rasa pesimis didalam pikiran Kosim kalau perjanjian gaib yang tidak dia sadari itu tidak akan bisa diakhiri dengan damai. Lebih dirinya saja yang mati dan menjadi budak siluman monyet dialamnya daripada mengorbankan istrinya apalagi anaknya.
'Saya juga nggak akan pernah rela kalau Mas Mahmud, Mbak Dewi, Abah Dul atau Mang Ali harus mati karena membela perbuatan saya.' Kosim membatin.
Penyesalan memang selalu muncul diakhir bukan diawal. Namun bukan berarti tidak bisa diselesaikan dengan benar dan juga bukan berarti tidak ada cara diselesaikan dengan cara terbaik hingga keluar sebagai Sang Pemenang.
Semua kembali kepada keimanan hati seseorang, pilihannya hanya dua.Yang pertama, bertahan lalu menyelesaikannya hingga keluar dari keadaan pahit, yang kedua berhenti dan menyerah dalam keputusasaan lalu mengakhirinya dengan cepat menghidari kepahitan dengan memilih mati.
Bagi manusia yang berpikir singkat mungkin dengan mati menganggap semua persoalan selesai dan dirinya menjadi terbebas. Dari sudut pandang kehidupan memang benar semua persolan di dunia terputus secara rohani dan jasmaniyah tidak merasakan kesakitan lagi akan tetapi sesungguhnya akan ada kehidupan setelah kematian yang jauh lebih menyakitkan dan akan lebih panjang menjalani kesakitannya di alam kematian.
__ADS_1
Semua problema yang menimpa kita di dunia, bisa jadi Allah SWT sedang menguji keimanan seseorang untuk mengangkat derajatnya lebih tinggi dari sekarang. Bersabarlah dan berdoa minta petunjuk-NYA lalu jalani kepahitan dan hadapi cara ksatria!
......................