
Waktu yang di tentukkan Raja Kalas Pati tiba,
Suasana hutan lereng gunung Ng terdengar riuh oleh sahutan-sahutan hewan-hewan ditengah kesenyapan malam. Cahaya bulan purnama malam ke-3 menjadi satu-satunya penerang yang samar-samar menerangi luar pondokkan Ki Suta berselimutkan kabut yang menghalangi jarak pandang mata.
Di tengah malam buta, Ki Suta nampak duduk bersila di halaman depan pondok beralaskan rerumputan liar. Matanya terpejam rapat sejak hari berganti malam tanpa bergeming.
Dinginnya udara pegunungan Ng seolah-olah tak di rasakan Ki Suta yang hanya memakai baju setelan komboran hitam tanpa di lapisi jaket.
Tiba-tiba kesenyapan berubah seketika oleh cicitan-cicitan binatang di sekitar pondokan. Suaranya riuh berpadu dengan gesekkan ranting-ranting dàn dedaunan yang bergerak-gerak di hempaskan angin.
Selarik cahaya merah melesat dari atas langit menghujam deras menyeruak diantara rapatnya pepohonan yang menjulang tinggi sekaligus menyibak asap kabut disekelilingnya.
“Boooommm!!!”
Suara dentuman keras menghantam tanah sekitar 5 meter di hadapan Ki Suta yang tengah bersemedi. Ki Suta terlonjak kaget hingga tubuhnya tersentak beringaut mundur.
Tanah bekas hantaman cahaya merah itu menyisakan kawah berdiameter 5 meter. Diatasnya asap tebal berwarna kelabu menggumpal berputar-putar membentuk sebuah pusaran dan menerbangkan daun-daun kering tertarik kearah pusaran itu. Beberapa saat kemudian pusaran itu perlahan-lahan hilang dan berganti memunculkan satu sosok tinggi besar. Tubuhya di balut pakaian kebesaran kerajaan dan dilengkapi aksesoris-aksesoris berwarna emas. Di kepalanya melingkar sebuah mahkota emas dengan manik-manik tiga batu merah di depannya.
“HAHAHAHAHAHA... BAGUS! BAGUS! BAGUS SUTA! Kamu mampu melakukan persyaratan-persyaratan yang aku berikan! Sekarang saatnya kamu menerima kekuatan andalan kerajaan siuman monyet!” ucap mahluk itu yang tak lain adalah Raja Kalas Pati.
Ki Suta tidak berkata-kata, dia tak merubah posisi semedinya dengan mata tertutup rapat. Raja Kalas Pati mengangka tangan kanannya menjulurkan telunjuknya menunjuk ke kepala Ki Suta.
Sinar merah berkilat keluar dari ujung jari Raja Kalas Pati lalu melesat mengarah pada ujung kepala Ki Suta. Tubuh Ki Suta langsung bergetar hebat, dirinya merasakan tubuhnya seperti menerima sengatan listrik bertegangan tinggi.
Satu menit berlalu, tubuh Ki Suta mengeluarkan keringat deras hingga membuat baju komborannya basah. Namun Ki Suta tidak tergoyahkan, dia tetap dalam posisi semedinya.
Lima menit berlalu, Ki Suta merasakan tubuhnya seperti terbakar. Panas menjalar mengikuti sekujur jalan darahnya. Tiba-tiba mata Ki Suta terbuka lebar, kedua mata Ki Suta menyala merah merasakan sebuah kekuatan menjalari di tubuhnya.
“HAHAHAHAHA... HAHAHAHA.... HAHAHAHA...”
Raja Kalas Pati tertawa lebar. Suara besar dan sember keluar dari mulut Raja Kalas Pati melihat perubahan yang terjadi pada Ki Suta dengan tatapan puas.
__ADS_1
“Itu kekuatan penjabut nyawa! Sekarang kamu setingkat dengan pimpinan prajurit penjemput tumbal! Dan kamu pun dapat membalaskan dendam, serta aku tugaskan untuk menjemput nyawa darah daging manusia bernama Kosim!”
Setelah mengatakan itu tubuh Raja Kalas Pati lenyap menyisakan suara tawa yang perlahan-lahan lenyap menjauh bersamaan berganti asap tebal berwarna kelabu menggumpal dan bergulung-gulung lalu melesat ke langit menyeruak daun dan ranting pepohonan.
......................
