Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PUTRA PAK HARJO


__ADS_3

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar… Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah...  Asyhadu allaa illaaha illallaah


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah... Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah


Hayya 'alashshalaah … Hayya 'alashshalaah…


Hayya 'alalfalaah… Hayya 'alalfalaah ..


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar … Laa ilaaha illallaah …


Suara Azan Subuh sayup- sayup masuk kedalam kamar pak Harjo dan istrinya yang terlelap tidur. Suara azan dari pengeras suara masjid dan mushola terdengar saling bersahutan dengan lantunan irama azan yang beragam.


Pak Harjo seketika terjaga dari tidurnya saat telinganya mendengar suara azan. Seketika pak Harjo bangkit dari berbaringnya lalu duduk sejenak mengumpulkan kesadarannya. Dia menoleh ke samping kanannya, samar- samar dalam cahaya temaram melihat istrinya tampak masih lelap tertidur bahkan dengkurannya pun cukup jelas terdengar.


“Hariri!” ucapnya dalam hati. Saat itu juga pikiran pak Harjo kembali teringat dengan ucapan si bocah ajaib.


Kemudian dengan hati- hati perlahan- lahan pak Harjo beranjak  turun dari ranjangnya dan melangkah keluar kamar, tanpa ingin istrinya terganggu hingga terbangun. Pak Harjo berniat pergi menengok keadaan Hariri.


Cekrekk!


Terdengar cukup keras suara kunci saat dibuka dalam senyapnya ruangan meski pak Harjo sudah berupaya sangat hati- hati dan melakukannya sepelan mungkin.  Dirasakannya suara kunci itu cukup keras, dengan reflek pak Harjo langsung menoleh ketempat istrinya tidur.


Diatas tempat tidur, istri pak Harjo masih dalam posisi yang pertama tadi dilihatnya tadi, istrinya tak bergeming sedikit pun sepertinya suara tadi tidak mengusik tidurnya.


Pak Harjo melanjutkannya dengan membuka pintu juga dengan hati- hati dan pelan- pelan tak ingin istrinya terganggu dan terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Kreteeeeekkk…


Pak Harjo kembali menoleh ke tempat istrinya untuk melihat apakah istrinya terbangun atau tidak. Istrinya masih tak bergeming dalam posisi tidurnya, lalu pak Harjo pun meneruskan langkahnya menuju kamar putranya yang berada di sebelah kamarnya.


Dengan tangan sedikit gemetar, pak Harjo mulai memutar handle pintu untuk membukanya. Perlahan- lahan pintu dibuka sedikit demi sedikit. Cahaya lampu dari dalam kamar putranya langsung menerpa wajah pak Harjo saat pintu mulai terbuka.


Mula- mula sudut pandangan mata pak Harjo hanya terbatas melihat meja belajar disamping tempat tidur putranya. Daun pintu pun didorongnya lagi perlahan- lahan untuk meluaskan sudut pandangnya.


Kini pandangan mata pak Harjo sudah dapat melihat bagian atas tempat tidur putranya. Seketika wajah pak Harjo berubah keheranan, keningnya mengerut dalam- dalam sambil mendorong kembali daun pintu lebih lebar.


Saat itu juga kedua mata pak Harjo membelalak lebar. Dia terheran- heran melihat diatas tempat tidur yang biasa putranya tempati tersebut dalam keadaan kosong.  Dengan wajah panik bercampur bingung, pak Harjo berteriak memanggil- manggil istrinya.


“Buuu… ibuuu… ! ibuu…!” teriak pak Harjo reflek saking terkejutnya sembari mendorong daun pintu lebar- lebar.


Tak berselang lama istrinya datang tergopoh- gopoh dan langsung betanya dengan panik pula setelah mendengar suaminya berteriak- teriak.


“Kenapa pak?! Ada apa?!” tanya istri pak Harjo yang sudah berdiri dibelakang punggung pak Harjo.


Istri pak Harjo seketika turut hanyut dalam kepanikan suaminya, ia langsung merangsak masuk menyalip suaminya yang hanya berdiri mematung.


“Kemana Hariri pak?!” tanya istri pak Harjo bertambah panik setelah melihat tempat tidur anaknya itu kosong.


‘Sss, sa, saya juga tidak tahu bu!” jawab pak Harjo tergagap dalam rasa paniknya.