Desa Sukadami,
Kejadian malam sebelumnya yang menggocangkan rumah Mahmud membuat Abah Dul berfikir keras. Sudah satu bulan lamanya atau tepatnya semenjak kematian Kosim, di rumah Mahmud tidak pernah ada lagi peristiwa-peristiwa yang mengancam nyawa keluarga Kosim. Dan keadaan itu dianggap selesai oleh Abah Dul karena sosok yang di buru Siluman Monyet telah meninggal. Akan tetapi perkiraan Abah Dul ternyata salah dan bahkan ancaman yang datang bukan lagi dari golongan siluman monyet namun juga ada seseorang yang juga menginginkan kematian dirinya.
"Siapa si kakek-kakek itu ya?" Gumam Abah Dul kemudian menyulut sebatang rokok.
"Kakek siapa Du?!" tanya Mahmud menoleh pada Abah Dul yang duduk bersandar pada saka teras.
"Iya Mud, kemarin malam itu saya bertarung menghadapi seorang kakek-kakek. Senjatanya cambuk pendek, sepertinya dendam banget," ujar Abah Dul.
"Dendam sama Kosim?" tanya Mahmud.
"Kok bisa tau kalau kakek itu dendam sama sampeyan," ujar Mahmud.
"Ya soalnya dia menyebut-nyebut nama saya dan dia mengira kalau ustad Arifin itu saya, Mud," ungkap Abah Dul.
"Kalau misalnya bener si kakek itu dendam, dendam urusan apa toh Dul?" ujar Mahmud.
Abah Dul terdiam wajahnya menerawang menatap langit-langit teras. Dia mengingat-ingat peristiwa-peristiwa atau kekadian yang pernah ditanganinya.
"Apakah dukunnya pemilik pesugihan yang pernah saya bereskan ya, atau si dukun pelaku pesugihan itu..." gumam Abah Dul mengira-ngira.
"Kok bisa nebak dukun Dul?" tanya Mahmud penasaran.
"Dari penampilannya sih seperti penampilan dukun Mud," ujar Abah Dul.
__ADS_1
"O iya bah, tadi sehabis Magrib si Dahlan itu," kata Mahmud sambil menunjuk arah belakang rumahnya.
"Dahlannya mang Kohar?" sela Abah Dul.
"Iya, iya..." timpal Mahmud.
"Kenapa Dahlannya?" tanya Abah Dul.
"Mang Kohar datang ke rumah minta tolong Dahlan kesurupan. Nah pas saya kesana belum juga saya apa-apain, tiba-tiba sesosok bayangan keluar sendiri dari tubuh Dahlan. Yang membuat saya heran, soaok yang merasuki Dahlan itu Kosim, Dul," ungkap Mahmud.
"Hah? Kosim?!" sergah Abah Dul.
"Iya, Kosim...." timpal Mahmud.
"Apa urusannya Kosim sampai memgganggu begitu," nada suara Abah Dul sedikit meninggi.
"Saya juga nggak ngerti Dul," ujar Mahmud.
"Wah, ini nggak bisa di biarkan Mud. Kosim harus di tanya maksudnya apa nih," sungut Abah Dul geram.
Abah Dul tiba-tiba merubah duduknya dengan posisi bersila. Sejenak dia komat-kamit dengan memejamkan mata. Mahmud sekilas memperhatikan apa yang di lakukan Abah Dul dan dirinya mengerti kalau Abah Dul sedang melepas sukma.
Sukma Abah Dul keluar memisahkan diri dari raga, sukma itu melayang berhenti sebentar diatas raga Abah Dul. Sukma Abah Dul perlahan mengedarkan pandangannya memperhatikan sekeliling rumah Mahmud. Kemudian sukma itu melayang keatas rumah Mahmud dan berdiri diatas genteng.
"Apakah Kosim sedang tidak disini?" gumam sukma Abah Dul.
Sukma Abah Dul memperhatikan lagi mengitari sekeleliling rumah Mahmud namun sosok Kosim tidak di temukannya. Pandangannya beralih menatap cahaya tipis menyerupai kabut yang membentuk kubah melingkupi rumah Mahmud. Sukma itu sedikit melupakan pencariannya terhadap Kosim, ia malah berganti terfokus untuk memeriksa perisai buatan Gus Harun tersebut. Sukma Abah Dul melayang dari ujung depan rumah Mahmud memutari rumah itu dan pada saat berada di tengah-tenga atas rumah, ia melihat pada perisai itu sedikit ada warna kelabu kehitaman seperti bekas benturan.
Setelah mengelilingi memeriksa kondisi perisai secara keseluruhan ternyata hanya pada bagian tengah itu saja yang mengalami perubahan. Lalu sukma Abah Dul bergerak melayang turun dan kembali masuk ke dalam raganya.
......................
__ADS_1