“Gustiiii…. Kenapa dengan anak saya, kemana dia Gustiiii…” ucap istri pak Harjo merintih lirih meratapi putranya.


Pikiran pak Harjo dan istrinya sudah dipenuhi dengan beragam pikiran- pikiran buruk tentang putranya. Sudah berbulan- bulan putranya hanya terbaring diatas tempat tidur dan tidak bisa kemana- mana karena luka dan koreng- koreng di kakinya.

__ADS_1


“Apakah Hariri dibawa mahluk gaib?” Nkata pak Harjo dalam benaknya.


Istri pak Harjo langsung menjatuhkan setengah badannya diatas tempat tidur putranya, kedua tangannya meraba- raba selimut yang teronggok yang biasa menutupi tubuh putranya.


“Nak… kamu dimana..? kamu kemana nak..” ucap istri pak Harjo lirih terus meraba- raba selimut tersebut.


Air matanya mulai tumpah membasahi seprei tempat tidur. Suara isak tangisnya pun mulai terdengar tersedu- sedu meratapi keberadaan putranya yang entah ada dimana.


Pak Harjo berjalan mendekati istrinya, ia pun duduk dibibir tempat tidur lalu mengusap- usap pundak istrinya berupaya menenangkannya.


“Pak kemana Hariri pak…” ratap istrinya disela- sela tangisannya.


Pak Harjo tak bisa memberikan jawaban apapun karena dirinya juga tidak mengetahui kemana dan kenapa putranya itu tidak ada di tempat tidurnya. Dan rasanya tidak mungkin juga jika Hariri pergi dengan berjalan sendiri jika tidak ada yang membawanya. Tidak mungkin juga ada temannya masuk lalu mengajaknya untuk nongkrong seperti saat sewaktu Hariri masih belum menderita sakit aneh secara tiba- tiba itu.


Keyakinan dugaan- dugaan seperti itu terus- menerus bergejolak memenuhi pikirannya. Seketika itu juga pak Harjo teringat akan ucapan si “Bocah Ajaib” . Di dalam hatinya saat itu juga timbul rasa penyesalan yang mendalam akan sikapnya selama ini terhadap putranya.  Dirinya merasa selama ini tidak begitu memperhatikan prilaku Hariri diluar rumah.


Dirinya begitu santainya menilai kalau putranya di luar rumah bertingkah laku baik- baik saja selama ini. Bahkan dirinya dan istrinya sangat memanjakan Hariri, semua keinginan putranya itu selalu diturutinya. Tak terkecuali berapa pun besarnya saat Hariri memintanya, baik istrinya dan dirinya akan memberikannya. Hal itu mereka lakukan karena merasa sangat menyayangi putra bungsunya tersebut.


Tak terasa air mata lelaki yang mulai menua itu berlinang- linang membasahi kedua matanya. Pak Harjo terpekur menundukkan kepalanya dalam- dalam membuat air mata yang sudah menggenang di kedua matanya luruh menetes membasahi bajunya. Kini sepasang suami istri tersebut sama- sama menangisi putranya. Terus menerus meratapi keberadaan putranya yang entah berada dimana atau dibawa siapa.


Dalam suasana kesedihan yang teramat sangat itu, tiba- tiba terdengar suara dari arah pintu kamar. Suaranya pelan, namun masih cukup terdengar oleh pak Harjo dan istrinya. Seketika itu juga pak Harjo dan istrinya menoleh membalikkan badan melihat kearah sumber suara.


“Loh, kok pada disini?” tanya suara dari arah pintu kamar.


Saat pak Harjo dan istrinya melihat siapa orang yang bertanya tadi, seketika keduanya terkesiap kaget luar biasa. Kedua mata suami istri itu terbelalak menatap kearah sosok pemuda yang sudah berdiri ditengah- tengah pintu sedang memperhatikannya.


Dengan spontan pak Harjo dan istrinya mengucek- ngucek kedua mata dengan telapak tangannya, lalu kembali menatap dengan pandangan menyelidik kearah pemuda itu.

__ADS_1


“Har, Hariri..?!” gumam istri pak Harjo.


"Benarkah kamu Hariri nak?!" ucap pak Harjo menegaskan gumaman istrinya* BERSAMBUNG


__ADS_2